Masuk“Apa?” bisik Emily dengan mata nanar.
Lucien sudah lama menghilang di balik pintu sayap utama mansion tetapi kata-katanya masih tertinggal dan terus menggema di telinga Emily.
“Lucien memiliki wanita lain?” bisiknya lagi seolah tidak percaya pada pendengarannya.
Emily terpaku di tempat. Tangannya terkepal di sisi gaunnya. Dia berusaha bernapas. Rasa sakit hati mulai merambat di dadanya dan perlahan mencabik kebanggaannya sebagai seorang wanita bangsawan.
Walau begitu, Emily menolak untuk air matanya jatuh begitu saja. Sebab, menurutnya menangis tidak akan mengubah nasib yang terjadi dalam hidupnya.
‘Aku mengerti yang engkau inginkan, Lucien,’ batin Emily. ‘Ini hanya kesepakatan utang. Aku hanya perlu bertahan hidup.’
“Berhenti melamun, Nyonya Pelayan.”
Suara Gable memecah keheningan yang terjadi di sekitar Emily. Gable berdiri tidak jauh darinya dengan mata menyipit. Sedang menilai.
Emily melihat Gable sedang menggenggam sebuah sikat berbulu kasar dan ember kayu yang sepertinya begitu berat.
"Marquess membawamu kemari bukan untuk menjadi patung," lanjut Gable. Nada suaranya tidak rama sama sekali.
Ember yang dipegangnya itu diletakkan ke lantai dengan kasar hingga air di dalamnya memercik membasahi sepatu kulit Emily.
Emily memerhatikan ember itu sekilas lalu menatap Gable.
“Apa yang harus saya lakukan, Mrs. Gable?” tanyanya sopan walau Gable menatapnya dingin.
Gable mengulurkan sikat kasar pada Emily dengan tidak sabaran.
“Ambil ini dan bawa ember itu ke dapur belakang!” perintahnya. “Ada sekarung kentang yang harus dikupas untuk makan malam.”
Emily mundur selangkah mendengar perintah yang tidak mau dibantah itu.
"Setelah itu,” lanjut Gable. Matanya menyipit pada Emily. “Sikat seluruh lantai batu di lorong belakang hingga bersih.”
Emily membelalakkan matanya. Dia terkejut mendengar perintah lain itu. sekarung kentang saja sudah membuat tubuhnya pastilah sakit.
“Menyikat lantai lorong?” bisiknya tidak percaya.
“Kenapa? Tanganmu terlalu berharga untuk menyentuh air?” cibir Gable sinis. "Lakukan saja atau kau tidak dapat jatah makan. Peraturan di sini, yang tidak bekerja maka tidak akan makan.”
Emily berusaha menahan hela napasnya. Dia masih belum terbiasa menjadi pelayan.
“Baik, Mrs. Gable,” jawab Emily pelan.
Emily membungkuk lalu mengangkat ember kayu yang terasa berat bagi lengannya yang terbiasa memegang cangkir teh.
Ditelan harga dirinya di kediaman Montague.
Emily mulai bekerja dalam diam. Dia bahkan tidak ingin membaur dengan pelayan lain karena dia sadar bahwa pelayanpelayan itu melihatnya dengan berbeda.
Pekerjaan itu menjadi siksaan. Emily duduk di dapur yang lembap dan temaram. Jari jemari Emily yang lentik itu sekarang penuh dengan goresan pisau.
Ratusan kentang telah dikupas. Kulit telapak tangannya sedikit melepuh akibat gesekan gagang pisau.
Sore harinya, Emily menyikat lantai batu lorong belakang dengan berlutut. Sesekali dia menegakkan tubuhnya yang terasa hendak patah.
“Sakit sekali,” keluh Emily bersamaan dengan langkah kaki beberapa pelayan wanita yang mendekat.
Salah satu kaki pelayan wanita itu menendang ember berisi air kotor hingga tumpah padahal lantai itu baru saja disikat oleh Emily.
“Ya ampun! Maaf sekali. Aku tidak melihatmu di bawah sana,” tawa pelayan berambut merah yang Emily ketahui bernama Martha.
"Ayahnya bangkrut karena judi dan sekarang putrinya membersihkan lantai. Bukankah itu sangat pantas?" sahut pelayan lainnya seraya terkikik.
Emily menahan rasa kesalnya. Dia memejamkan mata sejenak demi menekan amarah yang memuncak di ubun-ubun.
“Tidak apa-apa,” bisik Emily.
Dia meraih ember yang terguling itu. Masih ada sisa air sedikit di embernya. Kembali dia mencelupkan sikat ke dalam ember.
“Aku akan membersihkannya.” Emily berkata dengan nada sopan yang dia usahakan.
"Tentu saja kau harus melakukannya," dengus Martha kemudian berjalan pergi.
Malam harinya, setelah rentetan pekerjaan itu selesai, Emily menyeret tubuhnya yang gemetar ke dapur untuk mencari makan apa saja yang tersisa.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat meja kayu panjang tempat pelayan makan sudah bersih. Tidak ada sisa irisan roti atau hanya sekedar satu mangkuk kecil bubur sisa.
“Kau sangat terlambat, Nona,” kata seorang koki dapur tanpa menoleh. Dia sedang mencuci piring. “Jatahmu sudah dihabiskan pelayan lain.”
“Tidak ada sisa makanan sama sekali?” tanya Emily penuh harap.
Koki itu menggeleng tanpa menoleh. “Tidak ada. Sayang sekali.”
Emily menghela napas seraya memegang perutnya yang melilit.
“Baiklah. Terima kasih.” Emily berkata sopan lalu kembali ke kamarnya tanpa membawa apa pun untuk di makan.
Di kegelapan kamarnya, Emily menyadari satu kenyataan bahwa Lucien tidak memberikannya satu keping uang sama sekali.
“Aku butuh uang,” bisiknya. “Untuk sekedar makan.”
Beberapa hari berlalu dengan rutinitas yang sama seperti saat pertama kali dia datang ke mansion itu.
Emily dapat merasakan tubuhnya yang semakin menyusut karena dia hanya makan apa pun yang tersisa di dapur. Terkadang dia harus menyembunyikan sisa sarapan paginya untuk di makan nanti lagi.
“Emily!”
Gable memanggil Emily ketika hendak bersiap untuk tidur.
Emily membuka pintu kamarnya. “”Ya, Mrs. Gable?”
“Buang sampah yang ada di dapur.” Gable memerintah tanpa kenal waktu yang sudah lewat tengah malam.
“Sekarang juga?” tanya Emily heran. Ditahan mulutnya untuk tidak menguap lebar. Dia lelah sekali.
“Sekarang!” Gable menyahut.”Buang keluar gerbang belakang dapur. Kau paham?”
Emily menurut. Dia menuju dapur mansion itu. mengumpulkan sampah-sampah yang sudah siap untuk dibuang.
Susah payah Emily membawanya seraya menahan bau yang menguar dari ember sampah yang dibawanya.
Udara malam kota Ashwood yang dingin menerpa wajahnya. Saat dia bersusah payah menuangkan isi ember sampah ke tempat pembuangan.
“Kenapa harus aku yang membuangnya?”
Emily mengeluh seraya mengerutkan hidungnya.
“Ya Tuhan, ini berat sekali.” Keluhnya lagi.
Seluruh sampah telah dibuang ke pembuangan sampah.
Emily menghela napas lega lalu mendongak untuk menikmati udara malam ketika dia melihat pintu gerbang besi tua yang biasanya terkunci rapat itu terlihat terbuka walau sedikit.
Emily mengerutkan kening, bingung dengan maksud ucapan ksatria di hadapannya itu. "Maksud Anda? Aku hanyalah pelarian dari Ashwood yang berutang nyawa pada Anda. Tidak ada kemuliaan dalam sejarah hidupku."Adrian merasakan tusukan di dadanya mendengar rendah diri adiknya sendiri. Diletakkan tas kulit kecil yang dibawanya ke atas bangku batu di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Adrian mengeluarkan kotak kayu eboni berukir singa emas dan menyerahkannya kepada Emily."Apa ini, Tuan Adrian?" tanya Emily ragu sembari menerima kotak yang terasa berat itu.Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Emily dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan dan kasih sayang."Emily... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang darah yang mengalir di tubuhmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius."Siapa aku sebenarnya maksud Tuan?"&nb
“Ada di ruang bawah tanah, Milord.” Sterling segera menjawab agar Lucien tidak murka lebih lanjut.Beberapa saat kemudian, di ruang interogasi bawah tanah yang lembap, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah penuh luka duduk terikat di kursi besi.Pria kurus itu gemetar hebat saat Lucien melangkah masuk dengan pedang yang sudah terhunus. Aura kematian terpancar dari sang Marquess."Katakan padaku dari mana kau mendapatkan anting-anting ini, Tikus Got?!" tanya Lucien sembari menghujamkan ujung pedangnya ke lantai, tepat di antara kedua kaki pria itu."Ampun, Marquess!” teriak perampok kurus itu dengan suara melengking ketakutan. “Saya menemukannya di hutan kabut! Ada seorang wanita yang terjebak di tengah lumpur malam itu!"Lucien melangkah maju lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa yang kau lakukan padanya?! Jangan berani kau berbohong atau aku akan membedah perutmu hidup-hidup!"Pria itu memejamkan mata. Suaranya bergetar hebat saat m
"Ke sel bawah tanah mansion Montague," perintah Lucien tanpa menoleh lagi. "Biarkan mereka membusuk di sana bersama kenangan busuk tentang keserakahan dan pengkhianatan mereka seumur hidup."Jasper dan Madeline menjerit histeris saat para prajurit menyeret mereka keluar dari gudang lembap tersebut dengan paksa. Mereka meronta-ronta, memohon ampunan yang sudah lama mati dari hati sang Marquess yang kini telah membeku.Lucien hanya berdiri diam menatap punggung Jasper dengan kebencian yang mendalam dan dendam yang akhirnya tuntas.Setelah gudang itu kembali sunyi, Lucien berjalan perlahan menuju kudanya yang sudah menunggu di luar. Hujan mulai turun kembali, membasahi wajahnya yang terasa panas oleh amarah yang tidak berujung dan penyesalan yang mulai merayap.Beberapa saat kemudian, Lucien sampai di mansionnya yang kini terasa sangat luas dan terlalu sepi. Dia melangkah melewati aula besar, namun kakinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk menuju ke satu ruangan.Kemudian dia berhe
“Pelayan! Pastikan Alice mengemasi barangnya dan cepat pergi dari mansion ini!”Teriakan Lucien yang menggema itu membuat para pelayan serta merta masuk ke dalam kamar tersebut.“Prajurit! Awasi Alice! Pastikan dia keluar dari mansion ini sekarang juga!Setelah meneriakkan itu, Lucien berjalan cepat keluar dari kamar itu. Dia mengabaikan Sterling dan juru tulis lainnya yang tergopoh-gopoh mengikutinya.“Tuan, apa rencana Anda selanjutnya?” tanya Sterling mensejajari langkah Lucien yang lebar.“Aku ingin ke suatu tempat, Tuan Sterling,” sahut Lucien lalu segera berjalan cepat dan Sterling hanya menganggukkan kepalanya.Dengan kemarahan yang memuncak, Lucien keluar dari mansion itu lalu segera menaiki kudanya yang masih ada di depan mansion.Dipacu kudanya dengan cepat tanpa memedulikan para pengawal dan prajuritnya yang tampak kebingungan melihat majikannya yang sangat murka. Mereka hanya mengikuti Lucien tanpa berani berspekulasiLucien berkuda menuju suatu tempat kumuh. Perjalanan mem
“Kau dan orang tuamu benar-benar lintah!” maki Lucien kasar.Dari sudut matanya, dia melihat Duke Harrington yang mencoba untuk kabur melalui pintu balkon yang terbuka ketika pengawal lengah."Kau mau lari ke mana, Harrington? Seorang Duke biasanya melangkah dengan dagu terangkat, bukan merangkak seperti tikus got yang ketahuan mencuri keju!"Suara bariton Lucien memotong langkah Duke Harrington.Lucien kini berdiri tegak di tengah ruangan. Tatapannya tidak lagi tertuju pada Alice, melainkan pada pria yang telah mengotori kehormatan rumah tangganya."Montague, jaga bicaramu! Aku adalah seorang Duke, pangkatku jauh di atas Marquess sepertimu!" raung Harrington sembari mencoba menggertak meski lututnya bergetar.Lucien tertawa sangat meremehkan dan dingin. Dia melangkah maju dengan gerakan yang tenang namun mematikan, memperpendek jarak di antara me
"Emily jauh lebih berharga daripada sepuluh wanita manipulatif sepertimu, Alice," balas Lucien dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk."Berharga? Dia hanyalah sampah yang sudah kubuang ke hutan untuk membusuk!" tawa Alice pecah kembali, tawa yang terdengar sangat gila dan lepas kendali. "Kau pikir kenapa dia melarikan diri darimu di tengah badai itu? Kau pikir dia pergi karena membencimu? Tidak, Lucien!"Lucien menyipitkan matanya tajam. Firasat buruk mulai merayap di punggungnya dan membuat jantungnya berdebar kencang. Dia melangkah maju satu tindak dan mencengkeram bahu Alice dengan sangat kuat hingga wanita itu meringis."Apa maksudmu, Alice? Apa yang telah kau lakukan padanya?!"Alice tersenyum licik. Dia tahu informasi ini akan menghancurkan Lucien lebih dari sekadar perselingkuhannya dengan Duke Harrington."Aku yang memberikan jalan keluar u
"Buka pintunya. Aku ingin melihat apakah dia sudah cukup merenungi kesalahannya."Suara bariton Lucien Montague menggema di lorong sayap utama yang masih remang. Sinar matahari pagi yang pucat mencoba menembus kaca jendela mansion setelah badai besar semalaman.
"Apakah ini benar-benar akhir dari segalanya, ataukah awal dari kehancuran yang lebih besar?"Emily berbisik pada kegelapan kamar utama yang kini terasa asing baginya. Suaranya bergetar, hampir tenggelam oleh deru angin yang menghantam kaca jendela.Cuaca
“Apa yang harus kulakukan?” bisik Emily menatap kantong itu dengan pandangan kosong, sementara otaknya yang sangat lelah dipaksa untuk memproses semua dengan cepat.Alice telah pergi beberapa saat yang lalu, meninggalkan Emily sendirian dengan keheningan kamar yan
"Alice? Katakan padaku... apa yang harus kulakukan?"Pertanyaan putus asa kembali keluar dari bibir pucat Emily ketika Alice diam. Menurut Emily, Alice seperti sedang berpikir. Kemudian, senyum tipis yang penuh perhitungan sekilas terukir di bibir wanita berambut pirang itu.







