Share

Bab 7: Tugas Rendahan

Penulis: Celestial Soul
last update Tanggal publikasi: 2026-02-21 19:19:42

“Apa?” bisik Emily dengan mata nanar.

Lucien sudah lama menghilang di balik pintu sayap utama mansion tetapi kata-katanya masih tertinggal dan terus menggema di telinga Emily.

“Lucien memiliki wanita lain?” bisiknya lagi seolah tidak percaya pada pendengarannya.

Emily terpaku di tempat. Tangannya terkepal di sisi gaunnya. Dia berusaha bernapas. Rasa sakit hati mulai merambat di dadanya dan perlahan mencabik kebanggaannya sebagai seorang wanita bangsawan.

Walau begitu, Emily menolak untuk air matanya jatuh begitu saja. Sebab, menurutnya menangis tidak akan mengubah nasib yang terjadi dalam hidupnya.

‘Aku mengerti yang engkau inginkan, Lucien,’ batin Emily. ‘Ini hanya kesepakatan utang. Aku hanya perlu bertahan hidup.’

“Berhenti melamun, Nyonya Pelayan.”

Suara Gable memecah keheningan yang terjadi di sekitar Emily. Gable berdiri tidak jauh darinya dengan mata menyipit. Sedang menilai.

Emily melihat Gable sedang menggenggam sebuah sikat berbulu kasar dan ember kayu yang sepertinya begitu berat.

"Marquess membawamu kemari bukan untuk menjadi patung," lanjut Gable. Nada suaranya tidak rama sama sekali.

Ember yang dipegangnya itu diletakkan ke lantai dengan kasar hingga air di dalamnya memercik membasahi sepatu kulit Emily.

Emily memerhatikan ember itu sekilas lalu menatap Gable.

“Apa yang harus saya lakukan, Mrs. Gable?” tanyanya sopan walau Gable menatapnya dingin.

Gable mengulurkan sikat kasar pada Emily dengan tidak sabaran.

“Ambil ini dan bawa ember itu ke dapur belakang!” perintahnya. “Ada sekarung kentang yang harus dikupas untuk makan malam.”

Emily mundur selangkah mendengar perintah yang tidak mau dibantah itu.

"Setelah itu,” lanjut Gable. Matanya menyipit pada Emily. “Sikat seluruh lantai batu di lorong belakang hingga bersih.”

Emily membelalakkan matanya. Dia terkejut mendengar perintah lain itu. sekarung kentang saja sudah membuat tubuhnya pastilah sakit.

“Menyikat lantai lorong?” bisiknya tidak percaya.

“Kenapa? Tanganmu terlalu berharga untuk menyentuh air?” cibir Gable sinis. "Lakukan saja atau kau tidak dapat jatah makan. Peraturan di sini, yang tidak bekerja maka tidak akan makan.”

Emily berusaha menahan hela napasnya. Dia masih belum terbiasa menjadi pelayan.

“Baik, Mrs. Gable,” jawab Emily pelan.

Emily membungkuk lalu mengangkat ember kayu yang terasa berat bagi lengannya yang terbiasa memegang cangkir teh.

Ditelan harga dirinya di kediaman Montague.

Emily mulai bekerja dalam diam. Dia bahkan tidak ingin membaur dengan pelayan lain karena dia sadar bahwa pelayanpelayan itu melihatnya dengan berbeda.

Pekerjaan itu menjadi siksaan. Emily duduk di dapur yang lembap dan temaram. Jari jemari Emily yang lentik itu sekarang penuh dengan goresan pisau.

Ratusan kentang telah dikupas. Kulit telapak tangannya sedikit melepuh akibat gesekan gagang pisau.

Sore harinya, Emily menyikat lantai batu lorong belakang dengan berlutut. Sesekali dia menegakkan tubuhnya yang terasa hendak patah.

“Sakit sekali,” keluh Emily bersamaan dengan  langkah kaki beberapa pelayan wanita yang mendekat.

Salah satu kaki pelayan wanita itu menendang ember berisi air kotor hingga tumpah padahal lantai itu baru saja disikat oleh Emily.

“Ya ampun! Maaf sekali. Aku tidak melihatmu di bawah sana,” tawa pelayan berambut merah yang Emily ketahui bernama Martha.

"Ayahnya bangkrut karena judi dan sekarang putrinya membersihkan lantai. Bukankah itu sangat pantas?" sahut pelayan lainnya seraya terkikik.

Emily menahan rasa kesalnya. Dia memejamkan mata sejenak demi menekan amarah yang memuncak di ubun-ubun.

“Tidak apa-apa,” bisik Emily.

Dia meraih ember yang terguling itu. Masih ada sisa air sedikit di embernya. Kembali dia mencelupkan sikat ke dalam ember.

“Aku akan membersihkannya.” Emily berkata dengan nada sopan yang dia usahakan.

"Tentu saja kau harus melakukannya," dengus Martha kemudian berjalan pergi.

Malam harinya, setelah rentetan pekerjaan itu selesai, Emily menyeret tubuhnya yang gemetar ke dapur untuk mencari makan apa saja yang tersisa.

Namun, langkahnya terhenti saat melihat meja kayu panjang tempat pelayan makan sudah bersih. Tidak ada sisa irisan roti atau hanya sekedar satu mangkuk kecil bubur sisa.

“Kau sangat terlambat, Nona,” kata seorang koki dapur tanpa menoleh. Dia sedang mencuci piring. “Jatahmu sudah dihabiskan pelayan lain.”

“Tidak ada sisa makanan sama sekali?” tanya Emily penuh harap.

Koki itu menggeleng tanpa menoleh. “Tidak ada. Sayang sekali.”

Emily menghela napas seraya memegang perutnya yang melilit.

“Baiklah. Terima kasih.” Emily berkata sopan lalu kembali ke kamarnya tanpa membawa apa pun untuk di makan.

Di kegelapan kamarnya, Emily menyadari satu kenyataan bahwa Lucien tidak memberikannya satu keping uang sama sekali.

“Aku butuh uang,” bisiknya. “Untuk sekedar makan.”

Beberapa hari berlalu dengan rutinitas yang sama seperti saat pertama kali dia datang ke mansion itu.

Emily dapat merasakan tubuhnya yang semakin menyusut karena dia hanya makan apa pun yang tersisa di dapur. Terkadang dia harus menyembunyikan sisa sarapan paginya untuk di makan nanti lagi.

“Emily!”

Gable memanggil Emily ketika hendak bersiap untuk tidur.

Emily membuka pintu kamarnya. “”Ya, Mrs. Gable?”

“Buang sampah yang ada di dapur.” Gable memerintah tanpa kenal waktu yang sudah lewat tengah malam.

“Sekarang juga?” tanya Emily heran. Ditahan mulutnya untuk tidak menguap lebar. Dia lelah sekali.

“Sekarang!” Gable menyahut.”Buang keluar gerbang belakang dapur. Kau paham?”

Emily menurut. Dia menuju dapur mansion itu. mengumpulkan sampah-sampah yang sudah siap  untuk dibuang.

Susah payah Emily membawanya seraya menahan bau yang menguar dari ember sampah yang dibawanya.

Udara malam kota Ashwood yang dingin menerpa wajahnya. Saat dia bersusah payah menuangkan isi ember sampah ke tempat pembuangan.

“Kenapa harus aku yang membuangnya?”

Emily mengeluh seraya mengerutkan hidungnya.

“Ya Tuhan, ini berat sekali.” Keluhnya lagi.

Seluruh sampah telah dibuang ke pembuangan sampah.

Emily menghela napas lega lalu mendongak untuk menikmati udara malam ketika dia melihat pintu gerbang besi tua yang biasanya terkunci rapat itu terlihat terbuka walau sedikit.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 51: Terpesona Sepenuhnya

    "Perhatikan temponya, Lucien! Musiknya semakin cepat, seolah-olah penari itu sedang mengejar waktu yang hilang!" seru Alice dengan gembira yang dipaksakan.Dia berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua.Lucien Montague tidak menjawab. Dia bahkan seolah tidak mendengar suara Alice yang berada tepat di sampingnya.Seluruh fokusnya, seluruh jiwanya, telah berpindah ke tengah panggung yang kini menjadi medan pusaran emosi.Musik orkestra kecil di sudut teater mencapai puncak kecepatannya. Gesekan biola yang tadinya melankolis kini berubah menjadi nada-nada tinggi yang progresif dan mendebarkan.Di bawah sorotan lampu yang semakin terang, Emily menari dengan intensitas yang belum pernah ditunjukkan sebelumnya.Tubuhnya bergerak mengikuti irama drum yang menghentak, berputar begitu cepat hingga gaun sutra hitamnya berubah menjadi lingkaran bayangan memabu

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 50: Tersihir

    Lucien Montague tidak menyahut. Ia seolah kehilangan kemampuan merangkai kata. Di hadapannya, di bawah sorot lampu yang pucat, Emily melakukan serangkaian putaran cepat yang memukau.Kain sutra hitam pekat dari gaunnya terangkat tinggi dan berkibar dengan ritme sempurna. Gerakan Emily begitu bertenaga. Namun, tetap halus. Sebuah kontradiksi yang hanya bisa dihasilkan oleh seorang penari dengan disiplin tingkat tinggi.Seluruh aula teater yang tadinya riuh mendadak hening. Ratusan pasang mata penonton, mulai dari buruh pelabuhan yang kasar hingga para bangsawan yang bersembunyi di balik jubah mereka, semua terdiam.Mereka terhipnotis oleh emosi yang dipancarkan oleh setiap lekuk tubuh Emily. Tidak ada suara denting gelas, tidak ada bisikan cabul, bahkan napas para penonton pun seakan tertahan di tenggorokan."Dia tidak hanya menari, Alice. Dia seolah sedang menceritakan sebuah tragedi yang tidak bisa

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 49: Cahaya dan Bayangan

    “Bersabarlah sebentar lagi, Lucien. Lihat, lampunya sudah mulai dipadamkan,” bisik Alice sambil menyentuh lengan Lucien lembut.Dia mencoba meredam kekesalan pria itu yang sudah berada di ambang batas.Lucien mendengus di balik sapu tangan sutranya. Matanya yang hijau berkilat tajam dalam kegelapan yang mulai menyelimuti teater.“Sepuluh detik, Alice. Jika dalam sepuluh detik panggung itu tetap kosong, aku akan menyeretmu keluar dari tempat ini.”Alice hanya tersenyum dengan mata menatap lurus ke depan. Dia tahu betul bahwa sepuluh detik adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Emily muncul dan menjerat lehernya sendiri ke dalam jebakan yang telah disiapkan.Tepat saat hitungan Lucien mencapai angka kelima, suara dentuman drum besar bergema satu kali hingga menggetarkan lantai kayu teater.Seketika, seluruh lampu minyak di aula dipadamk

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 48: Gaun ‘Janda Hitam’

    Emily berusaha bangkit, membersihkan debu dari jubahnya."Maaf, Jordan. Pintu belakang dijaga preman. Aku harus memanjat pipa pembuangan dan masuk melalui ventilasi atap," jawabnya serak.Jordan melebarkan matanya.bahkan dia hampir menjatuhkan lampu di tangannya. "Memanjat pipa? Kau gila! Jika kau jatuh, teater ini akan menjadi tempat pemakamanmu! Cepat, jangan banyak bicara lagi. Tirai harus dibuka dalam tiga menit!"Jordan menarik lengan Emily untuk menuntunnya menuruni tangga kayu yang berderit menuju ruang ganti utama yang sempit.Di sana, suasana sangat kacau. Para penari latar sedang sibuk membetulkan riasan dan bau bedak murahan bercampur aroma minyak lampu memenuhi udara."Jordan, aku tidak bisa memakai gaun merah itu," ucap Emily tiba-tiba. Dia menghentikan langkahnya di depan lemari kostum utama."Apa maksudmu? Itu adalah kostum ikonik 'Si Cantik Be

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 47: Pelarian Nekat

    "Jangan berani-beraninya kau beristirahat sebelum semua kuali ini mengkilap, Emily! Dan pastikan pintu belakang terkunci rapat setelah kereta Marquess meninggalkan halaman!"Suara Gable yang melengking memecah keheningan dapur setelah Emily kembali dari ruang makan. Wanita tua itu membanting sebuah sikat kasar ke atas meja kayu, tepat di samping tumpukan alat masak.Matanya menyipit, mengawasi Emily yang matanya sesekali menata jendela kecil saat lampu kereta kuda yang perlahan bergerak menjauh menembus gerbang utama."Baik, Mrs. Gable," jawab Emily.Tangannya masih bergerak menggosok kuali yang sudah mengilap dengan suara yang diusahakan tetap tenang. Meski begitu, jemarinya sudah dingin dan gemetar saat menggosok kuali."Bagus. Aku akan memeriksa gudang perak. Jika aku kembali dan kau masih menggosok kuali itu tanpa semangat, hukuman gudang bawah tanah kemarin akan terasa seper

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 46: Bujukan Terakhir

    “Lucien.” Alice berkata setengah merayu saat melihat Lucien kembali makan.Lucien menyuap supnya perlahan, seolah sedang melakukan sebuah ritual. Kuah kaldu bening itu terasa begitu kaya di lidahnya; ada rasa gurih dari ayam yang direbus lama, segarnya seledri, dan jejak rasa lada yang memberikan kehangatan instan di dadanya.Lucien harus mengakui, meski hanya di dalam hati, bahwa masakan Emily memiliki kualitas yang tidak pernah ditemukan dalam hidangan para koki profesional yang dia sewa.Masakan Emily terasa... tulus. Tidak ada teknik yang dipamerkan secara berlebihan, tidak ada hiasan yang tak perlu.Hanya rasa yang jujur, seolah seluruh perhatian si pembuatnya dituangkan ke dalam mangkuk itu.Di tengah dunia bangsawan yang penuh dengan kemunafikan dan topeng, sup ini adalah satu-satunya hal yang terasa nyata bagi Lucien.Namun, ketenangan itu

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 34: Perhatian yang Terbagi

    Suasana di meja makan pagi itu terasa canggung dan tidak biasa. Lucien sudah sembuh total dari demamnya. Dia duduk tegak di kepala meja seperti biasa, wajahnya datar dan tak terbaca.Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam sikapnya. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh Alice.

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 33: Penolakan

    “Maafkan saya, Marquess.” Emily menjawab seraya menunduk.Lucien menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan kaku. Rasa sakit di pergelangan kakinya masih berdenyut dan kepalanya masih terasa berat sisa demam semalam.Namun, rasa sakit f

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 32: Sisi Rapuh

    Tubuh Emily menegang seketika. Jantungnya berpacu di dalam dadanya."Mawar..."Kata itu, diucapkan dalam bisikan yang penuh kerinduan.Lucien mengenalinya. Bahkan dalam ketidaksadarannya dan dalam demam, indera penciuman pria itu masi

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 31: Demam Tinggi

    “Jangan. Sebaiknya tidak perlu,” bisik Emily lalu memutar tubuhnya kembali menuju kamarnya.Dia tidak ingin melihat Lucien dalam keadaan pakaiannya basah kuyup. Bukan hanya Lucien yang curiga nanti, tetapi Alice atau para pelayan lainnya ikut curiga.Emily segera menuju kamarnya. Dia menutup pintu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status