Accueil / Zaman Kuno / Istri Gadai Marquess Kejam / Bab 6: Sebuah Aturan Mutlak

Partager

Bab 6: Sebuah Aturan Mutlak

last update Date de publication: 2026-02-17 10:33:41

“Ada lagi?” bisik Emily.

Jantung Emily berdegup. Jarak antara dirinya dan Lucien begitu dekat hingga dapat mencium aroma tembakau dari tubuh Marquess.

Jika saling meencintai, pastilah ada kehangatan terjadi. Namun, ini tidak ada kehangatan sama sekali. Sikap Lucien yang dingin itu membuat Emily ingin mundur dua langkah.

“Kuminta padamu untuk tidak jatuh cinta padaku.”

Emily tertegun mendnegar kalimat yang meluncur begitu mulus tanpa ekspresi itu. Emily berusaha menatap ke dalam mata hijau Lucien.

Tidak ada bercanda sama sekali. Emily hanya melihat keseriusan yang begitu dingin dan kejam. Emily menghela napas pelan.

“Tidak perlu khawatir, Marquess,” balas Emily berusaha untuk tenang walau hatinya berkata lain.

Diangkat dagunya untuk mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah terinjak.

“Aku tahu posisiku,” katanya lagi. “Aku di sini untuk pembayar utang orang tuaku. Aku tahu betul bahwa tidak akan mencari cinta dari Anda.”

Penjelasan tenang Emily itu membuat Lucien menyipitkan mata. Pria itu mencari kebohongan pada ucapan Emily atau rasa sakit hati. Tetapi dia tidak menemukannya. Akhirnya, senyum sinis terbit di sudut bibir Lucien.

“Bagus,” gumamnya. “Jangan pernah berharap aku menyentuhmu atau memanjakanmu. Kau sudah tahu gunanya di mansion ini. Hanya pajangan semata.”

Emily meremas sangat erat buket bunganya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan ucapan yang sangat kejam dari Lucien.

“Pakaianmu akan diantarkan kurir besok.” Lucien berkata lagi lalu berbalik dan keluar dari tempat itu.

Emily memerhatikan Lucien yang pergi tanpa menoleh lagi. Setelah suaminya itu menghilang, Emily masuk ke dalam kamar sempit itu perlahan.

Selera makannya sudah menguap entah ke mana dan hanya menyisakan rasa sedih yang luar biasa.

Malamnya, Emily tidur masih menggunakan gaun pengantinnya. Dia meringkuk di atas kasur keras seraya memeluk lututnya sendiri. Dia tidak menangis. Penderitaannya membuat air matanya tidak sanggup lagi menetes.

Pagi datang. Emily terbangun dengan pegal terasa di seluruh tubuhnya. Dia hendak bangkit dari tempat tidurnya ketika pintu kamarnya dibuka begitu saja.

Gable berdiri di ambang pintu seraya tumpukan pakaian berwarna abu-abu tua.

“Bangun,” perintah Gable. “Di kediaman Montague ini tidak ada yang bangun siang. Semua pelayan bangun sebelum matahar terbit. Karena kau tinggal di sayap pelayan, Kau harus bangun lebih pagi.”

Emily duduk seraya mengerjapkan matanya. Dia masih mengumpulkan kesadarannya. “Pakaian apa itu, Mrs Gable?”

Gable maju lalu menyerahkan tumpukan kain itu ke ujung tempat tidur dengan melemparkannya.

“Seragammu,” ucapnya tegas. “Marquess ingin kau tidak mencolok. Gaun bangsawanmu itu tidak pantas dipakai di sayap pelayan ini.”

Emily menoleh pada kain yang ada di sisinya. Ditatapnya potongan kain yang kasar itu tidak percaya. “Aku… aku memakai ini?”

“Perintan Marquess. Atau kau mau telanjang? Itu terserah kau,” jawab Gable dengan nada ketus, tidak seperti sehari sebelumnya. “Sarapanmu ada di dapur. Jika kau tidak cepat maka anjing penjaga akan menghabiskannya.”

Perlakuan itu menampar Emily. Dia sadar bahwa dirinya bukan lagi anak seorang Count atau istri Marquess yang dihormati. Di tempat ini, dia seorang pelayan bahkan lebih rendah dari itu.

Setelah Gable mengatakan itu, kepala pelayan itu segera berbalik pergi dengan menutup pintu begitu keras hingga dindingnya bergetar dan Emily terperanjat sedikit.

Emily mengganti gaun pengantinnya dengan gaun abu-abu itu. Ukuran gaunnya pas. Namun, bahannya sedikit gatal di kulit Emily.

Perlahan, Emily melipat gaun pengantinnya dan menyimpannya di dalam lemari kayu kecil.

“Aku yakin, Lucien tidak akan mengambil pakaianku di rumah orang tuaku,” ucap Emily. “Dia hanya basa-basi,” tambahnya lagi.

Emily kemudian keluar kamar. Dia menyusuri koridor menuju dapur. Para pelayan yang berpapasan dengannya menundukkan kepala karena canggung. Beberapa dari mereka terkikik dan berbisik saat Emily lewat.

Emily tidak perlu tahu apa yang mereka katakan. Pastilah mereka sudah tahu jati dirinya dari kepala pelayan. Dan kepala pelayan tahu dari Lucien sendiri.

‘Tidak ada rahasia di rumah ini kalau begitu,’ pikir Emily seraya terus berjalan.

Emily menegakkan punggung. Dia mengambil sepotong roti dan segelas air dari meja dapur lalu memakannya dengan cepat seraya berdiri di sudut ruangan.

Selesai sarapan, Emily berjalan menuju pintu samping yang mengarah ke taman untuk mencari udara segar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Lucien menuruni tangga utama di aula besar.

Pria itu tampak gagah dengan setelan berkuda. Dan itu sangat kontras dengan penampilan Emily yang kini menjadi pelayan.

Lucien menoleh. Tatapannya tertuju pada Emily yang berdiri dengan gaun pelayan.

Emily yang ditatap Lucien segera menunduk hormat. Naluri bangsawan masih melekat dalam dirinya.

“Selamat pagi, Marquess,” sapanya.

Lucien berjalan mendekat dengan tatapan menyapu penampilan Emily dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada rasa iba. Yang terlihat oleh Emily hanya kepuasan.

“Kau pantas dengan pakaian itu,” komentar Lucien tanpa ekspresi. “Lebih pantas daripada gaun sutra yang kau pakai dari hasil uang judi ayahmu itu.”

Emily yang masih berdiri tegak di hadapan Lucien lalu tersenyum sopan seraya meremas rok gaunnya demi menghalau perasaannya.

“Terima kasih atas pujian yang Anda berikan, Marquess,” ucap Emily. Dia tidak ingin terkesan kalah pada ucapan Marquess yang menyakitkan itu. “Jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan, saya hendak permisi.”

Emily berbalik. Dia sebenarnya tidak sanggup menahan penghinaan Lucien itu.

“Kau ingat aturanku kemarin, Emily?”

Langkah Emily terhenti. Dia menoleh walau sedikit.

“Tentu,” jawabnya pelan. “Jangan jatuh cinta pada Anda yang seorang Marquess.”

Lucien tersenyum miring lalu melangkah maju. Dia mencondongkan tubuhnya seakan hendak membisikkan rahasia yang sangat besar.

“Apakah kau tahu kenapa aku melarangmu jatuh cinta padaku?” tanyanya dingin.

Emily diam.

“Selain kau hanya alat pelunas hutang, hatiku sudah dimiliki oleh wanita lain,” bisik Lucien di telinga Emily. “Wanita yang jauh lebih berharga darimu.”

Mata Emily membelalak.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 133: Protokol yang Menyesakkan

    "Teater? Kenapa Lady Emmeline menanyakan tempat seperti itu di saat jadwal belajar Anda begitu padat?"Suara Margreth terdengar sedikit melengking karena terkejut. Wanita tau itu menghentikan gerakannya yang sedang merapikan gaun sutra yang terlihat kusut di bagian kaki Emily. Matanya yang sudah mulai mengeriput menatap Emily dengan tatapan tidak percaya, seolah-olah sang putri baru saja menanyakan sesuatu yang sangat tabu."Aku hanya bertanya, Margreth. Bukankah seni adalah bagian dari kehidupan bangsawan?" jawab Emily mencoba membela diri."Memang benar, Lady. Namun, teater rakyat di kota bukanlah tempat bagi seorang Putri Valoria," jelas Margreth sembari menghela napas panjang.Emily kembali menatap kejauhan. “Di Ashwood, para bangsawan datang dengan memakai penutup wajah, Margreth. Mereka tidak ingin citra baik itu rusak. Ada pula yang datang terang-terangan. Tetapi itu terbilang jarang.&rd

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 132: Transformasi Sang Putri

    "Kau boleh menggunakan semua fasilitas di kastil ini, Emmeline. Jangan ragu."Suara bariton Adrian terdengar memenuhi aula besar saat ia menuntun adiknya melewati deretan pilar marmer yang menjulang tinggi. Adrian menyadari betapa kaku langkah kaki Emily.Gadis itu masih berjalan dengan bahu yang merapat dan kepala tertunduk. Kebiasaan sebagai seorang pelayan dapur di mansion Montague seolah-olah telah mendarah daging dan sulit untuk dikikis dalam semalam."Terima kasih, Kak Adrian. Tapi rasanya... semuanya masih terlalu luas untukku," bisik Emily dengan nada canggung.Emily menatap lantai marmer yang begitu bersih hingga dia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri. Di Ashwood, dia terbiasa berjalan mepet ke dinding agar tidak menghalangi jalan para bangsawan atau Alice yang sering melintas dengan angkuh.Kini, ketika dia menjadi pusat perhatian para pelayan yang membungkuk hormat, Emily justru merasa ingin bersembunyi. Dia belum terbiasa dengan segala kemewahan itu walau dirinya perna

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 131: Pengungkapan Jati Diri (2)

    "Mereka bilang aku dibuang. Berarti itu tidak benar?"Suara Emily terdengar sangat lirih. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Tentang semua asal-usul dirinya. Ditatapnya kalung bulan sabit yang kini terasa sangat berat di telapak tangannya.Bayangan masa kecilnya di kediaman Fitzwilliam yang penuh dengan aroma asap rokok dan tumpukan kartu judi mendadak melintas di benaknya bagaikan mimpi buruk yang tidak berkesudahan."Itu tidak benar. Kau tidak dibuang oleh kami, Emmeline. Kau dirampas dari kami," ralat Adrian dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.Emily tertawa pahit di sela isakannya. "Jasper selalu bilang aku adalah anugerah karena mereka tidak memiliki anak. Ternyata, aku hanyalah perhiasan yang dia curi agar bisa hidup mewah di Ashwood."Adrian terdiam. Alisnya berkerut memikirkan sesuatu. Ditatapnya Emily lalu menghela napas pelan.“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucapnya lirih.Emily menoleh. “Apa itu?”"Aku sengaja pergi ke Ashwood beberapa

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 130: Pengungkapan Jati Diri (1)

    Emily mengerutkan kening, bingung dengan maksud ucapan ksatria di hadapannya itu. "Maksud Anda? Aku hanyalah pelarian dari Ashwood yang berutang nyawa pada Anda. Tidak ada kemuliaan dalam sejarah hidupku."Adrian merasakan tusukan di dadanya mendengar rendah diri adiknya sendiri. Diletakkan tas kulit kecil yang dibawanya ke atas bangku batu di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Adrian mengeluarkan kotak kayu eboni berukir singa emas dan menyerahkannya kepada Emily."Apa ini, Tuan Adrian?" tanya Emily ragu sembari menerima kotak yang terasa berat itu.Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Emily dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan dan kasih sayang."Emily... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang darah yang mengalir di tubuhmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius."Siapa aku sebenarnya maksud Tuan?"&nb

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 129: Kepulangan

    “Ada di ruang bawah tanah, Milord.” Sterling segera menjawab agar Lucien tidak murka lebih lanjut.Beberapa saat kemudian, di ruang interogasi bawah tanah yang lembap, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah penuh luka duduk terikat di kursi besi.Pria kurus itu gemetar hebat saat Lucien melangkah masuk dengan pedang yang sudah terhunus. Aura kematian terpancar dari sang Marquess."Katakan padaku dari mana kau mendapatkan anting-anting ini, Tikus Got?!" tanya Lucien sembari menghujamkan ujung pedangnya ke lantai, tepat di antara kedua kaki pria itu."Ampun, Marquess!” teriak perampok kurus itu dengan suara melengking ketakutan. “Saya menemukannya di hutan kabut! Ada seorang wanita yang terjebak di tengah lumpur malam itu!"Lucien melangkah maju lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa yang kau lakukan padanya?! Jangan berani kau berbohong atau aku akan membedah perutmu hidup-hidup!"Pria itu memejamkan mata. Suaranya bergetar hebat saat m

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 128: Depresi Sang Marquess

    "Ke sel bawah tanah mansion Montague," perintah Lucien tanpa menoleh lagi. "Biarkan mereka membusuk di sana bersama kenangan busuk tentang keserakahan dan pengkhianatan mereka seumur hidup."Jasper dan Madeline menjerit histeris saat para prajurit menyeret mereka keluar dari gudang lembap tersebut dengan paksa. Mereka meronta-ronta, memohon ampunan yang sudah lama mati dari hati sang Marquess yang kini telah membeku.Lucien hanya berdiri diam menatap punggung Jasper dengan kebencian yang mendalam dan dendam yang akhirnya tuntas.Setelah gudang itu kembali sunyi, Lucien berjalan perlahan menuju kudanya yang sudah menunggu di luar. Hujan mulai turun kembali, membasahi wajahnya yang terasa panas oleh amarah yang tidak berujung dan penyesalan yang mulai merayap.Beberapa saat kemudian, Lucien sampai di mansionnya yang kini terasa sangat luas dan terlalu sepi. Dia melangkah melewati aula besar, namun kakinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk menuju ke satu ruangan.Kemudian dia berhe

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 77: Kebebasan yang Menyakitkan

    “Kau pikir aku butuh izinmu untuk menghukummu?” geram Lucien dengan suara berat, rendah, dan mengancam.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Lucien membungkuk. Tangannya yang besar dan kuat mencengkeram lengan atas Emily dengan kasar.Dia

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 76: Beban Dosa Warisan

    Saat Lucien berbalik, bermaksud mengakhiri pengakuan yang telah mengoyak kembali luka-luka masa lalunya, Emily bertindak di luar kendali.Dengan gerakan putus asa, tangan Emily yang gemetar melesat maju, jari-jarinya yang dingin berhasil mencengkeram ujung jas Lucien untuk me

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 70: Kehancuran Fitzwilliam

    “Di sinikah tempatnya?” bisiknya seraya mengerutkan hidung.Angin membawa bau pesing dan kayu lapuk menyapu wajah Lucien Montague saat turun dari kereta kuda hitamnya. Di depannya, berdiri sebuah bangunan tua bekas gudang tekstil di perbatasan distrik bawah Ashwood.Menurutnya, itu merupakan sebuah

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 60: Pertengkaran Hebat

    “Apa katamu?”Lucien Montague mematung. Matanya yang hijau zamrud, yang sebelumnya dipenuhi oleh kemurkaan, kini menyipit tajam menatap Emily.Urat di pelipisnya menonjol, dan tangannya yang bertumpu pada lututnya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.Sesaat, keheningan mencekam menyelimuti me

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status