เข้าสู่ระบบ“Ada lagi?” bisik Emily.
Jantung Emily berdegup. Jarak antara dirinya dan Lucien begitu dekat hingga dapat mencium aroma tembakau dari tubuh Marquess.
Jika saling meencintai, pastilah ada kehangatan terjadi. Namun, ini tidak ada kehangatan sama sekali. Sikap Lucien yang dingin itu membuat Emily ingin mundur dua langkah.
“Kuminta padamu untuk tidak jatuh cinta padaku.”
Emily tertegun mendnegar kalimat yang meluncur begitu mulus tanpa ekspresi itu. Emily berusaha menatap ke dalam mata hijau Lucien.
Tidak ada bercanda sama sekali. Emily hanya melihat keseriusan yang begitu dingin dan kejam. Emily menghela napas pelan.
“Tidak perlu khawatir, Marquess,” balas Emily berusaha untuk tenang walau hatinya berkata lain.
Diangkat dagunya untuk mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah terinjak.
“Aku tahu posisiku,” katanya lagi. “Aku di sini untuk pembayar utang orang tuaku. Aku tahu betul bahwa tidak akan mencari cinta dari Anda.”
Penjelasan tenang Emily itu membuat Lucien menyipitkan mata. Pria itu mencari kebohongan pada ucapan Emily atau rasa sakit hati. Tetapi dia tidak menemukannya. Akhirnya, senyum sinis terbit di sudut bibir Lucien.
“Bagus,” gumamnya. “Jangan pernah berharap aku menyentuhmu atau memanjakanmu. Kau sudah tahu gunanya di mansion ini. Hanya pajangan semata.”
Emily meremas sangat erat buket bunganya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan ucapan yang sangat kejam dari Lucien.
“Pakaianmu akan diantarkan kurir besok.” Lucien berkata lagi lalu berbalik dan keluar dari tempat itu.
Emily memerhatikan Lucien yang pergi tanpa menoleh lagi. Setelah suaminya itu menghilang, Emily masuk ke dalam kamar sempit itu perlahan.
Selera makannya sudah menguap entah ke mana dan hanya menyisakan rasa sedih yang luar biasa.
Malamnya, Emily tidur masih menggunakan gaun pengantinnya. Dia meringkuk di atas kasur keras seraya memeluk lututnya sendiri. Dia tidak menangis. Penderitaannya membuat air matanya tidak sanggup lagi menetes.
Pagi datang. Emily terbangun dengan pegal terasa di seluruh tubuhnya. Dia hendak bangkit dari tempat tidurnya ketika pintu kamarnya dibuka begitu saja.
Gable berdiri di ambang pintu seraya tumpukan pakaian berwarna abu-abu tua.
“Bangun,” perintah Gable. “Di kediaman Montague ini tidak ada yang bangun siang. Semua pelayan bangun sebelum matahar terbit. Karena kau tinggal di sayap pelayan, Kau harus bangun lebih pagi.”
Emily duduk seraya mengerjapkan matanya. Dia masih mengumpulkan kesadarannya. “Pakaian apa itu, Mrs Gable?”
Gable maju lalu menyerahkan tumpukan kain itu ke ujung tempat tidur dengan melemparkannya.
“Seragammu,” ucapnya tegas. “Marquess ingin kau tidak mencolok. Gaun bangsawanmu itu tidak pantas dipakai di sayap pelayan ini.”
Emily menoleh pada kain yang ada di sisinya. Ditatapnya potongan kain yang kasar itu tidak percaya. “Aku… aku memakai ini?”
“Perintan Marquess. Atau kau mau telanjang? Itu terserah kau,” jawab Gable dengan nada ketus, tidak seperti sehari sebelumnya. “Sarapanmu ada di dapur. Jika kau tidak cepat maka anjing penjaga akan menghabiskannya.”
Perlakuan itu menampar Emily. Dia sadar bahwa dirinya bukan lagi anak seorang Count atau istri Marquess yang dihormati. Di tempat ini, dia seorang pelayan bahkan lebih rendah dari itu.
Setelah Gable mengatakan itu, kepala pelayan itu segera berbalik pergi dengan menutup pintu begitu keras hingga dindingnya bergetar dan Emily terperanjat sedikit.
Emily mengganti gaun pengantinnya dengan gaun abu-abu itu. Ukuran gaunnya pas. Namun, bahannya sedikit gatal di kulit Emily.
Perlahan, Emily melipat gaun pengantinnya dan menyimpannya di dalam lemari kayu kecil.
“Aku yakin, Lucien tidak akan mengambil pakaianku di rumah orang tuaku,” ucap Emily. “Dia hanya basa-basi,” tambahnya lagi.
Emily kemudian keluar kamar. Dia menyusuri koridor menuju dapur. Para pelayan yang berpapasan dengannya menundukkan kepala karena canggung. Beberapa dari mereka terkikik dan berbisik saat Emily lewat.
Emily tidak perlu tahu apa yang mereka katakan. Pastilah mereka sudah tahu jati dirinya dari kepala pelayan. Dan kepala pelayan tahu dari Lucien sendiri.
‘Tidak ada rahasia di rumah ini kalau begitu,’ pikir Emily seraya terus berjalan.
Emily menegakkan punggung. Dia mengambil sepotong roti dan segelas air dari meja dapur lalu memakannya dengan cepat seraya berdiri di sudut ruangan.
Selesai sarapan, Emily berjalan menuju pintu samping yang mengarah ke taman untuk mencari udara segar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Lucien menuruni tangga utama di aula besar.
Pria itu tampak gagah dengan setelan berkuda. Dan itu sangat kontras dengan penampilan Emily yang kini menjadi pelayan.
Lucien menoleh. Tatapannya tertuju pada Emily yang berdiri dengan gaun pelayan.
Emily yang ditatap Lucien segera menunduk hormat. Naluri bangsawan masih melekat dalam dirinya.
“Selamat pagi, Marquess,” sapanya.
Lucien berjalan mendekat dengan tatapan menyapu penampilan Emily dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada rasa iba. Yang terlihat oleh Emily hanya kepuasan.
“Kau pantas dengan pakaian itu,” komentar Lucien tanpa ekspresi. “Lebih pantas daripada gaun sutra yang kau pakai dari hasil uang judi ayahmu itu.”
Emily yang masih berdiri tegak di hadapan Lucien lalu tersenyum sopan seraya meremas rok gaunnya demi menghalau perasaannya.
“Terima kasih atas pujian yang Anda berikan, Marquess,” ucap Emily. Dia tidak ingin terkesan kalah pada ucapan Marquess yang menyakitkan itu. “Jika tidak ada lagi yang ingin disampaikan, saya hendak permisi.”
Emily berbalik. Dia sebenarnya tidak sanggup menahan penghinaan Lucien itu.
“Kau ingat aturanku kemarin, Emily?”
Langkah Emily terhenti. Dia menoleh walau sedikit.
“Tentu,” jawabnya pelan. “Jangan jatuh cinta pada Anda yang seorang Marquess.”
Lucien tersenyum miring lalu melangkah maju. Dia mencondongkan tubuhnya seakan hendak membisikkan rahasia yang sangat besar.
“Apakah kau tahu kenapa aku melarangmu jatuh cinta padaku?” tanyanya dingin.
Emily diam.
“Selain kau hanya alat pelunas hutang, hatiku sudah dimiliki oleh wanita lain,” bisik Lucien di telinga Emily. “Wanita yang jauh lebih berharga darimu.”
Mata Emily membelalak.
"Mereka bilang aku dibuang. Berarti itu tidak benar?"Suara Emily terdengar sangat lirih. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Tentang semua asal-usul dirinya. Ditatapnya kalung bulan sabit yang kini terasa sangat berat di telapak tangannya.Bayangan masa kecilnya di kediaman Fitzwilliam yang penuh dengan aroma asap rokok dan tumpukan kartu judi mendadak melintas di benaknya bagaikan mimpi buruk yang tidak berkesudahan."Itu tidak benar. Kau tidak dibuang oleh kami, Emmeline. Kau dirampas dari kami," ralat Adrian dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.Emily tertawa pahit di sela isakannya. "Jasper selalu bilang aku adalah anugerah karena mereka tidak memiliki anak. Ternyata, aku hanyalah perhiasan yang dia curi agar bisa hidup mewah di Ashwood."Adrian terdiam. Alisnya berkerut memikirkan sesuatu. Ditatapnya Emily lalu menghela napas pelan.“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucapnya lirih.Emily menoleh. “Apa itu?”"Aku sengaja pergi ke Ashwood beberapa
Emily mengerutkan kening, bingung dengan maksud ucapan ksatria di hadapannya itu. "Maksud Anda? Aku hanyalah pelarian dari Ashwood yang berutang nyawa pada Anda. Tidak ada kemuliaan dalam sejarah hidupku."Adrian merasakan tusukan di dadanya mendengar rendah diri adiknya sendiri. Diletakkan tas kulit kecil yang dibawanya ke atas bangku batu di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Adrian mengeluarkan kotak kayu eboni berukir singa emas dan menyerahkannya kepada Emily."Apa ini, Tuan Adrian?" tanya Emily ragu sembari menerima kotak yang terasa berat itu.Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Emily dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan dan kasih sayang."Emily... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang darah yang mengalir di tubuhmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius."Siapa aku sebenarnya maksud Tuan?"&nb
“Ada di ruang bawah tanah, Milord.” Sterling segera menjawab agar Lucien tidak murka lebih lanjut.Beberapa saat kemudian, di ruang interogasi bawah tanah yang lembap, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah penuh luka duduk terikat di kursi besi.Pria kurus itu gemetar hebat saat Lucien melangkah masuk dengan pedang yang sudah terhunus. Aura kematian terpancar dari sang Marquess."Katakan padaku dari mana kau mendapatkan anting-anting ini, Tikus Got?!" tanya Lucien sembari menghujamkan ujung pedangnya ke lantai, tepat di antara kedua kaki pria itu."Ampun, Marquess!” teriak perampok kurus itu dengan suara melengking ketakutan. “Saya menemukannya di hutan kabut! Ada seorang wanita yang terjebak di tengah lumpur malam itu!"Lucien melangkah maju lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa yang kau lakukan padanya?! Jangan berani kau berbohong atau aku akan membedah perutmu hidup-hidup!"Pria itu memejamkan mata. Suaranya bergetar hebat saat m
"Ke sel bawah tanah mansion Montague," perintah Lucien tanpa menoleh lagi. "Biarkan mereka membusuk di sana bersama kenangan busuk tentang keserakahan dan pengkhianatan mereka seumur hidup."Jasper dan Madeline menjerit histeris saat para prajurit menyeret mereka keluar dari gudang lembap tersebut dengan paksa. Mereka meronta-ronta, memohon ampunan yang sudah lama mati dari hati sang Marquess yang kini telah membeku.Lucien hanya berdiri diam menatap punggung Jasper dengan kebencian yang mendalam dan dendam yang akhirnya tuntas.Setelah gudang itu kembali sunyi, Lucien berjalan perlahan menuju kudanya yang sudah menunggu di luar. Hujan mulai turun kembali, membasahi wajahnya yang terasa panas oleh amarah yang tidak berujung dan penyesalan yang mulai merayap.Beberapa saat kemudian, Lucien sampai di mansionnya yang kini terasa sangat luas dan terlalu sepi. Dia melangkah melewati aula besar, namun kakinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk menuju ke satu ruangan.Kemudian dia berhe
“Pelayan! Pastikan Alice mengemasi barangnya dan cepat pergi dari mansion ini!”Teriakan Lucien yang menggema itu membuat para pelayan serta merta masuk ke dalam kamar tersebut.“Prajurit! Awasi Alice! Pastikan dia keluar dari mansion ini sekarang juga!Setelah meneriakkan itu, Lucien berjalan cepat keluar dari kamar itu. Dia mengabaikan Sterling dan juru tulis lainnya yang tergopoh-gopoh mengikutinya.“Tuan, apa rencana Anda selanjutnya?” tanya Sterling mensejajari langkah Lucien yang lebar.“Aku ingin ke suatu tempat, Tuan Sterling,” sahut Lucien lalu segera berjalan cepat dan Sterling hanya menganggukkan kepalanya.Dengan kemarahan yang memuncak, Lucien keluar dari mansion itu lalu segera menaiki kudanya yang masih ada di depan mansion.Dipacu kudanya dengan cepat tanpa memedulikan para pengawal dan prajuritnya yang tampak kebingungan melihat majikannya yang sangat murka. Mereka hanya mengikuti Lucien tanpa berani berspekulasiLucien berkuda menuju suatu tempat kumuh. Perjalanan mem
“Kau dan orang tuamu benar-benar lintah!” maki Lucien kasar.Dari sudut matanya, dia melihat Duke Harrington yang mencoba untuk kabur melalui pintu balkon yang terbuka ketika pengawal lengah."Kau mau lari ke mana, Harrington? Seorang Duke biasanya melangkah dengan dagu terangkat, bukan merangkak seperti tikus got yang ketahuan mencuri keju!"Suara bariton Lucien memotong langkah Duke Harrington.Lucien kini berdiri tegak di tengah ruangan. Tatapannya tidak lagi tertuju pada Alice, melainkan pada pria yang telah mengotori kehormatan rumah tangganya."Montague, jaga bicaramu! Aku adalah seorang Duke, pangkatku jauh di atas Marquess sepertimu!" raung Harrington sembari mencoba menggertak meski lututnya bergetar.Lucien tertawa sangat meremehkan dan dingin. Dia melangkah maju dengan gerakan yang tenang namun mematikan, memperpendek jarak di antara me
"Tenanglah. Kau aman. Kau tidak berada di tempat pria bernama Lucien itu lagi."Suara bariton Adrian yang biasa tegas, kini terdengar jauh lebih rendah dan lembut. Dia tidak melepaskan genggaman tangannya dari jari-jemari Emily. Berharap sentuhannya bisa menyalurkan rasa aman
"Katakan padaku dia masih bernapas, Elian!"Cengkeraman tangan Adrian di bahu Elian semakin mengerat. Suara baritonnya terdengar menuntut berusaha menyembunyikan kepanikan yang nyaris meluap dari dalam dadanya. Mata birunya menatap tajam Elian dan menolak menerima jawaban bur
"Keluar dari sini, Alice! Aku tidak punya waktu untuk mendengarkanmu sekarang!"Suara Lucien Montague menggelegar. Dia tidak suka memikirkan jika Emily kabur dengan pria lain.Ditatapnya Alice dengan mata yang merah perpaduan antara kemurkaan, kurang tidur, dan sisa alkohol yang mas
"Apakah ini benar-benar akhir dari segalanya, ataukah awal dari kehancuran yang lebih besar?"Emily berbisik pada kegelapan kamar utama yang kini terasa asing baginya. Suaranya bergetar, hampir tenggelam oleh deru angin yang menghantam kaca jendela.Cuaca







