Home / Zaman Kuno / Istri Gadai Marquess Kejam / Bab 8: Bayangan Masa Lalu

Share

Bab 8: Bayangan Masa Lalu

last update Last Updated: 2026-02-21 19:20:25

“Kenapa tidak ditutup?” bisik Emily.

Dia memicingkan matanya saat melihat penjaga malam itu tertidur pulas dengan kepala bersandar di meja.

Terdapat sebuah botol anggur kosong menggelinding di kaki yang bersamaan dengan suara dengkurannya yang begitu keras.

Pikirannya lagi tertuju pada teater yang diikutinya.

Tangannya yang tadi menggenggam ember sambah, dilepaskan begitu saja.

Dia melangkah dengan perlahanmendekati celah gerbang besi tersebut. sebuah kesempatan langka yang tidak pernah dia ras
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 12: Balasan Elegan

    Sisa hari itu dilalui Emily terasa lebih berat daripada biasanya. Emily tidak tahu mengapa pikirannya terus tertuju pada ciuman itu.Lucien hari itu mendampingi Alice. Namun, anehnya, tiap Emily melangkah disitulah ada Lucien. Entah sengaja atau tidak, menurut Emily itu termasuk janggal. Atau mungkin pria itu hanya memata-matai pekerjaannya.Ketika Emily sedang mengunyah sisa makan malamnya di dapur, Gable datang menghampirinya. Dan itu membuat Emily menghentikan makannya. Dia berdiri.“Ya, Mrs. Gable?” tanyanya sebelum Gable membuka mulutnya.“Bersihkan koridor atas.”Emily mengangguk. “Baik, Mrs. Gable.”Tanpa berkata dua kali, dia meninggalkan sisa makan malamnya dan segera mengambil peralatan kebersihannya lalu menuju lantai dua mansion itu.Emily mulai membersihkan koridor dengan peralatan yang dibawanya ketika dia menubruk seseorang dari belakang.Emily segera berbalik dan menunduk. “Maafkan saya. Saya tidak melihat. Saya—”Ucapannya terhenti saat melihat sepasang sepatu pria be

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 11: Nyonya Alice

    ‘Apa?’ batin Emily terkejut.Semua pelayan menunduk hormat kecuali Emily lalu mengucapkan serempak, “Selamat datang, Nyonya Alice.”Mata Emily bertemu pandang dengan Lucien. Tanpa harus berkata dengan suara keras, Emily tahu yang diperintahkan Lucien walau hanya dengan tatapan mata.Dengan setengah hati, Emily menunduk hormat dengan bibir bergerak pelan tanpa suara, “Selamat datang.”“Terima kasih sambutannya.”Alice berkata dengan suara lembut menatap satu per satu pelayan yang berjajar rapi di hadapannya. Alisnya berkerut saat melihat Emily. Dialihkan tatapannya pada Lucien.“Marquess, kau memiliki pelayan baru?” tanya Alice dengan suara yang bisa dikatakan lebih keras daripada biasanya.“Selalu ada pelayan baru setiap tahun, Alice.”Lucien menanggapi ucapan itu dengan kesan mengejek bagi Emily. Seolah dirinya hanya pelayan biasa yang akan pergi tidak lama lagi dikarenakan tidak betah.Alice mengangguk dengan senyum yang ramah bagi orang yang memandangnya. “Kuharap kalian betah bek

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 10: Tamu Istimewa

    “Itu … itu ….”Emily tidak sanggup menjawab pertanyaan Lucien. Dia berusaha untuk mencari alasan yang tepat.Lucien menatap Emily. Matanya mulai menyapu penampilan Emily dari ujung rambut hingga ujung kaki.“Kau belum menjawab pertanyaanku, Emily,” desak Lucien.Emily berusaha membalas tatapan suaminya dengan tenang walau jantungnya berdebar sangat kencang. Emily berdehem. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan sama sekali.“Mrs. Gable memintaku untuk membuang sampah. Lagipula, aku tidak bisa tidur,” jawab Emily. Akhirnya dia menemukan alasan yang tepat. “Jadi aku pergi ke halaman belakang untuk membuang sampah dan membakar sebagian tumpukan sampah di sana. Asapnya sangat tebal.”Lucien memicingkan mata mendengar jawaban itu. Dia melangkah maju hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Hidungnya masih membaui Emily.“Lalu dari mana asal bau parfum murahan ini?”“Ah, itu aroma sabun cuci piring dari dapur,” kilah Emily cepat. “Mrs. Gable memintaku mencuci setumpuk wajan berlemak.”Lucien t

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 9: Si Cantik Bertopeng

    “Em, kau bisa membantuku!”Mendengar itu, Emily menarik lengannya dengan kuat dari cengkeraman Jordan. Dia menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya kembali.Dia tidak mungkin kembali lagi ke teater itu setelah menikah dengan Lucien. Walau hatinya berkata lain, dia harus tetap pada komitmen awalnya datang ke teater itu yaitu berpisah.“Lepaskan aku, Tuan Jordan,” kata Emily pelan tetapi tegas. Aku … aku datang untuk sampaikan kalau aku ingin berhenti. Aku tidak bisa membantu kalian.”Jordan kembali meraih tangan Emily. Dia tidak melepaskannya.“Emily, kau tidak ingin membantuku?” tanya Jordan pelan.Emily menggeleng.Jordan menatap Emily penuh permohonan. “Em, kau sudah tahu gerakan-gerakan itu. Kau juga tahu dialognya. Kumohon, Em, bantu aku.”Pria bertubuh

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 8: Bayangan Masa Lalu

    “Kenapa tidak ditutup?” bisik Emily.Dia memicingkan matanya saat melihat penjaga malam itu tertidur pulas dengan kepala bersandar di meja.Terdapat sebuah botol anggur kosong menggelinding di kaki yang bersamaan dengan suara dengkurannya yang begitu keras.Pikirannya lagi tertuju pada teater yang diikutinya.Tangannya yang tadi menggenggam ember sambah, dilepaskan begitu saja.Dia melangkah dengan perlahanmendekati celah gerbang besi tersebut. sebuah kesempatan langka yang tidak pernah dia rasakan setelah terkurung di mansion itu.Dia merindukan teater. Untuk malam itu, dia ingin datang ke teater itu. Hanya untuk menyampaikan salam perpisahan sebab dia tidak akan ikut bekerja lagi di sana.“Aku akan melakukannya,” bisik Emily.“Aku hanya butuh datang ke sana untuk salam perpisahan,” Emily berkata penuh tekad. “Atau jika memungkinkan, aku akan meminta jatah pentasku minggu lalu.”Emily mengangguk pelan. Berharap dengan beberapa keping uang dapat membuatnya bertahan untuk makan beberap

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 7: Tugas Rendahan

    “Apa?” bisik Emily dengan mata nanar.Lucien sudah lama menghilang di balik pintu sayap utama mansion tetapi kata-katanya masih tertinggal dan terus menggema di telinga Emily.“Lucien memiliki wanita lain?” bisiknya lagi seolah tidak percaya pada pendengarannya.Emily terpaku di tempat. Tangannya terkepal di sisi gaunnya. Dia berusaha bernapas. Rasa sakit hati mulai merambat di dadanya dan perlahan mencabik kebanggaannya sebagai seorang wanita bangsawan.Walau begitu, Emily menolak untuk air matanya jatuh begitu saja. Sebab, menurutnya menangis tidak akan mengubah nasib yang terjadi dalam hidupnya.‘Aku mengerti yang engkau inginkan, Lucien,’ batin Emily. ‘Ini hanya kesepakatan utang. Aku hanya perlu bertahan hidup.’“Berhenti melamun, Nyonya Pelayan.”Suara Gable memecah keheningan yang terjadi di sekitar Emily. Gable berdiri tidak jauh darinya dengan mata menyipit. Sedang menilai.Emily melihat Gable sedang menggenggam sebuah sikat berbulu kasar dan ember kayu yang sepertinya begitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status