MasukOleh sebabnya, Luna tak berani mendrama seperti gadis-gadis novel bila di jodohkan dengan orang tua mereka.
Sebab sesungguhnya yang berhutang pada Jaya Baya adalah dirinya sendiri. Karenanya jugalah Luna tak berani mendrama tidak ingin tidur sekamar atau seranjang oleh suaminya. Luna patuh pada keinginan dan otoritas Jaya Baya, suaminya. Karena nyawa dan hidupnya milik Jaya Baya. "Untukmu" Jaya membuyarkan lamunan Luna yang sedang mengenang masa lalu menyakit kan beberapa bulan lalu sembari menscrool aplikasi oren,mengeranjangi barang-barang yang ingin di belinya. Memberikan uang tunai sebesar satu juta rupiah. Melihat kesempatan merubah istrinya menjadi bidadari datang. Awalnya Jaya pikir gadis kecil itu tak tertarik menjadi cantik atau sekadar membeli peralatan kecantikan. Karena istrinya menggunakan uang mahar sebesar 50 juta yang diberikannya untuk membeli emas. Tanpa sepengetahuan dirinya. Nyatanya gadis kecil itu terobsesi menjadi peri kecil di negeri bel. "Buatku?" Menunjuk dirinnya sendiri. "Heummm......" mengangguk pelan. "Beli apa saja yang kamu. Jika habis nanti minta lagi sama abang. " tutur Jaya lembut memberikan lembaran seratus ribuan sebanyak 10 lembar. "Makasih ya bang" kata Luna lembut menerima uang pemberian suaminya. Hatinya senang bukan main menerima uang pemberian Jaya. Akhirnya ia bisa membeli skincare, dan makeup serta peralatan kecantikan impiannya. "Sama-sama" mengusap lembut kepala Luna. Muaccchhh......... Muachhh.......... Luna mengecup pipi kanan dan kiri Jaya. Lalu menyimpan uang pemberian suaminya di laci. Meletakkan ponselnya di atas nakas. Luna membaringkan tubuhnya menarik selimut milik bermotif bunga-bunganya. Memejamkan mata perlahan berniat tidur lebih awal dari biasanya. Baru saja Luna hampir terlelap dalam mimpinya. Jaya membangunkannya mengajak Luna kembali shalat berjamaah. Kali ini Luna menerima ajakkan Jaya tanpa drama sedikit pin. Sebab Luna sudah sangat mengantuk dan tak berdaya. Akibat di siksa oleh Jaya seharian ketika berada di kampus tadi. Jaya tersenyum bahagia merasa menang akan istrinya. Tanpa tahu pertengkaran dengan istrinya baru akan di mulai. Brukkkkk..... Luna terjatuh di tempat tidur. Matanya lengket tak membuka. Kepalanya pusing mengantuk. Srrkkkkkkk....... Luna menarik selimut miliknya. Meringkuk seperti bayi di balik selimutnya. Happp....... Jaya melingkarkan tangannya dipinggang sang istri dari belakang. Mendekap tubuh mungil itu pelan. Mencium punggung istrinya sekilas. Meletakkan dagunya di bahu sang istri. "Dekkk......" "Heummm......" sahut Luna setengah sadar. "Abang boleh minta sesuatu gak?" Bisik Jaya pelan si cuping telinga sang istri. Jdderrrrrr............ Bak tersambar petir di siang bolong. Kesadaran Luna terkumpul seketika mendengar Jaya ingin meminta sesuatu darinya. Jangan-jangan Jaya mau minta malam pertama lagi. Jantungnya berdetak tak karuan mendengar perkataan Jaya. Luna tahu bahwa dirinya milik suaminya Jaya. Nyawanya juga masih berhutang pada sang suami. Sudah seharusnya Luna menyerahkan kesuciannya pada Jaya. Tapi tidak sekarang dia masih kuliah dan baru di semester satu. Nanti jika ia sudah lulus Luna pasti akan menyerahkan dirinya secara sukarela. "Minta apa?" Tanya Luna penuh keraguan. "Besok buatin abang breakfast sama bekal dong?" Pinta Jaya lembut meminta belas kasih istrinya. "Breakfast? Bekal?" Luna mengulangi dua kata pemintaan suaminya. "Hmmmm....." "Gak mau" tolak Luna to the point. "Kenapa gak mau?" Mengeratkan pelukkannya di pinggang sang istri. "Gak kenapa-napa" jawab Luna asal. Padahal ia malas bangun pagi-pagi. Selama empat hari terakhir mengikuti PBAK, Luna akan kembali tidur setelah melaksanakan shalat subuh bersama Jaya. Oleh sebabnya, Luna terlambat tiba ke kampus sampai hampir satu jam. "Buatkan!" Paksa Jaya mengampit kedua kaki Luna dengan kakinya. Hhkkkk........ Luna tersedak kaget suaminya makin menempel ke tubuhnya. Merasa berat dan sesak di bagian paha dan betisnya. "Awww......." keluh Luna, kakinya keram. "Buatkan!" Jaya membalik tubuh Luna menghadap kearahnya mendekap tubuh mungil istrinya. "Abangggg......" rengek Luna mengerucutkan bibirnya. "Janji dulu buatkan abang breakfast sama bekal makan siang" memandangi wajah Luna. "Gak mau!" Tolaknya. "Harus mau!" menarik pipi Luna. "Abangg.....ihhh....." cemberut. "Ayolahhh......buatkan abang breakfast" Jaya mendekap tubuh Luna semakin erat. "Abang....lepaskannn.....!" Bentak. "Gak!!" Bentak Jaya tak kalah galak. "Abanggg......" merengek. "Buatkan!" Bentak. "Abangg........" "Lunaaa......" menirukan nada bicara istrinya. "Lepaskan!" "Gak!" "Abanggg....iihhh...." mendorong dada Jaya. "Buatkan!" Memelototi istrinya. "Pakai ayam serundeng saja" Luna menyerang merunding keinginan suaminya. "Ok" ucap Jaya menyetujui perkataan istrinya. Keesokan pagi harinya Luna bangun lebih awal dari biasanya. Menanak nasi di ricecooker. Mencairkan ayam ungkep yang telah ia bekukan di kulkas, menggunakan airprayer. Sebelum menggorengnya di minyak panas. Melaksanakan shalat subuh sebelum menyiap kan breakfast dan bekal untuk suaminya. Jaya memandangi tubuh Luna bergerak lincah kesana-kemari. Menyiapkan breakfast dan bekal untuk dirinya. Akhirnya, mimpi Jaya di buatkan breakfast dan bekal oleh istrinya tercapai. Tidak salah Jaya melepas status dudanya dengan Luna, setelah tujuh tahun melajang. Uang milyaran yang ia gelontorkan untuk mengobati gadis kecilnya itu tidak sia-sia. Semuanya terbayar tunai ketika Luna sah menjadi istrinya. Aroma harum dari rempah-rempah seperti lengkuas, bawang putih, serai, menguar ke udara. Menyeruak masuk menusuk hidung orang-orang di sekitarnya. Ketika Luna memasukkannya ayam ungkep yang sudah dicairkan, kedalam minyak panas. Jaya menghirup nafasnya dalam pelan, menikmati aroma harum dari masakkan istrinya. Aroma nasi hangat mulai tercium saat Luna membuka ricecooker. Memindahkan nasi ke dalam mangkuk berukuran sedang. Meletakkan nya di atas meja. Menyajikan ayam goreng serundeng yang baru diangkat dari penggorengan ke meja makan, bersama dengan sambal bawang yang baru di buatnya. "Wahhh........" ujar Jaya bersemangat menete kan air liurnya. Melihat masakan istrinya yang tersaji di hadapannya. "Makasih yah, dek" mengucapkan terima kasih kepada istrinya. "Iya, sama-sama." Tersenyum lembut kearah Jaya. Berjalan kearah kitchen set mengambil kotak makan Isolasi termal. Meletakkan nasi hangat, ayam goreng, serundeng, sambal bawang, dan beberapa lalapan seperti timun, kubis, dan daun kemangi. Kedalam kotak makan isolasi termal. Kotak makan isolasi termal adalah kotak makan yang didesain untuk menjaga suhu makanan tetap panas atau dingin dalam waktu lama. Tekkk...... Luna meletakkan bekal sang suami dihadapan nya. Tanpa mengatakan sepatah pun. Jujur sebenarnya Luna tak ikhlas menyiapkan sarapan dan bekal makan siang buat Jaya. Harusnya jam segini Luna masih berbaring di dalam selimutnya. Tapi hari ini Luna sudah berkutat di dapur memasak sarapan dan menyiapkan bekal untuk suaminya Jaya. Jika bukan karena Jaya tak mau melepaskan dekapannya. Luna tidak akan mau menjadi istri shalehah pagi ini.Luna mengerjap pelan membuka kelopak matanya perlahan. Mengintip area sekitar sebelum benar-benar bangkit dari tidurnya. Memastikan jika Jaya suaminya sudah pergi ke masjid di seberang jalan bersama iparnya. Dengan mengendap-ngendap Luna melangkah keluar ke teras rumah. Seingatnya tadi saat ia pura-pura tidur di dada sang suami. Belanjaan pemberian Jaya belum dibereskan sama sekali.Tepat seperti dugaannya. Barang-barang tersebut masih berada diluar. Kemeja, rok, celana dasar, baju tidur, gamis, dress, hijab, hotpant, kaos, pakaian dalam, bodycare, haircare, oralcare, dan skincarenya. Masih berserakan di luar. Secepat kilat gadis kecil dengan sejuta ide dan kreasi itu. Berlari cepat menuju ruang laundry mengambil sebuah keranjang plastik besar, yang biasanya digunakan untuk menampung pakaian bersih atau kotor. Mengalih fungsikannya menjadi tempat penyimpanan barang-barangnya sementara waktu. Lalu meletakannya begitu saja di kamarnya. Menarik selimut tebal dari tempat tidurnya. Me
"Makanya nikah biar tahu gimana rasanya punya istri," Kelakarnya menyombongkan diri. "Halah, bullshit," kilah Alafaranzi membela diri. Lebih baik lama menikah dari pada sebentar cerai. Pernikahan Jaya tidak semulus jalanan tol. Meski saat menikahi kekasihnya dulu Jaya tergolong mapan, mampu, dan tampan. Jaya tetap saja dikhianati oleh cinta dan istri pertamanya Isabella. Padahal menurut abang nya lumayan royal memberi istrinya uang jajan. Seratus juta sebulan nilai yang fantastis tentu saja, teruntuk masyarakat kabupaten. Nyatanya uang segitu terlihat kecil dimata Isabella. Demi mendapatkan uang bulanan yang lebih banyak. Wanita kabupaten paling beruntung itu meninggalkan suaminya Jaya Baya. Lalu menikah dengan salah satu unta arab yang terkenal memiliki banyak istri."Cepatlah! To the point saja, Zi. Jika tidak penting pulang sana!" Ketus Jaya tak sabaran. "Sabar bang! Sabar! Ini masalah bisnis keluarga kita," Jelas Alfaranzi cepat sebelum kembali usir oleh Jaya Baya. Duduk di
Suara ketukan terdengar dari luar ruangan. Perlahan pintu ruang dekan terbuka. Menampil kan sosok gadis kecil berkulit kusam, berdiri lemas di ambang pintu. Keringat mengalir tipis di pelipisnya, kulitnya berminyak, surai rambut nya terlihat mengintip dari hijabnya. Wajahnya kusut tertekuk hijabnya sudah tak lagi pada tempatnya. "Masuk!" perintah Jaya dingin. Membolak-balik setumpuk berkas di mejanya. "Abang" lenguh gadis kecil itu menghempaskan pantatnya di kursi dihadapan suaminya."Capek?!" "Hhh__" mengangguk pelan. "Abang juga capek. Kerja cari uang buat biayain kamu kuliah. Tapi kamunya gak hargain usaha, abang!" Tutur Jaya datar, mengintimidasi istri nakalnya. Luna terkesiap mendengar perkataan Jaya. Sadar jika Jaya mengetahui perbuatan buruknya di belakang punggung sang suami. "Abang" Luna mengerucutkan bibirnya merasa bersalah. Berusaha meminta maaf pada sang suami dengan kepatuhannya. "Kerjakan tugas ulumul quran, disini," perintah Jaya mengetuk pena-nya sekali ke mej
Matanya berbinar menatap semua barang impiannya ada didepan mata. Luna tak pernah menyangka jika ia akan mendapatkan barang impiannya dengan mudah. Tidak hanya Luna yang merasa bahagia. Jaya juga ikut merasakan kebahagiaan yang Luna rasakan. Sebab gadis nakal itu menciumnya beberapa kali dalam semenit. Mengucapkan terima kasih dengan caranya sendiri. Akan tetapi, kebahagian dan keceriahan sore itu hancur karena kedatangan Alfaranzi. Luna langsung bete saat melihat adik iparnya, yang lebih tua tujuh tahun dari dirinya itu. Semuanya bermula saat Luna membolos mata kuliah ulumul quran dan tidak mengerjakan tugas. Kebetulan Alfaranzi bersahabat baik dengan dosen pengampu mata kuliah ulumul quran di kelas Luna. Berbekal kesaksian dan rekaman suara sahabatnya sebagai barang bukti. Alfaranzi nekat mengadukan kelakuan jahanam Luna yang sudah kabur dari kelas ulumul quran sebanyak tiga kali. Tentu Jaya yang mendengar tingkah nakal Luna. Memberi teguran kecil kepada sang istri. Supaya tid
"Abanggggg......" teriak Luna tak terima dengan pengaturan suaminya. "Tertelan nanti abang yang repot yah, Luna!" Mengacungkan jari telunjuknya kearah Luna. Menatap manik matanya tajam. Sengaja nada bicaranya sedikit ditinggikan. Jika tidak gadis nakal itu pasti akan mencari gara-gara dengannya. Tampak pemilik wajah cantik itu sudah mengerucutkan bibirnya. "Abanggg......" Luna merengek berharap Jaya mengizinkannya menyimpan banyak biji kelengkeng dipipinya. "Tidak boleh! Abang sibuk ya, jangan cari masalah" Tutur Jaya tegas seraya memeriksa berkas-berkas penting dihadapannya. "Abangggg....." menarik-narik celana dasar Jaya pelan, menggunakan ujung jarinya."Tidak yah! Abang ambil nanti kelengkengnya!" Ancam Jaya mengulurkan tangannya berniat mengambil keranjang rotan berisi buah-buahan milik Luna. "Tidak....tidakkk....!" Luna secepat kilat mendekap keranjang buahnya. Sebelum Jaya sempat menjangkau keranjang buahnya. "Makanya kalau abang bilang tidak boleh! Ya, tidak boleh!" Tega
"Makanya besok-besok jangan berani ngebantah lagi kalau orang ngomong!" Tegas Jaya mengingatkan istrinya. "Iya" sahut Luna terpaksa. Bangkit dari tempat duduknya. Berniat berjalan kegedung rektorat meninggalkan suaminya. "Tinggalkan salad buahnya" perintah Jaya dingin menarik tupperware berisi salad buah dari tangan sang istri. "Abanggg....." rengek Luna lagi. "Ambil buat jajan" Jaya meletakkan dua lembar seratus ribuan ditelapak tangan sang istri. Luna menunduk lesuh mendapati uang lembaran seratus ribuan ditelapak tangannya. Jika sudah begitu ia tidak dapat membantah perkataan suaminya. Kalau ia tolak uang pemberian suaminya, besok-besok bagaimana jika membutuhkan uang. Tentu ia akan gengsi meminta belas kasihan suaminya. "Thank you bang" melambaikan tangannya lalu berlari menuju ke gedung rektorat. Mengikuti kuliah istitah meski sudah terlambat dua setengah jam. Jaya menyuapkan salad buah ke mulutnya memandangi kepergian sang istri dengan tatapan kosong. Tak per







