Beranda / Romansa / Istri Kecil, Tuan Aras! / Malam Pembalasan Teresa

Share

Istri Kecil, Tuan Aras!
Istri Kecil, Tuan Aras!
Penulis: PrinccesSha

Malam Pembalasan Teresa

Penulis: PrinccesSha
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-16 10:50:50

"Mari kita becerai."

Pria berwibawa tapi angkuh itu menatap wanita mungil di hadapannya tanpa emosi.

"Aku yang akan membayar tunjangannya," Katanya acuh tak acuh. "Kalau kau membutuhkan uang, pekerjaan, ataupun dokter untuk ibumu, aku akan menyediakannya."

Teresa menahan air matanya mati-matian.

Cintanya yang begitu dalam telah menyebakan rasa rendah diri yang luar biasa. Semuanya berawal dari tunangan suaminya yang melarikan diri sehari sebelum pernikahan mereka.

Aras Yohan-Pria yang saat ini menjadi suami Teresa. Seorang pria berpengaruh yang memimpin perusahaan raksasa di kota mereka.

Saat itu mereka terpaksa mencari pengantin pengganti untuk memenuhi hasrat paparazi dan media yang kelaparan. Dan keluarganya memilih Teresa untuk menjadi pengantin pengganti.

Aras percaya bahwa Teresa dengan sukarela menjadi Nyonya Yohan yang terkenal karena uang. Tetapi, satu hal yang dia tidak tahu, bahwa Teresa setuju menikah karena ingin menghabiskan hidupnya untuk mencintai pria itu. Dan pria itu tidak pernah tahu bahwa wanita itu mencintai dirinya.

"Aku tidak menikahimu karena uang." Teresa berbisik.

Jika ada dua orang asing yang tidak mengenal satu sama lain dan kemudian mereka menikah, alasan apa yang bisa membuat mereka menikah selain uang? begitulah yang Aras percayai selama ini.

"Kesabaranku semakin menipis. Kalau tidak ada hal lain yang ingin kau bicarakan, aku akan mengatur jadwal pengacaraku untuk bertemu denganmu dan membawa dokumen perceraian." Pria itu menyesap kopi terakhirnya, sebelum meletakkan cangkirnya di atas meja dan berbalik menuju ke lantai atas.

Mata Teresa tertuju pada cangkir kopi itu wajahnya yang pemalu tiba-tiba menjadi penuh dendam.

Dalam dua kehidupan dia mencintai Aras, tapi cintanya tidak pernah berbalas. Tapi, kali ini dia akan berubah menjadi Teresa yang bukan seorang budak cinta lagi.

Setengah jam kemudian...

Di lantai atas.

"Suamiku!" Teresa memanggil Aras dengan lemah lembut, berdiri dengan sopan di ambang pintu ruang kerja.

Aras yang sedang menatap dokumen di tangannya terkejut mendengar panggilan 'Suamiku' dan spontan dia mendongak, menatap tajam ke arah Teresa.

Dari awal pernikahan mereka, Aras sudah melarang Teresa untuk memanggilnya seperti itu. Dan selama ini pula, Teresa selalu mematuhi perintah itu. Aras tidak pernah membayangkan bahwa Teresa akan menjadi senekat itu karena perceraian mereka.

"Ada apa?" Jawab Aras ketus.

"Aku akan menyetujui perceraian kita." Kata Rose tiba-tiba. "Aku tidak menginginkan uang ataupun rumah. Tapi aku menginginkan seorang anak." lanjutnya, membuat kedua mata Aras membelalak terkejut.

"Hhhhh, rupanya kau semakin nekat." Gumam Aras dengan senyum miring. "Kau dan aku? Jangan pernah berharap." Lanjutnya meludah jijik.

Teresa tetap diam. Diam-diam dia justru menghitung waktu yang telah berlalu dan dosis yang dia gunakan di dalam kopi tadi seharusnya mulai bekerja.

"Sepertinya sebentar lagi." Gumam teresa dalam hati, sedikit gugup.

"Lagipula, kita adalah suami istri, jika semua ini akan berakhir, aku rasa aku berhak mendapatkan sesuatu!" Teresa menajamkan pandangannya dan menegakkan punggunya.

Sikapnya yang pemalu tiba-tiba menghilang dan berganti penuh percaya diri.

Aras mengangkat alisnya.

'Akhirnya... rubah kecil ini menunjukkan kulit domba aslinya.'

"Teresa, jangan main-main denganku. Aku jamin tunjangan itu akan memuaskanmu. Kalau kau terlalu rakus, kau justru tidak akan mendapatkan apa-pun."

"Ini bukan soal uang." Potong Teresa menegaskan. "Tapi, aku memerlukan sesuatu dari tubuhmu. Sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan selama pernikahan kita."

"Apa?!"

Aras mendelik tanpa sadar, kesabarannya semakin habis. Dan saat itu juga, tubuhnya tiba-tiba memanas.

"Teresa, kau! Kau berani memberikan aku obat?" Teriaknya menggelegar marah.

Aras seketika mengerti maksud Teresa tadi, dan wajah tampannya yang marah tiba-tiba berubah  mencair.

Sementara Teresa tetap terlihat tenang, dan tidak mengatakan apapun. Dia tidak mengiyakan atau menyangkal, dia hanya menunggu dengan sabar reaksi tubuh Aras. Kemudian, setelah beberapa saat melihat Aras yang mulai tidak bisa menahan hasratnya, Teresa menyunggingkan senyum tipis dan perlahan melepaskan pakaiannya tanpa menyisakkan sehelai benang pun.

Pelan namun pasti, Teresa berjalan ke arah Aras dan bersandar di dekat tubuhnya.

Tentu saja Aras ingin menolak, tetapi tidak bisa karena pengaruh obat di tubuhya.

"Sialan!" Umpat Aras dalam hati, tidak bisa mengendalikan tubuhnya lagi dan menarik Teresa ke dalam pelukannya.

Iblis yang tersegel di dalam tubuhnya berteriak untuk membawanya keluar dari lembah gelap ke puncak langit ke tujuh.

Dan akhirnya mereka berbagi malam penuh gairah bersama.

___

"Ugh.."

Di tempat tidur, Aras membuka matanya yang kabur. Wajah tampannya memancarkan pesona yang luar biasa.

Sekelebat bayangan tadi malam antara diri nya dan Teresa ,terus membanjiri pikirannya sesaat setelah Aras duduk.

Aras membuka selimutnya dan melihat beberapa tetes darah berwarna merah mengotori seprei putihnya. Dan harus Aras akui, Teresa semalam begitu memabukkan.

Tapi, setelah sadar. Rona kemarahan menyebar di wajahnya.

'Sial! Dia telah di permainkan?'

Aras bangun dan beranjak, Kakinya yang ramping dan proporsional menginjak lantai. Saat dia mengenakan jubah mandi, secara tidak sengaja dia menjatuhkan sesuatu dari meja samping tempat tidur ke lantai.

Aras membungkuk untuk mengambilnya. Itu adalah kartu debit dan sebuah kertas catatan kecil dengan tulisan yang indah.

"Uang di kartu debit ini adalah bayaran mu semalam. Sekarang kita impas. Selamat tinggal, Tuan Aras!"

Wajah Aras langsung menggelap sempurna.

"Teresa!" Teriak Aras marah, menembus udara dan menggemparkan seluruh bangunan.

'Apa dia pikir tubuhnya bisa dijual? Beraninya Teresa menggunakan uang untuk menghinanya!'

Kedua tangan Aras mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.

"Teresa, sebaiknya kau berdoa supaya aku tidak menangkapmu!"

___

Satu bulan kemudian, di rumah kontrakan yang terpencil di Selatan kota. Teresa justru sedang berbaring santai di atas sofa, sambil menggigit apel di tangannya dan menatap kearah layar televisi.

Di layar itu, pembaca berita acara memegang foto hitam putih Teresa dan mengumumkan dengan nada panik.

"Nyonya Teresa dari Keluara Yohan melarikan diri beberapa hari lalu. Tidak ada kamera pemantau yang bisa memantau keberadaannya saat ini. Bahkan tidak di temukan tanda-tanda Nyonya Teresa bemalam di hotel manapun di kota. Jika ada yang tahu atau informasi keberadaannya, tolong hubungi nomor di bawah ini. Dan bagi siapapun yang bisa memberitahukan keberadaannya akan di berikan hadiah sebesar satu juta dollar!"

Teresa dengan marah melemparkan sisa apel ke arah televisinya.

"Aku belum mati!" Kata Teresa marah. "Apa maksud semua ini, Aras? Kenapa kau menggunakan foto hitam putih pemakaman untuk memberitakan orang hilang?" Kesal Teresa tidak habis pikir dengan Aras.

Tapi sedetik kemudian Teresa justru tertawa tebahak-bahak. "Jika kau ingin mencoba menangkapku, cobalah lagi di kehidupan yang lain!"

Teresa berkata dengan percaya diri sambil membelai wajahnya yang sangat berbeda dari potret pemakaman yang penyiar berita itu pegang.

Yang Aras tahu tentang dirinya hanyalah dia adalah anak di luar nikah dan di besarkan di desa pegunungan terpencil. Sepanjang waktu, keluarganya selalu mempelakukannya sebagai gadis yang tidak berguna.

Tapi yang dia tidak tahu adalah bahwa Teresa telah hidup di dua kehidupan.

Di kehidupan yang sebelumnya, Teresa di kenal sebagai Rose Severe, seorang mahasiswa teladan dan anak gadis tertua dari keluarga Severe, salah satu dari empat keluarga bangsawan di kota Melces. Bukan hanya murid berbakat dari sekolah, tetapi dia juga terlahir dari keluarga kaya dan memiliki berbagai keterampilan yang cocok menjadikannya sebagai ratu di keluarga kaya.

Selain itu, dia memiliki keahlian merias wajah dari kehidupan sebelumnya yang sangat sempurna, yang menjadikannya bisa menyamar sebagai siapa saja.

Itu juga yang dia lakukan sebelum meninggalkan kediaman Aras, dia melakukan penyamaran dengan hati-hati menghindari semua kamera pegintai di sekitar kediaman keluarga Yohan.

Kenapa harus membuat Aras mudah untuk menemukannya?

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Kecil, Tuan Aras!   Bab 24

    Cahaya biru redup dari pergelangan tangan Archie memantul di dinding kamar yang gelap. Aras Yohan, yang baru saja melangkah masuk dengan niat mengecek putranya sebelum tidur, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit saat melihat bayangan hologram kecil yang baru saja menghilang saat pintu terbuka. "Archie?" panggil Aras lembut, namun penuh selidik. "Kau belum tidur?" Archie segera menarik tangannya ke bawah selimut. Ia membalikkan tubuh, memunggungi ayahnya. "Aku sedang tidak ingin bicara, Ayah. Aku mengantuk," sahutnya ketus. Suaranya terdengar datar, namun ada nada permusuhan yang belum pernah Aras rasakan sekuat ini sebelumnya. Aras mendekati ranjang besar itu, duduk di tepinya. Ia menatap jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan tangan Archie. "Tadi Ayah melihat cahayanya menyala. Kau baru saja menghubungi siapa?" "Bukan siapa-siapa. Hanya mengecek jam," jawab Archie pendek. Ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya, menciptakan benteng kain antara dirinya dan pria

  • Istri Kecil, Tuan Aras!   Bab 23

    Alice menatap tumpukan uang di tangannya, lalu menatap Aras dengan mata hitamnya yang bulat dan tegas. Bukannya takut, ia justru melangkah maju, berdiri tepat di depan kaki Maminya yang gemetar. "Paman Pedagang Manusia," suara Alice terdengar lantang, "Mami tidak pernah memintaku bicara buruk tentang Paman. Tapi kalau Paman datang ke sini hanya untuk memarahi Mami dan membuatnya takut, berarti Paman bukan bos yang baik!" Aras tertegun. Ia terbiasa ditakuti oleh kolega bisnisnya, bahkan Archie pun jarang berani menentangnya secara terbuka. Namun, gadis kecil ini menatapnya seolah Aras hanyalah pengganggu jalanan. "Alice, jangan bicara begitu..." bisik Teresa panik, mencoba menarik Alice kembali. "Tidak, Mami! Paman ini sombong sekali karena punya mobil besar," lanjut Alice, menunjuk Rolls Royce Aras. "Mami bekerja keras. Dia sering pulang dengan mata lelah karena mengurus putra Paman. Bukannya berterima kasih, Paman malah membentak-bentak. Paman harus minta maaf!" Aras merasa

  • Istri Kecil, Tuan Aras!   Bab 22

    Setelah menidurkan Archie yang kelelahan dan mengobati luka-lukanya dengan tangan gemetar, Teresa tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Aras. Dadanya sesak melihat putra sulungnya diperlakukan seperti sampah di sekolah elit itu. "Halo, Tuan Yohan," suara Teresa bergetar, antara sedih dan marah. "Ada apa lagi, Teresa? Aku sedang dalam perjalanan pulang," jawab Aras dingin dari seberang telepon. "Archie sudah pulang. Tapi... dia hancur, Aras! Seragamnya penuh tinta, wajahnya memar, dan bibirnya pecah. Anak itu mengalami perundungan dan penghinaan yang luar biasa hari ini. Aku harap kau segera mengurus masalah ini—" "Cukup, Teresa!" Aras menyela dengan nada tajam yang membuat Teresa tersentak. "Aku sudah ingatkan berkali-kali, ini bukan tempatmu mengajariku cara mendidik putraku sendiri. Perkelahian antar anak laki-laki adalah hal biasa. Jangan mendramatisir keadaan hanya untuk menarik perhatianku." Teresa memejamkan mata, air matan

  • Istri Kecil, Tuan Aras!   Bab 21

    "Kalau begitu ayah akan berangkat bekerja, pengasuhmu yang akan mengantar ke sekolah. Tidak masalah, kan?" Pamit Aras mengacak rambut hitam putranya. "Em, huh!" Archie mengangguk enggan, dari matanya bisa terlihat kalau sebenarnya dia menolaknya. Aras memperhatikan semua itu, dia teringat apa yang di katakan Teresa tempo hari. Kalau anak-anak dan orang tua di sekolah itu tidak menyukai Archie. Rasa khawatir muncul di hati Aras. "Bilang pada ayah, apa benar kamu tidak suka pergi ke sekolah?" Tanya Aras menatap Archie serius. Archie memalingkan wajahnya, membukam mulutnya. Aras mendesah pelan. Selalu saja, setiap kali dia berusaha berkomunikasi pada putranya tentang masalah seperti ini, Archie selalu menghindar dan menolak untuk jujur. Bocah itu selalu acuh tak acuh, merasa bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Merasa bahwa dengan posisi dan otoritasnya, tidak akan ada yang berani padanya. "Baik, kalau kamu tidak bisa mengatakannya. Ayah anggap semuanya baik-baik saja. Kalau beg

  • Istri Kecil, Tuan Aras!   Bertukar Peran 2

    Aras dan Teresa langsung memandang Arthur yang berdiri di depan mereka, kaget. Arthur yang berpura-pura menjadi Archie, hanya menatap Ayahnya dengan tatapan penuh menuntut. "Apa semua itu benar?" Tanya Aras mencibir dengan bibirnya yang tipis, mengarahkan tatapan tajamnya pada Teresa. Mendapat serangan intimidasi dari Aras, Teresa semakin gelisah. Dia tahu Arthur sedang bertindak, tetapi dia harus melindungi rahasia keberadaan Alice. "Ya, aku memang punya anak perempuan," kata Teresa pelan, memilih untuk memberitahu setengah kebenaran. "Dia lebih muda dari Archie. Dan selama dua hari ini dia demam. Aku terlambat karena harus merawatnya." Aras mengerutkan keningnya. Wajahnya menunjukkan rasa jijik. Bagaimana bisa dia memacari pria lain dan memiliki anak lagi setelah meninggalkan bayinya sendiri? "Aku tidak ingin tahu tentang drama keluargamu," usir Aras, tidak ada belas kasihan. "Yang aku tahu, kau harus mengurus Archie dengan sepenuh hati. Jika tidak bisa, lebih baik kau b

  • Istri Kecil, Tuan Aras!   Bertukar peran

    Archie menarik tangan Arthur turun ke bawah, tapi saat mereka tiba di tangga lantai dua. Mereka justru mendengar perdebatan sengit antara Teresa dan Aras. Mereka akhirnya memutuskan untuk bersembunyi dan menyaksikan perdebatan kedua orang tua mereka. Teresa yang berdiri dengan berani, terus membela dirinya. "Tuan Yohan, kau selalu menyalahkan semuanya kepadaku. Kau tidak pernah puas akan apa yang sudah aku lakukan. Padahal kau sendiri berbuat hal yang tidak benar dengan membiarkan wanita berbeda untuk mengantar dan menjemput anakmu ke sekolah, tapi kau tidak pernah berpikir apakah itu akan mempengaruhi Archie atai tidak?" "Jangan meremehkan caraku mengasuh Archie. Aku tidak perlu mendengar protesanmu. Selain itu, wanita yang kau bilang itu adalah saudara dan kerabat Archie. Kenapa harus mempermasalahkannya?" Balas Aras marah. "Lalu, bagaimana dengan Nasya? Apa dia kerabat Archie?" "Teresa, kau tidak berhak ikut campur dalam kehidupan pribadiku!" "Siapa yang perduli dengan ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status