LOGINSetelah obrolan panjang, Diana merelakan dirinya menikah dengan Aksara. Kali ini ia benar-benar tidak akan menolak. Hatinya ia pasrahkan pada pria pilihan ayahnya.
Diana berjalan pelan di samping Aksara. Entah mengapa, jantungnya sedikit berdebar. Ia belum pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya. Bukan karena tidak laku. Wajahnya cantik, ia pintar dan baik. Hanya saja, ia tidak memiliki waktu dan tenaga untuk hubungan romansa. Berarti, setelah menikah, Aksara akan menjadi yang pertama dan terakhir bagi Diana. Udara koridor rumah sakit terasa dingin, tetapi telapak tangan Diana justru berkeringat. Ia menunduk, sesekali menatap punggung Aksara yang berjalan di depannya. Pria itu terlihat sangat dewasa dan berwibawa. Diana takut tidak bisa bersikap sepertinya. Mengingat usianya yang masih muda, belum pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun, ia khawatir akan salah bersikap hingga membuat Aksara muak. Tidak. Diana menggeleng pelan dalam hati. Ia tidak boleh memikirkan apa pun. Fokus saja. Walaupun ini hal baru baginya, ia yakin bisa belajar. “Kau tampak gugup,” ujar Aksara tiba-tiba tanpa menoleh. Diana tersentak kecil. “Tidak.” Diana berhenti. Begitu pula Aksara. Mereka saling menatap, dengan raut kebingungan di wajah Aksara. “Apa kamu masih ragu?” Diana terdiam sejenak. Ia sudah ikhlas, sudah menerima, dan akan belajar menjadi istri serta ibu yang baik. Jika ditanya masih ragu, tentu ada sedikit. Tentang perbedaan usia yang jauh dan sikap yang tidak sama. Namun Diana yakin, ia bisa belajar dan Aksara bisa membimbingnya. “Tidak,” ucap Diana tegas. Aksara tersenyum tipis, sekilas. Ia kembali berjalan. Diana menarik napas dan menyusulnya, kali ini berjalan di samping pria itu. Mereka berhenti di depan pintu lift. Cahaya lampu memantulkan bayangan mereka saat pintu logam tertutup. Diana melihat pantulan dirinya dan Aksara. Selain perbedaan usia yang jauh, tinggi badan mereka juga sangat kontras. Tinggi Diana hanya mencapai pundak Aksara. “Apa aku boleh bertanya?” Aksara melirik Diana, tersenyum kecil. “Silakan.” “Mengapa kamu dengan mudah menyetujui perjodohan ini?” “Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tahu keadaanmu dan ayahmu sedang sulit, apalagi dengan wasiat yang dibuat ayahku untuk terus menjagaku. Hanya itu, tidak lebih," Aksara berhenti sejenak. "Namun jangan beranggapan aku menerima ini karena terpaksa atau iba. Mungkin ini sudah saatnya aku memiliki pendamping kembali. Tidak ada paksaan. Aku juga menginginkan pernikahan ini.” Diana terdiam. Jadi, sejak awal Aksara memang menerima perjodohan ini. “Tapi bagaimana dengan cinta? Aku tidak mencintaimu, begitu pula sebaliknya.” “Cinta bisa datang dengan banyak cara. Cinta juga bisa datang karena terbiasa.” Diana kembali kehabisan kata-kata. Ia berpikir sejenak. “Lalu bagaimana dengan peran? Ini pengalaman pertamaku. Aku baru lulus SMA, aku masih labil. Aku tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun sebelumnya. Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap.” Aksara melirik Diana, lalu tertawa kecil. “Jadi itu yang kamu pikirkan sejak tadi.” Tangan Aksara menepuk pelan pucuk kepala Diana. Diana tersentak. Panas langsung menjalar ke pipinya. Bahaya. Perlakuan kecil Aksara saja sudah membuat wajahnya memerah. “Aku sudah bilang, aku tidak akan membebanimu. Kau bisa melanjutkan hidupmu seperti biasa. Sisanya biar aku yang memikirkan.” Lift berbunyi. Mereka keluar. Baru beberapa langkah berjalan, Aksara menghentikan langkahnya. “Diana.” Diana menoleh. Aksara mengangkat tangan. “Mau coba berpegangan tangan?” Diana terdiam, pipinya kembali memerah. Apa semua pria bersikap seperti ini? Atau hanya Aksara yang tahu cara memperlakukan wanita? Atau ini hanya modus pria hidung belang? “Apa kamu juga bersikap seperti ini pada wanita lain?” Entah mengapa, Diana merasa sedikit cemburu. “Apa wajahku terlihat seperti pria yang mudah menyukai wanita?” Diana menatap Aksara, lalu mengalihkan pandangan ke lantai. “Kalau kamu tidak nyaman, tidak perlu. Ayo kita lanjutkan,” ujar Aksara tulus, tanpa raut kecewa atau marah. “Bukan begitu,” Diana buru-buru berkata. “Aku hanya tidak terbiasa.” “Kalau begitu, jangan terburu-buru. Kita bisa menyesuaikan diri pelan-pelan.” Aksara bersiap melangkah, tetapi dengan cepat Diana meraih tangannya. “Aku mau kita berpegangan tangan,” ucap Diana terbata. “Tidak perlu memaksakan diri, Diana.” “Aku tidak terpaksa.” Mereka terdiam, melanjutkan langkah menuju kamar ayah Diana. Tangan Aksara terasa besar dan hangat, menggenggam lembut tangan Diana. Pipi Diana sudah memerah sejak tadi. Dari kejauhan terdengar suara tawa kecil Caroline bercampur dengan suara ayah Diana yang sedang bercerita. Suara itu mengisi koridor yang dingin dengan kehangatan. Saat pintu terbuka, Caroline langsung menoleh dan melambaikan tangan dengan heboh. “Kak Diana! Lihat! Allin menggambar Ayah, Kakek, dan Kak Diana!” Diana mendekat dan melihat gambar anak kecil itu. Garis-garis sederhana dengan warna cerah, dan sosok dirinya digambar dengan rambut panjang yang sedikit berantakan. “Maaf, Kak. Kak Diananya agak jelek,” ucap Caroline polos. Diana menahan tawa. “Tidak apa-apa. ini sudah mirip.” Aksara berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Caroline. “Tidak baik berkata begitu.” “Tapi Ayah bilang menggambar harus jujur,” balas Caroline lugu. Aksara menghela napas pasrah. Diana tersenyum kecil melihat keduanya. “Bagaimana obrolan kalian?” tanya Pak Rendra. “Baik, Yah,” jawab Diana singkat. “Kak Diana, ayo gambar bareng Allin,” ajak Caroline sambil menarik tangan Diana. Aksara mendekati ranjang Pak Rendra, tersenyum melihat interaksi Diana dan anaknya. “Bagaimana keputusan kalian?” tanya Pak Rendra. “Kami memutuskan untuk menikah. Saya setuju tanpa paksaan, dan Diana juga,” jawab Aksara. Pak Rendra tersenyum lega. “Maaf jika sikap Diana nanti merepotkanmu. Tolong jaga dia, Aksara. Ia tidak punya siapa-siapa selain aku. Jangan sakiti dia. Jika aku mati malam ini, setidaknya aku mati dengan tenang.” “Jangan berkata begitu, Pak. Saya akan terus mendoakan kesembuhan Bapak. Bapak harus sembuh untuk menyaksikan pernikahan Diana dan bermain dengan cucu Bapak.” Pak Rendra tersenyum getir. “Aku punya permintaan terakhir. Apa kamu bisa mengabulkannya?” “Selama saya bisa.” “Aku ingin kalian menikah malam ini.”Suasana tenang di cluster perumahan elit itu mendadak terusik bukan oleh wartawan TV, melainkan oleh kerumunan anak muda dengan jaket almamater dan motor matik yang parkir sembarangan. Di tangan mereka bukan kamera profesional, melainkan ponsel pintar yang siap merekam apa saja demi konten "spill" di TikTok dan akun gosip kampus.Aksara yang baru saja memundurkan BMW hitamnya terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Di depan gerbang rumahnya, ada sekitar sepuluh orang yang berdiri dengan ponsel teracung."Eh, beneran itu rumahnya Pak Aksara!""Cepat rekam! Itu cewek di dalem pasti Diana!"Kilatan flash dari ponsel-ponsel itu menyambar kaca mobil yang gelap. Diana, yang duduk di kursi penumpang, langsung menarik hoodie-nya hingga menutupi wajah. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan wartawan, ini jauh lebih ngeri: teman-teman seangkatannya sendiri yang haus validasi di media sosial."Mas... kok mereka tahu rumah kita? Ini kan cluster privat!" bisik Diana dengan suara gemetar.Aksara mencen
Sisa ketegangan dari kedatangan Saskia masih menggantung tipis di udara, namun di dalam kamar Allin yang bernuansa merah muda, waktu seolah berjalan lebih lambat. Allin mengerjapkan matanya yang bulat, menguceknya pelan, lalu duduk tegak di atas tempat tidur. Ia mendengar suara gaduh di bawah tadi, tapi kantuknya jauh lebih berat. "Ayah?" panggil Allin lirih. Pintu kamar terbuka pelan. Aksara melangkah masuk, sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos santai hitam. Di belakangnya, Diana mengekor dengan nampan berisi segelas susu hangat. "Anak pinter sudah bangun?" Aksara duduk di tepi ranjang, mengusap dahi Allin yang sedikit berkeringat. Allin langsung merangkak ke pelukan Aksara, menyembunyikan wajahnya di dada bidang papanya. "Yah... tadi ada suara orang teriak ya? Allin takut." Aksara melirik Diana sekilas. Ada kilat kepedihan di matanya, namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Enggak ada apa-apa, Sayang. Cuma orang salah alamat yang agak bingung cari jalan. Ayah
Sore hari setelah kuliah selesai. rumah Aksara tampak Damai dan sunyi. Diana baru saja hendak menyeduh teh saat bel rumah berbunyi panjang. Tidak seperti biasanya, bunyi bel itu terdengar menuntut, tidak sabar, dan sedikit... lancang. Begitu pintu dibuka, dunia Diana seolah bergeser. Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya pirang abu-abu hasil salon mahal, riasannya tebal namun tak mampu menutupi gurat kelelahan di matanya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang terlalu mencolok untuk cuaca mendung Depok. "Siapa ya?" tanya Diana, instingnya langsung mengirim sinyal bahaya. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, menatap Diana dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Jadi ini asisten baru Aksara? Atau... selera barunya yang masih bau kencur?" "Saya Diana, istri Mas Aksara," jawab Diana tegas, menekankan kata istri. Tawa wanita itu pecah. Cempreng dan palsu. "Istri? Oh, manis sekali. Aku Saskia. Ibu kandung Caroline. Minggir, aku mau ketemu anakku." "Mas Aksara
Bau sisa hujan semalam masih menempel di selasar Fakultas Psikologi. Diana melangkah cepat, menarik kerah blus kura-kuranya setinggi mungkin. Sialan Aksara. Tanda di leher kirinya itu tidak bisa tertutup sempurna hanya dengan concealer seharga tiga ratus ribu. "Diana! Sini!" teriak Pitaloka dari pintu kelas 302. "Pak Aksara sudah di jalan. Lo telat dikit, habis!" Diana masuk, mengambil napas pendek, dan duduk di baris paling depan. Satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Tepat di bawah hidung podium dosen. Klik. Klik. Klik. Suara pantofel yang beradu dengan lantai marmer itu membuat seisi kelas mendadak senyap. Aksara Pratama masuk. Jas abu-abunya terpasang sempurna, dasi marun hasil simpul tangan Diana tadi pagi melingkar gagah. Wajahnya datar, kaku, dan seolah tidak pernah menyentuh kulit manusia dalam sepuluh tahun terakhir. Aksara meletakkan tas kulitnya. Matanya memindai ruangan. Ia tidak menatap Diana. Tatapannya justru jatuh pada Raka, mahasiswa yang duduk tepat di belakan
Alarm digital di nakas baru saja menunjukkan pukul 05.30 WIB. Cahaya fajar Jakarta yang abu-abu mengintip malu-malu di balik gorden blackout. Aksara sudah terjaga, posisi telentang dengan lengan kanan menyangga kepala, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang sudah melanglang buana ke materi kuliah jam delapan nanti. Namun, lamunannya buyar saat merasakan pergerakan di sampingnya. Diana tidak bangun untuk mandi seperti biasanya. Gadis itu justru merangkak naik, menindih perut rata Aksara, dan duduk tegak di sana dengan piama satin tipis yang talinya nyaris melorot. Aksara tersentak. Alisnya terangkat satu. "Diana? Tumben. Biasanya aku harus pakai pengeras suara buat bangunin kamu." "Mas terlalu banyak mikir," gumam Diana. Ia menunduk, ujung rambutnya yang berantakan menyapu dada bidang Aksara. Jemarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahang suaminya yang tegas. "Berhenti jadi profesor sejenak. Tatap aku." Aksara terkekeh rendah, tangannya otomatis hinggap di pinggang r
Hujan di luar semakin menggila, mengubah aspal Jakarta menjadi cermin hitam yang memantulkan kerlip lampu kota yang buram. Di dalam mobil, uap tipis mulai menyelimuti kaca, mengisolasi Aksara dan Diana dalam sebuah gelembung kedap suara yang hanya berisi deru mesin halus dan aroma musk yang kian pekat. Aksara tidak segera memacu mobilnya. Tangannya masih bertengger di tengkuk Diana, jempolnya mengusap garis rahang istrinya dengan ritme yang menghipnotis. Ada kilat di matanya—jenis kilat yang tidak pernah ia tunjukkan di depan podium kuliah. Itu bukan tatapan seorang akademisi yang sedang mengobservasi subjek; itu adalah tatapan seorang pria yang sedang kelaparan. "Mas... jalan, nanti Allin nunggu kelamaan," bisik Diana. Suaranya serak, usahanya untuk bersikap logis digagalkan oleh sentuhan Aksara yang mulai turun ke tulang selangkanya. "Mbok Ratni sudah kirim pesan. Allin ketiduran habis makan sore," sahut Aksara rendah. Suaranya seperti gesekan cello yang berat, bergetar langsung
Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan silue
Laman situs pengumuman SIMAK UI yang menampilkan kotak hijau bertuliskan "SELAMAT! ANDA DITERIMA" rasanya baru kemarin Diana tatap dengan tangan gemetar dan derai air mata bahagia.Namun hari ini, euforia itu harus berhadapan langsung dengan realitas fisik. Diana berdiri tegak, membiarkan tubuhny
Langit Depok pagi ini tampak abu-abu, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti hati Diana. Hari ini adalah hari penentuan. Ujian SIMAK UI—gerbang utama yang harus ia lewati untuk bisa mengenakan jaket kuning kebanggaan—sudah di depan mata. Di meja makan, Diana hanya mengaduk-aduk bubu
Mobil Aksara berhenti di sebuah rumah dua lantai berwarna krem. Bangunannya tidak besar, namun terlihat sangat terawat. Rumah Aksara berada di dalam sebuah kluster di dekat UI. Diana keluar dari mobil mengikuti Aksara. Hari itu Caroline dan ibunya pulang lebih awal karena Caroline harus berangkat







