Share

bab 3

Author: Sora moon
last update publish date: 2026-01-21 17:49:03

Setelah obrolan panjang, Diana merelakan dirinya menikah dengan Aksara. Kali ini ia benar-benar tidak akan menolak. Hatinya ia pasrahkan pada pria pilihan ayahnya.

Diana berjalan pelan di samping Aksara. Entah mengapa, jantungnya sedikit berdebar. Ia belum pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya. Bukan karena tidak laku.

Wajahnya cantik, ia pintar dan baik. Hanya saja, ia tidak memiliki waktu dan tenaga untuk hubungan romansa. Berarti, setelah menikah, Aksara akan menjadi yang pertama dan terakhir bagi Diana.

Udara koridor rumah sakit terasa dingin, tetapi telapak tangan Diana justru berkeringat. Ia menunduk, sesekali menatap punggung Aksara yang berjalan di depannya.

Pria itu terlihat sangat dewasa dan berwibawa. Diana takut tidak bisa bersikap sepertinya. Mengingat usianya yang masih muda, belum pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun, ia khawatir akan salah bersikap hingga membuat Aksara muak.

Tidak. Diana menggeleng pelan dalam hati. Ia tidak boleh memikirkan apa pun. Fokus saja. Walaupun ini hal baru baginya, ia yakin bisa belajar.

“Kau tampak gugup,” ujar Aksara tiba-tiba tanpa menoleh.

Diana tersentak kecil. “Tidak.”

Diana berhenti. Begitu pula Aksara. Mereka saling menatap, dengan raut kebingungan di wajah Aksara.

“Apa kamu masih ragu?”

Diana terdiam sejenak. Ia sudah ikhlas, sudah menerima, dan akan belajar menjadi istri serta ibu yang baik.

Jika ditanya masih ragu, tentu ada sedikit. Tentang perbedaan usia yang jauh dan sikap yang tidak sama. Namun Diana yakin, ia bisa belajar dan Aksara bisa membimbingnya.

“Tidak,” ucap Diana tegas.

Aksara tersenyum tipis, sekilas. Ia kembali berjalan. Diana menarik napas dan menyusulnya, kali ini berjalan di samping pria itu.

Mereka berhenti di depan pintu lift. Cahaya lampu memantulkan bayangan mereka saat pintu logam tertutup. Diana melihat pantulan dirinya dan Aksara.

Selain perbedaan usia yang jauh, tinggi badan mereka juga sangat kontras. Tinggi Diana hanya mencapai pundak Aksara.

“Apa aku boleh bertanya?” Aksara melirik Diana, tersenyum kecil.

“Silakan.”

“Mengapa kamu dengan mudah menyetujui perjodohan ini?”

“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tahu keadaanmu dan ayahmu sedang sulit, apalagi dengan wasiat yang dibuat ayahku untuk terus menjagaku. Hanya itu, tidak lebih," Aksara berhenti sejenak.

"Namun jangan beranggapan aku menerima ini karena terpaksa atau iba. Mungkin ini sudah saatnya aku memiliki pendamping kembali. Tidak ada paksaan. Aku juga menginginkan pernikahan ini.”

Diana terdiam. Jadi, sejak awal Aksara memang menerima perjodohan ini.

“Tapi bagaimana dengan cinta? Aku tidak mencintaimu, begitu pula sebaliknya.”

“Cinta bisa datang dengan banyak cara. Cinta juga bisa datang karena terbiasa.”

Diana kembali kehabisan kata-kata. Ia berpikir sejenak. “Lalu bagaimana dengan peran? Ini pengalaman pertamaku. Aku baru lulus SMA, aku masih labil.

Aku tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun sebelumnya. Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap.”

Aksara melirik Diana, lalu tertawa kecil. “Jadi itu yang kamu pikirkan sejak tadi.”

Tangan Aksara menepuk pelan pucuk kepala Diana.

Diana tersentak. Panas langsung menjalar ke pipinya. Bahaya. Perlakuan kecil Aksara saja sudah membuat wajahnya memerah.

“Aku sudah bilang, aku tidak akan membebanimu. Kau bisa melanjutkan hidupmu seperti biasa. Sisanya biar aku yang memikirkan.”

Lift berbunyi. Mereka keluar.

Baru beberapa langkah berjalan, Aksara menghentikan langkahnya.

“Diana.”

Diana menoleh.

Aksara mengangkat tangan. “Mau coba berpegangan tangan?”

Diana terdiam, pipinya kembali memerah. Apa semua pria bersikap seperti ini? Atau hanya Aksara yang tahu cara memperlakukan wanita? Atau ini hanya modus pria hidung belang?

“Apa kamu juga bersikap seperti ini pada wanita lain?” Entah mengapa, Diana merasa sedikit cemburu.

“Apa wajahku terlihat seperti pria yang mudah menyukai wanita?”

Diana menatap Aksara, lalu mengalihkan pandangan ke lantai.

“Kalau kamu tidak nyaman, tidak perlu. Ayo kita lanjutkan,” ujar Aksara tulus, tanpa raut kecewa atau marah.

“Bukan begitu,” Diana buru-buru berkata. “Aku hanya tidak terbiasa.”

“Kalau begitu, jangan terburu-buru. Kita bisa menyesuaikan diri pelan-pelan.”

Aksara bersiap melangkah, tetapi dengan cepat Diana meraih tangannya.

“Aku mau kita berpegangan tangan,” ucap Diana terbata.

“Tidak perlu memaksakan diri, Diana.”

“Aku tidak terpaksa.”

Mereka terdiam, melanjutkan langkah menuju kamar ayah Diana.

Tangan Aksara terasa besar dan hangat, menggenggam lembut tangan Diana. Pipi Diana sudah memerah sejak tadi.

Dari kejauhan terdengar suara tawa kecil Caroline bercampur dengan suara ayah Diana yang sedang bercerita. Suara itu mengisi koridor yang dingin dengan kehangatan.

Saat pintu terbuka, Caroline langsung menoleh dan melambaikan tangan dengan heboh.

“Kak Diana! Lihat! Allin menggambar Ayah, Kakek, dan Kak Diana!”

Diana mendekat dan melihat gambar anak kecil itu. Garis-garis sederhana dengan warna cerah, dan sosok dirinya digambar dengan rambut panjang yang sedikit berantakan.

“Maaf, Kak. Kak Diananya agak jelek,” ucap Caroline polos.

Diana menahan tawa. “Tidak apa-apa. ini sudah mirip.”

Aksara berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Caroline. “Tidak baik berkata begitu.”

“Tapi Ayah bilang menggambar harus jujur,” balas Caroline lugu.

Aksara menghela napas pasrah. Diana tersenyum kecil melihat keduanya.

“Bagaimana obrolan kalian?” tanya Pak Rendra.

“Baik, Yah,” jawab Diana singkat.

“Kak Diana, ayo gambar bareng Allin,” ajak Caroline sambil menarik tangan Diana.

Aksara mendekati ranjang Pak Rendra, tersenyum melihat interaksi Diana dan anaknya.

“Bagaimana keputusan kalian?” tanya Pak Rendra.

“Kami memutuskan untuk menikah. Saya setuju tanpa paksaan, dan Diana juga,” jawab Aksara.

Pak Rendra tersenyum lega.

“Maaf jika sikap Diana nanti merepotkanmu. Tolong jaga dia, Aksara. Ia tidak punya siapa-siapa selain aku. Jangan sakiti dia. Jika aku mati malam ini, setidaknya aku mati dengan tenang.”

“Jangan berkata begitu, Pak. Saya akan terus mendoakan kesembuhan Bapak. Bapak harus sembuh untuk menyaksikan pernikahan Diana dan bermain dengan cucu Bapak.”

Pak Rendra tersenyum getir.

“Aku punya permintaan terakhir. Apa kamu bisa mengabulkannya?”

“Selama saya bisa.”

“Aku ingin kalian menikah malam ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kecilku   bab 42

    ​Sore itu, Jakarta Selatan lagi mendung-mendungnya, tapi suasana di dalam toko buku besar kawasan Kemang ini justru terasa hangat dan tenang. Aksara sengaja memilih tempat ini karena jauh dari jangkauan mahasiswa-mahasiswa psikologi yang biasanya nongkrong di Depok. Ia ingin menjadi laki-laki biasa sejenak, bukan profesor yang setiap langkahnya dipantau ribuan mata. ​Aksara berjalan santai dengan tangan kiri yang masuk ke saku celana chino-nya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Diana dengan erat. Diana sendiri tampak segar dengan sweater oversized warna krem yang dipadukan dengan celana jins, rambutnya dicepol asal yang justru bikin leher jenjangnya terekspos jelas. ​"Mas, serius deh... Mas ngajak kencan ke toko buku itu sebenernya mau refreshing atau mau nyiksa aku buat baca referensi baru?" goda Diana sambil menarik-narik tangan Aksara menuju lorong Novel Fiksi. ​Aksara terkekeh, suara baritonnya terdengar seksi di antara kesunyian rak buku. Ia menarik Diana mendekat,

  • Istri Kecilku   bab 41

    Lobi Fakultas Psikologi pagi itu terasa lebih berisik dari biasanya. Kabar bahwa Pak Aksara Pratama—dosen paling perfeksionis se-universitas—datang dengan napas tersengal-sengal dan penampilan yang sedikit "berantakan" menyebar lebih cepat daripada pengumuman nilai ujian akhir. ​Di dalam Ruang Kuliah A, Aksara berdiri di balik podium kayu jati yang kokoh. Ia mencoba mengatur napasnya, membuka laptop dengan gerakan cepat yang tetap diusahakan terlihat elegan. Namun, ia merasa ada yang aneh. Mahasiswa di barisan depan, yang biasanya menunduk khusyuk mencatat setiap kata mutiaranya, kini justru saling lirik dan menahan senyum. ​Aksara berdeham, suara baritonnya menggema lewat pengeras suara. "Selamat pagi semuanya. Maaf saya terlambat lima menit karena ada kendala... teknis di rumah. Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai Psikologi Kognitif." ​Seorang mahasiswa cowok di baris tengah, yang memang terkenal berani, mengangkat tangan. "Anu, Pak... maaf memotong. Tapi sepertinya 'kendala

  • Istri Kecilku   bab 40

    ​Cahaya matahari pagi menyelinap dengan kurang ajar melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke kelopak mata Diana. Ia mengerang, mencoba menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi wajahnya, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang hangat, padat, dan berotot. ​Diana membuka mata satu senti. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah rahang tegas Aksara yang masih terlelap dengan posisi memeluk pinggangnya posesif. Suara napas Aksara yang teratur adalah melodi paling menenangkan, tapi ketenangan itu pecah seketika saat mata Diana melirik jam beker di atas nakas. ​07.15 WIB. ​"MAS AKSARA! BANGUN!" teriak Diana sambil meloncat duduk, membuat kasur pegas mereka berguncang hebat. ​Aksara tersentak, matanya terbuka lebar karena terkejut. "Ada apa? Gempa? Kebakaran?" tanya Aksara dengan suara serak-serak basah khas bangun tidur yang biasanya terdengar seksi, tapi kali ini terdengar seperti lonceng kematian bagi jadwal kuliah. ​"Gempa apanya! Mas ada kelas jam

  • Istri Kecilku   bab 39

    ​Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan siluet hangat, menyamarkan sisa-sisa ketegangan yang biasanya mereka bawa dari koridor kampus yang kaku.​Aksara baru saja keluar dari kamar mandi. Uap hangat masih mengikuti langkah kakinya. Ia hanya mengenakan celana kain panjang berwarna abu-abu gelap, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos udara dingin dari pendingin ruangan. Rambutnya yang biasanya tertata klimis ala dosen berwibawa, kini basah dan berantakan—sebuah pemandangan yang kalau sampai bocor ke grup WhatsApp mahasiswi, pasti bakal bikin server kampus down seketika.​Di atas tempat tidur besar mereka, Diana tampak tidak terganggu. Ia sedang dalam posisi tengkurap, mengenakan piama satin tipis berwarna marun yang talinya sesekali

  • Istri Kecilku   bab 38

    Entah bisikan setan darimana tiba-tiba saja Diana ingin berlajar menyetir mobil. Maka di sinilah mereka berada parkiran sepi yang sangat luas.Aksara Pratama, sang dosen psikologi yang biasanya mampu mengendalikan emosi ratusan mahasiswa dengan satu tatapan dingin, kini tampak berkeringat dingin. Di sampingnya, Diana duduk di kursi pengemudi dengan wajah tegang, kedua tangannya mencengkeram lingkar kemudi seolah-olah sedang memegang bom yang siap meledak. ​"Mas... beneran nih? Kalau aku nabrak tiang listrik itu gimana?" bisik Diana, matanya melotot menatap tiang beton di kejauhan. ​Aksara mengembuskan napas panjang, mencoba mempraktikkan teknik pernapasan dalam yang biasa ia ajarkan untuk mengatasi kecemasan. "Diana, tiang itu jaraknya lima puluh meter. Mobil ini tidak akan melompat ke sana kecuali kamu menginjak gas full. Sekarang, injak koplingnya perlahan." ​"Kopling yang mana? Kiri atau tengah?" tanya Diana panik. ​"Kiri, Sayang. Yang paling kiri. Tengah itu rem," jawab Aksar

  • Istri Kecilku   bab 37

    ​Hari Selasa pagi di Fakultas Psikologi tidak pernah terasa seaneh ini bagi Diana. Jika biasanya ia turun dari ojek online di gerbang belakang dengan gerakan gesit layaknya agen rahasia yang takut tertangkap basah, hari ini pemandangannya berubah total. Mobil sedan hitam Aksara berhenti tepat di depan lobi utama—titik paling ramai di mana mahasiswa berkumpul untuk sekadar menyesap kopi atau menyalin tugas teman. ​Aksara mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Diana yang masih mematung sambil memeluk tas ranselnya. "Kenapa? Masih mau menunggu sampai gedung ini sepi?" goda Aksara dengan senyum miring yang sangat menyebalkan sekaligus tampan. ​"Mas... beneran nih? Semua orang melihat ke sini, lho," bisik Diana, matanya melirik ke arah kaca jendela yang transparan. Di luar, Pitaloka sudah melambai-lambai dengan heboh seperti sedang menyambut kedatangan delegasi luar negeri. ​Tanpa menjawab, Aksara keluar dari mobil. Ia berjalan memutar dengan langkah tegap, membuka pintu di sisi Diana,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status