LOGINKeesokan paginya, Diana berdiri di depan cermin kamarnya, memandang pantulan dirinya dengan wajah muram.
Rambutnya digelung rendah, menyisakan poni dan anak rambut yang menjuntai membingkai wajahnya. Diana mengenakan gaun sederhana berwarna krem. Meski bibirnya sedikit dipulas lipstik tipis, raut wajahnya tetap terlihat kusut. “Apakah aku benar-benar harus melakukan ini?” gumamnya pelan, meski ia tahu tak akan ada jawaban yang memuaskan hatinya. Sudah tidak ada pilihan lain. Diana menarik napas panjang sebelum keluar dari rumah menuju rumah sakit. Hari ini Diana akan bertemu dengan calon suaminya, juga calon anaknya. Jika boleh jujur, dadanya berdegup kencang. Ia gugup. Bayangan laki-laki brewokan masih menghantui pikirannya. Yang paling Diana khawatirkan adalah apa yang harus ia katakan saat bertemu anak Aksara. Bagaimanapun, Diana bukan tipe perempuan yang menyukai anak kecil. Ia juga tidak pandai basa-basi dengan anak-anak. Menurutnya, anak kecil terlalu merepotkan. Diana turun dari mobil setelah sampai di rumah sakit. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju kamar inap ayahnya. Dari luar, terdengar suara pria sedang mengobrol, diselingi tawa seorang anak kecil. Diana meneguk ludah gugup. Dengan ragu, ia membuka pintu kamar ayahnya. Matanya langsung tertuju pada sosok pria yang sedang berbicara dengan ayahnya. Tinggi, tegap, dengan wajah tenang yang memancarkan kedewasaan. Rambutnya hitam tersisir rapi. Ia mengenakan kemeja putih berlengan digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kekar. Yang paling penting, pria itu tidak berewokan. Dan—demi apa pun—dia tampan. Pria tertampan yang pernah Diana lihat. Gayanya seperti oppa Korea. Pria itu menoleh ketika Diana muncul dan tersenyum. “Diana, ini Aksara,” kata ayahnya memperkenalkan. Diana tak mengalihkan pandangannya dari Aksara. Ia seperti terhipnotis oleh senyum pria itu. “Kakak, mangapnya jangan terlalu lebar. Takut ada lalat masuk.” Atensi Diana teralihkan pada anak kecil yang duduk di atas ranjang ayahnya. Wajah Diana langsung memerah. Ia malu karena terlalu terpana. “Senang bertemu denganmu,” ujar Aksara dengan suara rendah namun tegas. Diana mengangguk kaku. “Senang bertemu denganmu juga.” “Maafkan perkataan Caroline, ya. Anak saya memang seperti itu.” Diana tersenyum canggung. “Tak apa. Hai, Caroline. Aku Diana. Kamu cantik sekali.” Caroline tersenyum senang setelah mendengar pujian itu. Anak perempuan berusia tujuh tahun tersebut memang cantik. Kulit putihnya dibalut gaun biru muda sederhana. Rambut hitamnya dikuncir dua, dengan poni yang mengingatkan Diana pada dirinya sendiri. Caroline menatap Diana sejenak sebelum tersenyum malu. “Kakak juga cantik." Diana tersenyum hingga matanya menyipit. “Terima kasih.” Diana duduk berseberangan dengan Aksara. Ia merasa tatapan pria itu terlalu intens meski wajahnya tetap datar. “Maaf kalau semua ini terasa mendadak untukmu,” ujar Aksara, memecah keheningan. “Tak apa. Aku sudah membicarakannya dengan Ayah semalam.” Aksara tersenyum. “Syukurlah.” “Ayah, Ayah,” panggil Caroline sambil mengibaskan tangannya. Aksara merendahkan tubuhnya, mendekatkan telinga ke mulut Caroline. “Apa kakak cantik itu yang Ayah bilang bakal jadi Mama baru Allin?” bisik Caroline. Aksara tersenyum simpul. “Iya.” Caroline tersenyum girang, lalu mencuri pandang ke arah Diana. “Allin senang. Nanti pas sekolah, Allin mau bilang ke teman-teman kalau Allin punya mama yang cantik banget.” Aksara hanya tersenyum melihat antusiasme Caroline. Ia sempat mengira anaknya akan bersikap dingin. Nyatanya, Caroline menerima Diana dengan mudah. Hati Aksara sedikit mencelos. Mungkin sejak lama Caroline memang merindukan sosok ibu. Ia tidak mengenal ibunya dengan baik. Aksara bercerai saat Caroline masih berusia satu tahun. Mantan istrinya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Wanita itu juga sulit diarahkan. Setiap malam mabuk, pergi ke klub tanpa kejelasan. Padahal selama menikah, Aksara selalu sabar. Ia tak pernah membentak, selalu menjaga perasaan. Namun wanita itu mengkhianatinya. Mengingat kelakuan mantan istrinya membuat Aksara geleng-geleng kepala. Meski begitu, ia kadang masih teringat masa indah mereka sebelum semuanya berubah. “Apa kalian perlu bicara berdua?” ujar Pak Rendra. “Biarkan Caroline di sini.” “Sepertinya memang begitu,” kata Aksara sambil menatap Diana. “Kita belum benar-benar berkenalan.” Diana mengangguk. “Mungkin Ayah benar.” “Allin, tunggu di sini sebentar, ya. Ayah mau bicara dengan Kak Diana.” Caroline mengangguk. “Gak apa-apa. Tapi Ayah jangan lama-lama.” “Iya,” jawab Aksara sambil mengacak rambut anaknya. Aksara memberi isyarat pada Diana untuk mengikutinya. Mereka menuju kantin rumah sakit. “Mau makan apa?” tanya Aksara. “Tidak usah. Aku sudah makan.” “Jus atau camilan?” “Tidak usah.” “Kalau begitu, duduk saja dulu.” Belum sempat Diana menolak, Aksara sudah pergi memesan makanan. Diana duduk dan memainkan ponselnya, membuka media sosial. Ia melihat teman-temannya berlibur merayakan kelulusan. Senyum getir terbit di wajahnya. Ia bahkan belum sempat merayakan kelulusannya sendiri. Tak lama, Aksara kembali membawa dua jus mangga dan beberapa camilan. “Aku dengar kamu baru lulus SMA,” ujar Aksara. “Ya.” “Berapa usiamu?” “Sembilan belas.” “Masih sangat muda. Sudah menentukan universitas?” “Untuk apa? Aku akan menikah.” “Apa menikah menghalangi kamu menuntut ilmu?” Diana terdiam. “Bagaimana dengan Caroline? Aku menikahimu bukan hanya untuk menjadi istrimu, tapi juga ibu bagi anakmu.” “Aku mengerti kekhawatiranmu,” jawab Aksara tenang. “Caroline tetap tanggung jawabku. Aku tak ingin pernikahan ini membebanimu.” Ia menatap Diana lurus. “Jika kamu ingin kuliah, lakukan. Aku tidak akan melarang. Kebetulan aku dosen di Universitas Indonesia. Setelah menikah, kamu menjadi tanggung jawabku. Aku akan menjagamu.” Diana tertegun. Mungkin Ayah benar. Mungkin Aksara memang pria yang baik dan bertanggung jawab.Sore itu, Jakarta Selatan lagi mendung-mendungnya, tapi suasana di dalam toko buku besar kawasan Kemang ini justru terasa hangat dan tenang. Aksara sengaja memilih tempat ini karena jauh dari jangkauan mahasiswa-mahasiswa psikologi yang biasanya nongkrong di Depok. Ia ingin menjadi laki-laki biasa sejenak, bukan profesor yang setiap langkahnya dipantau ribuan mata. Aksara berjalan santai dengan tangan kiri yang masuk ke saku celana chino-nya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Diana dengan erat. Diana sendiri tampak segar dengan sweater oversized warna krem yang dipadukan dengan celana jins, rambutnya dicepol asal yang justru bikin leher jenjangnya terekspos jelas. "Mas, serius deh... Mas ngajak kencan ke toko buku itu sebenernya mau refreshing atau mau nyiksa aku buat baca referensi baru?" goda Diana sambil menarik-narik tangan Aksara menuju lorong Novel Fiksi. Aksara terkekeh, suara baritonnya terdengar seksi di antara kesunyian rak buku. Ia menarik Diana mendekat,
Lobi Fakultas Psikologi pagi itu terasa lebih berisik dari biasanya. Kabar bahwa Pak Aksara Pratama—dosen paling perfeksionis se-universitas—datang dengan napas tersengal-sengal dan penampilan yang sedikit "berantakan" menyebar lebih cepat daripada pengumuman nilai ujian akhir. Di dalam Ruang Kuliah A, Aksara berdiri di balik podium kayu jati yang kokoh. Ia mencoba mengatur napasnya, membuka laptop dengan gerakan cepat yang tetap diusahakan terlihat elegan. Namun, ia merasa ada yang aneh. Mahasiswa di barisan depan, yang biasanya menunduk khusyuk mencatat setiap kata mutiaranya, kini justru saling lirik dan menahan senyum. Aksara berdeham, suara baritonnya menggema lewat pengeras suara. "Selamat pagi semuanya. Maaf saya terlambat lima menit karena ada kendala... teknis di rumah. Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai Psikologi Kognitif." Seorang mahasiswa cowok di baris tengah, yang memang terkenal berani, mengangkat tangan. "Anu, Pak... maaf memotong. Tapi sepertinya 'kendala
Cahaya matahari pagi menyelinap dengan kurang ajar melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke kelopak mata Diana. Ia mengerang, mencoba menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi wajahnya, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang hangat, padat, dan berotot. Diana membuka mata satu senti. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah rahang tegas Aksara yang masih terlelap dengan posisi memeluk pinggangnya posesif. Suara napas Aksara yang teratur adalah melodi paling menenangkan, tapi ketenangan itu pecah seketika saat mata Diana melirik jam beker di atas nakas. 07.15 WIB. "MAS AKSARA! BANGUN!" teriak Diana sambil meloncat duduk, membuat kasur pegas mereka berguncang hebat. Aksara tersentak, matanya terbuka lebar karena terkejut. "Ada apa? Gempa? Kebakaran?" tanya Aksara dengan suara serak-serak basah khas bangun tidur yang biasanya terdengar seksi, tapi kali ini terdengar seperti lonceng kematian bagi jadwal kuliah. "Gempa apanya! Mas ada kelas jam
Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan siluet hangat, menyamarkan sisa-sisa ketegangan yang biasanya mereka bawa dari koridor kampus yang kaku.Aksara baru saja keluar dari kamar mandi. Uap hangat masih mengikuti langkah kakinya. Ia hanya mengenakan celana kain panjang berwarna abu-abu gelap, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos udara dingin dari pendingin ruangan. Rambutnya yang biasanya tertata klimis ala dosen berwibawa, kini basah dan berantakan—sebuah pemandangan yang kalau sampai bocor ke grup WhatsApp mahasiswi, pasti bakal bikin server kampus down seketika.Di atas tempat tidur besar mereka, Diana tampak tidak terganggu. Ia sedang dalam posisi tengkurap, mengenakan piama satin tipis berwarna marun yang talinya sesekali
Entah bisikan setan darimana tiba-tiba saja Diana ingin berlajar menyetir mobil. Maka di sinilah mereka berada parkiran sepi yang sangat luas.Aksara Pratama, sang dosen psikologi yang biasanya mampu mengendalikan emosi ratusan mahasiswa dengan satu tatapan dingin, kini tampak berkeringat dingin. Di sampingnya, Diana duduk di kursi pengemudi dengan wajah tegang, kedua tangannya mencengkeram lingkar kemudi seolah-olah sedang memegang bom yang siap meledak. "Mas... beneran nih? Kalau aku nabrak tiang listrik itu gimana?" bisik Diana, matanya melotot menatap tiang beton di kejauhan. Aksara mengembuskan napas panjang, mencoba mempraktikkan teknik pernapasan dalam yang biasa ia ajarkan untuk mengatasi kecemasan. "Diana, tiang itu jaraknya lima puluh meter. Mobil ini tidak akan melompat ke sana kecuali kamu menginjak gas full. Sekarang, injak koplingnya perlahan." "Kopling yang mana? Kiri atau tengah?" tanya Diana panik. "Kiri, Sayang. Yang paling kiri. Tengah itu rem," jawab Aksar
Hari Selasa pagi di Fakultas Psikologi tidak pernah terasa seaneh ini bagi Diana. Jika biasanya ia turun dari ojek online di gerbang belakang dengan gerakan gesit layaknya agen rahasia yang takut tertangkap basah, hari ini pemandangannya berubah total. Mobil sedan hitam Aksara berhenti tepat di depan lobi utama—titik paling ramai di mana mahasiswa berkumpul untuk sekadar menyesap kopi atau menyalin tugas teman. Aksara mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Diana yang masih mematung sambil memeluk tas ranselnya. "Kenapa? Masih mau menunggu sampai gedung ini sepi?" goda Aksara dengan senyum miring yang sangat menyebalkan sekaligus tampan. "Mas... beneran nih? Semua orang melihat ke sini, lho," bisik Diana, matanya melirik ke arah kaca jendela yang transparan. Di luar, Pitaloka sudah melambai-lambai dengan heboh seperti sedang menyambut kedatangan delegasi luar negeri. Tanpa menjawab, Aksara keluar dari mobil. Ia berjalan memutar dengan langkah tegap, membuka pintu di sisi Diana,







