Share

bab 2

Author: Sora moon
last update publish date: 2026-01-21 16:40:11

Keesokan paginya, Diana berdiri di depan cermin kamarnya, memandang pantulan dirinya dengan wajah muram.

Rambutnya digelung rendah, menyisakan poni dan anak rambut yang menjuntai membingkai wajahnya.

Diana mengenakan gaun sederhana berwarna krem. Meski bibirnya sedikit dipulas lipstik tipis, raut wajahnya tetap terlihat kusut.

“Apakah aku benar-benar harus melakukan ini?” gumamnya pelan, meski ia tahu tak akan ada jawaban yang memuaskan hatinya.

Sudah tidak ada pilihan lain. Diana menarik napas panjang sebelum keluar dari rumah menuju rumah sakit.

Hari ini Diana akan bertemu dengan calon suaminya, juga calon anaknya. Jika boleh jujur, dadanya berdegup kencang. Ia gugup. Bayangan laki-laki brewokan masih menghantui pikirannya.

Yang paling Diana khawatirkan adalah apa yang harus ia katakan saat bertemu anak Aksara.

Bagaimanapun, Diana bukan tipe perempuan yang menyukai anak kecil. Ia juga tidak pandai basa-basi dengan anak-anak. Menurutnya, anak kecil terlalu merepotkan.

Diana turun dari mobil setelah sampai di rumah sakit. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju kamar inap ayahnya.

Dari luar, terdengar suara pria sedang mengobrol, diselingi tawa seorang anak kecil. Diana meneguk ludah gugup. Dengan ragu, ia membuka pintu kamar ayahnya.

Matanya langsung tertuju pada sosok pria yang sedang berbicara dengan ayahnya. Tinggi, tegap, dengan wajah tenang yang memancarkan kedewasaan. Rambutnya hitam tersisir rapi.

Ia mengenakan kemeja putih berlengan digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kekar. Yang paling penting, pria itu tidak berewokan. Dan—demi apa pun—dia tampan.

Pria tertampan yang pernah Diana lihat. Gayanya seperti oppa Korea.

Pria itu menoleh ketika Diana muncul dan tersenyum.

“Diana, ini Aksara,” kata ayahnya memperkenalkan.

Diana tak mengalihkan pandangannya dari Aksara. Ia seperti terhipnotis oleh senyum pria itu.

“Kakak, mangapnya jangan terlalu lebar. Takut ada lalat masuk.”

Atensi Diana teralihkan pada anak kecil yang duduk di atas ranjang ayahnya. Wajah Diana langsung memerah. Ia malu karena terlalu terpana.

“Senang bertemu denganmu,” ujar Aksara dengan suara rendah namun tegas.

Diana mengangguk kaku. “Senang bertemu denganmu juga.”

“Maafkan perkataan Caroline, ya. Anak saya memang seperti itu.”

Diana tersenyum canggung. “Tak apa. Hai, Caroline. Aku Diana. Kamu cantik sekali.”

Caroline tersenyum senang setelah mendengar pujian itu. Anak perempuan berusia tujuh tahun tersebut memang cantik.

Kulit putihnya dibalut gaun biru muda sederhana. Rambut hitamnya dikuncir dua, dengan poni yang mengingatkan Diana pada dirinya sendiri.

Caroline menatap Diana sejenak sebelum tersenyum malu.

“Kakak juga cantik." Diana tersenyum hingga matanya menyipit. “Terima kasih.”

Diana duduk berseberangan dengan Aksara. Ia merasa tatapan pria itu terlalu intens meski wajahnya tetap datar.

“Maaf kalau semua ini terasa mendadak untukmu,” ujar Aksara, memecah keheningan.

“Tak apa. Aku sudah membicarakannya dengan Ayah semalam.”

Aksara tersenyum. “Syukurlah.”

“Ayah, Ayah,” panggil Caroline sambil mengibaskan tangannya.

Aksara merendahkan tubuhnya, mendekatkan telinga ke mulut Caroline.

“Apa kakak cantik itu yang Ayah bilang bakal jadi Mama baru Allin?” bisik Caroline.

Aksara tersenyum simpul. “Iya.”

Caroline tersenyum girang, lalu mencuri pandang ke arah Diana.

“Allin senang. Nanti pas sekolah, Allin mau bilang ke teman-teman kalau Allin punya mama yang cantik banget.”

Aksara hanya tersenyum melihat antusiasme Caroline. Ia sempat mengira anaknya akan bersikap dingin. Nyatanya, Caroline menerima Diana dengan mudah.

Hati Aksara sedikit mencelos. Mungkin sejak lama Caroline memang merindukan sosok ibu. Ia tidak mengenal ibunya dengan baik. Aksara bercerai saat Caroline masih berusia satu tahun.

Mantan istrinya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Wanita itu juga sulit diarahkan. Setiap malam mabuk, pergi ke klub tanpa kejelasan.

Padahal selama menikah, Aksara selalu sabar. Ia tak pernah membentak, selalu menjaga perasaan. Namun wanita itu mengkhianatinya.

Mengingat kelakuan mantan istrinya membuat Aksara geleng-geleng kepala. Meski begitu, ia kadang masih teringat masa indah mereka sebelum semuanya berubah.

“Apa kalian perlu bicara berdua?” ujar Pak Rendra. “Biarkan Caroline di sini.”

“Sepertinya memang begitu,” kata Aksara sambil menatap Diana. “Kita belum benar-benar berkenalan.”

Diana mengangguk. “Mungkin Ayah benar.”

“Allin, tunggu di sini sebentar, ya. Ayah mau bicara dengan Kak Diana.”

Caroline mengangguk. “Gak apa-apa. Tapi Ayah jangan lama-lama.”

“Iya,” jawab Aksara sambil mengacak rambut anaknya.

Aksara memberi isyarat pada Diana untuk mengikutinya. Mereka menuju kantin rumah sakit.

“Mau makan apa?” tanya Aksara.

“Tidak usah. Aku sudah makan.”

“Jus atau camilan?”

“Tidak usah.”

“Kalau begitu, duduk saja dulu.”

Belum sempat Diana menolak, Aksara sudah pergi memesan makanan.

Diana duduk dan memainkan ponselnya, membuka media sosial. Ia melihat teman-temannya berlibur merayakan kelulusan.

Senyum getir terbit di wajahnya. Ia bahkan belum sempat merayakan kelulusannya sendiri.

Tak lama, Aksara kembali membawa dua jus mangga dan beberapa camilan.

“Aku dengar kamu baru lulus SMA,” ujar Aksara.

“Ya.”

“Berapa usiamu?”

“Sembilan belas.”

“Masih sangat muda. Sudah menentukan universitas?”

“Untuk apa? Aku akan menikah.”

“Apa menikah menghalangi kamu menuntut ilmu?”

Diana terdiam.

“Bagaimana dengan Caroline? Aku menikahimu bukan hanya untuk menjadi istrimu, tapi juga ibu bagi anakmu.”

“Aku mengerti kekhawatiranmu,” jawab Aksara tenang. “Caroline tetap tanggung jawabku. Aku tak ingin pernikahan ini membebanimu.”

Ia menatap Diana lurus.

“Jika kamu ingin kuliah, lakukan. Aku tidak akan melarang. Kebetulan aku dosen di Universitas Indonesia. Setelah menikah, kamu menjadi tanggung jawabku. Aku akan menjagamu.”

Diana tertegun.

Mungkin Ayah benar.

Mungkin Aksara memang pria yang baik dan bertanggung jawab.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kecilku   bab 48

    Suasana tenang di cluster perumahan elit itu mendadak terusik bukan oleh wartawan TV, melainkan oleh kerumunan anak muda dengan jaket almamater dan motor matik yang parkir sembarangan. Di tangan mereka bukan kamera profesional, melainkan ponsel pintar yang siap merekam apa saja demi konten "spill" di TikTok dan akun gosip kampus.Aksara yang baru saja memundurkan BMW hitamnya terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Di depan gerbang rumahnya, ada sekitar sepuluh orang yang berdiri dengan ponsel teracung."Eh, beneran itu rumahnya Pak Aksara!""Cepat rekam! Itu cewek di dalem pasti Diana!"Kilatan flash dari ponsel-ponsel itu menyambar kaca mobil yang gelap. Diana, yang duduk di kursi penumpang, langsung menarik hoodie-nya hingga menutupi wajah. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan wartawan, ini jauh lebih ngeri: teman-teman seangkatannya sendiri yang haus validasi di media sosial."Mas... kok mereka tahu rumah kita? Ini kan cluster privat!" bisik Diana dengan suara gemetar.Aksara mencen

  • Istri Kecilku   bab 47

    Sisa ketegangan dari kedatangan Saskia masih menggantung tipis di udara, namun di dalam kamar Allin yang bernuansa merah muda, waktu seolah berjalan lebih lambat. Allin mengerjapkan matanya yang bulat, menguceknya pelan, lalu duduk tegak di atas tempat tidur. Ia mendengar suara gaduh di bawah tadi, tapi kantuknya jauh lebih berat. "Ayah?" panggil Allin lirih. Pintu kamar terbuka pelan. Aksara melangkah masuk, sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos santai hitam. Di belakangnya, Diana mengekor dengan nampan berisi segelas susu hangat. "Anak pinter sudah bangun?" Aksara duduk di tepi ranjang, mengusap dahi Allin yang sedikit berkeringat. Allin langsung merangkak ke pelukan Aksara, menyembunyikan wajahnya di dada bidang papanya. "Yah... tadi ada suara orang teriak ya? Allin takut." Aksara melirik Diana sekilas. Ada kilat kepedihan di matanya, namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Enggak ada apa-apa, Sayang. Cuma orang salah alamat yang agak bingung cari jalan. Ayah

  • Istri Kecilku   bab 46

    Sore hari setelah kuliah selesai. rumah Aksara tampak Damai dan sunyi. Diana baru saja hendak menyeduh teh saat bel rumah berbunyi panjang. Tidak seperti biasanya, bunyi bel itu terdengar menuntut, tidak sabar, dan sedikit... lancang. Begitu pintu dibuka, dunia Diana seolah bergeser. Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya pirang abu-abu hasil salon mahal, riasannya tebal namun tak mampu menutupi gurat kelelahan di matanya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang terlalu mencolok untuk cuaca mendung Depok. "Siapa ya?" tanya Diana, instingnya langsung mengirim sinyal bahaya. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, menatap Diana dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Jadi ini asisten baru Aksara? Atau... selera barunya yang masih bau kencur?" "Saya Diana, istri Mas Aksara," jawab Diana tegas, menekankan kata istri. Tawa wanita itu pecah. Cempreng dan palsu. "Istri? Oh, manis sekali. Aku Saskia. Ibu kandung Caroline. Minggir, aku mau ketemu anakku." "Mas Aksara

  • Istri Kecilku   bab 45

    Bau sisa hujan semalam masih menempel di selasar Fakultas Psikologi. Diana melangkah cepat, menarik kerah blus kura-kuranya setinggi mungkin. Sialan Aksara. Tanda di leher kirinya itu tidak bisa tertutup sempurna hanya dengan concealer seharga tiga ratus ribu. "Diana! Sini!" teriak Pitaloka dari pintu kelas 302. "Pak Aksara sudah di jalan. Lo telat dikit, habis!" Diana masuk, mengambil napas pendek, dan duduk di baris paling depan. Satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Tepat di bawah hidung podium dosen. Klik. Klik. Klik. Suara pantofel yang beradu dengan lantai marmer itu membuat seisi kelas mendadak senyap. Aksara Pratama masuk. Jas abu-abunya terpasang sempurna, dasi marun hasil simpul tangan Diana tadi pagi melingkar gagah. Wajahnya datar, kaku, dan seolah tidak pernah menyentuh kulit manusia dalam sepuluh tahun terakhir. Aksara meletakkan tas kulitnya. Matanya memindai ruangan. Ia tidak menatap Diana. Tatapannya justru jatuh pada Raka, mahasiswa yang duduk tepat di belakan

  • Istri Kecilku   bab 44

    Alarm digital di nakas baru saja menunjukkan pukul 05.30 WIB. Cahaya fajar Jakarta yang abu-abu mengintip malu-malu di balik gorden blackout. Aksara sudah terjaga, posisi telentang dengan lengan kanan menyangga kepala, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang sudah melanglang buana ke materi kuliah jam delapan nanti. Namun, lamunannya buyar saat merasakan pergerakan di sampingnya. Diana tidak bangun untuk mandi seperti biasanya. Gadis itu justru merangkak naik, menindih perut rata Aksara, dan duduk tegak di sana dengan piama satin tipis yang talinya nyaris melorot. Aksara tersentak. Alisnya terangkat satu. "Diana? Tumben. Biasanya aku harus pakai pengeras suara buat bangunin kamu." "Mas terlalu banyak mikir," gumam Diana. Ia menunduk, ujung rambutnya yang berantakan menyapu dada bidang Aksara. Jemarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahang suaminya yang tegas. "Berhenti jadi profesor sejenak. Tatap aku." Aksara terkekeh rendah, tangannya otomatis hinggap di pinggang r

  • Istri Kecilku   bab 43

    Hujan di luar semakin menggila, mengubah aspal Jakarta menjadi cermin hitam yang memantulkan kerlip lampu kota yang buram. Di dalam mobil, uap tipis mulai menyelimuti kaca, mengisolasi Aksara dan Diana dalam sebuah gelembung kedap suara yang hanya berisi deru mesin halus dan aroma musk yang kian pekat. Aksara tidak segera memacu mobilnya. Tangannya masih bertengger di tengkuk Diana, jempolnya mengusap garis rahang istrinya dengan ritme yang menghipnotis. Ada kilat di matanya—jenis kilat yang tidak pernah ia tunjukkan di depan podium kuliah. Itu bukan tatapan seorang akademisi yang sedang mengobservasi subjek; itu adalah tatapan seorang pria yang sedang kelaparan. "Mas... jalan, nanti Allin nunggu kelamaan," bisik Diana. Suaranya serak, usahanya untuk bersikap logis digagalkan oleh sentuhan Aksara yang mulai turun ke tulang selangkanya. "Mbok Ratni sudah kirim pesan. Allin ketiduran habis makan sore," sahut Aksara rendah. Suaranya seperti gesekan cello yang berat, bergetar langsung

  • Istri Kecilku   bab 39

    ​Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan silue

  • Istri Kecilku   bab 14

    ​Laman situs pengumuman SIMAK UI yang menampilkan kotak hijau bertuliskan "SELAMAT! ANDA DITERIMA" rasanya baru kemarin Diana tatap dengan tangan gemetar dan derai air mata bahagia.Namun hari ini, euforia itu harus berhadapan langsung dengan realitas fisik. Diana berdiri tegak, membiarkan tubuhny

  • Istri Kecilku   Bab 13

    ​Langit Depok pagi ini tampak abu-abu, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti hati Diana. Hari ini adalah hari penentuan. Ujian SIMAK UI—gerbang utama yang harus ia lewati untuk bisa mengenakan jaket kuning kebanggaan—sudah di depan mata. ​Di meja makan, Diana hanya mengaduk-aduk bubu

  • Istri Kecilku   bab 6

    Mobil Aksara berhenti di sebuah rumah dua lantai berwarna krem. Bangunannya tidak besar, namun terlihat sangat terawat. Rumah Aksara berada di dalam sebuah kluster di dekat UI. Diana keluar dari mobil mengikuti Aksara. Hari itu Caroline dan ibunya pulang lebih awal karena Caroline harus berangkat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status