Share

bab 4

Author: Sora moon
last update publish date: 2026-01-21 18:07:00

Malam ini aku akad, dengan pria yang baru kukenal pagi tadi.

Malam ini aku akad, dengan pria yang telah memiliki anak.

Malam ini aku akad, sederhana. Hanya disaksikan oleh beberapa staf rumah sakit, Ibu Aksara yang sudah tidak muda lagi, dan ayahku yang terbaring lemah di atas ranjang.

Malam ini aku akad, dengan hiasan sederhana dan baju pengantin sederhana.

Malam ini aku akad. Aku duduk di samping Aksara dengan penghulu yang memegang tangan.

Malam ini aku akad.

Akad yang akan mengubah kehidupanku ke depannya.

“Saya terima nikahnya Diana Aulia binti Bapak Rendra Hadiansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Suara Aksara mengalir mantap seperti seorang pria yang sudah siap memikul seluruh beban dunia. Untuk sesaat, aku menutup mata.

Aku ingin meyakinkan diriku bahwa ini nyata. Bukan mimpi buruk, bukan halusinasi, bukan skenario tidak masuk akal yang tiba-tiba jatuh dari langit.

“Bagaimana, para saksi? Sah?”

“Sah,” jawab mereka serempak.

“Alhamdulillah, sah.” Penghulu mengangguk dan merapalkan doa panjang. Beberapa staf rumah sakit menunduk. Menjadi saksi pernikahan yang tidak direncanakan siapa pun, kecuali takdir.

Ibu Aksara terduduk dengan tangan di pangkuannya. Beliau melirik menatapku lalu tersenyum tipis. Entah apa maksudnya, aku hanya berharap beliau dapat menerima kehadiranku.

Aku menatap ke arah ranjang ayahku. Lelaki yang masih kutakuti kehilangannya itu terbaring lemah dengan selang oksigen yang menutupi sebagian wajahnya.

Setelah doa panjang, kami menandatangani beberapa dokumen dan buku nikah.

Aku menyalami tangan Aksara dan dia mencium keningku. Tanpa ada sesi foto atau apa pun. Pernikahan kami selesai.

Kami telah sah menjadi pasangan suami istri.

Setelah semua orang keluar, Ibu Aksara menghampiriku. Beliau menangis memelukku. Aku hanya bisa mengusap punggungnya, sedikit canggung.

“Diana, terima kasih telah menerima Aksara. Ibu menjamin dia anak yang baik. Kalau dia nakal atau jahat sama kamu, bilang sama ibu, biar ibu pukul kepalanya.”

Aku sedikit tersenyum mendengar wejangan ibunya. Terlihat dari cara bicaranya, beliau memang terlihat baik.

“Nak, kamu sekarang sudah menjadi istri. Belajarlah menjadi istri dan ibu yang baik. Ayah percaya kamu tidak akan mengecewakan ayah dan suamimu kelak.”

Aku tersenyum mengangguk pada ayahku. Aku tidak lagi Diana Aulia yang baru lulus SMA. Aku kini seorang istri. Seorang ibu.

Seorang perempuan yang harus menanggung masa depan baru tanpa sempat bertanya apakah aku sanggup.

“Ayah, Ayah, apa sekarang Kak Diana mamah Allin?” Caroline menarik-narik ujung kemeja yang dipakai Aksara. Aku penasaran dengan jawaban Aksara.

Dia malah tersenyum padaku. Aku pun tersenyum balik, mengizinkan Caroline untuk memanggilku Mamah. Sedikit menggelikan untukku, tapi aku yakin aku bisa terbiasa dengan panggilan itu.

Aksara jongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Caroline. Dia mencium pipinya lalu berkata, “Iya, Kak Diana sekarang mamahnya Allin.”

Allin tersenyum senang memeluk kakiku. Aku sedikit terkejut, tapi senang juga. Aku pun mensejajarkan tubuhku, tersenyum padanya.

Semua orang dalam ruangan tersenyum.

“Apa sekarang aku bisa memanggil Kak Diana mamah?”

Aku mengangguk pelan walau hatiku berdenyut tak karuan. “Tentu. Sekarang aku mamahnya Allin.”

Caroline memelukku tiba-tiba. Tubuh kecilnya hangat. Pelukannya sederhana, tapi mampu membuatku sedikit lebih tenang.

Entah bagaimana, pelukan anak kecil itu terasa seperti ancang-ancang sebuah kehidupan baru yang harus kujalani.

Aksara mendekat, suaranya rendah. “Terima kasih sudah menerima semua ini, Diana.”

Aku belum sempat menjawab ketika monitor di sisi ranjang ayah berbunyi lebih lambat.

Tit… tit… tit… namun jedanya semakin panjang. Tubuhku langsung menegang.

“Ayah?” Aku membalik badan, mendekati ranjangnya. Ayah membuka mata perlahan, seperti sedang berjuang mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih dipunya.

“Diana…” suaranya lirih, namun jelas. “Ayah lega sekarang kamu sudah berada di tangan yang tepat.”

Aku menggenggam tangannya yang sudah dingin di ujung-ujung jari. Aku hanya bisa bergumam pelan, air mataku mengumpul di pelupuk mata.

Aksara berdiri di sampingku, sedikit menunduk. “Saya akan menjaga Diana, Pak. Saya janji.”

Ayah mengerjap lemah. Ada sisa senyum kecil di bibirnya. “Aku… tidak salah… memilihmu.”

Tangan ayahku menggenggam jari-jariku sangat pelan. Namun kemudian genggamannya mengendur.

“Ayah?” suaraku pecah.

Monitor berbunyi lebih cepat, kemudian berubah menjadi garis lurus panjang yang memekakkan telinga.

Tit—————

Aku membeku. Suara di sekitarku hilang. Ruangan serasa runtuh. Ibu Aksara menutup mulutnya. Aksara terkejut, memanggil perawat.

Beberapa staf berlari masuk. Namun aku tidak mendengar apa pun. Hanya garis lurus di monitor itu. Hanya hening. Hanya kehilangan.

“Ayah?” aku menggoyang bahunya, tubuhku mulai gemetar. “Ayah, bangun… Ayah… jangan tinggalin Diana… Ayah…”

Perawat memegang bahuku, mencoba menjauhkan aku dari ranjang, tapi aku menolak. Tubuhku seakan mau roboh, lalu Aksara menangkapku sebelum aku jatuh.

“Diana,” suaranya lirih, panik sekaligus lembut. “Diana, ayo, biarkan dokter memeriksanya.”

Aku menggeleng keras. “Enggak mau! Ayah ninggalin aku, Aksara!”

Suaraku hilang. Tangisku pecah saat itu juga. Semua yang kutahan sejak siang—takut, bingung, pasrah—meledak bersamaan.

Aksara menarikku ke dadanya, memelukku erat. “Tenanglah, sekarang ada aku di sini.”

Aku memukul dadanya pelan, antara marah pada diri sendiri dan marah pada waktu yang begitu pelit.

“Ayahku meninggalkan aku saat aku belum bisa membahagiakannya. Aku benci! Aku benci diriku sendiri. Kenapa Tuhan begitu kejam padaku? Dia mengambil satu-satunya orang yang aku punya di dunia ini.”

Ia mengusap punggungku, pelan seperti sedang menenangkan anak kecil. “Ini sudah takdir. Ikhlas, ya. Jangan salahkan dirimu ataupun Tuhan.”

Aku menangis lama, sampai suaraku habis. Sampai tubuhku lemas. Sampai aku tidak mampu lagi berkata apa pun.

Yang tersisa hanya kenyataan.

Malam ini aku akad.

Malam ini aku menikah.

Dan malam ini, aku kehilangan ayahku.

Dalam satu hari, hidupku berubah total. Seperti pintu besar yang ditutup keras di belakangku. Tidak ada jalan kembali, tidak ada pilihan lain selain berjalan maju.

Entah bagaimana caranya. Entah sekuat apa pun kakiku nanti menahan beban.

Satu yang kupahami malam itu.

Aku tidak lagi sendiri.

Dan itu membuat segalanya terasa lebih menakutkan… sekaligus lebih mungkin untuk dijalani.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kecilku   bab 48

    Suasana tenang di cluster perumahan elit itu mendadak terusik bukan oleh wartawan TV, melainkan oleh kerumunan anak muda dengan jaket almamater dan motor matik yang parkir sembarangan. Di tangan mereka bukan kamera profesional, melainkan ponsel pintar yang siap merekam apa saja demi konten "spill" di TikTok dan akun gosip kampus.Aksara yang baru saja memundurkan BMW hitamnya terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Di depan gerbang rumahnya, ada sekitar sepuluh orang yang berdiri dengan ponsel teracung."Eh, beneran itu rumahnya Pak Aksara!""Cepat rekam! Itu cewek di dalem pasti Diana!"Kilatan flash dari ponsel-ponsel itu menyambar kaca mobil yang gelap. Diana, yang duduk di kursi penumpang, langsung menarik hoodie-nya hingga menutupi wajah. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan wartawan, ini jauh lebih ngeri: teman-teman seangkatannya sendiri yang haus validasi di media sosial."Mas... kok mereka tahu rumah kita? Ini kan cluster privat!" bisik Diana dengan suara gemetar.Aksara mencen

  • Istri Kecilku   bab 47

    Sisa ketegangan dari kedatangan Saskia masih menggantung tipis di udara, namun di dalam kamar Allin yang bernuansa merah muda, waktu seolah berjalan lebih lambat. Allin mengerjapkan matanya yang bulat, menguceknya pelan, lalu duduk tegak di atas tempat tidur. Ia mendengar suara gaduh di bawah tadi, tapi kantuknya jauh lebih berat. "Ayah?" panggil Allin lirih. Pintu kamar terbuka pelan. Aksara melangkah masuk, sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos santai hitam. Di belakangnya, Diana mengekor dengan nampan berisi segelas susu hangat. "Anak pinter sudah bangun?" Aksara duduk di tepi ranjang, mengusap dahi Allin yang sedikit berkeringat. Allin langsung merangkak ke pelukan Aksara, menyembunyikan wajahnya di dada bidang papanya. "Yah... tadi ada suara orang teriak ya? Allin takut." Aksara melirik Diana sekilas. Ada kilat kepedihan di matanya, namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Enggak ada apa-apa, Sayang. Cuma orang salah alamat yang agak bingung cari jalan. Ayah

  • Istri Kecilku   bab 46

    Sore hari setelah kuliah selesai. rumah Aksara tampak Damai dan sunyi. Diana baru saja hendak menyeduh teh saat bel rumah berbunyi panjang. Tidak seperti biasanya, bunyi bel itu terdengar menuntut, tidak sabar, dan sedikit... lancang. Begitu pintu dibuka, dunia Diana seolah bergeser. Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya pirang abu-abu hasil salon mahal, riasannya tebal namun tak mampu menutupi gurat kelelahan di matanya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang terlalu mencolok untuk cuaca mendung Depok. "Siapa ya?" tanya Diana, instingnya langsung mengirim sinyal bahaya. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, menatap Diana dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Jadi ini asisten baru Aksara? Atau... selera barunya yang masih bau kencur?" "Saya Diana, istri Mas Aksara," jawab Diana tegas, menekankan kata istri. Tawa wanita itu pecah. Cempreng dan palsu. "Istri? Oh, manis sekali. Aku Saskia. Ibu kandung Caroline. Minggir, aku mau ketemu anakku." "Mas Aksara

  • Istri Kecilku   bab 45

    Bau sisa hujan semalam masih menempel di selasar Fakultas Psikologi. Diana melangkah cepat, menarik kerah blus kura-kuranya setinggi mungkin. Sialan Aksara. Tanda di leher kirinya itu tidak bisa tertutup sempurna hanya dengan concealer seharga tiga ratus ribu. "Diana! Sini!" teriak Pitaloka dari pintu kelas 302. "Pak Aksara sudah di jalan. Lo telat dikit, habis!" Diana masuk, mengambil napas pendek, dan duduk di baris paling depan. Satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Tepat di bawah hidung podium dosen. Klik. Klik. Klik. Suara pantofel yang beradu dengan lantai marmer itu membuat seisi kelas mendadak senyap. Aksara Pratama masuk. Jas abu-abunya terpasang sempurna, dasi marun hasil simpul tangan Diana tadi pagi melingkar gagah. Wajahnya datar, kaku, dan seolah tidak pernah menyentuh kulit manusia dalam sepuluh tahun terakhir. Aksara meletakkan tas kulitnya. Matanya memindai ruangan. Ia tidak menatap Diana. Tatapannya justru jatuh pada Raka, mahasiswa yang duduk tepat di belakan

  • Istri Kecilku   bab 44

    Alarm digital di nakas baru saja menunjukkan pukul 05.30 WIB. Cahaya fajar Jakarta yang abu-abu mengintip malu-malu di balik gorden blackout. Aksara sudah terjaga, posisi telentang dengan lengan kanan menyangga kepala, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang sudah melanglang buana ke materi kuliah jam delapan nanti. Namun, lamunannya buyar saat merasakan pergerakan di sampingnya. Diana tidak bangun untuk mandi seperti biasanya. Gadis itu justru merangkak naik, menindih perut rata Aksara, dan duduk tegak di sana dengan piama satin tipis yang talinya nyaris melorot. Aksara tersentak. Alisnya terangkat satu. "Diana? Tumben. Biasanya aku harus pakai pengeras suara buat bangunin kamu." "Mas terlalu banyak mikir," gumam Diana. Ia menunduk, ujung rambutnya yang berantakan menyapu dada bidang Aksara. Jemarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahang suaminya yang tegas. "Berhenti jadi profesor sejenak. Tatap aku." Aksara terkekeh rendah, tangannya otomatis hinggap di pinggang r

  • Istri Kecilku   bab 43

    Hujan di luar semakin menggila, mengubah aspal Jakarta menjadi cermin hitam yang memantulkan kerlip lampu kota yang buram. Di dalam mobil, uap tipis mulai menyelimuti kaca, mengisolasi Aksara dan Diana dalam sebuah gelembung kedap suara yang hanya berisi deru mesin halus dan aroma musk yang kian pekat. Aksara tidak segera memacu mobilnya. Tangannya masih bertengger di tengkuk Diana, jempolnya mengusap garis rahang istrinya dengan ritme yang menghipnotis. Ada kilat di matanya—jenis kilat yang tidak pernah ia tunjukkan di depan podium kuliah. Itu bukan tatapan seorang akademisi yang sedang mengobservasi subjek; itu adalah tatapan seorang pria yang sedang kelaparan. "Mas... jalan, nanti Allin nunggu kelamaan," bisik Diana. Suaranya serak, usahanya untuk bersikap logis digagalkan oleh sentuhan Aksara yang mulai turun ke tulang selangkanya. "Mbok Ratni sudah kirim pesan. Allin ketiduran habis makan sore," sahut Aksara rendah. Suaranya seperti gesekan cello yang berat, bergetar langsung

  • Istri Kecilku   bab 39

    ​Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan silue

  • Istri Kecilku   bab 32

    ​Sabtu pagi di rumah Aksara selalu memiliki ritme yang berbeda. Tidak ada bunyi alarm yang menjerit pada pukul lima subuh, tidak ada kepanikan mencari kunci mobil, dan yang paling penting tidak ada Diana yang pontang panting karena terlambat. ​Diana terbangun karena cahaya matahari yang menerobos

  • Istri Kecilku   bab 28

    ​Pagi itu, Diana terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Mungkin karena semalam ia melihat Aksara tertawa begitu lepas saat menyantap "sup bayam cokelat" buatan Caroline, atau mungkin karena ia membayangkan Rendy yang malang sedang terkantuk-kantuk menghitung ribuan data di perpustakaan.

  • Istri Kecilku   bab 24

    Setelah ketegangan yang menyesakkan dada di koridor kampus, aroma harum masakan dari dapur rumah terasa seperti pelukan yang menenangkan bagi Diana. Sore itu, langit masih menyisakan rintik tipis di jendela, menciptakan melodi ritmis yang menenangkan. Diana melangkah masuk ke dalam rumah, meletakk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status