LOGIN"Mereka terlihat begitu serasi. Bukan begitu sayang?" Bisik Jihan tepat di telinga Nathan. Nathan menoleh dan tersenyum kecil. Bibirnya tersenyum tapi hatinya tidak terima. Netranya terus menatap ke arah panggung. Di mana Kirana dan Zakki berada. "Benar-benar pasangan yang sempurna." Pujian itu bagaikan pedang yang menusuk jantung Nathan. Dia tidak suka mendengar pujian itu. Nathan melepaskan tangan Jihan dan meninggalkan aula. "Ada apa sayang? Apa kamu cemburu melihat Kirana bersama dengan pria lain?" Batin Jihan menatap kepergian suaminya. Di sisi lain, Kirana menatap kepergian Nathan dari kejauhan. Tidak ada lagi cinta yang terlihat di mata Kirana setelah melihat ke arah Nathan. Zakki jelas melihat semua itu. Tapi dia jelas melihat tatapan yang berbeda dari Kirana. Dia tidak melihat adanya cinta lagi. Tentu saja hal itu memberikan harapan yang cukup besar bagi Zakki. Lima belas menit kemudian. Pertunangan Zakki dan Kirana di mulai. Kirana kini menyamatkan cincin d
Satu minggu berlalu. Undangan pertunangan Zakki dan Kirana sudah tersebar di kantor. Hal itu semakin membuat Nathan kesal. Pria itu berdiri menatap undangan di atas mejanya. Terlihat jelas nama Kirana dan Zakki tertera di sana. Nathan meraih undangan itu dan meremasnya. "Aku tidak akan pernah rela melihat kalian berdua bahagia. Aku memang bersalah Kirana tapi aku tidak pernah rela melepasakan dirimu." Batin Nathan membuang undangan itu begitu saja di atas meja miliknya. Di ruangan yang lain. Kirana duduk menatap ke arah layar komputer miliknya. Tapi pikirannya tertuju kepada dirinya dan Zakki. Entah keputusan yang dia ambil adalah sesuatu yang sudah benar atau salah. "Ya tuhan. Jika ini keputusan yang baik maka semoga engkau menunjukkan jalan yang lebih baik dari sebelumnya. Semoga Zakki adalah yang terbaik untuk ku." Batin Kirana dengan penuh harapan yang begitu besar. Di masa lalu, dia begitu mencintai laki-laki. Bahkan dia terkadang lupa dengan kewajibannya. Tapi nyatan
Raut wajah Jihan seketika berubah pucat. Dia menatap wajah suaminya. Terlihat jelas suaminya sedang murka saat ini. Tapi apa yang membuat suaminya marah. Jihan sama sekali tidak menyadari apa pun. Nathan tertawa keras. Hal itu semakin membuat Jihan gugup. Semenjak menikah baru kali ini dia melihat suaminya begitu kesal kepadanya. "Apa kamu baik-baik saja?" Jihan kembali bertanya. "Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tahu jika kamu datang ke rumah pak Tony. Apa yang kamu lakukan di sana? Kamu bahkan mengabaikan telepon ku saat kamu berada di sana." Tatapan Nathan semakin tajam. "Aku minta maaf sayang. Maaf jika aku tidak jujur kepada mu. Om Tony sedang sakit. Itu sebabnya tadi aku menemuinya. Soal telepon mu, aku begitu buru-buru. " Jihan berusaha meyakin kan suaminya. Meski dia tahu kebenarannya seperti apa. Nathan tersenyum miring. Dia tahu jika dia tidak punya bukti yang kuat. Dia tidak bisa menuduh Jihan tanpa bukti. Nathan memilih pergi dan meninggalkan kamar merek
Nathan terus berada di dalam mobil miliknya memandang kepada Kirana dan Zakki di depan mobil Kirana. Kedunya tampak mengobrol dengan santai. Beberapa menit kemudian. Nertranya menangkap sosok istrinya yang tampak buru-buru. Nathan menghubungi istrinya. Dia mencobanya selama beberapa kali. Tapi tidak ada jawaban dari istrinya. Tangan Nathan mencengkram erat kemudi. Dia menatap kepergian istrinya selama beberapa menit sebelum memutuskan untuk mengikutinya. Sepanjang jalan, Nathan terus merasakan gugup. Dia kembali menghubungi istrinya tapi lagi-lagi dia tidak mendapatkan jawaban. Nathan tersenyum miring. "Kali ini kamu akan pergi kemana Jihan?"Gumam Nathan terus mengikuti istrinya hingga dia menyadari arah tujuan mereka. Nathan semakin gugup ketika dia melihat arah tujuan istrinya sangat familiar. "Kamu tidak mungkin kesana bukan?" Gumamnya kembali. Dalam lima belas menit, kini Nathan melihat semuanya. Jihan benar-benar datang ke rumah pak Tony. Kini dia menyadari a
Di sisi lain, Zakki sedang rapat dengan para karyawannya. Dia terlihat begitu fokus hingga dia tidak sadar jika ponselnya bergetar. Tiga puluh menit berlalu. Rapat telah usai. Zakki meninggalkan ruang rapat. Dia berjalan menuju ke ruangannya. Begitu tiba di ruang rapat. Zakki memeriksa ponselnya. Netranya menatap pesan dari Kirana. Seulas senyum kebahagiaan terlihat di bibirnya. Sang sekertaris yang melihat hal itu sedikit bingung. Entah siapa yang mengirim pesan kepadanya hingga senyumannya tidak pernah luntur. "Khmmm. Apa yang begitu membahagiakan pak?" Tanya sekertarisnya. Zakki hanya menoleh sekilas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia kembali menatap ponselnya. Dia beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan ke atap. Setibanya di atap, dia menelpon Kirana. Tapi hal itu berujung kekecewaan. Ketika teleponnya tidak di angkat. "Ini jam kantor. "Lirihnya dengan penuh rasa kecewa. Zakki memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Netranya menatap gedung-gedung yan
Lima belas menit berlalu. Jihan menatap serius layar komputer miliknya. Dari dalam ruangannya, Nathan sesekali melirik ke arah istrinya. Dia tahu jika istrinya telah berbohong kepadanya. Memikirkan kebohongan istrinya membuat Nathan kesal. Nathan meraih ponselnya. "Cari tahu apa yang di lakukan Jihan di luar jam kerja kantor." Perintah Nathan kepada seseorang. Nathan kembali meletakkan ponselnya. Dia kembali melirik ke arah istrinya. Tangannnya sedikit gemetar. Jangan sampai Jihan mengkhianatinya. Mereka memiliki putra. Dia sudah memimpikan kehadirannya sejak lama. Tapi ada sesuatu yang membuat Nathan merasa ganjil. Hatinya tidak begitu menyayangi putra mereka. Bahkan dia juga melihat istrinya tidak begitu menyayanginya. Seolah-olah mereka tidak punya ikatan batin antara ayah dan anak. Kehadiran putra mereka tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Hatinya tidak untuk sang putra. Lima belas menit berlalu. Ponsel Nathan kembali berdering. Tanpa berpikir panjang deng







