Home / Romansa / Istri Kedua Sang Jenderal / 78. Kaiden Masih Marah?

Share

78. Kaiden Masih Marah?

Author: rainaxdays
last update Last Updated: 2026-01-13 23:33:59

“Phoenix?!”

Anna nyaris berteriak. Beberapa pengunjung meliriknya dan ia spontan menutup mulutnya.

“Ayo.” Anna segera menarik Phoenix ke bagian belakang perpustakaan yang sepi. Ia menatap Phoenix dari ujung kepala sampai ujung kaki. Perasaannya campur aduk—syok, haru, tercengang, dan bahagia.

Ia tidak tahu bagaimana mendeksripsikan perasaannya.

Anna hanya ternganga di sana, menatap Phoenix untuk waktu yang lama.

Bagaimana bisa Phoenix ada di sini?

Bukankah dia telah...

“Kau—kau... Ini sungguh kau?” Anna menyentuh pundak Phoenix dengan tangan gemetar. Matanya berkaca-kaca. “Apakah... aku bermimpi? Apa aku masih di kamar dan melamun? Apa ini hanya halusinasiku saja?”

“Ini sungguh saya, Nyonya,” kata Phoenix, tersenyum lebar. “Saya selamat.”

“Bagaimana bisa?” Anna tertegun tidak percaya. Tidak ada yang bisa lolos dari eksekusi di luar perbatasan. Apalagi, gerbang terlihat sudah ditutup.

“Tepat setelah Anda dibawa pergi, Tuan Kaiden membatalkan eksekusinya,” jawab Phoenix dengan senyum ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Kedua Sang Jenderal   92. ‘Terlalu Berharga untuk Mati’

    Sebuah kandang baru di dekat kandang Panther?Kandang apa?Anna berdiri memperhatikan dari kejauhan. Ia awalnya berniat menghirup udara segar di pagi hari, jadi ia pergi ke halaman belakang mansion. Lalu, kandang kayu yang berada tepat di samping kandang Panther menarik perhatiannya.Di depan hutan, Kaiden terlihat mengarahkan sesuatu pada prajuritnya. Anna berdiri diam mengamati suaminya sambil memikirkan gaun yang digantung di kamar.Camila memberitahu kalau gaun itu dari Kaiden. Anna harus memakainya saat pesta musim panas diselenggerakan.Anna agak terkejut, sebenarnya. Ia tidak menyangka Kaiden akan memilih sendiri gaun untuknya. Ia tidur terlalu awal karena efek obat dan tidak melihat kepulangan Kaiden ke mansion.“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Kaiden, menyentak Anna dari lamunannya. Dia sudah berjalan mendekati Anna yang berdiri di dekat pintu belakang mansion.Dalam balutan kemeja hitam dan celana senada, Kaiden tampak lebih santai dibanding saat dia mengenakan seragam

  • Istri Kedua Sang Jenderal   91. Gaun Pilihan Kaiden

    “Kita akan bertemu lagi saat pengeboran minyak dimulai di luar sana. Aku akan menghubungi kalian.” “Baik, jenderal!” Gael, Tadeo, Caspian, dan Soren membungkuk hormat sebelum memasuki mobil militer baru yang akan mereka kendarai. Gael membunyikan klakson, lalu membawa mobil keluar dari perbatasan. Kaiden berdiri di dekat gerbang yang menjulang, menatap kepergian keempat mata-matanya. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, menyusuri gurun yang tandus dan kering. Debu pasir beterbangan di mana-mana, sementara singa gurun yang tengah tidur di bawah pohon terlihat dari kejauhan. Kaiden menatap gurun tak berujung itu untuk sejenak. Pemandangan yang didominasi warna coklat itu berbanding terbalik dengan tanah hijau yang ia pijak sekarang. Jika bukan karena para pengdahulu yang menemukan wilayah subur ini dan membangun negara baru, mereka mungkin akan beradaptasi dengan tinggal di gurun. Kaiden menghela napas saat angin gurun dari arah Selatan bertiup. Cuaca akan jauh lebih pan

  • Istri Kedua Sang Jenderal   90. Rencana Selena dan Polas

    Anna membalik posisinya menjadi telungkup di atas ranjang. Ia berbaring dengan kaku ketika Kaiden menaikkan gaun tidurnya sampai ke bahu, memperlihatkan celana dalam dan punggung telanjangnya. Tangan Kaiden meraba punggungnya, turun menuju pinggangnya. Jemarinya mengelus lembut memar yang ada di sana, begitu perlahan hingga membuat Anna menggigil di bawah sentuhan tangannya yang hangat. “Biuuhaah au angung ogekan aepnya?” ucap Anna, suaranya teredam di bantal. Kaiden spontan tertawa. “Kau bilang apa?” Anna mengangkat kepalanya sedikit dengan wajah jengkel. “Bisakah kau langsung mengoleskan salepnya?” “Kenapa? Kau malu aku melihat tubuhmu yang hampir telanjang?” Kaiden menyeringai, tangannya bergerak naik membelai leher Anna. Ia mengumpulkan rambut Anna ke sisi kanan, lalu menunduk untuk berbisik seduktif di telinganya, “Tidak perlu malu, Sayang. Aku sudah mencicipi semuanya dan tahu bagaimana rasa kulitmu.” Tubuh Anna meremang. Ia meremas seprai ketika tangan Kaiden yang be

  • Istri Kedua Sang Jenderal   89. Permintaan Anna

    “Ah itu... mungkin aku hanya berhalusinasi,” ucap Anna dengan suara pelan. “Karena saat keluar kamar, aku tidak melihat siapa pun.”Kaiden menyipitkan matanya tidak percaya, tetapi tak berkomentar. Ia melangkah masuk dan duduk di sisi tempat tidur yang lain, berseberangan dengan Nyonya Brighton.“Mungkin kau kelelahan, Nak,” kata Nyonya Brighton, mengelus punggung tangan Anna dengan lembut.“Kurasa begitu, Nyonya.”“Bagaimana bisa kau jatuh?” tanya Kaiden. Matanya meneliti perban di kepala Anna, juga beberapa memar yang terlihat memerah di kulit susunya.Kaiden tidak mengerti kenapa Anna selalu saja terluka. Jika luka sebelumnya sembuh, maka dia akan kembali mendapat luka yang baru. Luka di tubuhnya sudah seperti milik Kaiden, sebuah penanda bahwa hidup mereka tidak pernah jauh dari bahaya.“Dia terpeleset.” Nyonya Brighton menjawab lebih dulu. “Itu karena Anna pikir dia mendengar suara ketukan dan akhirnya keluar untuk mengecek.”Lagi-lagi, Kaiden terlihat tidak percaya. Meskipun ia

  • Istri Kedua Sang Jenderal   88. Rapat Mata-Mata

    Embusan angin kencang datang dari arah timur, menerbangkan rambut panjang dari keempat pria dewasa yang kini duduk di satu meja panjang. Gael, Tadeo, Caspian, dan Soren. Keempat mata-mata kompeten milik Kaiden. Mereka semua adalah senior prajurit kelas atas yang telah melewati pemberontakan kedua—seangkatan dengan Kaiden. Mereka adalah prajurit tangguh dan terlatih nomor satu di Mosirette. Pengabdian dan kesetiaan mereka tidak ada duanya. Untuk itu, Kaiden telah merekrut mereka secara khusus. Semata-mata demi mengawasi pergerakan sisa anggota Panthera Kroy yang berkeliaran di luar gerbang pembatas. Di tenda dekat gerbang, Kaiden mengadakan pertemuan setelah mendisiplinkan beberapa prajuritnya yang membandel. Mereka berlima harus membahas perihal pemberontak yang semakin serius. Selama beberapa tahun terakhir, tidak ada masalah atau ancaman. Tetapi tiba-tiba saja, semuanya berubah. Laporan terbaru mengatakan bahwa pemberontak yang terlihat di luar gerbang sudah lebih dari

  • Istri Kedua Sang Jenderal   87. Jatuh dari Tangga

    ‘Tangannya bergerak turun, membelai bagian yang basah dan sensitif itu dengan perlahan. Erangan lembut terdengar dari mulutku, dan dia berhenti.Aku menunduk, dengan wajah memerah memintanya untuk terus menjamahku. Aku begitu mendambakan sentuhannya sampai tidak peduli bahwa kami melakukannya di mobil—’“Apa kau sangat menikmati cerita itu, Sayang?”Suara itu terdengar begitu tiba-tiba di belakang Anna dan ia menjerit. Bukunya terjatuh. Kepalanya menoleh secara refleks, sampai-sampai tubuhnya hampir terjungkal ke belakang.Kaiden segera menahan pinggangnya. Dia tertawa kecil, ekspresinya tampak geli. “Aku tidak tahu kalau kau sebegitu fokusnya sampai tidak mendengar suara langkahku?” ucapnya, membantu Anna untuk duduk di dahan pohon yang melengkung rendah ke tanah itu.“Apa kau harus muncul seperti hantu?” Anna mendelik kesal. Jantungnya rasanya hampir terlepas dari tempatnya. Ia mengelus dadanya, sementara Kaiden tersenyum tipis.“Apa kau pernah melihat hantu?” tanyanya jenaka.Anna

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status