LOGINKeesokan harinya, Clara terbangun dengan rasa berat yang tidak biasa menghimpit dadanya. Tubuhnya terasa seperti rongsokan yang dipaksa bekerja melampaui batas. Bukan demam tinggi yang membuat kulit membara, melainkan kelemahan yang samar—kepala yang berdenyut ringan, perut yang terus-menerus memberikan sensasi mual yang mengganggu, dan kaki yang terasa seperti jeli.
Namun, di kediaman utama keluarga Wijaya, kelemahan sekecil apa pun adalah celah bagi predator untuk menyerang. Clara tahu bahwa setiap pelayan di rumah ini adalah mata dan telinga sang Kakek. Jika ia menunjukkan tanda-tanda sakit, ia akan dianggap sebagai "barang cacat" yang tidak mampu mengimbangi gaya hidup suaminya.
Dengan tangan gemetar, ia memoleskan blush on lebih tebal dari biasanya untuk menyembunyikan wajahnya yang sepucat kertas. Ia tetap turun ke lantai bawah, mencoba menjaga punggungnya tetap tegak saat melewati lorong-lorong sunyi yang dipenuhi potret leluhur Wijaya yang tampak menghakiminya.
Petaka kecil terjadi saat ia berada di dapur untuk menuang teh hangat. Tiba-tiba, pandangannya berkunang-kunang. Seluruh ruangan seolah berputar dengan kecepatan yang mengerikan. Teko porselen di tangannya miring, air panas nyaris membasahi jemarinya jika saja seorang pelayan senior tidak segera menahan lengannya.
"Nyonya!" Pelayan itu berseru kaget. "Wajah Anda sangat pucat. Apakah saya harus memanggil dokter?"
"Tidak apa-apa," Clara menyahut cepat, meskipun suaranya terdengar seperti bisikan yang rapuh. "Aku hanya sedikit lelah karena acara semalam. Tolong, jangan katakan pada siapa pun."
Clara kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Begitu pintu tertutup, ia langsung merebahkan diri di atas ranjang king size yang terasa terlalu luas untuknya sendirian. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelan rasa peningnya. Ia tidak tahu berapa lama ia tertidur, namun saat matanya kembali terbuka, cahaya jingga matahari sudah berganti dengan kegelapan malam yang pekat.
Lampu kamar menyala tiba-tiba, menyilaukan penglihatannya. Clara tersentak dan bangkit setengah duduk, namun gerakannya terhenti saat melihat sosok pria berdiri di dekat jendela, membelakangi cahaya lampu.
Adrian Wijaya. Pria itu masih mengenakan setelan jas kantornya, meskipun dasinya sudah dilonggarkan.
"Kau sakit?" tanya Adrian tanpa basa-basi. Suaranya datar, tanpa ada nada khawatir sedikit pun.
Clara menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang kering. "Hanya kelelahan, Tuan Adrian."
Adrian menoleh, menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka sebelum Adrian bicara lagi. "Kau tidak turun untuk makan malam bersama Kakek. Beliau bertanya tentangmu."
"Aku benar-benar tidak lapar," jawab Clara lirih.
Adrian mengangguk singkat, melangkah menuju pintu. Namun, tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Pria itu terdiam sejenak, membelakangi Clara, sebelum akhirnya memutar tubuhnya kembali. Atmosfer di dalam kamar itu tiba-tiba berubah menjadi berat, penuh dengan ketegangan yang tak kasatmata.
"Kita belum menyelesaikan satu poin penting dalam kesepakatan ini, Clara," katanya dingin.
Jantung Clara berdegup kencang, seolah-olah baru saja dihantam palu. "Maksudmu...?"
"Pernikahan ini butuh legitimasi. Kakek mulai mempertanyakan kapan dia akan mendapatkan cicit sebagai pewaris sah. Cepat atau lambat, tuntutan itu akan datang, dan aku tidak ingin dia meragukan hubungan kita," Adrian melangkah mendekat, langkahnya terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi ketenangan batin Clara.
Clara menggenggam pinggiran selimutnya hingga buku jarinya memutih. "Apakah... ini juga bagian dari kontrak yang harus kupenuhi?"
Adrian berhenti tepat di depan tempat tidur. Aroma parfumnya—campuran sandalwood dan dinginnya malam—merayap masuk ke indra penciuman Clara, membuatnya merasa semakin terjepit.
"Ini kewajiban biologis untuk memperkuat kontrak kita," Adrian menatapnya dengan sorot mata sekeras batu. "Bukan karena perasaan. Kau tahu itu sejak awal."
Kata-kata itu menghujam jantung Clara lebih dalam dari sembilu. "Aku mengerti."
Malam itu, Clara belajar arti sebuah kedekatan fisik yang paling menyakitkan: sebuah penyatuan tanpa jiwa. Adrian tidak memberikan kelembutan, tidak ada kata-kata manis, bahkan tidak ada satu pun sentuhan yang menunjukkan bahwa ia menganggap Clara sebagai manusia. Semuanya dilakukan dengan presisi yang dingin, seolah-olah pria itu sedang menyelesaikan tugas administratif yang membosankan.
Clara memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya mengalir dalam diam ke bantal sutranya. Tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan Adrian, namun hatinya merasa semakin hancur. Saat semuanya berakhir, Adrian bangkit dan mengenakan kembali kemejanya tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita yang baru saja ia "gunakan".
"Kau tidak perlu memikirkan ini lebih jauh," ucap Adrian sambil merapikan jam tangannya. "Ini tidak mengubah apa pun di antara kita."
Pintu kamar tertutup, dan bersamaan dengan itu, pertahanan Clara runtuh. Ia menangis tersedu-sedu di balik selimut yang masih membawa aroma tubuh Adrian—sebuah aroma yang kini ia benci sekaligus ia dambakan.
Beberapa minggu berlalu, dan tubuh Clara mulai melakukan pengkhianatan yang lebih nyata. Mual di pagi hari yang semula ia kira karena stres, kini berubah menjadi siksaan yang tak tertahankan. Pusing tanpa sebab dan sensitivitas terhadap aroma makanan membuatnya nyaris gila.
Hingga suatu pagi, ia muntah hebat di kamar mandi hingga seluruh tubuhnya gemetar. Seorang pelayan senior yang mendengarnya bersikeras memanggil dokter keluarga Wijaya, meskipun Clara sudah menolaknya dengan keras.
Dokter itu memeriksa Clara dengan teliti. Setelah beberapa saat, sang dokter menatap Clara dengan ekspresi serius yang membuat jantung Clara seolah berhenti berdetak.
"Kapan terakhir kali Nyonya haid?"
Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Clara mencoba menghitung dalam hati. Dua bulan. Sudah dua bulan ia tidak kedatangan tamu rutinnya.
"Saya menyarankan tes kehamilan, Nyonya," ucap dokter itu lembut namun tegas.
"Itu... tidak mungkin," bisik Clara, suaranya hilang ditelan kepanikan.
Namun, alat tes itu tidak pernah berbohong. Di dalam keheningan kamar mandi, Clara menatap dua garis merah yang muncul perlahan di atas plastik putih itu. Dunia di sekitarnya seolah mendadak sunyi.
Hamil. Ia mengandung anak dari pria yang secara terang-terangan mengatakan bahwa dirinya hanyalah kewajiban tanpa perasaan.
Clara menyentuh perutnya yang masih rata dengan tangan gemetar. Ada perasaan campur aduk yang luar biasa hebat—sebuah kasih sayang yang tiba-tiba muncul untuk nyawa di dalam rahimnya, sekaligus ketakutan yang mencekam tentang bagaimana masa depan anak ini di tengah keluarga Wijaya yang kejam.
Satu hal yang ia tahu pasti: Adrian tidak akan menginginkan anak ini. Pria itu menganggap pernikahan ini kontrak, dan anak hanyalah "variabel cacat" yang akan mengikatnya lebih lama pada Clara.
Malam itu, saat suara langkah kaki Adrian terdengar berlalu di depan kamarnya tanpa berhenti, Clara memeluk dirinya sendiri di kegelapan. Ia tahu satu hal. Ia tidak bisa membiarkan anaknya tumbuh di rumah tanpa cinta ini. Rahasia ini harus ia simpan rapat-rapat, atau ia harus bersiap untuk kehilangan segalanya—termasuk nyawa yang baru saja ia mulai cintai ini.
Clara tidak membuat keputusan malam itu.Bukan karena ragu.Melainkan karena ia tahu:keputusan yang terburu-buru selalu tampak heroik, tapi jarang bertahan.Pagi datang dengan hujan tipis.Langit abu-abu.Udara lembap.Clara tiba di kantor tanpa tas kerja besar.Hanya membawa notebook kecil dan ponsel.Ia tidak lagi punya agenda rapat.
Langkah itu datang pagi hari.Bukan diumumkan.Bukan dibacakan.Ia hadir dalam bentuk yang paling khas dari sistem yang tidak ingin terlihat represif:perubahan status.Clara mengetahuinya pukul 08.07.Saat ia mencoba mengakses agenda lintas unit—bukan untuk menulis, hanya membaca.Pesan itu muncul dengan nada datar:Akses Anda telah disesuaikan
Dampaknya tidak datang sebagai ledakan.Ia datang sebagai hening yang aneh.Pagi setelah publikasi, Clara bangun lebih awal dari biasanya.Bukan karena gelisah.Justru karena tidurnya terlalu nyenyak—tanda tubuhnya akhirnya berhenti menahan sesuatu.Ia membuka ponsel.Tidak ada banjir notifikasi.Tidak ada ucapan selamat.Tidak ada ancaman langsung.
Kebocoran itu tidak diumumkan.Ia terjadi seperti semua hal penting lain akhir-akhir ini:pelan, lalu sekaligus.Clara menyadarinya pukul 08.19.Bukan dari notifikasi resmi.Melainkan dari tatapan orang-orang yang berhenti terlalu lama ketika ia melintas di koridor.Ada yang ingin bicara.Ada yang ingin menghindar.Dan ada yang—untuk pertama kalinya—tidak lagi
Clara tidak mempublikasikan apa pun pagi itu.Justru karena itulah dampaknya mulai terasa.Ia datang ke kantor seperti biasa.Jam yang sama.Langkah yang sama.Namun sesuatu telah bergeser.Beberapa orang yang biasanya hanya mengangguk kini berhenti.Bukan untuk berbasa-basi.Tapi untuk memastikan satu hal:apakah Clara masih bicara.
Keputusan itu tidak diumumkan pagi-pagi.Tidak juga ditunda berhari-hari.Ia datang di waktu yang paling melelahkan:siang yang menggantung.Pukul 12.47, notifikasi masuk.Satu baris.Tanpa pendahuluan.Hasil Sidang Evaluasi Etik — DitetapkanClara sedang duduk di meja kerja sementara.Ruang kec







