LOGINTanganku terkepal geram mendengar jawabannya. Hatiku sakit dan muak. Tapi bukan karakterku yang mudah terpancing emosi di depan. Aku menarik napas, lalu mengembuskannya, pelan. Aku harus tenang. Aku memaksakan senyum. “Kenyataannya aku istrinya Mas Leo. Aku tinggal serumah sama Mas Leo, loh, nggak mungkin dong aku nggak mengenal suamiku.”“Tapi buktinya kamu nggak tahu kenapa Leo minum, kan? Leo juga udah cerita banyak kok sama saya tentang pernikahan kalian. Pernikahan yang amat menyedihkan.” Melia menatapku iba. Lagi, aku tak menyangka dengan apa yang Melia katakan. Apa saja yang sudah Mas Leo ceritakan pada perempuan itu tentang pernikahan kami? Bagaimana bisa Mas Leo bisa sebegitu percaya dan berani menceritakan masalah pribadinya pada orang lain, sekalipun itu mantannya sendiri. Aku jadi sulit percaya, perempuan ini sedang mengarang atau jujur? Oh atau … aku membelalak kala sebuah praduga muncul begitu sa
Di depanku kini berdiri Melia yang sedang memapah Mas Leo. Kepala suamiku menempel di bahu perempuan itu, dia seperti dalam keadaan setengah sadar. Mas Leo seperti ….Dahiku berkerut menatap Melia. “Suamiku kenapa?”“Berisik, bisa minggir nggak?! Bantuin kek!” Cerita Bi Inem tentang sikap Melia tadi langsung terbayang lagi di ingatanku. Benar yang Bi Inem katakan. Perempuan di hadapanku ini tidak punya sopan santun. Harusnya aku yang marah, bukan dia.“Mas Leo mabuk, ya?” tanyaku lagi tanpa bergeser sedikit pun. Mas Leo lalu tampak bergumam tidak jelas di bahu perempuan itu. Aku yakin Melia yang sudah membuat suamiku seperti itu. Tanpa menjawab pertanyaanku, perempuan itu langsung saja menerobos masuk melewatiku. Dia berteriak memanggil Mama Sarah. Tak lama kemudian Mama muncul dari dalam. Melihat keadaan Mas Leo, Mama langsung panik. “Ya ampun, Leo kenapa?” “Ini loh, Tante, aku udah bilangin jangan minum terlalu banyak. Leo masih aja ngeyel, jadinya begini, kan?” adu perempuan
“Kirana, apakah kamu ada di dalam? Buka pintunya.”Itu suara Mas Leo. Mendengar suaranya saja aku langsung terbayang adegan di restoran tadi. Bagaimana Melia memeluk Mas Leo. Dan suamiku membiarkannya.Dan kalimat-kalimat menyakitkan Mas Leo. “Kenapa sekarang dia memanggilku? Mau apa dia?” “Kirana.” Dia memanggil lagi. Dengan malas aku membuka pintu. Wajah datar Mas Leo langsung menyambut pemandanganku. Aku membalasnya dengan tatapan serupa. “Ada apa?” tanyaku dingin. “Aku minta yang tadi terakhir kali kamu ikut campur urusanku.” Mas Leo langsung saja bicara begitu. Walaupun aku sudah menduganya, tapi hatiku tetap sakit mendengarnya. Apalagi kini tatapan tajamnya terasa begitu menusuk. Aku langsung mengalihkan pandangan ke bawah. Tak kuasa melihat tatapan itu. Aku tahu di mata Mas Leo yang aku lakukan itu salah, fatal. Karena kami hanya menikah kontrak.
“Kamu sendiri ngapain sama dia?” Mas Leo menatapku dengan pandangan seolah-olah aku adalah perempuan paling berkhianat di dunia. Aku tertunduk, “a-aku ….” Aku bingung menjawab apa. Mendadak otakku rasanya sulit menyusun kata-kata. Aku khawatir jawabanku semakin membuat Mas Leo salah paham. “Kenapa kamu nggak bisa jawab?” Namun, sepertinya keraguanku membuat Mas Leo semakin curiga padaku. Dan aku tak mau itu terjadi. “Aku–”“Gue cuman bantuin Kirana buat nyusulin suaminya.” Revan yang menjawab. Dia berdiri di sampingku, entah sejak kapan. “Cuman itu, nggak ada yang aneh, kan?” Mas Leo mendengkus lantas dia menatapku dan Revan bergantian. “Kalian pikir aku percaya?” Aku melotot tak percaya dengan apa yang keluar dari mulutnya. “Mas! Aku sama Revan nggak ada hubungan apa-apa. Aku minta tolong dia buat ngejar kamu ke sini, bahkan aku sampai meninggalkan pekerjaanku!” Ma
Begitu mendapat pesan dari Revan, aku langsung bergegas ke parkiran rumah sakit. Untuk membuktikan apakah benar Mas Leo bersama perempuan lain. Namun, sesampainya di parkiran aku tak melihat Mas Leo, bahkan mobilnya sudah tidak ada. Mas Leo sudah pergi. Mungkin pergi dengan perempuan itu. Aku terlambat. Apa yang harus kulakukan untuk memastikan semua? “Kirana.” Di saat aku sedang kebingungan, seseorang menghampiriku. Aku menoleh. Revan berdiri di sampingku. “Soal chat itu–” “Soal chat itu gue nggak bohong,” jelas Revan lebih dulu seakan memahami maksudku. “Kalau lo mau gue bisa bantu lo. Kita cari mobil suami lo, mumpung belum jauh. Tadi gue liat mobilnya belok ke arah kanan.” Aku tak yakin aku bisa mengejar mobil Mas Leo, tapi rasa penasaranku lebih besar. Karenanya aku mengikuti saran Revan. Aku mengangguk. Kami buru-buru ke parkiran. Revan dengan cepat mengeluarkan motornya, dan aku berbonceng dengannya. Motornya melesat keluar halaman rumah sakit, bergabung ke jalan raya
Keesokan paginya, aku buru-buru menuruni tangga. Mas Leo sudah berangkat dari tadi, bahkan ketika aku bangun dia sudah tak ada di sampingku. Dari pagar tangga aku melihat Bi Inem sibuk mengatur menu makanan di atas meja. “Pagi, Bi!” sapaku sembari berjalan ke sana. Wanita bertubuh tambun itu menatapku dan tersenyum. “Eh, Non Kirana. Pagi juga, Non. Sarapan, Non?” Bi Inem menawarkan. Aku mengangguk, menarik kursi dan duduk di sana. Mengambil piring sambil melempar pandang pada sajian. Menu sarapan hari ini, Bi Inem tak hanya menyiapkan nasi goreng beserta lauknya, tapi juga ada sandwich sayur. “Menunya banyak, tapi yang makan nggak ada,” gumamku seraya menyedok nasi goreng ke dalam piring, menikmati sarapan seorang diri. “Iya, Non, soalnya ….” Bi Inem tak jadi melanjutkan bicaranya kala suara sepatu yang beradu dengan lantai ubin terdengar nyaring. Wanita tambun itu melihat ke arah suara. Mama menarik kursi di sebelahku, lantas beliau duduk. Aku menoleh heran. Wajahnya k







