LOGINDia merunduk sedikit, menyejajarkan wajah cantiknya dengan wajah Bumi yang sudah memerah, yang berhadapan langsung dengan duab buah yang menggantung dari dada sang istri. "Nggak pengen pegang?" tanya Maura.Bumi menaikkan sebelah alis. Berusaha menahan diri, bibirnya terbuka, meyahut."Celana dalamnya, lepas." suruhnya terbata, oleh nafasnya yang tersengal.Ruangan ber-AC dengan suhu dua puluh lima derajat itu seketika terasa mendidih, menyisakan udara dingin yang justru beradu hebat dengan hawa panas yang membakar tubuh mereka.Suasana hening dan intens terkunci rapat di dalam kabin, di mana hanya ada desah napas dan tatapan mata yang saling menguliti.Maura tersenyum kelewat manis. Tanpa mengalihkan pandangannya dari manik mata Bumi yang menggelap penuh gairah, tangan lenturnya bergerak turun ke pinggang. Jemarinya menyusup di balik karet celana dalam yang melekat ketat di pinggul mulusnya.Dengan gerakan lambat yang sengaja disiksa untuk memicu ketahanan suaminya, Maura sedikit mer
Setiap denting kancing yang terlepas seolah menjadi musik latar yang membuat suasana kamar makin gerah. Begitu kancing terakhir terbuka, Maura meloloskan baju yang ia pakai itu begitu saja, membiarkannya jatuh meluncur ke lantai marmer yang dingin.Kini, tubuhnya hanya dibalut oleh setelan baju dalam warna hitam maron yang tentu saja sangat minim.Bumi tersenyum tipis. Refleks menelan ludah, tenggorokannya mendadak sekering gurun Sahara. Harus ia akui, Maura makin berisi sejak hamil. Perubahan hormon yang membuat lekuk tubuh istrinya makin mekar justru menjadi pemandangan paling berbahaya bagi iman Bumi yang setipis tisu dibagi lima.Mata tajam pria itu menelisik tanpa ampun. Pandangannya merambat turun memindai perut buncit yang menggemaskan, kaki jenjang yang mulus, hingga berakhir memicing di area dada yang makin tembam.Bra berenda pastel yang dikenakan Maura bahkan kelihatan hampir tak muat lagi menampung aset berharga milik istrinya itu, tampak begitu sesak dan... menggoda.Jaku
Maura menjerit histeris, mukanya langsung merona Refleks, tangannya terangkat menepuk dada tegap suaminya. "Mesumnya kelewatan! Otaknya isinya apa sih, om-om ini?!"Bumi hanya terkekeh rendah, suara tawa seksi yang begitu renyah dan berat, bergema hangat tepat di telinga Maura. Bukannya lepas, kuncian tangannya di pinggang sang istri justru semakin merapat, menikmati momen saat wanita di dekapannya ini kelabakan setengah mati akibat ulahnya."Mata Mas kan cuma menjalankan tugasnya sebagai pengamat estetika, Sayang," bisik Bumi.Dia menunduk sebentar, mendaratkan satu kecupan kilat dan dalam tepat di lekuk istrinya yang wangi, membuat wanita hamil itu berjingkat geli."Aduh, lepas! Lepas!" seru Maura heboh, "Aku mau ganti baju sekarang! Jangan dekat-dekat, bahaya!""Ayolah sayang... pengen liat doang," bujuk Bumi, sengaja dibuat memelas, sebuah keajaiban dunia kedelapan mengingat pria ini biasanya tak mau kalah, dan selalu dominan."Nggak ada! Gati baju di depan kamu, samaaja setor nya
"Bercanda, Sayang," kekeh Bumi pelan. Suara tawanya bergema lembut di dinding lorong hotel yang lengang. Pria itu menghentikan langkah tepat di depan pintu lift, lalu berbalik mengikis jarak hingga Maura hampir tersandar di dinding marmer yang dingin.Bumi merundukkan tubuhnya, menyejajarkan pandangannya dengan Maura yang masih menekuk wajah dengan bibir mengerucut sebal. Jemari besarnya terulur, mengusap lembut dagu istrinya, membelai garis bibir yang cemberut itu dengan ibu jari."Masa istri sama anak Mas disuruh bayar pakai daun? Mau ditaruh mana muka Mas?" bisiknya rendah, menatap manik mata Maura dengan binar jenaka yang teramat hangat. "Jangankan tiket candi, mau beli candinya sekalian juga Mas usahain.""Halah! Gombalnya makin ngaco," sungut Maura, tapi tak ayal pipinya kembali merona hangat. Wanita itu mencoba menepuk dada tegap suaminya, tapi tangannya malah ditangkap dan digenggam erat oleh Bumi.Tingg!Pintu lift berdenting mulus dan terbuka di hadapan mereka. Bumi merangku
"Mana ada aku terpesona! Aku tuh udah biasa lihat muka Mas setiap hari. Kadang bosen juga," cetus Maura berbisik dengan nada sok acuh. Maniknya melirik-lirik Bumi sambil melotot kesal yang dibuat-buat.Bumi menggeleng kecil, sudut bibirnya terangkat tipis. "Dih, jahat banget."Pria itu kemudian mengambil sendoknya, dengan telaten memindahkan beberapa potong buah naga dan melon dari piringnya ke piring Maura."Makan yang banyak. Biar anak aku sehat."Mendengar kalimat itu, Maura memicingkan, melotot tajam ke arah suaminya. "Anak kamu? Aku enggak...?"Bumi mendadak mendongak, nyengir. "Mamanya juga sehat," ralat Bumi cepat sebelum perang dunia ketiga meletus di atas meja sarapan."Nah, gitu dong. Harus adil!" dengus Maura puas, lalu mulai menikmati potongan buah dengan lahap.Di sekeliling mereka, atmosfer restoran yang tadinya dipenuhi kasak-kusuk mendadak berubah gaduh beberapa saat.Pasang-pasang mata yang tadinya gatal memperhatikan Bumi kini melotot tak percaya.Harapan kaum hawa d
Bau kopi menyambut kedatangan mereka di restoran utama hotel bintang lima itu. Pagi yang beranjak siang membuat suasana dining area cukup ramai oleh para tamu.Ruangan bernuansa interior kayu modern dengan sentuhan batik megamendung itu tampak megah, dikelilingi dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke taman dan kolam ikan.Sengaja, Bumi melarang istrinya ambil makanan sendiri. Dia meminta Maura mencari tempat paling strategis untuk sarapan mereka, sedang dia berkeliling membawa dua piring.Maura memilih satu meja di sudut yang menyajikan pemandangan lanskap taman yang menyegarkan sekaligus memberi privasi lebih. Dekat jendela. Dan darisana dia bisa melihat setiap langkah suaminya.Dan saat itulah Maura menyadari satu hal. Ritme kehidupan di ruangan itu mendadak melambat. Lebih tepatnya, melambat di sekitar suaminya.Perempuan menyandarkan punggungnya ke kursi, bertopang dagu memperhatikan punggung tegap Bumi yang perlahan menjauh. Tapi, pandangannya tidak bertahan lama hanya d
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T







