LOGINHari itu sengaja Bumi pulang agak siang, karena keingat istrinya. Baru ja tifa sore, saat mobil Bumi terdengar merapat di garasi rumah. Sedang di dapur, Maura yang sedang sibuk mengupas bawang merah sampai matanya sedikit berair. Derap langkah kaki Bumi hampir tak terdengar. Pria itu menyusup masuk lewat pintu samping yang terhubung langsung dari garasi ke area dapur. Senyumnya langsungvmerekah melihat siluet mungil istrinya yang berdiri membungkuk di depan counter top, sibuk mengiris bawang sambil terisak sesekali.Tanpa bersuara, Bumi mendekat. Saat sampai di belakang sang istri kedua lengan kokohnya melingkar mulus di pinggang Maura, menarik lembut tubuh yang kini makin berisi itu ke dalam dekapannya yang hangat dan kokoh. Tentu istrinya berjingkat. "Apaan!! Ngagetin!!" pekiknya kesal. Meski sedetik kemudian napasnya berembus lega begitu aroma maskulin khas suaminya menyeruak memenuhi indra penciuman. Bumi malah menaruh dagunya di bahu kanan perempuan itu, menyembunyikan wajah
Risti tertawa pelan di seberang telepon, kali ini nadanya melunak dan menyiratkan kejujuran yang hangat."Ya yakinlah, Ra. Kalau nggak suka, ngapain gue buang-buang waktu ngelayanin debat unfaedah dia tiap hari?" gumam Risti, desahan napasnya terdengar pasrah tapi penuh kelegaan. "Gue tahu Leon luar dalam. Keliatannya doang dia ajaib, tengil, sama suka ngasal. Tapi pas gue lagi tumbang, atau pas bisnis online gue lagi seret, cuma dia cowok yang selalu siap berdiri di depan gue tanpa perlu diminta.""Trus gue lo anggep apa?!" sengit Maura."Lo kan cewek,msa mau gue kawinin?!" Risti menghela napas panjang setelah terkekeh, "Dia emang absurd, Ra. Tapi dia jujur, nggak pernah main belakang, dan tanggung jawabnya ke gue tuh nyata. Gue tahu pernikahan itu bukan main-main, makanya gue berani iyain karena gue tahu persis siapa dia.""Gue juga tahu, sayangnya gue udah punya suami.""Belum punya suamipun, gue yakin lo nggak doyyan sama si Leon. Biar gue aja!"Kempret!" umpat Maura. Rasa khawati
Di ruangan besar itu AC menyala cukup dingin. Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan pencakar langit, berpadu dengan wangi kopi hitam segar dan interior kayu hangat.Maura, yang belakangan ini makin rajin magang jadi asisten pribadi suaminya demi menghindari rasa bosan di rumah, duduk bersandar manis di sofa empuk sudut ruangan. Pangkuannya terisi tablet kerja, sementara matanya sesekali melirik Bumi yang tampak begitu berwibawa di balik meja direktur utama, fokus meneliti draf laporan keuangan anak perusahaan dengan kacamata minus yang bertengger sempurna di hidung mancungnya.Perutnyamakin membuncit, tapi itu bukan penghalang untuk terus belajar."Mas nggak capek?" tanya Maura.Bumi mendongak. "Kamu capek?" malah bertanya balik.Istrinya meggeleng kecil, sambil mengambil HP-nya yang baru berdenting. "Nanti siang makan apa?""Di kantin aja. Kamu kan suka disana,"Laya itu digeser naik, baru Maura menunduk untuk membuka pesan masuk yang ternyata dari Risti. Dan satu kalimat oan
Malam itu Kiara sudah dibawa pulang lagi oleh Papa dan Mama sore tadi, membawa serta juga keceriaan dan keriuhan yang sempat memenuhi hari mereka. Kini, giliran ruang tengah yang menjadi saksi rasa lelah mereka setelah seharian diterjang maraton kegiatan di kantor Bumi.Di atas sofa bernuansa krem, Bumi bersandar santai dengan kemeja rumahannya yang longgar. Maura menyandarkan punggungnya di sebelah bahunya, meluruskan kakinya yang agak pegal di atas meja kopi. Layar televisi menyala menampilkan acara bincang-bincang santai, namun perhatian kedua manusia itu sama sekali tidak tertuju ke sana.Tangan besar Bumi menyusup lembut di balik kaus katun Maura, mengusap pelan perut istrinya yang kini mulai membuncit halus di usianya yang menginjak lima bulan. Ada ritme melingkar yang konstan dan menenangkan dari ibu jari pria itu."Tadi kata Dokter, bayinya makin aktif ya?" bisik Bumi pelan, menenggelamkan dagunya di bahu istrinya. Napas hangatnya berembus tepat di leher sang istri."He emm. U
Selanjutnya, giliran Kiara yang harus diambil sampelnya. Saat kapas steril dengan lembut mengusap bagian dalam pipi mungil sang bayi, Kiara sempat menggeliat dan merengek pelan karena terusik dari tidurnya. Tapi lalu diam lagi, meski matanya lebar terbuka, bak boneka.Seluruh proses pengambilan sampel selesai dalam waktu tak kurang dari tiga puluh menit. Petugas medis menyegel masing-masing tabung sampel di depan mata mereka semua sebagai bukti transparansi tanpa adanya celah manipulasi."Sampel sudah resmi disegel dan akan segera diproses oleh tim ahli laboratorium kami," terang dokter penanggung jawab sambil menunjukkan segel khusus. "Hasil analisis lengkap beserta dokumen keabsahan hukum akan keluar dalam waktu tiga hingga lima hari kerja. Tapi kami usahakan lebih cepat."Pernyataan itu mengakhiri seluruh proses formal pagi ini. Sebuah kepastian kini resmi berproses di dalam tabung-tabung kaca, tinggal menunggu waktu untuk membuka tabir yang selama ini membayangi perjalanan hidup K
Bumi tidak menjawab. Pria berkacamata itu tetap berdiri dengan posisi tubuh yang amat protektif. Pandangannya mengunci iris mata Ethan, menilai tingkat kesungguhan sekaligus mengendalikan kendali situasi agar tidak lepas dari genggamannya.Tidak ada pilihan lain. Mana mungkin Bumi melarang seorang ayah menimang darah dagingnya sendiri, meski kepastian itu baru menggantung. Pria berkacamata itu akhirnya mengalah pada naluri kemanusiaannya."Tapi pelan-pelan, jangan sampai kebangun," kata Bumi membolehkan, suaranya melunak tipis. "Dia bisa nangis kalau bangun dan ngeliat orang yang belum pernah dia lihat."Dia sedikit mengendorkan timangannya, memberi ruang bagi Ethan untuk mendekat. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati, jemari Ethan menyusup ke bawah tubuh mungil Kiara. Pria itu tampak kikuk, bahunya kaku, tapi dia begitu keras berusaha untuk terlihat santai dan tenang demi tidak mengusik lelap sang bayi. Saat bobot mungil Kiara berpindah sepenuhnya ke dekapannya, napas Ethan tercek
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang







