INICIAR SESIÓNMaura cuma meringis kecil. "Gak tahu... Keluar dulu dari sini napa, bau banget! Mual lagi ntar!"Tak mendebat lagi, Bumi langsung menyusupkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Maura dan tangan lainnya di punggung sang istri. Dengan satu gerakan dia menggendong Maura keluar dari area kamar mandi bawah yang sempit itu.Langkah kaki Bumi yang hanya berbalut sandal sebelah bergerak cepat menuju ruang tengah. Dengan sangat hati-hati, dia membaringkan tubuh lemas istrinya di atas sofa."Aku bukan bayi, nggak usah kek gini juga." keluh Maura.Tak direspon protes itu."Dingin nggak?" tanya Bumi cemas. Tangannya cekatan menyambar bantal sofa untuk mengganjal kepala Maura, lalu mengusap sisa-sisa keringat dingin di pelipis sang istri dengan telapaknya.Maura menggeleng pelan. "Cuma kembung dikit.""Bentar, Mas bikin air gula hangat dulu," pamit Bumi terburu.Pria itu kini setengah terbaru ke dapur. Suara denting sendok dan teko listrik yang dinyalakan terdengar rusuh. Dosen yang disegani ma
"Mantan!" balas Bumi cepat membenarkan istilah sang istri. Dengan tenang, dia menjangkau potongan gurame goreng terbaik, lalu menaruh lauk itu tepat di atas piring istrinya."Lah, masak tunangan bertahun-tahun nggak tahu kalau ceweknya ternyata Open BO?" seloroh Maura makin menjadi."Mantan!" ulang Bumi sekali lagi, kali ini menekankan tiap suku katanya.Bibirnya melengkung tipis, jelas sekali tak sudi jika cap pria dungu yang gampang dibodohi terus-terusan disematkan padanya."Mas ini emang nggak peka apa emang nggak peduli sih?!" cerocos sang istri makin sengit."Menurut kamu?" balas Bumi santai. Dia mendorong piring Maura sedikit mendekat. "Udah, makan dulu. Entar nasinya dingin."Dengan sedikit mendengus kesal, Maura akhirnya menunduk. Jemarinya kembali mengambil sendok dan garpu, bersiap menuntaskan rasa laparnya.Hanya saja, gurame asam manis yang tadi baunya begitu menyengat harum dan sangat menggoda saat di dalam kotak, kini ketika sudah berpindah ke atas piringnya justru keli
Maura melirik dari balik layar HP-nya, matanya mendadak memicing saat mendapati Bumi berdiri santai hanya dengan balutan handuk putih melilit pinggang. Detes air dari ujung rambut basahnya menetes pelan ke dada bidang yang kotak-kotak sampe perut."Dih! Kebiasaan banget, keluar-keluar nggak pakai baju!" omel Maura, meski matanya sempat mengabsen roti sobek suaminya sebelum akhirnya bangkit berdiri dari ranjang."Kan ada kamu," sahut Bumi santai tanpa dosa. Pria itu menyugar rambut basahnya ke belakang, melangkah mendekat sambil memasang senyum tipis jail. "Suami istri juga.""CK!" Maura melengos, berjalan ke lemari yang berdiri megah di sudut kamar. Jemarinya menarik salah satu pintu lemari, lalu mengaduk-aduk deretan baju di dalamnya dengan gerakan cepat.Dia mengambil satu kaus oblong warna abu-abu santai dan celana pendek. Dia menaruhnya fi bahu suaminya yang sibuk menyisir rambut di depan cermin."Pake di kamar mandi, jangan telanjang disini." kata Maura.Bumi mengambil baju itu,
Maura memekik jauh lebih kencang dari sebelumnya, membuat Bumi harus menjauhkan HP-nya beberapa sentimeter dari telinga.Kemudiam suara riuh teman-teman Maura di ujung telepon mendadak sahut-menyahut dengan heboh."Bentar, woi! sibuk Ini!" terdengar suara Maura yang agak menjauh, sepertinya sedang membekap mikrofon sambil menepis teman-temannya yang kepo.Lalu suaranya kembali terdengar jelas, "Mas Bumi, kamu seriusan?! Kalau iya berarti dulu kamu cuma jadi tameng kesiangan,"Bumi hanya bisa menghela napas pasrah, terkekeh hambar di tengah nasibnya yang tragis sekaligus konyol. "Trus ini gimana sayang. Aku udah capek nyari in," keluh Bumi."Nggak usah di cari in."**Harum gurame asam manis memenuhi kabin mobil sore itu. Dia cuma di kantor sebentar hari itu. Entah, mungkin karena takut jam makan malam kelewat, karena istrinya sudah berpesan untuk membeli lajk kalau pulang. Dia cuma masak nasi di rumah.Sepanjang jalan yang riuh orang pulang kerja, bibirnya tersunging tak habis-habis.
Cengkeraman Bumi pada kemudi mengencang. Matanya menyipit tajam, kosong ke arah keramaian parkiran. Dia mengecap rasa pahit di lidah, keangkuhan Rian benar-benar persis seperti yang ia duga, bahkan mungkin lebih menjijikkan."Dira hamil, kamu yakin itu bukan anakmu?" kata Bumi, menahan diri untuk tidak memekik."Lo pacarnya, lo yakin nggak tidur sama dia?! Bisa jadi itu anakmu." balas Rian.Ucapan Rian barusan menamparnya telak, menyisakan rahang yang mengetat kuat dan napas yang tertahan di dada.Bumi sempat diam. Ruang kabin mobil yang serba dingin itu seolah mendadak kehabisan oksigen. Senyum dingin akademisi yang tadi ia pasang menguap tanpa sisa, digantikan oleh kehampaan yang menusuk perasaannya sendiri."Tes DNA membuktikan itu bukan anakku," ujar Bumi akhirnya.Suaranya meluncur rendah, tapi menyimpan kepahitan luar biasa yang tak sanggup ia tutupi lagi.Di seberang sana, Rian mendengus, meremehkan. "Jadi lo pikir itu anakku?""Dira bilang dia selingkuhanmu," balas Bumi, menek
Matahari terik siang itu membakar aspal saat mobil milik Bumi meluncur membelah kemacetan kota. Usai menyelesaikan jadwal mengajar terakhirnya di kampus, Pak Dosen itu tak ke kantor.Dia memacu kendaraannya menuju salah satu kawasan bisnis paling bergengsi, tempat gedung pencakar langit milik sebuah konglomerasi besar berdiri megah.Di dalam mobil, Bumi mengetukkan jemarinya pada kemudi. Tatapan matanya lurus, dan penuh perhitungan. Informasi yang dikirimkan oleh tim informannya tadi pagi sudah sangat solid. Pria yang baru mendarat dari Zurich itu, sosok yang ia duga kuat sebagai ayah dari janin yang dikandung Dira, ternyata menduduki posisi strategis di perusahaan raksasa tersebut.Bumi memarkirkan mobilnya sempurna di area parkir. Setelah mematikan mesin, ia menghela napas panjang, merapikan tatanan rambutnya di spion, lalu melangkah keluar dengan keanggungan dan wibawa yang tak tergoyahkan.Tak ada janji temu. Sebenarnya dia juga tak yakin bisa menemuinya. Bahkan dengan menyebut di
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s







