LOGINButuh waktu setengah jam lebih untuk mencapai bandara karena jalan macet.Mobil papa akhirnya berhenti mulus di area drop-off keberangkatan domestik Bandara. Suasana pagi itu cukup ramai dengan lalu lalang calon penumpang yang sibuk menyeret koper.Sebelum Papa sempat keluar untuk membukakan pintu, Bumi sudah melangkah cepat mengitari mobil. Pria tegap itu membukakan pintu belakang, lalu mengulurkan tangannya yang hangat untuk menyambut Maura."Pelan-pelan," bisik Bumi lembut. Tangannya yang satu sigap menahan bagian atas pintu mobil agar kepala istrinya tidak terbentur, sementara tangan satunya lagi menggenggam jemari Maura erat-erat, menuntunnya keluar dari kabin.Papa mau tak mau yang kebagian menurunkan dua koper. Tentu sambil menyunggingkan senyum, menggeleng kecil melihat kelakuan menantunya."Suami kamu potektif bener, Rw." goda Papa sambil menepuk bahu Bumi."Perutnya makin besar, Pa. Nggak tega saya," jawab Bumi datar, sama sekali tak merasa terganggu dengan godaan mertuanya.
Pagi yang dinanti itu akhirnya tiba. Langit masih dihiasi semburat oranye tipis saat sebuah mobil sedan hitam berhenti mulus di teras rumah. Papa turun dari kursi kemudi, mengenakan kemeja santai namun tetap memancarkan wibawa khas pria paruh baya yang tenang.Bumi dengan luwes mengangkut dua koper l ke dalam bagasi. Langkahnya mantap, meski kemeja kasualnya sedikit terlipat di bagian lengan akibat membawa beban berat. Maura sendiri berdiri di samping pintu depan, mengenakan gaun hamil warna pastel dan jaket rajut, sibuk memeluk Mama dan menimang Kiara untuk terakhir kalinya sebelum berangkat.Rumah mereka memang di titipkan ke mama dan papa Maura."Ingat pesan Mama ya, Ra. Jangan makan sembarangan, vitaminnya di minum rutin. Jangan nahan lapar," bisik Mama lembut sambil mengelus pipi Maura yang makin berisi."Iya, Ma. Kiara jangan kangen Tante ya..!" seru Maura gemas, mencium pipi gembul keponakannya yang malah asyik mengunyah ujung empengnya.Setelah acara pamitan yang penuh kehanga
Dua hari sebelum tanggal satu itu akhirnya tiba. Di dalam kamar yang ber-AC tapi tak nyala AC-nya, Maura sibuk dengan baju-baju. Dua koper besar ukuran 28 inci tergeletak menganga di atas karpet bulu. Maura yang mengenakan daster longgar warna pastel sibuk bolak-balik dari lemari ke tempat tidur, memilah-milah baju yang akan dibawa untuk perjalanan panjang mencari ibu kandungnya."Baju santai udah, kemeja Mas Bumi udah, jaket tebal udah, minyak angin satu kardus... aman," gumam Maura mengabsen isi koper."Ck. Maura dan minyak angin? Kampret!" gumamnya sendiri.Dia sibuk dengan koper, benar, tapi juga sibuk dengan HP-nya yang berdenting.HP yang tergeletak di atas kasur bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi dari grup WhatsApp bernama, 'Tiga Serangkai Bebas Remedial', nama groub yang sudah di ganti entak ke berapa puluh kali.Dengan napas sedikit terengah gara-gara perutnya mulai terasa agak mengurangi ruang geraknya, Maura duduk diri di tepi kasur lalu
Pagi itu, kediaman Bumi terasa begitu tenang. Sinar matahari masuk lewat jendela-jendela besar rumah itu yang tidainya sudah tersingkap, membiaskan garis-garis cahaya ke atas meja makan yang masih menyisakan piring-piring bekas sarapan. Bumi baru saja berangkat ke kampus beberapa menit lalu, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang masih samar tercium di udara.Di karpet ruang tengah, Kiara sedang asyik mengoceh sendirian. Maura baru saja hendak berdiri untuk membawa cangkir teh hangatnya ke bak cuci piring ketika Mama menghentikan langkahnya."Udah ketemu mama kamu?" tanya Mama tiba-tiba. Suaranya mengalun tenang, tanpa ada nada tinggi atau riak emosi yang berlebihan.Maura mendadak membatu. "Mama?" ulang Maura pelan."Mama kandung kamu," kata Mama lagi. Kali ini wanita paruh baya itu menatap lurus ke dalam manik mata Maura. Tatapannya teduh, penuh kedewasaan yang meluluhkan rasa cemas.Suasana seketika berubah hening. Hanya terdengar denting halus mainan Kiara dan desir angin pagi
Kehadiran Mama dan Kiara di rumah benar-benar mengubah tatanan kehidupan serba praktis ala pasangan muda itu. Dapur rumah Bumi yang biasanya cuma dihiasi aroma kopi hitam dan masakan simpel, kini mengepulkan uap aneka masakan rumahan sejak jam lima pagi.Mama secara resmi memberlakukan jam malam dan larangan keras memasukkan makanan dari luar. Tidak ada lagi ceritanya memesan makanan lewat aplikasi online atau jajan gorengan di pinggir jalan.Ah! Maura sampai merasa tidak hidup di rumah suaminya."Ibu hamil itu makanannya harus terjamin kebersihannya! Nggak boleh makan sembarangan yang gizi dan penyedap rasanya nggak jelas!" omel Mama tegas tiap kali melihat Maura melirik aplikasi orange, berniat pesan makanan manis.Alhasil, Maura cuma bisa pasrah disuapi sup cakar ayam, sayur bening, dan olahan ikan segar buatan Mama. Untungnya, usai ujian semester terakhir selesai dan prosedur izin kuliahnya diurus tuntas oleh sang suami, Maura resmi berstatus 'mahasiswi meliburkan diri'. Praktis,
Bumi menghela napas halus, jari-jemarinya telaten memijat pelipis Maura dengan kelembutan yang amat kontras dibanding perawakannya yang tegap. "Tidur aja dulu, biar pusingnya berkurang.""Risti tadi hampir kena amuk Pak Jaka gara-gara ngeliatin aku terus!" adu Maura tiba-tiba, membuka matanya lagi walau sayu. "Dikira mau minta contekan, kali! Padahal dia cuma panik tiap kali aku geser duduk dikit. Ini semua gara-gara kamu, subuh-subuh WA nggak jelas!"Kekeh ringan lolos dari tenggorokan Bumi. Tawa baritonnya terdengar amat hangat di dalam ruangan yang hening itu. "Bagus dong. Berarti Risti menjalankan tugasnya dengan sangat bertanggung jawab.""Ih! Nggak gitu juga. Kalau entar nilainya jeblok, aku yang di salahin tau nggak..!" Maura mencubit lengan suaminya gemas, meski tenaganya yang tersisa cuma sekelas usapan halus."Iya, maaf. Entar Mas kasih nilai plus buat Risti di matakuliah Mas," bisik Bumi bercanda, mendaratkan kecupan hangat yang sedikit lama di dahi istrinya. Tangannya berp
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T







