Share

Menerima Resiko

Author: Aldra_12
last update publish date: 2026-07-24 19:45:40

Mata Kevin menatap lurus ke arah amplop cokelat di tangan Keano, lalu mengalihkan pandangannya pada pria tinggi berjas rapi yang kini berdiri tegak di depannya.

"Tentu saja! Siapa bilang aku tidak merestui?" Suara Kevin mendadak melunak, diiringi cengiran lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang tidak terawat. "Kalau kamu serius dan punya niat baik begini, aku pasti merestui. Lagi pula, Freya ini anak kesayanganku."

Freya memalingkan wajahnya ke samping, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan rasa muak yang menghantam dadanya. 

Anak kesayangan? Kalimat itu terdengar begitu menjijikkan keluar dari bibir pria yang semalam berniat menjualnya pada juragan kontrakan tua.

Keano tidak membalas senyuman Kevin sedikit pun. Ekspresi wajahnya tetap sedingin es. "Selesaikan masalah utangmu dengan pria bernama Pak Kusuma itu sekarang juga. Saya tidak mau ada urusan yang tersisa di belakang."

"Siap, siap! Beres, kamu jangan mencemaskan itu." Kevin tertawa kecil, tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari terus melirik amplop di tangan Keano. "Jadi, amplopnya bisa aku terima sekarang?"

Keano melirik ke amplop yang dipegangnya. Begitu pandangannya kembali tertuju pada Kevin, Keano kembali bicara dengan tatapan masih sedingin es. 

"Setelah kamu menandatangani berkas kesepakatan dan berdiri di kantor catatan sipil sebagai wali." Suara Keano tegas dan tak terbantah, hingga sanggup membungkam tawa licik Kevin. 

Lalu Keano mengalihkan pandangan pada Freya. "Ayo."

Freya mengangguk pelan, tatapannya sekilas tertuju pada sang ayah, lalu Freya melangkah bersama Keano yang menggenggam tangannya dengan posesif.

Sedangkan Kevin tersenyum sangat lebar. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan uang 200 juta yang akan didapatkannya, setelah menikahkan Freya dengan pria yang entah dia tak kenal sama sekali.

Bagi Kevin, siapa pria ini tak penting lagi. Dia hanya mementingkan uang.

Mereka bertiga melangkah keluar dari gang sempit menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan raya. 

Kehadiran empat pria bertubuh tegap di sekitar mobil Keano membuat Kevin kehilangan senyumnya, dia mendadak panik dan berulang kali menelan ludah, sampai tidak berani lagi bertingkah atau melayangkan protes apa pun.

Mereka berangkat menuju kantor catatan sipil. Kevin duduk dengan tertekan karena dua pria berbadan tegap mengapitnya di tengah-tengah.

Di kantor catatan sipil.

Proses pernikahan Freya dan Keano berlangsung sangat cepat, dingin, dan jauh dari kata romantis.

Tidak ada dekorasi bunga, tidak ada tatapan penuh cinta, dan tidak ada janji suci yang diucapkan dengan derai air mata kebahagiaan. Yang ada hanyalah goresan pena di atas lembaran kertas resmi dan penyerahan uang tunai dalam amplop cokelat kepada Kevin Winata.

"Freya, Ayah pulang dulu, ya. Selamat untuk kalian," ucap Kevin tanpa benar-benar menatap mata putrinya. Fokusnya sepenuhnya teralih ke amplop tebal yang dia apit di lengannya. Tanpa menunggu balasan dari Freya, pria itu berbalik cepat dan melangkah terburu-buru meninggalkan area gedung.

Freya memandang punggung ayahnya yang kian menjauh dengan dada sesak. Cairan hangat menggenang di pelupuk matanya, tapi dia menahannya sekuat tenaga agar tidak tumpah di depan Keano.

Freya masih tak menyangka. Bagi ayahnya, uang benar-benar lebih berharga daripada dirinya.

"Sudah selesai." Suara Keano memecah keheningan di antara mereka. Pria itu berdiri sambil memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. "Sekarang kamu ikut denganku." Nada suara Keano benar-benar datar dan tegas.

Freya membalikkan badan, tatapannya tertuju pada Keano yang sudah melangkah lebih dulu menuju area parkir.

Freya buru-buru berjalan mengekori langkah lebar Keano. "Pak Keano ...." Freya memanggil pelan saat melangkah di samping pria itu. "Sekarang, kita mau ke mana?"

Keano menghentikan langkah tepat di samping pintu belakang mobilnya. Dia menoleh dan menatap Freya dengan datar. "Pindahkan barang-barangmu dari rumah ayahmu hari ini juga. Asistenku akan membantumu membawa barang-barang penting saja."

Freya tersentak kecil. "Hari ini juga, Pak?"

"Kamu pikir, sebagai istri Keano Pradipta, kamu masih akan tinggal di rumah reot itu?" balas Keano dengan nada dingin. 

Tanpa mendengar balasan dari Freya, Keano membukakan pintu mobil untuknya. "Masuk," perintahnya datar tak terbantah.

Freya menunduk pelan, dia patuh tanpa banyak kata. 

Freya melangkah masuk ke dalam mobil, disusul oleh Keano yang duduk di sampingnya. 

Begitu mobil melaju membelah jalanan kota, keheningan kembali menguasai kabin yang dingin ini.

Keano memandangi dokumen di layar ponselnya sebentar sebelum mematikannya. Dia menoleh perlahan pada Freya yang duduk kaku di sebelahnya. "Satu hal lagi yang harus kamu ingat, Freya."

Freya meremat jemari tangannya sendiri di atas pangkuan gaun putihnya. "Apa itu, Pak?"

"Pernikahan ini sepenuhnya rahasia dari publik dan area kerja," ucap Keano datar tapi penuh penekanan. "Di PD Mall, kamu tetap karyawanku dan panggil aku seperti biasa. Kamu hanya perlu memanggil namaku secara langsung saat kita berada di depan keluargaku."

Freya mengangguk patuh. "Baik, Pak. Saya mengerti."

"Dan bersiaplah," lanjut Keano dengan tatapan yang kian mengintimidasi. "Kamu harus menghadapi keluargaku. Aku sudah memainkan peranku di hadapan ayahmu, jadi kamu harus memainkan peranmu di hadapan orang tuaku."

Jantung Freya mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Rasa panik menjalar begitu cepat di dalam dadanya. Keluarga Pradipta—pemilik konglomerasi besar yang namanya diagungkan di kota ini, tentu bukan orang sembarangan. 

Ibu Keano, Nadine Pradipta, terkenal sebagai sosialita papan atas yang sangat selektif akan hal apa pun. Mungkin, termasuk pasangan yang harusnya Keano pilih.

Freya menghembuskan napas pelan melalui mulutnya, dia mencoba menetralkan kembali detak jantungnya yang liar. 

Freya mengepalkan tangan, berusaha memaksakan raut wajahnya tetap tenang di hadapan Keano. Ini adalah risiko dari keputusan gila yang diambilnya semalam. 

Menghadapi penolakan keluarga kaya jauh lebih terhormat daripada harus menjadi istri kelima dari pria tua bangka.

"Saya paham, Pak," balas Freya dengan nada suara sestabil mungkin, meski jemarinya masih bergetar tipis. "Saya sudah siap menghadapi apa pun risikonya."

Keano menatap lekat sepasang mata cokelat Freya selama beberapa detik, mengamati ketenangan yang dipaksakan wanita itu, sebelum akhirnya mengangguk samar. "Bagus."

Tak beberapa lama kemudian.

Mobil mewah Keano berhenti di depan pelataran kediaman utama Pradipta yang megah dan menjulang tinggi. Pintu kayu jati berukir indah terbuka lebar menyambut kedatangan sang putra tunggal.

Keano melangkah masuk dengan santai.

Sedangkan Freya berjalan selangkah di belakangnya dengan dada yang bergemuruh hebat. Tangannya mencengkeram tali tas yang menyilang di depan dada dengan begitu erat.

Di ruang keluarga yang luas dan megah, Jordan Pradipta duduk santai sembari membaca koran bisnis, sementara Nadine Pradipta tengah menikmati cangkir teh porselennya.

"Keano? Tumben kamu pulang siang-siang begini," sapa Nadine anggun tanpa mengalihkan pandangan dari cangkirnya.

"Ada hal penting yang harus aku sampaikan, Ma, Pa." Suara Keano bergema tegas di ruangan tersebut.

Jordan menurunkan korannya perlahan. Dahi pria paruh baya dengan tatapan tajam itu berkerut dalam ketika menyadari keberadaan seorang wanita asing yang berdiri di belakang putranya dengan gaun putih sederhana.

Keano menarik Freya agar berdiri di sampingnya, lalu satu tangannya merengkuh pinggang Freya dengan erat. Tatapan Keano lurus dan tanpa keraguan sedikit pun saat menatap kedua orang tuanya.

"Kenalkan, ini Freya. Kami baru saja meresmikan pernikahan kami di catatan sipil hari ini."

Wajah Freya menegang saat mendengar ucapan Keano, apalagi dia merasakan rematan kecil jari-jari Keano di pinggangnya, setelah pria ini selesai bicara.

Prang!

Cangkir porselen di tangan Nadine terlepas begitu saja, menghantam lantai marmer dan pecah berserakan. 

Nadineb seketika berdiri dengan wajah pucat pasi, matanya membola lebar.

Sedangkan Jordan bangkit dari duduknya dengan rahang mengeras penuh rasa terkejut yang luar biasa.

"Apa kamu bilang, Keano?!" Suara Nadine melengking menembus keheningan ruangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
apa karena keano menolah dijodohkan ortunya jadi nekat menikahi freya ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Diam-diam Mengamati

    Di dalam area mall.Keano baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan salah satu tenant di lantai bawah PD Mall. Langkahnya melintasi koridor utama, sengaja memilih rute yang melewati depan toko kosmetik tempat Freya bekerja.Kebiasaan barunya ini muncul entah sejak kapan—setiap kali ada urusan di lantai bawah, dia selalu menyempatkan diri lewat sana, meski hanya sekadar memastikan.Tatapan Keano menyapu etalase toko yang tertata rapi, mencari sosok yang biasanya berdiri di balik meja kasir atau sibuk merapikan rak produk.Namun, Freya tidak ada di sana.Keano menghentikan langkahnya sejenak, matanya menelusuri setiap sudut toko yang terlihat dari luar. Hanya ada Rachel yang tampak sibuk melayani pelanggan, dan seorang karyawan lain yang tidak dia kenal namanya.Kening Keano berkerut tipis. Biasanya di jam seperti ini, Freya sudah berada di posisinya.Nanda yang berjalan di belakangnya menyadari langkah Keano yang melambat. Nanda sampai memastikan ke mana arah tatapan atasannya

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Ternyata Licik

    Freya menatap Brian yang berdiri di ujung koridor dengan senyum ramahnya yang biasa, seolah dunia baik-baik saja. Rasa marah yang tadi tertahan di dadanya kini mendidih, siap meluap kapan saja.“Frey? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali,” tanya Brian, melangkah mendekat dengan raut khawatir yang terlihat begitu meyakinkan.Freya menatap Brian lekat-lekat, mencoba mencari secuil rasa bersalah di balik wajah tenang itu. Tapi yang dia temukan hanyalah ketenangan yang begitu wajar, seolah pria ini benar-benar tidak tahu apa-apa.“Aku baru saja melihat data penjualanku,” kata Freya akhirnya, suaranya datar tapi tajam. “Kenapa kode stafmu ada di transaksi-transaksi besarku, Brian?”Untuk sepersekian detik, ada kilat terkejut yang lewat di mata Brian. Tapi secepat itu pula raut wajahnya kembali normal, bahkan menampilkan ekspresi bingung yang dibuat-buat.“Maksudmu apa? Aku tidak paham,” balas Brian, mengangkat bahu seolah benar-benar tidak mengerti.“Jangan berpura-pura, Brian.” Freya melangk

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Bagaimana Bisa?

    Freya berangkat bersama Nanda seperti hari sebelumnya. Dia sudah tiba di mall dan langsung masuk untuk bersiap bekerja.Suasana di area belakang toko kosmetik dipenuhi bisik-bisik karyawan yang berkumpul di depan papan pengumuman. Freya berjalan mendekat bersama Rachel, ikut menyelinap di antara kerumunan untuk melihat kertas yang baru saja ditempel.Pengumuman Resmi: Manajer Toko Kosmetik Area Lantai 2 — Brian MahendraFreya membaca nama itu berulang kali, memastikan matanya tidak salah lihat.“Apa?” Rachel yang berdiri di sampingnya bersuara lebih dulu, matanya membola tak percaya. “Brian? Yang benar saja!”Bisikan di sekitar mereka semakin ramai. Beberapa karyawan saling berpandangan dengan raut heran, ada juga yang menggelengkan kepala pelan.“Bukannya penjualan Brian selalu di bawah rata-rata?” bisik salah satu karyawan dari toko sebelah.“Iya, aneh sekali. Padahal semua tahu Freya yang paling konsisten mencapai target,” timpal yang lain, suaranya cukup pelan tapi masih terdenga

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Perhatian Kecil

    Keesokan harinya.Freya baru saja selesai mengganti pakaian kerjanya di dalam kamar mandi. Dia keluar dengan blus lengan panjang berwarna krem, rambutnya masih setengah basah dan tergerai di bahu.Freya melangkah menuju cermin besar di sudut walk in closet, lalu mulai menyisir rambutnya dengan gerakan cepat karena waktu hampir siang.Sampai suara pintu walk in closet kembali terbuka, membuat Freya menoleh sekilas.Keano melangkah masuk dengan kemeja putih yang belum sepenuhnya dikancingkan dan memperlihatkan sebagian dada bidangnya. Tangannya membawa sebuah kotak kecil berwarna putih.Freya buru-buru mengalihkan pandangan, pipinya memanas tanpa alasan jelas. Dia kembali fokus menyisir rambutnya, berusaha terlihat sesibuk mungkin.“Duduk,” kata Keano begitu sampai di dekat Freya, suaranya datar seperti biasa.Freya menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh dengan kening berkerut. “Duduk, Pak? Untuk apa?”Keano tidak menjawab. Dia hanya menunjuk kursi kecil di dekat meja rias dengan d

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Ketahuan Terluka

    Malam hari. Jam kerja telah usai. Freya berjalan keluar dari pintu khusus karyawan sambil menarik lengan baju pendeknya lebih rendah, berusaha menutupi memar yang masih membekas di kulitnya sejak insiden dengan Brian pagi tadi.Dia melangkah menuju titik jemput yang tadi pagi Nanda katakan. Namun, saat tiba di sana bukan mobil Nanda yang terparkir di sana.Freya menghentikan langkah saat melihat mobil sedan hitam Keano berhenti tepat di depannya, kaca jendela belakang turun perlahan.“Masuk.”Suara Keano yang datar itu membuat Freya tersentak kecil. Dia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada rekan kerja yang melihat, lalu bergegas masuk ke dalam mobil.“Kenapa Bapak sendiri yang jemput?” tanya Freya begitu duduk dan menutup pintu mobil dengan pelan.“Nanda ada urusan lain,” jawab Keano singkat, tatapannya tertuju ke luar jendela.Freya mengangguk pelan, tidak berani bertanya lebih jauh. Dia menyandarkan punggungnya, lalu tanpa sadar menggosok pelan lengannya yang masih teras

  • Istri Rahasia Bos Dingin   Freya Mulai Curiga

    Freya langsung menatap ke suara yang menginterupsi. Begitu juga dengan Brian dan Melissa. Keduanya melebarkan mata mereka melihat siapa yang sedang melangkah mendekat.Seketika itu, tangan Freya akhirnya terlepas dari Brian. Dia mengusap lengannya yang sakit karena perbuatan Brian.Di hadapan mereka, kini berdiri Keano yang menatap tajam pada Brian dan Melissa, lalu sorot mata Keano melunak ketika melihat Freya menunduk dengan wajah menahan sakit.“Apa yang terjadi di sini?” Suara Keano terdengar tegas dan dalam.Brian dan Melissa langsung membungkukkan tubuh mereka ke Keano.Brian begitu panik, lalu dia mencoba menjelaskan. “Tidak ada apa-apa, Pak. Kami … kami … kami hanya sedang berdiskusi biasa.” Brian tersenyum karier ke Keano karena takut terkena masalah.Satu sudut alis Keano tertarik ke atas mendengar penjelasan Brian. Sampai dia menatap pada Freya, lalu Keano bertanya, “Apa yang dia katakan benar?”Freya tersentak mendengar pertanyaan Keano, apalagi tatapan pria ini kini tert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status