LOGIN"Apa kamu bilang, Keano?!" Suara Nadine melengking menembus keheningan ruangan.
Napas ibu Keano itu memburu dengan raut wajah yang pucat pasi, menatap Keano dan Freya secara bergantian seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Di sampingnya, Jordan berdiri tegap dengan rahang mengeras. Matanya yang tajam menyorot sangat dingin, mengunci pandangan tepat pada putra tunggalnya.
Pecahan porselen dan genangan teh di lantai marmer sama sekali tak dihiraukan oleh kedua orang tua itu.
Freya merasakan seluruh persendiannya melemah. Pinggangnya yang merapat pada tubuh Keano terasa semakin tegang saat rematan halus jemari Keano di sana memberi ketegangan tersendiri.
Freya menundukkan kepala, menurunkan pandangan dalam-dalam sambil meremat jemarinya yang bergetar hebat di depan gaun putihnya.
Setelah ketegangan beberapa saat ini.
Nadine maju selangkah dengan tatapan terus tertuju pada sang putra, dia menunjuk ke arah Keano dengan jari yang gemetar.
"Kamu bercanda, 'kan?! Jangan main-main dengan Mama dan Papa, Keano Pradipta! Apa maksudmu mengatakan sudah menikah?!" Suara Nadine pelan sedikit menggeram.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Ma," balas Keano dengan suara sangat datar dan lugas. Sama sekali tidak ada raut ragu di wajah tampannya.
"Keano," panggil Jordan dengan suara rendah yang berat dan menekan. Pria paruh baya itu menatap penuh intimidasi. "Kita harus bicarakan ulang masalah ini."
Nadine menarik napas panjang, mencoba menguasai emosinya yang hampir meledak, lalu mengangguk kaku.
Mata Nadine yang dingin sempat melirik tajam ke arah Freya seolah memberi isyarat agar wanita di samping putranya ini tak diikutkan serta.
Keano tidak langsung bergerak menuruti perintah ayahnya. Dia tetap berdiri tenang, lalu menjawab dengan nada tegas tak terbantah. "Aku akan mengantar istriku ke kamar lebih dulu. Setelah itu kita bicara."
Nadine terkejut mendengar balasan sang putra. Bibirnya terbuka untuk melayangkan protes, tapi keburu bungkam saat melihat Keano merangkul bahu Freya dengan posesif.
Keano mengajak Freya beranjak dari ketegangan di ruang keluarga, lalu mereka melangkah menuju tangga lantai dua, menuju kamarnya.
Langkah kaki mereka menggema pelan saat tiba di sepanjang koridor lantai dua yang megah menuju salah satu pintu ganda besar yang ada di lorong itu.
Begitu tiba di depan salah satu kamar, Keano membuka pintu ganda di depannya lalu menuntun Freya masuk ke dalam.
Keheningan yang cukup mencekam menyelimuti ruangan bernuansa monokrom ini.
Keano melepas rangkulannya di bahu Freya saat jari-jarinya berpindah merapikan posisi kancing jasnya.
“Tetaplah di sini sampai aku kembali,” kata Keano dengan nada tegas.
Freya menatap wajah datar Keano, dia menggigit bibirnya sejenak, lalu memberanikan diri membuka suara.
"Pak Keano ...." Suara Freya terdengar pelan dan bergetar kecil karena kecemasan yang dirasakannya.
Keano menoleh, dia menatap Freya dengan sepasang mata hitamnya yang tenang. "Ya?"
Freya menelan ludah di tenggorokannya yang kering. Dia menatap Keano penuh kesungguhan walau takut juga menguasai dirinya. "Apa ... apa Anda akan baik-baik saja di bawah? Maksud saya, tolong jangan bertengkar dengan orang tua Anda hanya karena saya. Mereka pasti sangat kaget dengan keputusan mendadak ini."
Mendengar perhatian itu, satu sudut bibir Keano terangkat amat tipis. Sebuah senyum samar nyaris tak terlihat menghiasi wajah tegasnya.
"Kamu tidak perlu mencemaskanku," jawab Keano dengan suara berat tapi menenangkan. Pria itu menatap ke manik mata cokelat Freya, lalu kembali bicara. "Yang perlu kamu cemaskan adalah bagaimana kamu bersikap sebagai istriku di depan orang tuaku mulai hari ini."
Freya tertegun. Bibirnya terkatup rapat, kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan lugas dari bos yang baru saja sah menjadi suaminya itu.
Belum sempat Freya merangkai kalimat balasan, Keano sudah lebih dulu membalikkan badan. Pria itu melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan rapat, meninggalkan Freya yang terpaku sendirian di tengah ruangan.
Keano kembali ke ruang keluarga. Sesampainya di sana, kedua orang tuanya sudah duduk dengan ekspresi gelisah dan rasa kesal yang begitu kentara.
Keano melangkah mendekat dengan tenang, tak ada raut cemas sedikit pun di wajahnya.
"Duduk," perintah Jordan singkat.
Keano mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal, tatapannya tertuju ke sang mama dan papa yang masih memasang wajah tak senang.
Nadine mendengkus kasar. Bagaimana bisa putranya bisa setenang ini, setelah tindakan gegabah yang baru saja dilakukan.
"Apa maksud dari semua ini, Keano?! Kenapa kamu mendadak melakukan pernikahan konyol ini tanpa restu kami?! Untuk apa kamu menikah secepat ini, seolah kamu tidak memiliki orang tua yang bisa kamu jadikan bahan pertimbangan?" Suara Nadine menggeram tertahan dengan urat leher yang menyembul di balik permukaan kulit.
"Pernikahan bukan hal main-main yang bisa kamu putuskan dalam satu malam," sambar Jordan dengan nada menuntut. "Siapa wanita itu? Kenapa kamu membawanya ke rumah ini tanpa memberi tahu Papa dan Mama terlebih dahulu?!"
"Jelaskan pada kami sekarang!" timpal Nadine dengan napas memburu. "Apa alasanmu menikahi wanita itu? Siapa keluarganya? Dari mana asal-usulnya? Dan, bagaimana latar belakang keluarganya?!"
Diberondong berbagai pertanyaan tajam dari kedua orang tuanya, Keano tetap menatap lurus dengan raut wajah sekeras batu karang. Tidak ada sedikit pun gestur ragu atau panik dari pria berusia 34 tahun ini.
"Tidak ada alasan khusus, tapi aku punya pertimbanganku sendiri.” Keano bicara dengan sangat tenang.
Menatap kedua orang tuanya yang lagi-lagi terkejut dengan ucapannya, Keano kembali bicara. "Keputusanku sudah bulat, Ma, Pa." Keano bicara dengan suara lugas dan sangat tegas. "Aku tidak sedang bermain-main dengan keputusan ini."
Jordan menyipitkan matanya, mengamati ketenangan putranya yang terkesan tanpa cela. "Kamu menyadari akibat dari tindakan impulsifmu ini, Keano?"
"Aku sangat sadar," balas Keano cepat, memotong keraguan ayahnya. "Pernikahan ini adalah keputusanku sendiri. Aku memang menginginkan pernikahan ini dan aku yang memilih Freya untuk menjadi istriku. Itu sudah lebih dari cukup."
Nadine menghela napas berat, dia memalingkan wajahnya dengan raut kekecewaan yang sangat mendalam. "Kamu benar-benar keras kepala, Keano! Pernikahan ini tak seharusnya kamu putuskan sepihak seperti ini!"
"Aku tahu kalian mungkin kecewa." Keano menjeda kalimatnya sejenak, lalu kembali bicara. "Tapi percayalah, apa yang aku lakukan ini adalah hal yang seharusnya aku lakukan."
Nadine dan Jordan sama-sama mengerukan kening mendengar ucapan Keano.
Sebelum kedua orang tua ini meminta penjelasan, Keano sudah lebih dulu bangkit dari duduknya, lalu menatap pada Nadine dan Jordan bergantian sambil berucap, “Aku naik ke kamar dulu.”
Halo, ini adalah buku baru saya, terima kasih untuk yang sudah mampir ke cerita Keano dan Freya
Freya melihat dada Keano naik turun tak beraturan. Pelipis serta dahi pria itu dipenuhi bulir-bulir keringat, padahal pendingin udara di dalam kamar tidur mereka berembus cukup dingin. Freya semakin panik saat melihat Keano mengerutkan kening dan tampak gelisah, bahkan bibirnya meringis seolah sedang menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan dalam tidurnya.Tanpa memikirkan batas ranjang lagi, Freya bangkit dari posisinya lalu duduk lebih dekat dengan Keano.“Pak … Pak Keano, panggil Freya pelan sembari menepuk-nepuk lengan Keano. “Pak Keano, bangun.” Freya mencoba membangunkan.Namun, tidak ada respon. Keano masih memejamkan mata dengan kerutan di kening yang semakin kentara. Kepala Keano bergerak gelisah seolah sedang mengalami kecemasan yang luar biasa.“Pak Keano. Anda baik-baik saja?” Freya kembali mencoba membangunkan. Namun, usahanya sia-sia.Freya ketakutan melihat Keano masih tidak bereaksi dengan panggilan yang dia lakukan.Freya takut terjadi sesuatu pada Keano jika terus
Freya membeku. Dia menatap panik saat melihat mata Keano menyipit, seolah sedang mengintimidasinya.Seketika Freya meneguk ludah kasar, wajahnya kini memerah padam. Dia memeluk piyama satin di dadanya semakin erat, berusaha keras menyembunyikan kepanikan di balik senyuman yang sangat canggung.“E-eh? Tidak ... tidak ada, Pak,” elak Freya dengan nada suara yang sedikit meninggi karena gugup. “Saya tidak memikirkan apa-apa, kok,” katanya lagi meyakinkan.Senyum samar nyaris tak terlihat terangkat di bibir Keano saat melipat kepanikan di wajah Freya. Sebelum Keano kembali bicara, suara Freya sudah lebih dulu terdengar.“Saya mau ganti baju dulu, Pak.” Freya bicara dengan sangat cepat.Tanpa menunggu balasan Keano, Freya bergegas melangkah menuju pintu walk in closet. Namun, karena langkah kakinya yang terlalu terburu-buru dengan gerakan panik, dia justru tersandung oleh ujung kakinya sendiri.“Akh ….” Freya menjerit pelan saat tubuhnya mendadak limbung ke depan. Dia memejamkan mata rapat
Freya semakin menunduk mendengar ucapan Nadine. Bibirnya dia gigit kuat-kuat, jantungnya berdegup cepat mendengar kalimat menuntut dari mertuanya.Bagaimanapun Freya tidak bisa membantah dan menjelaskan kalau pernikahan mereka disembunyikan jadi tak ada yang tahu dan takkan mempermalukan keluarga Pradipta, seperti kesepakatan antara dia dan Keano.Hingga sekarang, Freya hanya bisa menunduk diam. Sampai ….“Semua yang Freya lakukan sudah atas izinku, Ma,” balas Keano dengan nada suara yang begitu tenang tapi tak terbantahkan. “Statusnya sebagai pekerja meski dia istriku, tidak ada yang memalukan selama aku yang memberinya izin.”Freya tersentak kesekian kalinya saat mendengar ucapan Keano. Pria ini benar-benar membantah semua ucapan ibunya sendiri untuk melindungi Freya?Atau, Keano melakukan ini untuk menutupi pernikahan kontrak mereka?Mata Nadine membola lebar mendengar Keano terus saja melawannya. Dia mendengkus kasar, napasnya seolah berembus pasrah karena sanggahan dari putranya.
Freya terkejut mendengar ucapan Keano. Keningnya berkerut dalam, lalu dia memberanikan diri bertanya, “Anda belum makan sejak sore tadi?”Freya memperhatikan Keano, tapi bosnya ini tak membalas sama sekali.Freya menundukkan kepala. Dia memilih diam lagi daripada salah bicara.Mobil terus melaju. Sampai akhirnya berbelok ke salah satu restoran bintang 3 yang ada di jalur mereka.Freya turun dari mobil mengikuti Keano, keduanya lalu masuk ke dalam restoran.Restoran bernuansa privat yang dipilih Keano terasa begitu tenang. Pencahayaan temaram dan alunan musik instrumental lembut mengiringi suasana.Freya duduk berhadapan dengan Keano. Pelayan yang datang melayani langsung mencatat hidangan yang mereka pesan.Susana canggung kembali menyelimuti begitu pelayan pergi. Freya duduk sambil sesekali meremas jari-jarinya yang ada di atas pangkuan.Keheningan menyelimuti, sampai tak lama kemudian pelayan kembali datang menghidangkan makanan dan minuman yang dipesan.Freya menatap steak yang ada
Freya tersentak mendengar ucapan Keano. Dia memutar tubuhnya dengan cepat, berbalik menghadap ke arah belakangnya, sampai pandangan ke sepanjang bahu jalan. Freya melihat keberadaan mobil sedan hitam mewah yang terparkir tenang di bawah remang lampu jalan di bahu jalan, tak jauh dari tempatnya berdiri. Kaca mobil yang gelap membuat sosok di dalamnya sama sekali tak terlihat dari luar.Freya masih mempertahankan ponsel di telinganya. Tatapannya tak teralihkan dari mobil mewah milik bosnya ini.“Pak Keano ….” Freya bingung harus berbuat apa. “Kenapa Bapak—”“Masuk,” potong Keano singkat dari seberang panggilan.Freya baru saja ingin membalas, tapi panggilan itu diakhiri lebih dulu.Freya menurunkan ponselnya dari telinga, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat karena canggung.Situasi malam ini masih cukup ramai oleh orang-orang yang baru pulang kerja. Freya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan tidak ada rekan kerjanya atau orang yang mengenalnya berada di dekat sana.
Freya mengamati perubahan raut wajah Brian dengan kening berkerut halus. Ada sesuatu yang janggal dari nada suara Brian yang terdengar menyimpan rasa penasaran dan keingintahuan yang besar.Namun, Freya memilih tidak terlalu menanggapi berlebihan sikap Brian ini. Mungkin Brian seperti Melissa yang cemas jika terkena masalah karena pemanggilan dirinya ke lantai atas.“Tidak ada masalah besar, Brian.” Freya memasang senyum kecil setelah membalas pertanyaan antusias dari Brian. “Hanya ada sedikit komplain dari pengunjung soal pelayanan, jadi tadi sudah diselesaikan kok,” kata Freya memanfaatkan tuduhan Melissa untuk menutupi hubungan antara dia dan Keano.Begitu mendengar jawaban dari Freya, satu sudut bibir Brian terangkat, membentuk senyuman miring yang begitu licik. Ada binar lega yang terpancar jelas di matanya, ternyata dugaannya soal Freya dipanggil untuk dijadikan manager toko tidaklah benar.“Baguslah kalau hanya karena itu,” ucap Brian tanpa sadar dengan binar kelegaan dan rasa







