로그인Di kamar, Jovita tampak sibuk duduk di tepian ranjang di dekat koper yang terbuka, memilah dan merapikan pakaian yang akan mereka bawa untuk perjalanan ke Kaliurang. Karena Raymond berkata perjalanan ini urusan pekerjaan dan akan bertemu dengan beberapa klien, Jovita membawa beberapa pakaian formal. Raymond yang berdiri di dekatnya bukannya membantu, melainkan sibuk mengganggu. Pria itu dengan santainya menyelipkan beberapa gaun malam tipis dan lingerie ke dalam koper Jovita. “Jangan lupa baju dinasnya dibawa juga, Jo,” ujar Raymond dengan senyum jahil yang mengembang sempurna. Jovita menepuk pelan tangan suaminya seraya mendelik gemas. “Om Ray! Katanya ini perjalanan bisnis?” “Bisnis juga butuh hiburan kan, Sayang?” jawab Raymond enteng tanpa rasa dosa. Jovita menggeleng-gelengkan kepala lalu mengeluarkan beberapa helai baju tidur tipis itu dar
“Sepertinya masih belum rezeki ya, Pak, Bu,” ujar dokter dengan suara lembut. “Hasil tesnya masih negatif. Tapi Bu Jovita ini kan masih sangat muda, kondisi rahim dan fisiknya juga secara umum sangat baik.” Raymond mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis. Meski berusaha bersikap tenang dan menerima penjelasan dokter, Raymond sama sekali tidak bisa menutupi binar matanya yang mendadak redup karena rasa kecewa. “Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tinggal dijaga saja pola istirahat dan nutrisinya.” Sang dokter memberi penjelasan lanjutan, untuk menenangkan pasiennya. “Iya, Dok. Terima kasih banyak,” sahut Raymond sopan. Setelah seluruh pemeriksaan selesai, Raymond dan Jovita berjalan berdampingan keluar dari ruang periksa. Sepanjang koridor rumah sakit, Raymond tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Jovita. Dia ingin melindungi dan menuntun
Saat mobil Raymond berhenti di area kampus, Jovita yang sedari tadi menunggu dengan wajah pucat bergegas melangkah dan langsung memasuki kabin depan.Raymond menoleh menatap raut letih istrinya. “Vio di mana, Jo?”“Pulang bareng Dylan, Om,” jawab Jovita pelan seraya menyandarkan kepalanya yang terasa agak berat.Raymond mengangguk lega, setidaknya ia tak perlu mengarang alibi lagi untuk menjemput Jovita. Apalagi bareng Dylan, Raymond yakin putrinya dalam suasana hati yang sangat baik.Arsitek senior itu kemudian mengelus pipi Jovita dengan lembut. “Mau langsung pulang atau ke dokter dulu?”“Ke dokter dulu aja, Om,” sahut Jovita seraya menahan rasa mual yang masih sesekali datang.Mobil mewah itu pun perlahan melaju meninggalkan kawasan kampus. Di tengah perjalanan yang tenang, Jovita memutar badannya sedikit menghadap Raymond. Raut ragu menggelembung di dadanya.“Om... bagaimana kalau Jojo benar-benar hamil?” tanya Jovita cemas, memikirkan status kuliah dan rahasia pernikahan mereka.
Di ruang kerjanya, Jimmy menyandarkan punggung ke kursi seraya memainkan ballpoinnya.“Jadi, kamu tetap pergi ke Kaliurang sama Jojo?”Raymond mengangguk pelan seraya membolak-balik dokumen di mejanya. “Hampir saja rencananya berubah.”“Kenapa?”“Tadinya aku berniat mau mengajak Vio juga sekalian, hitung-hitung buat motivasi biar dia makin serius ngerjain skripsinya. Tapi... dia malah lebih memilih sibuk ngejar Dylan.”Jimmy tersenyum miris mendengar jawaban itu, lalu menggeleng-gelengkan kepala.“Vio ini kok rasanya nggak ada mirip-miripnya sama kamu ya, Ray... Secara fisik semuanya keturunan Felisa. Lah wataknya... malah makin mirip omanya.”Yang dimaksud Jimmy dengan ‘oma’ bukan ibu kandung Raymond, tetapi Leonor, ibu tirinya.“Mungkin karena dulu aku terlalu sering meninggalkan dia,” sahut Raymond dengan nada datar.Jimmy menggeleng pelan. Seingatnya, Raymond tidak pernah meninggalkan Viola dalam waktu yang lama. Pria itu hanya terlihat absen saat sedang dilanda kasmaran bersama J
Jovita terperanjat. Matanya membelalak lebar, terkejut bukan main mendengar ucapan yang terlontar begitu enteng dari mulut Dylan."Nggak! Kamu bicara apa sih, Dyl?" sanggah Jovita tegas, suaranya terdengar makin serak.“Bukankah itu sangat mungkin terjadi? Kalian tidur bersama, kan?”Jovita mengalihkan pandangannya, tak ingin membicarakan hal yang privat itu di hadapan pria lain."Aku cuma flu biasa, ketularan Om Ray! Lagipula... aku dan Om Ray sepakat untuk menunda punya anak!"Mendengar pengakuan lugas itu, bukannya tenang, Dylan justru menyunggingkan bibir dengan senyuman sinis yang penuh kepahitan."Status istri disembunyikan... terus sekarang nggak mau punya anak..." ujar Dylan dengan nada merendahkan yang tajam. "Sebenarnya pernikahan macam apa yang sedang kamu jalani, Jo? Kamu benar-benar nggak merasa kalau selama ini kamu cuma dijadikan..."Dylan mendadak menghentikan kalimatnya. Tenggorokannya terasa tercekat, disergap rasa miris dan kasihan yang amat sangat melihat nasib gad
Dylan yang baru saja memarkirkan motornya kembali mengamati langkah Jovita dari kejauhan. Mata pemuda itu menyipit, meneliti setiap gerak-gerik dan perubahan fisik Jovita, mulai dari cara berjalan hingga bentuk tubuhnya.Otak Dylan masih dipenuhi asumsi liar bahwa Jovita mungkin saja sedang mengandung anak Raymond.“Ya Tuhan, aku sangat mencintainya. Tapi betapa jahatnya aku menunggu jandanya.” Dylan menggelengkan kepala, mengusir pikiran buruk di kepalanya.“Tuhan… aku ingin bahagia meski tanpa dia.” Dylan berbisik pada dirinya sendiri.Setelah menghela napas dalam untuk menguatkan hati, Dylan melangkah menyusul Jovita dan Viola. Pemuda itu semakin memangkas jarak mendekati koridor yang memisahkan jurusan arsitektur dan bisnis. Tampaknya Dylan tak ingin berlama-lama bersama Viola, meski ada Jovita di antara mereka.“Kami ke studio dulu,” ucap Dylan dingin. Dia dan Jovita meninggalkan Viola.Viola hanya terdiam menatap interaksi Jovita dan Dylan dengan pandangan cemburu dan napas tert
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







