LOGINSebelum Jovita sempat merespons, Raymond dengan sigap melingkarkan tangannya di bawah paha Jovita dan menggendongnya keluar dari kamar mandi."Om Ray! Eh!" Jovita memekik kaget, namun sedetik kemudian tawa renyahnya pecah. Ia dengan cepat melingkarkan lengan rapat-rapat di leher suaminya, menikmati sensasi dipindahkan dalam dekapan serba hangat itu.Tawa renyah Jovita perlahan terhenti begitu Raymond merebahkannya dengan lembut di atas kasur empuk mereka. Raymond mengungkung tubuh kecil istrinya, menatapnya penuh gairah yang membakar.Ia menunduk, berbisik rendah dengan nada dominan yang tegas, "Sampai hasilnya berubah jadi positif... kamu di bawah dulu, ya."Jovita menelan ludah, menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk pasrah. Meskipun selama ini ia sangat menikmati kontrol saat berada di posisi atas, tatapan menuntut suaminya kali ini tak menyisakan ruang untuk membantah. Ia membiarkan Raymond memegang kendali penuh.Raymond menunduk, bibirnya menempel di leher Jovita. Ia menghisap
Sejak resmi dinyatakan lulus sidang, Jovita tidak bersantai sepenuhnya. Ia mulai menyibukkan diri dengan mengambil proyek freelance desain yang didapatnya secara online.Raymond sangat mendukung keputusan tersebut. Bagi Raymond, kesibukan kecil ini bisa menjadi sarana latihan yang pas sebelum Jovita benar-benar terjun ke dunia kerja profesional setelah wisuda nanti, sekaligus menjadi masa transisi yang tenang usai memeras otak selama kuliah.Tapi hari ini, Jovita akhirnya menyempatkan diri untuk menemui Viola setelah sahabatnya itu berkali-kali mengajaknya nongkrong bareng. Mereka berjanji temu di sebuah kafe minimalis di pusat kota."Jojo! Kangen banget!" seru Viola begitu melihat sahabatnya melangkah mendekat.Keduanya langsung berpelukan hangat dan saling cipika-cipiki sebelum duduk berhadapan."Gimana kabarmu, Jo? Sibuk apa setelah bebas dari siksaan skripsi?" tanya Viola antusias seraya menyeruput minumannya."Baik, lumayan sibuk ngerjain beberapa proyek online, mayoritas desain
Dylan masih betah mengusap lembut perut Elvi yang mulai membuncit. Rasa tak sabar mendadak menyelimuti pikirannya saat membayangkan kehadiran anggota keluarga baru.“Ma... memangnya kita tahu jenis kelamin Dedek kapan?” tanya Dylan seraya menegakkan tubuhnya kembali.Elvi mengulas senyum lembut seraya merapikan posisi duduknya. “Jadwal pemeriksaan dokter bulan ini katanya sudah bisa terlihat jelas. Bagaimana? Kamu mau ikut mendampingi Mama?”Dylan terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. “Tidak usah, Ma. Nanti kalau aku ikut ke poli kandungan bersama Mama, orang-orang malah menyangka aku bapaknya. Aku yang masih jomblo ini bisa langsung mati pasaran.”Tawa renyah Elvi seketika pecah memenuhi sudut kamar. Ia menepuk pelan lengan putra tirinya itu dengan raut wajah tidak percaya.“Masa sih seorang Dylan Sebastian Hadiningrat yang ketampanannya persis seperti Papi ini masih jomblo?” goda Elvi seraya tertawa lepas. “Paling kamu saja yang terlalu pilih-pilih.”“Tentu saja harus pilih-pi
Jovita berbaring di atas ranjang periksa dengan perasaan campur aduk. Suasana ruang pemeriksaan terasa cukup menakutkan baginya, membuat tubuhnya kaku dan napasnya tertahan. Raymond yang berdiri setia di samping ranjang terus memegang erat jemari istrinya, menyalurkan rasa aman.Dokter Amira yang sangat berpengalaman membaca ketegangan pada raut wajah Jovita. Dengan cekatan dan lembut, sang dokter mulai menyiapkan alat untuk pemeriksaan USG transvaginal. Untuk memecah ketegangan, Dokter Amira membuka obrolan ringan dengan nada santai.“Tadi Pak Raymond bilang Bu Jovita baru saja selesai sidang skripsi, ya?” tanya Dokter Amira seraya mengoleskan gel khusus pada alat periksa.Jovita mengangguk pelan, berusaha mengontrol napasnya. “I-iya, Dok. Baru tadi siang.”“Wah, selamat ya!” Dokter Amira tersenyum hangat. “Ngomong-ngomong, ambil jurusan apa waktu kuliah?”“Arsitektur, Dok,” jawab Jovita, perlahan mulai merasa lebih tenang.“Wah, hebat sekali! Pasti pusing ya urusan maket dan hitunga
Menjalani profesi dan gaya hidup yang sangat rawan terhadap risiko penyakit menular seksual, membuat Felisa rutin memeriksa kesehatan reproduksinya.Felisa memang sangat disiplin dalam urusan medis ini, bagaimanapun juga, jika kesehatannya sampai bermasalah, nilai dan pesonanya di mata para pria berduit pasti akan merosot tajam.Felisa sungguh tak menduga jika dia akan melihat Raymond bersama perempuan dengan begitu intim dan mesra. Rasa penasaran membuatnya terus mengikuti mantan suaminya tersebut. Dia harus tahu siapa perempuan itu, atau paling tidak dia bisa memotret wajahnya untuk penyelidikan lebih lanjut.“Ternyata semua laki-laki sama,” gumam Felisa kala melihat Raymond yang begitu posesif merangkul pinggang Jovita.Semakin lama Felisa mengikuti, membuatnya semakin mengenali sosok perempuan yang bersama Raymond.Jovita, sahabat dari putrinya. Sebenarnya Felisa sudah lama curiga, tapi entah mengapa banyak petunjuk yang akhirnya dia abaikan. Jovita yang terlihat begitu polos tern
“...dengan ini, majelis penguji memutuskan bahwa saudari dinyatakan lulus dengan nilai A!”Riuh tepuk tangan seketika memecah ketegangan di ruangan sidang. Kedua dosen penguji dan pembimbing tersenyum tipis, mengakhiri raut datar yang sempat membuat jantung Jovita hampir melompat keluar.Jovita spontan menunduk dalam-dalam, mengatupkan kedua tangannya di depan dada seraya mengucap syukur berkali-kali. Air mata haru hampir menetes dari sudut matanya. Beban berat yang bertengger di pundaknya selama berbulan-bulan akhirnya terangkat sepenuhnya.Begitu keluar dari ruang sidang dengan berkas kelulusan di tangan, Dylan yang sudah menunggu di koridor langsung menghampirinya.“Selamat ya, Jo! Akhirnya lulus juga,” ucap Dylan seraya menyunggingkan senyum bangga.Jovita menyapu sisa keharuannya, tersenyum lebar menatap rekan seperjuangannya. “Terima kasih banyak, Dyl. Leganya luar biasa!”Dylan menatap berkas di tangan Jovita, lalu terkekeh pelan dengan nada berguyon. “Nilaimu pasti bagus bange
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini







