MasukRapat antar dua perusahaan itu akhirnya selesai dengan kesepakatan bisnis. Begitu dokumen ditutup, Raymond, Damian, dan Dylan berjalan keluar dari ruang rapat secara bersamaan. Tanpa ragu, ketiganya melangkah menuju area kubikel tempat Jovita sedang menekuni komputernya.Raymond berjalan sedikit di depan, tatapannya memancar was-was. Ia sangat paham betapa rumitnya perasaan Jovita terhadap keluarga Hadiningrat, dan ia tak ingin kehadiran Damian membuat suasana hati istrinya yang sedang hamil itu memburuk.“Jo, kita makan siang bareng, yuk?” ajak Damian begitu tiba di dekat meja Jovita, menyapa dengan nada hangat yang begitu kebapaan.Jovita menghentikan pekerjaannya dan mendongak. Pandangannya berganti-ganti menatap Damian, Dylan, dan Raymond yang berdiri sejajar. Ia bisa melihat raut cemas tersembunyi di wajah Raymond.Jovita menarik napas panjang secara halus. Kali ini, ia sadar betul posisinya. Ia memilih menyingkirkan ego dan luka pribadinya sejenak demi bertindak sebagai istri ya
Jovita membolak-balik lembar denah dengan kening berkerut karena fokus. “Kliennya minta ada taman di depan, tapi sisa lahan di bagian belakang juga harus tetap luas ya, Mas?” “Iya, konsepnya rumah tumbuh,” Aris menjelaskan sembari berdiri di sisi meja Jovita. “Jadi desain bangunannya harus benar-benar flexible untuk pengembangan ke depannya kalau pemilik rumah mau nambah ruangan.” Seorang arsitek lain di kubikel sebelah ikut menimpali tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya, “Proyek renovasi Perumahan Griya Asri itu emang tantangan banget, Jo. Luas tanahnya terbatas, tapi daftar permintaannya segunung.” “Tapi selama magang dulu, ini kan salah satu kelebihan Jovita,” sahut Aris dengan nada membela yang bangga. “Dia jago banget mengolah lahan sempit biar tetap multifungsi dan kelihatan lega.” Jovita tersenyum tipis, matanya mulai meneliti skala ukuran di atas kertas. “Kalau untuk space tangganya, mending dibuat bertingkat pakai dak beton dari awal atau atapnya langsung ditinggikan
“Kalau kalian tidak tahu apa-apa, jangan banyak bicara!” tegur Aris dengan suara tegas dan sarat ketegangan, menghentikan kasak-kusuk di area kubikel.Bukannya merasa bersalah, salah satu staf wanita justru mencibir sinis. “Idih... yang mau belain bidadari idamannya. Dia tuh nggak sesuci yang kamu bayangkan, Ris!”Aris menatap mereka satu per satu dengan pandangan tajam penuh sindiran. “Terus, apa yang kalian dapat dengan bicara seperti itu?”Para karyawan yang tadinya asyik merumitkan rumor tentang Jovita mendadak terkunci mulutnya, canggung menghadapi konfrontasi langsung dari Aris.“Semua gosip murahan kalian itu nggak akan pernah mengurangi kebahagiaan Pak Raymond dan Jovita,” lanjut Aris dengan intonasi dingin namun menusuk. “Tapi... ucapan kalian bisa membahayakan posisi dan nasib kalian sendiri di kantor ini. Selama kalian masih kerja ikut orang, jangan pernah coba-coba menghina orang yang memberi kalian makan dan membayar gaji kalian.”Di balik ketegasannya membela Jovita, dad
Raymond menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, membuka ponsel untuk memeriksa jadwal kerja yang baru saja dikirimkan sekretarisnya pagi ini.Tapi, konsentrasinya buyar seketika. Dari balik layarnya, mata Raymond justru sibuk memperhatikan sang istri yang sedang sibuk berdandan di depan meja rias untuk hari pertama kerjanya kembali di Vastu Chandra.Jovita pagi ini tampil manis dan anggun. Ia memadukan blouse bahan silk warna cream berpotongan longgar dengan cullotte pants warna camel yang jatuh sempurna. Baju longgar itu sengaja ia pilih untuk menyamarkan perutnya yang mulai sedikit membuncit di awal kehamilan. Rambut hitamnya dibiarkan terurai dengan riasan tipis nan segar di wajahnya.Meski sudah mengenakan setelan pakaian kerja yang serba longgar dan tertutup, di mata Raymond, Jovita tetap saja terlihat amat cantik dan memesona. Apalagi bagian dadanya yang semakin tampak berisi, membuat Raymond takut para pria akan mengalihkan pandangan ke sana.Bahkan dalam hati, terbit pemik
“Waktu magang dulu, Jojo itu luar biasa banget,” puji Aris penuh semangat. Senyumnya makin lebar, matanya berbinar meluapkan kekaguman tanpa menyadari rahang sang bos yang kian mengeras.“Dia cepat banget paham ide rancangan, efisien, dan eksekusi visual arsitekturnya rapi sekali. Belum lagi kepribadiannya yang ramah dan selalu bisa mencairkan suasana tim. Menurut saya, ini langkah yang sangat tepat kalau perusahaan kembali merekrut Jojo yang berbakat itu!”Membayangkan Aris nantinya bekerja di ruangan yang sama, berdiskusi di atas meja yang sama, bahkan duduk di kubikel berdampingan dengan Jovita, dada Raymond seketika bergemuruh hebat dipenuhi gelombang cemburu. Pandangan mata Raymond berkilat tajam menatap arsitek mudanya itu.Tak ingin membuat salah satu arsitek muda andalannya terus melayang dalam harapan palsu, Raymond menyandarkan punggungnya lalu bersuara dingin.“Nanti Jojo akan berada di divisi yang sama seperti saat dia magang dulu.”Senyum Aris makin mengembang lebar. Hara
“Dasar idiot!”Felisa berteriak murka melalui sambungan telepon, menyebut Viola idiot tanpa ampun.Viola memejamkan mata, menggenggam erat ponselnya hingga jarinya memutih. Semarah-marahnya Raymond selama ini, papanya tidak pernah sekalipun melontarkan kata-kata sekasar itu padanya."Mama kan sudah bilang!" lanjut Felisa dengan suara melengking di seberang sana. "Harusnya kamu itu baik-baikin Jojo! Malah diajak berantem! Otakmu di mana?”Viola hanya bisa menelan pahitnya kata demi kata yang terlontar dari bibir mamanya.“Papamu yang lagi kasmaran itu sudah pasti bakal membela Jojo habis-habisan, lah! Kamu sekarang itu sudah nggak ada artinya lagi di depan papamu... kecuali kamu pura-pura baik sama Jojo!"Viola mengembuskan napas kasar. "Iya, Ma," sahutnya pendek.Bukan karena ia menyetujui intrik ibunya, melainkan karena dadanya mulai merasa sangat tidak nyaman dan muak mendengar setiap doktrin yang keluar dari mulut Felisa."Ma, aku harus segera masuk kantor. Tadi Opa sudah marah-mar
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







