LOGIN“Setelah Papa menikah dengan Jojo, apakah pernah Papa melepas tanggung jawab padamu? Apakah Papa pernah mengabaikan kebutuhanmu?”Raymond mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan, menatap putrinya dengan pandangan yang menuntut kejujuran.Viola terdiam membeku. Gadis itu tidak mampu menjawab karena ia tahu persis jawabannya adalah ‘tidak’.Raymond melanjutkan dengan suara yang penuh ketegasan seorang ayah.“Justru selama ini kamu yang menjauh dari Papa. Kamu bersikap dingin, cuek, dan sering mengabaikan panggilan telepon atau pesan dari Papa. Papa bisa memahami kemarahan dan kekecewaanmu saat itu... tapi yang harus kamu tahu, Papa juga berhak untuk bahagia bersama orang yang Papa cintai.”Setelah mengatakan itu, Raymond meraih serbet di atas meja. Ia menyeka sisa makanan di sudut bibirnya, meskipun piringnya masih menyisakan separuh makanan yang belum sempat disentuhnya lagi, selera makannya sudah telanjur hilang.“Untuk masalah warisan, jangan pernah sekali-kali kamu membicarakan hal
Dengan air mata yang kian deras membasahi pipinya, Elvi memegang jemari Jovita yang terasa dingin.“Bunda tahu kau belum bisa sepenuhnya memaafkan Bunda... Bunda sadar betul kesalahan Bunda sangat besar karena telah meninggalkan kamu sendirian begitu lama.” Elvi menyeka air mata yang hampir memasuki mulutnya.“Kalau saja Bunda bisa memutar waktu atau mengganti semua tahun-tahun kebersamaan yang hilang itu dengan semua harta yang Bunda miliki saat ini... Bunda akan lakukan, Jo,” sambungnya dengan suara mengiba.Jovita bergeming di tempat duduknya. Penyesalan itu terdengar begitu tulus meluncur dari bibir ibunya, tapi bagi Jovita yang sudah terbiasa hidup keras sendirian, semua kalimat itu masih terasa seperti sebuah adegan drama yang dibuat-buat.Ada gejolak amarah yang mendesak ingin ia luapkan saat mengingat betapa dingin dan sepinya masa lalu yang harus ia lewati.Sekali lagi, pesan lembut Raymond berembus di pikirannya. Pelan-pelan, Jovita menurunkan pandangannya dan mengusap lembu
Di dalam mobil yang membelah jalanan kota, Dylan sesekali melirik melalui kaca spion tengah. Di kabin belakang, duduk dua perempuan yang sama-sama tengah mengandung. Tatapan matanya tertuju pada perut Jovita yang mulai membunbit.‘Andai itu anakku, aku pasti sangat bahagia,’ batin Dylan, tapi, ia cepat-cepat menepis perasaannya.Dylan tahu ia harus benar-benar mengikhlaskan segalanya. Cinta memang tak harus memiliki, dan melihat Jovita hidup bahagia bersama Raymond sudah cukup baginya. Meski patah d hatinya belum terobati sepenuhnya.Sementara di jok belakang, suasana terasa hening namun sarat emosi. Dengan gerakan ragu, Elvi mengulurkan tangan meraih dan menggenggam jemari Jovita. Bibir Elvi mengulas senyum tipis, tapi matanya tak bisa berbohong, ada ribuan penyesalan dan kata 'maaf' yang terasa begitu sulit untuk terucap dari bibirnya.Tak lama, mobil berhenti tepat di depan gedung Bloom & Botanical Post-Care. Dengan susah payah, Elvi berusaha keluar dari mobil karena perut besarnya
Raymond sengaja mengosongkan waktu di akhir pekan. Pagi itu, Jovita tampak bersiap-siap di kamar untuk pergi bersama Elvi, sementara Raymond berencana menemui Viola di rumahnya.Sebagai pasangan yang tengah membangun bahtera rumah tangga baru, mereka sadar betul bahwa untuk merangkai masa depan yang kokoh, ada simpul-simpul masa lalu yang harus diluruskan lebih dulu.Bagaimana pun juga, anak dan ibu kandung akan tetap menjadi bagian dalam hidup, hubungan darah yang tak akan pernah ada istilah bekasnya.“Nanti kalau urusan spanya sudah selesai, langsung kabari ya. Biar aku jemput,” kata Raymond seraya merapikan kerah kemeja kasualnya di depan cermin.Jovita mengangguk, menyisir rambutnya pelan sebelum berbalik menatap suaminya. “Om... jangan marahi Vio ya? Ajak ngomong baik-baik.”Raymond tersenyum tipis, merengkuh pinggang istrinya sejenak. “Siap, Sayang. Kamu juga jangan terlalu judes sama Bu Elvi. Takutnya beliau kaget terus malah langsung kontraksi pas lagi luluran.”Tawa renyah Jo
Dalam perjalanan menuju kantor Vastu Chandra, suasana terasa begitu santai diiringi alunan musik lembut dari pemutar audio. Raymond yang fokus menatap jalanan tiba-tiba memecah keheningan. “Untuk persiapan ke gala dinner minggu depan, kamu mau perawatan dulu nggak?” tanya Raymond santai. “Mungkin mau spa, creambath, atau luluran gitu?” Jovita menoleh, mengernyitkan dahi tipis. “Harus banget ya, Om?” Raymond menoleh sebentar, menatap lekat wajah polos istrinya yang tanpa riasan tebal. Dalam hati, Raymond mengakui bahwa hanya dengan dandan tipis dan alami seperti ini saja Jovita sudah terlihat sangat cantik di matanya. Tapi, situasinya tentu akan berbeda ketika nanti berada di gala dinner, acara formal yang mempertemukan mereka dengan deretan pengusaha kelas atas beserta pasangan-pasangan mereka yang tampil glamor. Raymond tidak ingin istri tampil kurang percaya diri. “Nggak harus, sih,” jawab Raymond jujur, kembali memfokuskan pandangan ke jalan raya. “Tapi mungkin kamu bakal meras
Suasana pagi di dapur apartemen Raymond dan Jovita terasa hangat dan penuh canda. Pasangan suami istri itu bekerja sama menyiapkan sarapan sederhana, nasi goreng telur mata sapi.Pekerjaan yang harusnya selesai dalam hitungan menit justru membengkak jadi lama karena Raymond tak henti-hentinya mengganggu Jovita, mulai dari mencuri kecupan di pipi hingga memeluk pinggang istrinya dari belakang saat sedang memotong sayuran.“Om, fokus! Ini potongannya jadi miring-miring tahu,” omel Jovita terkekeh sembari menyenggol perut Raymond dengan sikunya.Sembari mengaduk nasi di penggorengan, Jovita tiba-tiba teringat sesuatu. “Eh, Om... kalau bayi kembar kita nanti cewek dua-duanya, gimana kalau dikasih nama Mezza dan Ninna?”Mendengar nama itu, pikiran Raymond langsung melayang pada draf alternatif desain mezzanine yang baru saja dibuat Jovita untuk proyek rumah sederhana di lahan sempit.Raymond menyahut polos, “Lah, kalau dipanggil barengan... kadi Mezanin dong?”Dahi Raymond seketika mengeru
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka







