LOGINDylan terdiam cukup lama, menunduk, menatap cangkir kopi di hadapannya yang mulai memutih akibat kepulan uap yang menghilang.Pernyataan terakhir Raymond memukul kesadarannya cukup telak. Sebagai pria yang tumbuh di lingkungan keluarga elite, Dylan tahu betul betapa kejamnya dunia mereka jika sebuah rahasia atau kelemahan terekspos sebelum waktunya.Dengan segala yang dimilikinya, Raymond akan tetap bertahan oleh badai skandal. Tapi tidak akan sama dengan Jovita. Posisinya sangat lemah, bisa saja dia menjadi bahan perundungan yang menyudutkannya.Sebutan-sebutan yang merendahkan bisa saja langsung melekat pada diri Jovita. Pelakor, perempuan simpanan, atau lebih kasar lagi, pelacur.Dylan menghembuskan napas panjang, mencoba menekan seluruh ego dan gelombang kekecewaan yang masih bergolak di dadanya.“Saya paham...” ujar Dylan pelan, nadanya berubah jauh lebih tenang walau garis wajahnya masih menyiarkan luka yang tak sanggup ia sembunyikan.Pemuda itu mendongak, menatap lurus mata Ra
Raymond melangkahkan kaki memasuki area private sebuah restoran mewah yang suasananya sangat tenang.Sebagai seorang pria matang yang kenyang pengalaman hidup dan dunia bisnis, seharusnya tidak ada keraguan sedikit pun untuk menemui pria muda yang usianya jauh di bawahnya.Tapi, membayangkan betapa dekat anak muda ini dengan istrinya selama ini, rasa cemburu yang membakar dada menguapkan seluruh rasionalitasnya. Panggilan telepon dan ajakan pertemuan dari Dylan terasa seperti tantangan duel.Raymond mengontrol raut wajahnya, tetap bersikap tenang dan berwibawa saat mendekati meja. Di sana, Dylan sudah berdiri menunggu.“Selamat siang, Om,” sapa Dylan berusaha formal.“Siang, Dylan,” balas Raymond singkat.Mereka saling berjabat tangan. Genggaman erat dan tatapan mata yang saling mengunci mengirimkan gelombang ketegangan yang nyata di antara dua pria dewasa.Meski terlihat tenang, sebenarnya jantung Raymond bergemuruh hebat.Dylan pun sama. Ada gejolak amarah dan rasa tidak terima yang
Seusai konfrontasi panas dengan Felisa, Jimmy melangkahkan kaki kembali ke kantornya. Pertemuan dengan Felisa benar-benar menghancurkan mood kerjanya hari ini. Jika bisa, rasanya ingin pulang saja dan menenangkan diri bersama istri tercinta.Jimmy melangkah cepat menuju ruangannya. tapi langkah Jimmy terhenti seketika.Di balik meja pimpinan, Raymond sudah duduk dengan santai sembari membolak-balik beberapa berkas.“Oh... jadi begini kerjamu saat aku sedang tidak ada di kantor?” sindir Raymond tanpa mendongak, menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.Jimmy tidak langsung menjawab sindiran itu. Ia berjalan mendekat, menyilangkan dada dan menatap tajam ke arah sahabatnya dari atas kepala.“Kau pulang cepat ini karena urusan proyek di Singapura benar-benar sudah selesai... atau karena memang sudah kangen istri?”Raymond menghentikan gerakan tangannya, lalu mendongak. Sebuah senyum jahil yang amat jarang terlihat kini mengembang bebas di wajah tegasnya.“Dua-duanya,” jawab Raymond s
“Bantu aku, Jim. Bantu aku bicara sama Ray.”Felisa terpaksa merendahkan harga diri, memohon sambil menangkupkan kedua tangannya. Bahkan tak peduli jika saat ini berada di tempat umum, di sebuah kafe kecil biasa di dekat gedung Vastu Chandra.“Aku mohon, Jim, ini demi Vio. Dia sangat menderita karena perceraian kami.”Jimmy meletakkan cangkir kopinya perlahan ke atas tatakan porselen. Ia menatap Felisa dingin, lalu menggeleng tegas tanpa ragu.“Aku tidak mau ikut campur dalam masalah kalian, Ray punya hak penuh untuk menentukan masa depannya sendiri.”“Lalu bagaimana dengan Vio?” Nama Viola selalu jadi senjata andalan bagi Felisa.“Kamu mau biarkan Vio menderita. Keinginannya tidak muluk-muluk, dia hanya ingin keluarga yang utuh, papa mamanya rujuk?”Jimmy bukannya tersentuh, malah menyunggingkan senyum miris yang penuh akan cemoohan. Matanya menatap tajam ke arah Felisa, lalu pertanyaan sinis meluncur mulus dari bibirnya.“Kamu tanya bagaimana dengan Vio?” tanya Jimmy keras dan kasar
Bi Siti menatap buku nikah yang tergeletak di atas meja, lalu perlahan mendongak menatap Raymond dan Jovita bergantian. Dahinya berkerut dalam, sarat akan rasa bingung dan ketidakpercayaan.“Kami menikah... tepat di malam sebelum aku membawa Jovita ke tempat ini.”Memory malam saat pertama Raymond membawa Jovita ke Maximilian Residence kembali berputar jelas di kepala Bi Siti.Malam itu, Jovita datang dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, pakaiannya berantakan, sudut bibirnya memar, wajahnya penuh lebam, dan matanya sembab karena tak berhenti menangis. Sama sekali bukan gambaran seorang pengantin wanita yang baru saja melangsungkan pernikahan bahagia.Seingat Bi Siti, malam itu Raymond bercerita bahwa Jovita adalah korban penganiayaan berat oleh ayahnya sendiri hingga tidak memiliki tempat tinggal dan arah tujuan.“Malam-malam nikah?” Bi Siti menatap kembali menatap buku nikah, tapi dia tidak percaya begitu saja.Raymond mengangguk pelan, tak membantah kecurigaan itu sedikit pun.
Bi Siti terduduk lemas di tepi ranjang kamarnya. Tatapannya kosong mengarah ke lantai, sementara dadanya terasa sesak oleh himpitan rasa kecewa yang luar biasa berat.Air mata menetes membasahi pipinya yang mulai dihiasi keriput. Ia merasa seluruh wejangan dan peringatan yang ia sampaikan selama ini diabaikan begitu saja, bahkan seperti dianggap lelucon oleh Jovita.“Jojo...” Suara Bi Siti gemetar menahan tangis yang pecah.“Bibi sudah menganggap kamu seperti anak Bibi sendiri, tapi kenapa kamu malah berbuat seperti ini?”Bi Siti mengusap air matanya kasar, dadanya kian bergemuruh hebat.“Tuan Raymond juga... Bibi begitu menghormati Tuan. Tuan orang berpendidikan, orang terpandang... Tapi tega-teganya kalian berbuat tidak senonoh seperti itu?” Perempuan parih baya itu merasa kepercayaannya diinjak-injak begitu tega.“Duh Gusti... Selama ini Bibi malah ikut menyembunyikan mereka tanpa sadar. Bibi tidak tahu mereka ini statusnya apa, cuma kumpul kebo atau bagaimana... Kenapa Bibi harus
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







