เข้าสู่ระบบTangan Lestari bergetar saat menggenggam tangan putrinya. “Kamu benar. Mami pengecut. Tapi sekarang nggak lagi. Mami nggak peduli apa yang terjadi pada Papi-mu atau perusahaan itu. Mami di pihak kamu sekarang.”
Senyum tipis kembali muncul di wajah Stella. Ia menggenggam tangan ibunya lebih erat. “Kalau begitu, siap-siap saja. Papi nggak akan diam?”
Alis Evalia berkerut.Aleksander melanjutkan, “Tapi itu belum cukup untuk menarik kesimpulan. Aku harus menyelidikinya lebih jauh.”Ekspresi Evalia menegang samar ketika menyadari sesuatu...Bertahun-tahun telah berlalu. Bukti mungkin sudah menghilang. Ingatan orang-orang mungkin telah memudar.Namun Aleksander tetap berbicara dengan keyakinan yang sama seperti biasanya, seperti seseorang yang percaya bahwa pada akhirnya dia akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya.Meski begitu, keraguan masih terlihat dalam sorot matanya. Evalia masih khawatir Aleksander tidak akan mampu mengungkap kebenaran.Aleksander segera menyadarinya. “Tolong tersenyum untukku, ya?&rdq
Evalia menelusuri tatapan Aleksander. Mencari kebohongan. Mencari keraguan. Mencari tanda sekecil apa pun yang bisa mengkhianati ketidakpastian.Namun, mata Aleksander tetap sama. Tenang. Serius. Tidak tergoyahkan."Aku bertanya tentang malam itu," lanjut Aleksander dengan suara rendah, "karena ada sesuatu yang nggak masuk akal." Ibu jarinya menyapu lembut pipi Evalia. Suaranya semakin dalam, membawa kembali ingatan yang bahkan terasa mengganggu baginya.Jantung Evalia berdetak kencang. "Apa maksudmu?" tanyanya bingung."Tadi kau mengatakan tubuhmu terasa aneh," ujar Aleksander pelan.Suasana di antara mereka perlahan berubah, seolah ruangan itu sendiri ikut menahan napas untuk mendengarkan.
Bibir Evalia melengkung ke atas tanpa sadar. "Itu terdengar seperti cemburu," godanya lembut.Evalia mengenal Aleksander terlalu baik. Pria itu tidak pernah benar-benar mempercayai Jonathan sejak hari dia mengetahui betapa dekatnya Jonathan dengan Evalia selama masa kerjanya di Wijaya Group. Aleksander mungkin akan menyangkalnya tanpa henti, tetapi naluri Evalia mengatakan hal yang berbeda."Kedengarannya memang begitu," aku Aleksander dengan helaan napas pelan.Di balik ketegangan yang masih tersisa, sebersit rasa geli muncul di antara mereka, melembutkan suasana di ruangan itu.Kemudian Eva melanjutkan, suaranya perlahan tenggelam dalam kenangan. "Malam itu, aku masih mengingat ballroom tersebut," katanya pelan. "Kerumunan orang, musik, pidato yang nggak ada habi
Eva berdiri dekat jendela ruang tamu, matanya mengikuti pemandangan di hadapannya dengan kegembiraan yang tak mampu ia sembunyikan.Marni, yang sejak pagi masih mampu mempertahankan ketenangan dirinya dengan luar biasa, kini tampak sepenuhnya berubah. Saat melihat Evan melangkah melewati pintu, bertahun-tahun pengendalian diri yang ia bangun runtuh seketika, digantikan oleh emosi murni yang selama ini ia pendam.Meskipun Evan tidak memiliki ingatan apa pun tentang ibunya, sesuatu yang tak terucapkan telah terjadi di antara mereka. Sebuah pengenalan tanpa kenangan. Sebuah ikatan tanpa sejarah.Dada Eva terasa sesak ketika melihat Marni menggenggam tangan Evan dengan lembut. Jemarinya bergetar meskipun senyum di wajahnya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.Ekspresi Ev
Wanita tidak tahu malu itu. Pelukan itu. Terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba. Terlalu disengaja.Mata Aleksander sedikit melebar. "Sial! Kau benar-benar keterlaluan…" Kemarahannya meledak dalam pikirannya. "Apa-apaan, Hana? Apa kau sedang mencari kematian? Beraninya kau menjebakku dalam situasi seperti ini?"Dari luar, Aleksander tampak cukup tenang. Namun kedutan kecil di wajahnya mengkhianati kepanikan yang sebenarnya berkecamuk di dalam dirinya.Evalia menyadarinya. Tentu saja dia menyadarinya. "...Aleksander," ucapnya perlahan, hiburan tampak menari di matanya, "wajahmu sedang menunjukkan sesuatu yang sangat menghibur saat ini."Aleksander mengembuskan napas tajam sambil mengusap rambutnya. "Dia yang memasukkannya."E
Evalia membaca nama itu, pandangannya terpaku pada nomor telepon yang tertulis di bawahnya.Dia menatap kertas tersebut, pikirannya langsung dipenuhi berbagai pertanyaan yang bergerak liar. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tanpa diundang, bertabrakan dengan ketenangan yang biasanya selalu dia miliki.‘Siapa wanita ini?’‘Mengapa ini ada di saku Aleksander?’‘Apakah dia rekan bisnisnya?’‘Nggak. Nggak... itu nggak masuk akal.’Evalia menggeleng pelan, mencoba menyingkirkan pikiran tersebut. Namun, usahanya gagal. Pikiran-pikiran itu kembali memenuhi kepalanya.‘Jika wanita itu berhubungan dengan bisnis, dia pasti akan memberikan kartu
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud







