Tawanan Sang Pewaris

Tawanan Sang Pewaris

last updateLast Updated : 2026-08-28
By:  SarahAksaraOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
26views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Hidup Elara Maheswari, seorang guru TK yang lembut dan penuh kehangatan, jungkir balik seketika saat ia harus menerima misi berbahaya untuk menjadi partner palsu Arvan Darya Pratama, pewaris tunggal keluarga mafia paling ditakuti. Bukan tanpa alasan Elara nekat mengambil risiko ini. Bayaran fantastis dari misi tersebut adalah satu-satunya harapan untuk membiayai operasi neneknya yang sekarat. Namun, begitu misi selesai dan Elara bersiap kembali ke dunianya yang tenang, Arvan menolak melepaskannya. Sang pewaris mafia yang dingin itu telah terlanjur candu pada kehangatan Elara dan memilih 'mengurungnya' di sangkar emas. Di tengah usahanya untuk kabur, Elara dihadapkan pada kenyataan pahit, hatinya sendiri justru telah berkhianat dan jatuh pada sang penculik.

View More

Chapter 1

Telepon Asing

“Dua ratus juta… aku harus nyari dimana?” Elara menendang pelan batu-batu kecil yang ada di depannya.

“Gajiku sebagai honorer TK aja pas-pasan. Buat makan aja masih harus ngitung-ngitung banget.” Elara menundukkan kepalanya sambil memijat pelipisnya. Rasanya kepalanya sangat berat memikirkan biaya rumah sakit untuk neneknya.

Di hadapannya, halaman TK Sentosa sudah mulai sepi. Sebagian besar anak murid sudah dijemput orang tua masing-masing. Hanya sisa tiga anak yang masih menunggu dijemput.

Elara harus memperhatikan mereka, tetapi pikirannya terus mengganggunya. Pikirannya sudah penuh dengan angka besar itu. Dua ratus juta rupiah.

Jumlah uang yang sama sekali belum pernah ia lihat, bahkan bayangkan sebanyak apa. Bagaimanapun ia hitung dan pikirkan, uang itu terasa sangat jauh untuk dikumpulkan dengan profesinya sebagai guru honorer TK.

“Mana tabunganku sudah benar-benar menipis… bekas beli obat dan keperluan lainnya.” Elara menggigit bibir bawahnya.

“Kalau saja aku punya kerjaan sampingan yang pas…”

“Miss Elara!” Suara seorang perempuan memanggilnya.

Dia teman ngajar Elara di TK itu. Wanita itu berjalan mendekati Elara sambil membawa beberapa lembar kertas. Wajahnya terlihat seperti ada kondisi rumit, tapi entah kenapa ada kesan dirinya antusias.

“Miss Rania. Ada apa?” Elara mencoba tersenyum.

“Untung aja, ketemu. Masih nunggu anak-anak ya?” Rania melihat ke arah tiga anak itu.

“Iya, Miss.”

“Ooh… Eh, ini, Miss,” ucapnya sambil memberikan lembaran kertas yang dibawanya.

“Loh, apa ini, Miss?”

“Katanya itu surat dari kepala sekolah. Buka aja,” jawab Rania.

Tanpa menjawab, Elara menerima dan membaca surat itu. Itu adalah surat pemberitahuan cuti paksa.

Elara mengerutkan keningnya bingung, “Cuti?”

Rania menahan senyumnya, “Iya. Tepat seperti judul yang ada di kertas itu, Miss.”

Elara mendongakkan kepalanya menatap Rania meminta penjelasan. “Miss… Apa maksudnya?”

Rania mengangkat bahunya, “Entahlah Miss. Katanya kamu kebagian cuti mengajar selama satu bulan?”

“Ha? Satu bulan?”

“Ya… aku denger-denger, yayasan lagi ada penyesuaian tenaga pengajar.”

Mendengar itu Elara mulai lemas. Ia membaca ulang kertas-kertas yang masih dipegangnya itu. Tangannya mulai gemetaran. Pelupuk matanya mulai terasa panas.

“Tapi… kenapa aku?”

Elara meremas surat itu, “Aku harus minta kejelasan dari pihak Kepala Sekolah.”

“Kalau begitu, saya permisi.”

Rania pergi meninggalkan Elara sendirian. Tak lama setelah Rania pergi, tiba-tiba terdengar suara salah satu anak yang menangis dan berteriak. Elara segera melihat sumber suara itu. Terlihat seorang anak sedang berdiri di dekat gerbang TK.

Anak itu mengenakan seragam TK Sentosa yang sedikit kebesaran. Dengan wajah sembab karena menangis. Sebuah tas ransel kecil yang digendong di punggungnya.

Anak itu melihat Elara, “Miss…” Tatapannya memelas seolah sedang meminta pertolongan.

Elara yang melihat itu langsung memasukkan surat itu dan bergegas berlari ke arah anak kecil itu. “Ada apa sayang?”

Anak itu menggeleng dan menunjuk ke arah gerbang, “Mama…”

“Kenapa dengan Mama?” Elara melihat ke arah anak itu menunjuk. Seorang perempuan terlihat berdiri beberapa meter di dekat gerbang. Perempuan itu terlihat sangat gelisah memperhatikan TK.

“Mama mau bawa aku pergi, Miss…” Isak tangisnya terdengar kembali.

“Sst… Cup cup, Sayang… Yuk ceritakan dengan baik, yang tenang, apa maksudnya, Nak?”

Anak itu belum menjawabnya, Ia malah membenamkan wajahnya di pelukan Elara. Elara mengelus rambutnya bingung dengan apa yang harus dilakukannya.

“Tolong… Jangan kasih aku ke Mama, Miss…”

Elara membeku. Ia langsung memeluk anak itu dengan erat. “Sst… Tenang, Sayangku, Miss di sini. Miss janji gak akan kasih kamu ke mamamu.”

Namun perempuan itu mendekati mereka di depan gerbang yang masih tertutup. “Kemarikan anakku. Dia anakku!”

Elara menarik lengan kecil anak itu ke belakang tubuhnya. “Bu, maaf ada apa ya? Kalau benar Tristan anak Ibu, kenapa dia terlihat ketakutan begini?”

Perempuan itu menatap tajam Elara, “Itu urusan keluarga, kamu orang luar tidak perlu tahu!” Ia pun maju untuk menarik tangan anak itu. Anak itu menangis menjadi-jadi. Elara spontan memeluknya erat, Ia menggendongnya.

“Bu, tolong jangan seperti itu, nanti anaknya sakit. Jangan dipaksa dulu, Bu.”

“Dia anak saya!”

“Saya tidak bilang kalau anak ini bukan anak Ibu. Saya hanya ingin Ibu tidak bertindak kasar.”

“Ya, kalau begitu kembalikan anakku.”

“Tapi, Bu…” Elara melirik anak yang sedang digendongnya, menggeleng memohon untuk tidak diberikan pada wanita itu.

“Kalau benar Ibu ini ibunya, kenapa dia sampai ketakutan begini?”

Wanita itu masih ingin meraih anak kecil itu, tetapi Elara terus menghindar. “Bu, saya memang tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga Ibu, tapi yang saya tahu, anak ini sedang ketakutan.”

“Kembalikan!”

“Ibu! Kalau terus seperti ini, saya akan berteriak biar semua orang datang!” Mendengar ancaman itu, wanita itu terlihat panik. Tanpa menunggu lama, dia pergi dengan kesal sambil melirik kanan kirinya gelisah.

Melihat wanita itu pergi, Elara lunglai terjatuh karena lututnya lemas. “Sst, Sayang… Dia sudah pergi, tenang, ya?”

Tiba-tiba, ada suara berat yang memanggilnya, “Siapa kamu? Kau apakan anakku?”

Elara menoleh ke sosok yang berdiri di depan gerbang TK. Mendengar suara itu, anak itu pun meminta turun dan berlari riang ke arahnya. Elara menatap pria itu dengan sopan, “Pak…”

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa anakku menangis?” Elara merinding menatap tatapan matanya yang tajam itu.

“Bukan aku, tadi…” Elara mencari keberadaan wanita tadi, tetapi sosoknya sudah pergi. “Em, tadi…”

Anak itu menarik tangan ayahnya, “Papa, jangan galak! Dia guruku. Dia tadi bantu aku lawan Ibu. Dia baikkan, Papa?” Pria itu menatap lembut anak kecil itu, lalu beralih menatap Elara.

Elara pun tersenyum ketika tahu tidak perlu repot menjelaskannya kembali.

“Kalau benar begitu, terima kasih.” Tidak disangka Elara, pria berwajah dingin itu membungkuk sedikit tubuhnya untuk berterima kasih.

“Ah, tidak perlu. Memang sudah tugas saya sebagai guru untuk menjaga anak muridnya tetap aman, Pak.”

Pria itu menatapnya agak lama, lalu mengangguk, dan pergi. Elara membalas anggukan itu dan melambai pada anak itu.

Setelah mereka pergi, Elara pun merasa sangat lelah. “Akhirnya sudah selesai. Waktunya aku menghadap kepala sekolah.”

***

“Ya, apalagi yang perlu saya jelaskan, Miss? Semua sudah tertera dengan jelas di sana.” Kepala sekolah itu menatapnya sinis.

“Oh, aku lupa. Ini uang selama sebulan terakhir. Terima kasih atas kinerja kamu selama ini. Kalau sudah kembali stabil, mungkin kami akan memanggilmu kembali.”

Elara menerimanya tanpa perlawanan lagi. Sudah habis tenaganya untuk berdebat. Pintu ruangan kepala sekolah pun Ia tutup.

“Sudahlah. Sudah baik aku masih diberi gaji terakhir. Aku harus segera mencari pekerjaan baru.”

Saat hendak pulang, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada panggilan dari nomor tidak dikenal.

“Halo?”

“Siang. Benar dengan Miss Elara dari TK Sentosa?”

Alis Elara berkerut, “Ya, betul. Ini siapa, ya?”

“Saya David dari Pratama Group.”

“Hah?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status