Masuk“Jadi kamu menyadarinya…”
“Tentu saja,” jawab Evalia lembut sambil tersenyum. “Kamu pikir aku nggak akan sadar? Kamu memang sulit dibaca bagi banyak orang, Alex. Tapi nggak untukku. Sekali melihatmu, aku langsung tahu suasana hatimu berubah setelah bertemu dia.”
Aleksander mengangkat kepalanya lagi, ada gurat hiburan di balik ma
Sepatu Aleksander nyaris tidak menyentuh lantai saat dia berlari menuju garasi. Napasnya terasa seperti asam yang membakar paru-parunya.Dari sudut matanya, Jono berlari menghampirinya dengan wajah penuh kecemasan. "Boss, Anda mau keluar?""Ya." Aleksander menyambar kunci mobil dari gantungannya. Dia bahkan tidak peduli mengenakan mantel ataupun sepatu yang sesuai dengan cuaca. Semua itu tidak penting. Dia langsung masuk ke kursi pengemudi, lalu menyalakan mesin yang mengaum keras. "Tolong jaga putraku. Ada keadaan darurat... Aku akan menghubungimu nanti."Jono mengangguk. "Baik, Boss."Aleksander tidak memberi dirinya kesempatan untuk berpikir. Karena berpikir berarti membayangkan kemungkinan terburuk.Suara Evalia yang peca
Mobil itu kembali berderit. Pohon yang menopang mereka mengerang. Suara kayu yang mulai patah bergema seperti hitungan mundur menuju akhir."Bu Evalia," kata Reza tegas, "ini kesempatan Anda. Kalau kita nggak bergerak sekarang, mobil ini akan jatuh. Dan kalau itu terjadi, kita akan menghantam bebatuan di bawah. Nggak akan ada kesempatan kedua."Dada Evalia terasa sesak. Bayangan demi bayangan melintas di benaknya: senyum Rafael, pelukan Aleksander, keluarga yang baru saja ia temukan, dan detak jantung kecil yang tumbuh di dalam rahimnya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, mengingat setiap latihan bela diri yang telah dipelajarinya sejak kecil.Tenangkan napas. Lindungi bagian inti tubuh. Bergerak dengan tujuan.Evalia menopang tubuhnya dengan kedua
Evalia mendengar embusan napas lega dari seberang, hampir terdengar seperti erangan pelan."Bagaimana pertemuannya? Ada yang mengganggumu?"Evalia tertawa kecil sambil menyandarkan kepala ke kursi. "Tolonglah. Nggak ada yang berani. Mereka menyukaiku sekali.""Wah. Sekarang aku malah khawatir. Jangan-jangan mereka akan merebut istriku.""Tenang saja," goda Evalia. "Biaya merawatku terlalu mahal. Mereka pasti cepat menyerah."Aleksander tertawa pelan. Evalia dapat membayangkan senyumnya, lengkungan bibirnya, dan kehangatan yang selalu terpancar dari matanya. "Jadi, kapan kamu sampai? Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin memeluk…"Kalimat itu tidak pernah selesai
Genggaman Aleksander pada ponselnya mengencang saat mendengar nama itu.Martadinata.Setelah apa yang dilakukan Natasha Martadinata dengan membocorkan urusan pribadi keluarganya, Aleksander ingin menghancurkan kerajaan mereka dengan tangannya sendiri. Namun, belum sekarang. Saat ini, ia masih harus menghadapi keluarga Morgan, keluarga Evalia.Aleksander memaksa suaranya tetap tenang. "Masalah seperti apa?""Beberapa orang membuat keributan di Star Casino and Clubs milik kita di Semarang. Mereka merusak mesin slot, memfitnah staf, bahkan salah satu dari mereka memukul tamu VIP tanpa alasan. Setelah itu, beberapa anggota VIP langsung membatalkan keanggotaan mereka." Evan menarik napas panjang. "Mereka juga mulai menjalankan kampanye fitnah melalui media. Surya sedang menan
Evalia ragu. Namun pada akhirnya, rasa ingin tahunya mengalahkan keraguan itu. "Buyut," panggilnya pelan, lalu berhenti.Emma menoleh kepadanya. "Ya, Sayang?"Evalia menelan ludah. Keberaniannya terkumpul sedikit demi sedikit. "Boleh aku bertanya sesuatu?"Emma mengangguk lembut. "Tentu."Evalia menunduk, jemarinya mengepal hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan. "Maaf kalau pertanyaan ini nggak pantas. Tapi aku penasaran... kenapa nenekku, Gisela, meninggalkan keluarga?"Perubahan di wajah Emma terjadi seketika. Sorot cerah di matanya memudar. Bibirnya bergetar, bukan karena bahagia, melainkan karena beban masa lalu yang kembali menyeruak seperti bayangan.Emma memalingkan pa
Emma menoleh kepada Evalia dengan senyum lembut yang masih dipenuhi haru. "Lalu sekarang? Kau datang ke sini bukan hanya sebagai Evalia kami... tetapi juga sebagai seseorang yang sudah memiliki keluarganya sendiri, bukan? Ceritakan kepada kami tentang keluargamu."Wajah Evalia tampak sedikit lebih cerah. Ia meluruskan bahunya. "Ya. Aku sudah menikah. Nama suamiku Aleksander. Aleksander Batubara."Alis Niko langsung terangkat. "Batubara? Maksudmu keluarga Adrian Batubara?""Benar." Pipi Evalia memerah tipis. "Aku menikah dengan salah satu cucunya... Dan... kami memiliki seorang putra. Namanya Rafael. Sekarang usianya empat tahun."Emma terengah pelan, suaranya dipenuhi kegembiraan. "Cicit dari cicit kami?"Evalia mengangguk sa
Tangan Lestari bergetar saat menggenggam tangan putrinya. “Kamu benar. Mami pengecut. Tapi sekarang nggak lagi. Mami nggak peduli apa yang terjadi pada Papi-mu atau perusahaan itu. Mami di pihak kamu sekarang.”
Evalia berdiri terpaku, jantungnya berdegup tak karuan.‘Kenapa rasanya seperti baru lari maraton?’ pikirnya kalut.
Ucapan itu langsung membuat Evalia sadar dari lamunannya. “Nggak!” jawabnya cepat. Ia buru-buru mengambil tas, ponsel, dan sisa-sisa kewarasannya. Dengan jari gemetar, ia mengunci mobil dan mengikuti langkah Aleksander menuju lift.
Masa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang







