LOGIN“Jadi kamu menyadarinya…”
“Tentu saja,” jawab Evalia lembut sambil tersenyum. “Kamu pikir aku nggak akan sadar? Kamu memang sulit dibaca bagi banyak orang, Alex. Tapi nggak untukku. Sekali melihatmu, aku langsung tahu suasana hatimu berubah setelah bertemu dia.”
Aleksander mengangkat kepalanya lagi, ada gurat hiburan di balik ma
Ruangan mendadak sunyi selama beberapa detik.Evalia bisa mendengar isak tangis Estella yang tertahan. Ia menyandarkan punggung ke dinding, memejamkan mata sejenak. Denyut nadinya berdentum keras di telinga.Pria di dalam ruangan itu bukan lagi sosok ayah yang ia kenal dulu. Waluyo Wijaya telah berubah menjadi orang asing. Bayangan buruk dari seorang ayah seharusnya. Setiap kata kasar yang keluar dari mulut pria itu membuat rasa muak Evalia semakin dalam.Evalia tahu ayahnya telah berubah, tapi mendengar Waluyo berbicara seperti itu kepada keluarga sendiri membuat Evalia ingin masuk dan menghajarnya sampai pria itu sadar siapa dirinya sebenarnya.Dadanya sesak memikirkan Estella, Lestari, bahkan dirinya sendiri.Sudah c
Dulu, Waluyo Wijaya adalah sosok yang ia kagumi. Kini pria itu berubah menjadi seseorang yang bahkan nyaris tidak ia kenali lagi. Kesombongan dan bisikan manipulatif Laras perlahan menghancurkan sisi manusiawinya.Rahang Evalia mengeras. Semakin dipikirkan, semakin jelas bahwa ia tidak bisa mengabaikan panggilan itu.Ini bukan lagi tentang dirinya. Ini tentang melindungi orang-orang yang ia sayangi.Evalia bahkan bisa membayangkan suara Aleksander di kepalanya, menyuruhnya berhati-hati dan berpikir sebelum bertindak. Namun setiap kali menyangkut ayahnya, logika selalu kalah oleh luka lama, rasa kecewa, dan pengkhianatan bertahun-tahun.Evalia menarik napas panjang perlahan, berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia tidak boleh kehilangan kendali sekarang.
Senin pagi datang, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Seperti rutinitas yang selalu mereka lakukan, Evalia mengantar Aleksander sampai ke mobil. Pandangannya tak lepas dari pria itu yang tampil rapi dengan setelan abu-abu gelap mahal, terlihat tampan tanpa perlu berusaha.Aleksander menoleh sambil tersenyum santai. “Hari ini jadwalmu apa?”“Hmm… mungkin aku keluar sebentar. Ada beberapa barang yang mau kubeli.”“Keluar?” Nada suara Aleksander terdengar lebih geli daripada khawatir. “Belanja?”Evalia mengangguk santai. “Iya. jangan terlihat terlalu kaget begitu. Aku masih manusia normal yang suka belanja.”Aleksander terkekeh pelan. “Aku nggak
Evalia menghembuskan napas panjang penuh lelah sebelum menjawab. “Waluyo Wijaya,” katanya lirih. “Dia menelepon… dan melampiaskan kemarahannya ke aku.” Suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha terdengar biasa saja. Bayangan percakapan kasar itu masih terasa menusuk dadanya.Beberapa detik berlalu dalam diam.Lalu suara Aleksander berubah dingin dan tajam. “Dia apa?”Evalia tidak langsung menjawab. Ia bisa membayangkan ekspresi Aleksander saat marah. Rahang mengeras, tatapan mata menyipit tajam. Kemarahan Aleksander selalu terasa lebih menakutkan justru karena pria itu jarang meninggikan suara.“Dia nggak punya hak,” gumam Aleksander geram. “Kamu bukan seseorang yang bisa dia marahi seenaknya. Hak itu sudah h
Evalia mengambil ponselnya sambil lalu, menggulir notifikasi tanpa minat besar. Namun begitu melihat berita yang sedang trending, perutnya langsung terasa mulas. Kali ini bukan soal dirinya dan Aleksander, melainkan orang lain.Jarinya berhenti tepat di sebuah artikel yang muncul di hampir semua portal gosip dan hiburan online.[Supermodel & Bintang Film Naik Daun Alya Mahesa Ketahuan Menjalin Hubungan Rahasia dengan Pewaris Bisnis Mahendra Batubara!]Evalia berkedip, lalu duduk lebih tegak sebelum membuka artikelnya.Foto-foto di dalamnya benar-benar sensasional. Mahendra dan Alya berjalan bergandengan tangan di pantai privat di Bali, berciuman di bawah matahari, hingga menikmati
Ponselnya beberapa kali bergetar, tapi Evalia mengabaikannya.Waktu berlalu tanpa terasa. Ia tak bisa menunda pekerjaan ini karena tenggat waktu dari kliennya semakin dekat.Matahari Jakarta sudah meninggi ketika ketukan lembut di pintu akhirnya memecah fokusnya.“Masuk,” ucap Evalia sambil memijat pelipis.Laura, asisten rumah tangga senior yang sudah lama bekerja di rumah itu, masuk dengan langkah tenang dan anggun. “Bu Batubara, sekarang sudah lewat jam makan siang,” katanya lembut. “Makan siang sudah siap, dan Tuan Muda sudah menunggu di ruang makan.”Evalia berkedip, lalu melirik jam di sudut layar laptopnya. “Ya ampun, aku sampai lupa waktu. Terima kasih, Laura. Tolong bilang pa
Dulu, Evalia sudah terbiasa menghadiri gala dinner, acara amal, dan pertemuan bisnis seperti ini saat masih aktif menjadi bagian penting dalam manajemen Wijaya Group. Kala itu, ia bisa berjalan melewati ruangan seperti ini dengan senyum sempurna, postur elegan, dan
Karena itu, Evalia menegakkan punggung, mengangkat dagu, lalu tersenyum dengan anggun.“Selamat malam…” Suaranya terdengar tenang dan stabil, meski sebenarnya Evalia ingin menangis. “Terim
Pesan dari Jonathan muncul di layar.[Eva, maaf aku telat. Ada kecelakaan di depan, jadi kemungkinan kamu sampai duluan. Oh iya, aku lupa bilang… di sini ada red carpet.
“Oh ya?” Evalia terkekeh pelan. “Sudah punya lagu spesial sekarang?”Rafael mengangguk antusias. “Mami, direkam ya? Daddy juga harus lihat.”







