LOGINSaat mengandung Rafael dulu, Evalia menjalani semuanya sendiri. Tak ada yang memasakkan masakan untuknya. Tak ada yang mengingatkannya agar beristirahat. Tak ada yang menopangnya ketika ia pusing, lapar, atau kelelahan.
Kehamilan pertamanya adalah perjuangan sunyi yang harus Evalia lalui seorang diri, menyembunyikan semuanya dari dunia. Namun sekarang… Hidupnya terasa seperti seorang putri yang dimanjakan.![]()
Aleksander menggeleng, senyum geli tampak di matanya. "Sial. Istriku juga meninggalkanku demi dapur.""Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu di dapur."Aleksander bersandar di kursinya. "Kalimat itu nggak pernah terdengar menenangkan jika melibatkan wanita."Evan mengangguk dengan serius. "Terutama wanita yang mengendalikan makanan yang kita makan.""Itu sudah masuk tingkat kekuasaan yang sangat berbahaya."Keduanya kembali tertawa.Beberapa saat kemudian, Evan kembali berbicara. Kali ini nadanya lebih lembut. "Dia terus menatapku seperti aku bisa menghilang kapan saja."Ekspresi Aleksander sedikit melunak. "Itulah yang dilakuk
Alis Evalia berkerut.Aleksander melanjutkan, “Tapi itu belum cukup untuk menarik kesimpulan. Aku harus menyelidikinya lebih jauh.”Ekspresi Evalia menegang samar ketika menyadari sesuatu...Bertahun-tahun telah berlalu. Bukti mungkin sudah menghilang. Ingatan orang-orang mungkin telah memudar.Namun Aleksander tetap berbicara dengan keyakinan yang sama seperti biasanya, seperti seseorang yang percaya bahwa pada akhirnya dia akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya.Meski begitu, keraguan masih terlihat dalam sorot matanya. Evalia masih khawatir Aleksander tidak akan mampu mengungkap kebenaran.Aleksander segera menyadarinya. “Tolong tersenyum untukku, ya?&rdq
Evalia menelusuri tatapan Aleksander. Mencari kebohongan. Mencari keraguan. Mencari tanda sekecil apa pun yang bisa mengkhianati ketidakpastian.Namun, mata Aleksander tetap sama. Tenang. Serius. Tidak tergoyahkan."Aku bertanya tentang malam itu," lanjut Aleksander dengan suara rendah, "karena ada sesuatu yang nggak masuk akal." Ibu jarinya menyapu lembut pipi Evalia. Suaranya semakin dalam, membawa kembali ingatan yang bahkan terasa mengganggu baginya.Jantung Evalia berdetak kencang. "Apa maksudmu?" tanyanya bingung."Tadi kau mengatakan tubuhmu terasa aneh," ujar Aleksander pelan.Suasana di antara mereka perlahan berubah, seolah ruangan itu sendiri ikut menahan napas untuk mendengarkan.
Bibir Evalia melengkung ke atas tanpa sadar. "Itu terdengar seperti cemburu," godanya lembut.Evalia mengenal Aleksander terlalu baik. Pria itu tidak pernah benar-benar mempercayai Jonathan sejak hari dia mengetahui betapa dekatnya Jonathan dengan Evalia selama masa kerjanya di Wijaya Group. Aleksander mungkin akan menyangkalnya tanpa henti, tetapi naluri Evalia mengatakan hal yang berbeda."Kedengarannya memang begitu," aku Aleksander dengan helaan napas pelan.Di balik ketegangan yang masih tersisa, sebersit rasa geli muncul di antara mereka, melembutkan suasana di ruangan itu.Kemudian Eva melanjutkan, suaranya perlahan tenggelam dalam kenangan. "Malam itu, aku masih mengingat ballroom tersebut," katanya pelan. "Kerumunan orang, musik, pidato yang nggak ada habi
Eva berdiri dekat jendela ruang tamu, matanya mengikuti pemandangan di hadapannya dengan kegembiraan yang tak mampu ia sembunyikan.Marni, yang sejak pagi masih mampu mempertahankan ketenangan dirinya dengan luar biasa, kini tampak sepenuhnya berubah. Saat melihat Evan melangkah melewati pintu, bertahun-tahun pengendalian diri yang ia bangun runtuh seketika, digantikan oleh emosi murni yang selama ini ia pendam.Meskipun Evan tidak memiliki ingatan apa pun tentang ibunya, sesuatu yang tak terucapkan telah terjadi di antara mereka. Sebuah pengenalan tanpa kenangan. Sebuah ikatan tanpa sejarah.Dada Eva terasa sesak ketika melihat Marni menggenggam tangan Evan dengan lembut. Jemarinya bergetar meskipun senyum di wajahnya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.Ekspresi Ev
Wanita tidak tahu malu itu. Pelukan itu. Terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba. Terlalu disengaja.Mata Aleksander sedikit melebar. "Sial! Kau benar-benar keterlaluan…" Kemarahannya meledak dalam pikirannya. "Apa-apaan, Hana? Apa kau sedang mencari kematian? Beraninya kau menjebakku dalam situasi seperti ini?"Dari luar, Aleksander tampak cukup tenang. Namun kedutan kecil di wajahnya mengkhianati kepanikan yang sebenarnya berkecamuk di dalam dirinya.Evalia menyadarinya. Tentu saja dia menyadarinya. "...Aleksander," ucapnya perlahan, hiburan tampak menari di matanya, "wajahmu sedang menunjukkan sesuatu yang sangat menghibur saat ini."Aleksander mengembuskan napas tajam sambil mengusap rambutnya. "Dia yang memasukkannya."E
Evalia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya."Papi…tega banget. Gimana bisa Papi mempermalukan aku kayak gini di depan media?" Genggaman tangan Evalia di ponselnya semakin kuat. Baru lima hari sejak Eva memberitahu ayahnya keputusan tentang hidupnya sendiri. Dan hari ini, ia sud
“Papi!” seru Lestari, suaranya gemetar. “Dia anak kita! Kumohon…”“Dia sudah buat pilihannya,” ujar Waluyo dingin, napasnya berembus pelan seperti asap cerutu yang baru saja padam. “Sekarang aku yang buat pilihanku.”Aura ruangan itu menegang. Tak ada yang berani menatap matanya langsung, bahkan ud
Malam itu, makan malam keluarga terasa seperti hukuman bagi Eva.Aroma sup ayam yang hangat justru membuat perutnya mual. Lidahnya kelu. Di hadapan ayahnya, Waluyo Wijaya, Eva ingin bicara tentang bayi di rahimnya, tentang kebohongan yang membelit napasnya setiap hari, tapi suaranya terkurung di te
Masa depan cemerlang Evalia Wijaya baru saja hancur karena satu gelas wiski. Setidaknya, itulah yang ia ingat malam itu.Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, Eva membayangkan langkah kecil menuju bar hotel akan menjadi awal kehancuran dirinya. Satu gelas. Satu tawa. Satu tatapan mata dari pria yang







