LOGINEvalia mengembuskan napas panjang, lalu menusuk pelan dada Aleksander dengan telunjuknya. "Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti pahlawan tragis saat masuk tadi? Kamu membuatku takut. Wajahmu seperti baru kehilangan kontrak jutaan dolar."
"Itu memang terjadi," jawab Aleksander dengan santai.
Mata Evalia langsung membelalak. "Apa?"
"Sudah siap berangkat?" tanya Aleksander saat mereka berjalan menuju pintu depan."Sudah." Evalia mengembuskan napas pelan saat mengingat pesan yang dikirim Arsen Morgan pagi tadi.[Kalau kamu tiba pukul sebelas, kita bisa mengobrol sebelum makan siang. Aku juga bisa mengirim sopir kalau kamu mau.]Evalia menolaknya dengan sopan. Ia lebih memilih Reza sebagai sopir sekaligus pengawal pribadinya. Lagi pula, ia tahu Aleksander tidak mungkin membiarkan orang asing menjadi sopirnya.Reza membuka pintu mobil untuknya sambil mengangguk profesional.Aleksander mendekat, lalu berkata dengan suara pelan penuh godaan. "Selamat bersenang-senang, Eva.
Aleksander menarik napas perlahan sebelum melanjutkan dengan suara tetap tenang meski terdengar berat. Ia menceritakan bagaimana sejak awal ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, bagaimana ia mencari Evalia tanpa kenal lelah namun tidak pernah berhasil menemukannya. Hingga berbulan-bulan kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Jepara. Setelah itu, semuanya seolah mengalir begitu saja. Pernikahan. Rafael. Rumah yang akhirnya mereka bangun bersama.Evalia mendengarkan dalam diam. Kedua matanya mulai terasa hangat.Mendengar semua kisah itu kembali dari sudut pandang Aleksander membangkitkan perasaan yang tak pernah ia duga. Ada kesedihan, tetapi juga kelegaan. Rasa syukur. Dan cinta.Selama ini Evalia selalu berjuang sendirian, memikul semuanya dalam diam karena merasa harus menghadapi setiap masalah seorang
Evalia mengembuskan napas panjang, lalu menusuk pelan dada Aleksander dengan telunjuknya. "Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti pahlawan tragis saat masuk tadi? Kamu membuatku takut. Wajahmu seperti baru kehilangan kontrak jutaan dolar.""Itu memang terjadi," jawab Aleksander dengan santai.Mata Evalia langsung membelalak. "Apa?"Aleksander tersenyum lebar, menikmati reaksinya sedikit terlalu lama. "Cuma bercanda."Tanpa ragu, Evalia menepuk bahunya. "Alex!"Aleksander kembali tertawa, tetapi tawanya segera memudar. "Baiklah," akunya dengan suara yang lebih rendah. "Rapat tadi memang nggak menyenangkan. Seseorang memaksaku menceritakan kembali kisah lama yang seharusnya tetap terkubur di masa lalu."
Senyum jahil di wajah Evalia perlahan memudar saat ia menerima panggilan itu. Entah mengapa, waktu panggilan tersebut membuatnya merasa ada sesuatu. "Aleksander?" sapanya lembut.Suara pria itu terdengar tenang dan stabil, tetapi Evalia mengenalnya cukup baik untuk menangkap ketegangan yang tersembunyi di balik nada bicaranya. "Eva, kamu sedang sibuk?" tanya Aleksander. "Aku sudah beberapa kali meneleponmu, tapi ponselmu terus sibuk.""Aku nggak sibuk," jawab Evalia cepat. "Tadi Rafael dan aku sedang mengobrol dengan Dion." Nada suaranya mengandung sedikit rasa bersalah. "Kamu sedang dalam perjalanan pulang?"Hening sejenak menyelimuti percakapan sebelum Aleksander menjawab. "Nggak. Aku nggak bisa pulang untuk makan malam. Ada rapat mendadak, dan kemungkinan akan berlanjut sampai makan malam. Maaf, Eva."
Evalia mengembuskan napas pelan. "Om Dion mungkin sedang tidur sekarang. Di tempatnya sekarang sudah tengah malam.""Tapi Om bilang aku boleh menelepon kalau sudah selesai," rengek Rafael. "Dia janji."Evalia baru saja membuka mulut untuk menjawab ketika ponselnya yang tergeletak di atas meja kopi tiba-tiba berdering. Ia melirik layarnya, lalu tertawa pelan. "Nah," katanya sambil mengangkat ponsel agar Rafael bisa melihatnya, "coba lihat siapa yang menelepon."Nama Dion terpampang jelas di layar."Om Dion!" Mata Rafael langsung membulat.Evalia menerima panggilan itu dan menyalakan pengeras suara agar Rafael juga bisa mendengarnya. "Halo?"
Surya tampak terkejut mendengarnya. "Maksud Anda Raka Martadinata?" tanyanya.Aleksander hanya menatapnya, dan tatapan itu sudah cukup menjadi jawaban."Yah," gumam Surya sambil mengusap rahangnya, "pantas saja wanita itu mendadak bungkam."Bayu tak bisa menahan komentarnya. "Gila. Raka Martadinata benar-benar nggak punya hati," ujarnya sambil berdecak. "Bukankah Natasha satu-satunya putrinya?"Surya mendengus. "Putri satu-satunya, tapi diperlakukan seperti aset yang bisa dibuang kapan saja. Keluarga kaya memang punya definisi cinta yang berbeda.""Setidaknya sekarang kita tahu dari mana Natasha mewarisi kepribadiannya yang... menawan," tambah Bayu dengan nada sarkastis.Keduanya
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Evalia berdiri terpaku, jantungnya berdegup tak karuan.‘Kenapa rasanya seperti baru lari maraton?’ pikirnya kalut.
Ucapan itu langsung membuat Evalia sadar dari lamunannya. “Nggak!” jawabnya cepat. Ia buru-buru mengambil tas, ponsel, dan sisa-sisa kewarasannya. Dengan jari gemetar, ia mengunci mobil dan mengikuti langkah Aleksander menuju lift.
Mata Marni menajam, memahami lebih dari yang diucapkan. Tapi bukan itu yang paling membuat Evalia gelisah, melainkan tatapan Rafael.Anak kecilnya yang baru tiga tahun itu memandangi ibunya dengan dahi berkerut, ekspres






