Se connecterSaat Evalia tiba di apartemennya, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Di ruang tamu, Rafael tengah menjelaskan tentang kartun favoritnya kepada Bayu, yang duduk tak jauh darinya dengan wajah kebingungan. Alis kecil Rafael berkerut, kedua tangannya bergerak cepat, seolah bahasa tubuh bisa membantu Bayu memahami cerita lebih baik.
“Om Bayu, kan udah kubilang
Evalia langsung menangkap perubahan ekspresinya. Ia sedikit mendekat dan bertanya dengan suara lembut, “Ada apa?”“Hasil pemeriksaannya.” Hanya dua kata, tetapi nada suara Aleksander begitu berat.Jantung Evalia berdebar kencang. Walaupun ia sudah mengetahui jawabannya, adrenalin tetap mengalir deras di dalam tubuhnya. Ia memperhatikan Aleksander dengan cemas saat pria itu membuka surel tersebut.Tatapan Aleksander bergerak cepat, membaca setiap baris yang tertera. Lalu ia terdiam. Selama beberapa detik, bahkan napasnya seolah ikut berhenti.Evalia menelan ludah. “Aleksander…?”Aleksander berkedip, menghembuskan napas perlahan, lalu menoleh kepadanya. Sorot matanya begitu hangat. Leb
Aleksander membalas genggamannya dengan lembut. Ia ingin meminta maaf atas semua masa lalu yang telah dilewatkannya. Ia ingin berjanji bahwa mulai sekarang ia tidak akan melewatkan satu pun momen bersama Evalia.Namun semua kata itu tersangkut di tenggorokan. Yang berhasil keluar hanyalah kalimat lirih.“Kamu pantas mendapatkan yang terbaik.”Evalia menoleh lalu tersenyum hangat. “Kita berdua pantas mendapatkannya.” Ia tidak melihat Aleksander mengalihkan pandangan sesaat, berusaha menelan lautan penyesalan yang kembali menyeruak.Suasana di dalam mobil kemudian tenggelam dalam keheningan yang menenangkan. Di luar jendela, jalanan Jakarta mulai dipenuhi kendaraan. Cahaya matahari pagi memantul lembut di deretan gedung tinggi, sementara pepohonan d
Diam-diam Evalia memarahi dirinya sendiri agar berhenti terlalu banyak berpikir. Wajahnya tetap dipaksa terlihat tenang.Setelah memastikan istrinya tidak kedinginan, Aleksander tersenyum lembut. “Tunggu di sini. Kubukakan pintunya.”Evalia memperhatikan Aleksander turun lebih dulu dari mobil. Sesaat kemudian, pintu di sampingnya terbuka perlahan.Aleksander berdiri sambil mengulurkan tangan. Dengan mantel hitam panjang yang serasi dengan milik Evalia, pria itu tampak begitu tinggi dan berwibawa.Evalia menyambut uluran tangan itu lalu turun dari mobil. Bahkan ketika berdiri berdampingan, tinggi badannya hanya mencapai bahu Aleksander.Genggaman pria itu mengerat seakan dapat merasakan kegugupan yang sedang
Pagi di Jakarta selalu memiliki pesonanya sendiri. Pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan tampak hijau setelah diguyur hujan semalam. Deretan kafe mulai membuka pintu, sementara aroma kopi yang samar tercium dari bebrapa kedai. Bahkan lampu lalu lintas terasa lebih bersahabat ketika kota belum sepenuhnya terbangun.Perlahan, ketenangan memenuhi dada Evalia. Namun, semakin dekat mobil itu menuju rumah sakit, ketenangan tersebut mulai memudar.Dari kejauhan, Evalia melihat papan nama besar RS Harapan Sejahtera, salah satu rumah sakit terbaik di Indonesia. Akan tetapi, Aleksander tidak meminta sopir berhent idi pintu masuk utama.Mobil justru berbelok ke kiri, melewati gerbang khusus yang dijaga dua petugas keamanan.Gedung VVIP.
Aleksander menyandarkan tubuh ke kursi, menghembuskan napas, lalu memijat pangkal hidungnya. Pikirannya terus kembali pada satu hal.Evalia.Lebih tepatnya, kemungkinan bahwa Evalia sedang mengandung.Perasaan itu membuatnya bersemangat sekaligus gugup. Akhirnya, keluarga mereka mungkin akan bertambah. Akhirnya, ia bisa berada di sisi Evalia dan Rafael setiap hari untuk menjaga mereka.Namun saat ini, Aleksander belum yakin. Ia belum memiliki bukti. Dan ia tidak ingin berasumsi. Ia tidak ingin bertanya kepada Evalia tanpa mengetahui kepastiannya terlebih dahulu. Terlebih lagi, ia tidak ingin membuat istrinya cemas sebelum mendapatkan jawaban yang jelas.Pagi tadi, hal pertama yang Aleksander lakukan adalah menghubungi dokter
Evalia berkedip dua kali. Otaknya membutuhkan beberapa detik untuk mencerna informasi itu.Aleksander… sudah merilis berita ini?Cepat sekali.Evalia sempat mengira pria itu akan melakukannya besok, atau bahkan menunggu satu atau dua hari lagi. Namun kini berita tersebut sudah terpampang di berbagai portal berita online, lengkap dengan judul mencolok dan foto-foto yang menarik perhatian publik.Jantung Evalia berdebar. Ia segera membuka artikel tersebut.Laporan itu ditulis dengan sangat jelas. Pihak kepolisian telah menerima laporan resmi dari keluarga Wijaya, lengkap dengan bukti percobaan penculikan serta rencana pembunuhan. Tersangka berinisial LM telah diamankan. Dalam foto yang terlampir, Laras terlihat dengan ra
Garis telepon sepi lagi.“Dion? Kamu masih di sana?”“Ada,” gumam Dion pelan. “Aku lagi mencerna semua ini. Aleksander Batubara, tanpa prenup,
Begitu ucapan itu meluncur, Evalia berharap langit Jepara runtuh menelannya hidup-hidup.‘Ya Tuhan, kenapa aku malah ngomong begitu? Petir, tolong sambar aku sekarang jug
Rafael tertawa puas, menggenggam muffin terakhir di piringnya.Evalia menatap anak itu dengan senyum lembut, merasa ingin mencubit pipi tembamnya yang begitu mirip dengan pipi Aleksander saat sedang iseng menggoda
Mata Marni melembut, penuh kasih. Namun di balik tatapan itu, keputusan tetap tidak berubah. “Oh, Evalia… Tante sudah dapat lebih dari yang Tante harapkan. Kamu memperlakukan Tante seperti keluarga, dan Rafael… dia cahaya hari-hari Tante. Tapi k







