LOGINJari-jari Evalia menggenggam lengannya lebih erat. “Aleksander, siapa orang itu?”
Aleksander menarik napas perlahan, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri. “Pria yang Hana Kurnia klaim sebagai ayah dari anak itu, pria yang juga memasukkan obat ke minumanmu malam itu,” katanya hati-hati, "adalah Jonathan Chandra.”
Evalia berkedip. Untuk sesaat, ia benar-benar mengira
"Kamu akan melihatnya sendiri. Pastikan kamu menonton berita." Hanya itu yang Aleksander katakan.Evalia menatapnya. "Pertunjukan seperti apa?"Aleksander hanya tersenyum."Aleksander.""Hm?""Jangan bersikap misterius."Aleksander membuka pintu mobil, tetapi berhenti sebelum masuk. Dia mendekat sedikit lalu menyentuhkan ibu jarinya dengan lembut ke pipi Evalia. "Percayalah padaku," bisiknya. "Ini akan menarik."Jantung Evalia berdegup sedikit lebih cepat mendengar nada suaranya. Tenang. Penuh keyakinan. Dan sedikit berbahaya. "Apakah ini legal?" tanyanya hati-hati.Aleksander tertawa pelan
Aleksander memberikan senyum kecil yang tidak berdaya. “Itu salah satu cara untuk merangkumnya.”Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.Kemudian Eva mengeluarkan tawa pendek yang terdengar seperti hembusan napas. Bukan karena hal itu lucu. Melainkan karena semuanya begitu absurd hingga sulit untuk tidak tertawa. “Kenapa semua ini terdengar begitu konyol?” tanyanya. “Rasanya bahkan nggak nyata.”“Aku setuju denganmu,” jawab Aleksander dengan senyum tipis. “Kedengarannya memang nggak masuk akal. Tapi itulah yang terjadi.”Aleksander teringat pada waktu panjang yang dihabiskan Surya untuk memeriksa rekaman CCTV. Putaran ulang berkali-kali. Potongan video yang diperbesar. Ekspresi bingung pria itu setelah menabrak Eva. Cara dia segera pergi setelah keja
Jari-jari Evalia menggenggam lengannya lebih erat. “Aleksander, siapa orang itu?”Aleksander menarik napas perlahan, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri. “Pria yang Hana Kurnia klaim sebagai ayah dari anak itu, pria yang juga memasukkan obat ke minumanmu malam itu,” katanya hati-hati, "adalah Jonathan Chandra.”Evalia berkedip. Untuk sesaat, ia benar-benar mengira dirinya salah dengar. “Jo-Jonathan Chandra?” ulangnya lirih. “Maksudmu Jonathan Chandra yang aku kenal? CEO Wijaya Group saat ini?”“Ya,” jawab Aleksander. “Dia.”Nama itu menggantung berat di udara. Jonathan Chandra. Pria yang selama ini Evalia percaya. Pria yang telah membantunya menghadapi berbagai urusan rumit di Wijaya Group. Orang yang selalu berbicara dengan sopan, memberikan nasihat dengan tenang,
Aleksander menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Eva, di masa lalu, aku pernah tidur dengan beberapa perempuan," ucapnya datar. "Namun, itu selalu hanya hubungan fisik. Nggak pernah ada emosi yang terlibat. Dan aku nggak pernah tidur dengan orang yang sama lebih dari sekali."Aleksander berbicara dengan hati-hati, mengamati reaksi Evalia seolah sedang bersiap menghadapi kemarahan, kecemburuan, atau kekecewaan darinya.Jari-jari Evalia tanpa sadar mencengkeram selimut. Dia sudah mengetahui reputasi Aleksander. Dia telah menerimanya ketika memilih untuk bersama pria itu. Namun, mendengar pengakuan itu langsung dari mulut suaminya tetap membuat hatinya terasa sakit.Membaca gosip di internet adalah satu hal. Mendengar suaminya dengan tenang mengakuinya sambil menatap matanya adalah hal yang berbeda.
Evalia mendorong bahunya pelan. "Tuan Batubara, berhenti bercanda...""Dan kau tetap cantik."Tawa Evalia perlahan mereda, tetapi tidak bertahan lama. Karena ingatan tentang kejadian tadi malam kembali muncul. Nama yang mengejutkan dirinya dan seluruh keluarganya. Hana Kurnia.Berita gosip itu, serta klaim wanita tersebut bahwa ia memiliki seorang putra bersama Aleksander.Seketika, senyum Evalia perlahan menghilang.Aleksander menyadarinya. Ekspresinya berubah, menjadi lebih waspada.Sebelum Evalia sempat bertanya, Aleksander lebih dulu berkata, "Kau ingin tahu kenapa aku pulang terlambat tadi malam?"Evalia terdiam beberapa detik, la
Evalia hampir tersedak mendengar ucapannya. Namun, ia segera menekan bibirnya agar tidak tertawa.“Ya Tuhan,” lanjut Dion dengan nada tenang yang justru membuat kata-katanya semakin menggelikan, "bagaimana mungkin dia bisa memiliki anak lain dengan wanita lain? Ck, ck, ck. Aleksander Batubara... kau benar-benar sedang mencari masalah besar kali ini.”Evalia kembali menahan tawanya.Jika Aleksander mendengar semua ini, suaminya yang malang itu mungkin akan langsung pingsan. Atau lebih buruk, menyeret Dion ke ruang rapat dan memberinya ceramah panjang tentang kesetiaan.“Jangan terlalu sedih, sahabatku Eva,” lanjut Dion penuh semangat. “Jika saudara iparku yang bodoh itu nggak bisa memberikan penjelasan yang baik tentang masalah ini, aku akan membawa pengawal terbaikku. Ka
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member
Keesokan paginya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Eva bangun dengan perasaan bebas. Tak ada alarm, tak ada panggilan dinas, tak ada Estella yang mendadak menerobos masuk kamarnya dan menyuruhnya cepat bersiap.
Sayangnya, harapan Eva itu tak akan pernah terjadi.Dari balik kaca gelap mobil itu, Eva melihat Waluyo Wijaya duduk di kursi belakang. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tak berperasaan. Ia bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah taksi yang baru saja keluar dari area kediamannya.Rasanya seolah E







