LOGINDetik itu juga tenggorokan Evalia terasa kering. Ia harus memaksa dirinya untuk tetap tenang. “Alex, kamu lupa janjimu?”
Pria itu memiringkan kepala, pura-pura tak mengerti. “Janji apa?”
Evalia mengerjap cepat. “Janji untuk nggak muncul di tempat umum sama aku.” Ia menarik napas panjang, menatap ke luar jendela seolah takut kamera bisa
Evalia ragu. Namun pada akhirnya, rasa ingin tahunya mengalahkan keraguan itu. "Buyut," panggilnya pelan, lalu berhenti.Emma menoleh kepadanya. "Ya, Sayang?"Evalia menelan ludah. Keberaniannya terkumpul sedikit demi sedikit. "Boleh aku bertanya sesuatu?"Emma mengangguk lembut. "Tentu."Evalia menunduk, jemarinya mengepal hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan. "Maaf kalau pertanyaan ini nggak pantas. Tapi aku penasaran... kenapa nenekku, Gisela, meninggalkan keluarga?"Perubahan di wajah Emma terjadi seketika. Sorot cerah di matanya memudar. Bibirnya bergetar, bukan karena bahagia, melainkan karena beban masa lalu yang kembali menyeruak seperti bayangan.Emma memalingkan pa
Emma menoleh kepada Evalia dengan senyum lembut yang masih dipenuhi haru. "Lalu sekarang? Kau datang ke sini bukan hanya sebagai Evalia kami... tetapi juga sebagai seseorang yang sudah memiliki keluarganya sendiri, bukan? Ceritakan kepada kami tentang keluargamu."Wajah Evalia tampak sedikit lebih cerah. Ia meluruskan bahunya. "Ya. Aku sudah menikah. Nama suamiku Aleksander. Aleksander Batubara."Alis Niko langsung terangkat. "Batubara? Maksudmu keluarga Adrian Batubara?""Benar." Pipi Evalia memerah tipis. "Aku menikah dengan salah satu cucunya... Dan... kami memiliki seorang putra. Namanya Rafael. Sekarang usianya empat tahun."Emma terengah pelan, suaranya dipenuhi kegembiraan. "Cicit dari cicit kami?"Evalia mengangguk sa
Arsen mengangguk dengan wajah serius, lalu ikut berbisik. "Yah... mungkin bukan dia. Tapi aku pasti akan mulai dengan menggertak orang yang lebih kecil dariku. Anggap saja pemanasan."Evalia kembali tertawa pelan. Ketegangannya perlahan mulai mencair.'Terima kasih, Om Arsen,' batin Evalia. 'Mungkin aku tidak pantas menerima semua kebaikan ini... tapi aku sungguh sangat bersyukur.'Evalia menarik napas panjang, lalu diam-diam mengikuti Theodore yang telah menunggunya di depan. Pria itu berjalan perlahan, nyaris seperti sedang menjalankan sebuah upacara, kemudian memberi isyarat agar Evalia mendekat ke arah perapian.
Hati Evalia terasa sesak. Ia memaksakan senyum agar air matanya tidak jatuh. Belum. Ini belum saatnya menangis. "Kalau begitu... ini aku. Semoga aku nggak mengecewakan, Pak..."Selama beberapa detik, Theodore hanya menatapnya tanpa berkedip, benar-benar terpana. Kemudian ia menggeleng tegas. "Nggak. Sama sekali nggak." Ia menoleh kepada Arsen, sementara ketenangannya nyaris runtuh. "Bahkan cara bercandanya pun sama seperti bibimu."Wajah Evalia langsung menghangat. Pipinya memerah. "Pak, saya... saya senang mendengarnya. Sungguh...""Opa." Theodore memotong ucapannya dengan nada tegas. "Mulai sekarang, panggil aku Opa, Evalia.""Baiklah... Opa."Mereka berdiri dalam keheningan cukup lama, tak seorang pun bergerak, sama-sama b
"Sudah siap berangkat?" tanya Aleksander saat mereka berjalan menuju pintu depan."Sudah." Evalia mengembuskan napas pelan saat mengingat pesan yang dikirim Arsen Morgan pagi tadi.[Kalau kamu tiba pukul sebelas, kita bisa mengobrol sebelum makan siang. Aku juga bisa mengirim sopir kalau kamu mau.]Evalia menolaknya dengan sopan. Ia lebih memilih Reza sebagai sopir sekaligus pengawal pribadinya. Lagi pula, ia tahu Aleksander tidak mungkin membiarkan orang asing menjadi sopirnya.Reza membuka pintu mobil untuknya sambil mengangguk profesional.Aleksander mendekat, lalu berkata dengan suara pelan penuh godaan. "Selamat bersenang-senang, Eva.
Aleksander menarik napas perlahan sebelum melanjutkan dengan suara tetap tenang meski terdengar berat. Ia menceritakan bagaimana sejak awal ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, bagaimana ia mencari Evalia tanpa kenal lelah namun tidak pernah berhasil menemukannya. Hingga berbulan-bulan kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Jepara. Setelah itu, semuanya seolah mengalir begitu saja. Pernikahan. Rafael. Rumah yang akhirnya mereka bangun bersama.Evalia mendengarkan dalam diam. Kedua matanya mulai terasa hangat.Mendengar semua kisah itu kembali dari sudut pandang Aleksander membangkitkan perasaan yang tak pernah ia duga. Ada kesedihan, tetapi juga kelegaan. Rasa syukur. Dan cinta.Selama ini Evalia selalu berjuang sendirian, memikul semuanya dalam diam karena merasa harus menghadapi setiap masalah seorang
Ucapan itu langsung membuat Evalia sadar dari lamunannya. “Nggak!” jawabnya cepat. Ia buru-buru mengambil tas, ponsel, dan sisa-sisa kewarasannya. Dengan jari gemetar, ia mengunci mobil dan mengikuti langkah Aleksander menuju lift.
Mata Marni menajam, memahami lebih dari yang diucapkan. Tapi bukan itu yang paling membuat Evalia gelisah, melainkan tatapan Rafael.Anak kecilnya yang baru tiga tahun itu memandangi ibunya dengan dahi berkerut, ekspres
“Aku janji nggak akan ngomong yang aneh-aneh, Dion…” Eva menahan gemetar dalam suaranya, “Tapi demi kewarasanku, kumohon kamu tenang dan jangan mencoba cari tahu tentang dia. Serius. Lebih baik bagi semua orang kalau kamu nggak mengusik dia. Dia bukan cuma masalah besar, dia udah ada di level ‘VIP’,
Eva mengerutkan kening. “Janji apa?”“Aku pernah janji, nggak akan pernah nyari-nyari hal tentang kamu, hidupmu, keluargamu, juga temanmu. Kecuali kamu sendiri yang minta,” ujar Dion.Evalia terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan tersenyum sendu. Dalam diam, ia member







