LOGINDetik itu juga tenggorokan Evalia terasa kering. Ia harus memaksa dirinya untuk tetap tenang. “Alex, kamu lupa janjimu?”
Pria itu memiringkan kepala, pura-pura tak mengerti. “Janji apa?”
Evalia mengerjap cepat. “Janji untuk nggak muncul di tempat umum sama aku.” Ia menarik napas panjang, menatap ke luar jendela seolah takut kamera bisa
Langit pagi Jakarta masih diselimuti kabut tipis ketika Rafael menjerit riang sambil menarik kaki Aleksander. “Daddy, ayo main gelembung lagi…”Aleksander berjongkok, lalu dengan mudah mengangkat putranya ke dalam pelukan. “Lihat wajahmu, penuh busa begini, Jagoan,” godanya sambil mengusap sedikit busa di pipi Rafael.Rafael tertawa lepas, suaranya terdengar begitu jernih dan hangat di tengah udara pagi.Tatapan Evalia langsung melunak saat melihat keduanya. Untuk beberapa detik, semuanya terasa sempurna. Tenang. Damai. Seolah hiruk-pikuk Jakarta tidak pernah benar-benar ada di luar pagar rumah mereka.Namun, suara ponsel Aleksander kembali bergetar, memecahkan suasana nyaman itu.Evalia melirik
Mahendra kembali mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi sekarang berita itu sudah menyebar ke mana-mana. Seluruh Jakarta sedang membicarakannya. Banyak orang bilang ini bisa mengakhiri permusuhan keluarga Batubara dan Wijaya.”“Mengakhiri permusuhan?” Alistair mendengus tajam. “Nggak akan terjadi selama aku masih hidup.” Ia menunjuk Mahendra dengan tegas. “Dengarkan baik-baik, Mahendra. Jangan sampai satu kata pun keluar dari ruangan ini sebelum aku bicara langsung dengan Aleksander.”Mahendra tersenyum santai. “Tentu saja, Om. Mulutku terkunci rapat.”Alistair Batubara kembali mondar-mandir di ruang kerjanya, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat dadanya sesak. Membayangkan putranya diam-diam menikahi putri dari pria yang paling ia benci terasa s
Evalia kembali menguap. Kelopak matanya terasa berat. “Selamat malam, Pak Batubara…” gumamnya lirih sambil memejamkan mata.“Selamat malam, Bu Batubara,” balas Aleksander penuh kelembutan sebelum mengecup keningnya. “Tidur saja. Aku nggak akan menggodamu lagi.”“Hm…”Saat Aleksander akhirnya berjalan menuju kamar mandi, Evalia membuka mata dan memperhatikannya pergi sambil tersenyum kecil.♥♥♥Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui jendela tinggi rumah mewah keluarga Batubara. Alistair Batubara duduk santai di kursi kulit favoritnya dengan secangkir kopi hitam panas di tangan, siap menikmati rutinitas pagi seperti biasa.
Aleksander memperhatikan Evalia menghilang ke dalam kamar mandi, lalu melonggarkan dasinya sebelum berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Langkahnya terdengar tenang. Tapi pikirannya tidak.Begitu pintu ruang kerja tertutup, Aleksander langsung mengambil ponselnya dan menelepon Surya.Pria itu mengangkat telepon setelah beberapa dering. “Boss? Ini udah malam banget. Jangan bilang Anda masih kerja.”Aleksander berjalan menuju sofa kulit hitam di sudut ruangan lalu duduk santai. “Awasi Natasha Martadinata,” ucapnya datar, mengabaikan pertanyaan itu.Hening sejenak.“Tunggu… wanita itu?” Nada suara Surya langsung berubah tajam. “Boss, dia pembuat masalah. Kenapa tiba-tiba mau say
Lexus LM itu meluncur mulus membelah jalanan Jakarta yang masih ramai meskipun sudah larut malam. Lampu gedung pencakar langit memantul di kaca jendela mobil yang gelap. Di dalam, suasana terasa tenang.Evalia duduk nyaman dengan kepala bersandar di kursi dan mata terpejam. Wajahnya terlihat damai, diterangi samar cahaya kota yang masuk dari luar.Aleksander meliriknya sekilas tapi tidak berkata apa-apa. Ia tahu istrinya kelelahan. Malam ini terlalu panjang untuk Evalia, terlalu banyak tatapan, bisikan, dan kilatan kamera yang terus mengarah padanya.Pria itu kembali memeriksa ponselnya, membaca pesan dan laporan pekerjaan, tapi tangan satunya tidak pernah melepaskan genggaman Evalia. Jari mereka tetap bertaut erat di antara keduanya.Beberapa menit kemudian, suara Evali
Beberapa menit kemudian, Jonathan ikut meramaikan acara dengan membeli lukisan pemandangan sederhana tapi elegan. Harganya masih cukup masuk akal.Evalia langsung menggoda pria itu karena sok terlihat seperti kolektor seni serius.“Hei, ini buat kantor,” bela Jonathan sambil nyengir. “Biar kelihatan berbudaya. Naikin image.”Evalia menggeleng geli. “Iya, iya. Kita pura-pura percaya aja.”Saat dessert mulai disajikan, acara perlahan mendekati akhir. Percakapan para tamu mulai mereda. Musik orkestra berubah lebih lembut. Para pelayan hotel sibuk membersihkan gelas-gelas kosong di setiap meja.Evalia merasa jauh lebih rileks sekarang. Ketegangan sejak kemunculan Aleksander tadi perlahan menghi
Sudut bibir Aleksander terangkat tipis. “Katakan saja aku ingin bicara dengannya malam ini. Atau lebih baik, suruh dia mulai lari keliling kompleks sebelum aku pulang.”Bayu meringis kecil. “Kasihan ju
Dimas tampak ragu sebelum akhirnya menjawab hati-hati. “Bu, Bos Alex hanya ingin menjaga privasi Anda…”Evalia menghela napas panjang. “Aku sudah bilang jangan buang-buang uang cuma buat begitu.
Tenggorokan Evalia langsung terasa sesak. Untuk sesaat, kakinya bahkan sulit bergerak.Melihat wajah lembut neneknya yang mulai menua dan postur tegap sang kakek membuat begitu banyak emosi bercampur di dadanya.Evalia sering membayangkan akan bertemu mereka lagi. Tapi bukan seperti
Aleksander masuk ke mobil SUV hitamnya, menyalakan mesin, lalu melaju turun melewati jalan perbukitan dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu Jakarta terlihat semakin dekat di kejauhan.Untuk sementara, Aleksander memilih melupakan Mahendra Batubara dan kekacauan berbahaya yang sedang menyere







