Share

Istri Rahasia Sang CEO
Istri Rahasia Sang CEO
Author: Mariahlia

bab 1

Author: Mariahlia
last update publish date: 2025-04-30 21:49:34

"Ah"

"Ah"

"Berhenti!!! Shhhh sakit.."

Gadis di bawahnya sana mengerang penuh nikmat, sesekali merasakan sakit di bagian intinya karena sesuatu yang belum pernah di rasakan menembus intinya sana.

Keringat membanjiri tubuh keduanya yang sama-sama polos, membuat ruangan itu semakin panas.

"Saaakit... Ahhh"

"Eghhh." Pria di atasnya membungkam bibir gadis itu, membuat bibir yang akan berbicara lagi itu jadi terdiam, ia hanya mampu pasrah, tanpa tau membalas apa. Karena gadis itu juga sama sekali tidak pandai dalam hal seperti ini.

Ini untuk yang pertama kali yang ia rasakan. Dan sialnya pengalaman pertamanya harus di renggut oleh orang yang sama sekali tidak di kenalnya itu.

Pria di atasnya terus memompa, memaju mundurkan miliknya yang kokoh, bahkan tidak peduli dengan rengekan serta air mata yang keluar dari mata gadis itu. Yang ia mau hanya sebuah kenikmatan yang baru pertama kali ini ia rasakan.

Ya, nikmat, bahkan sebelumnya juga ia tidak pernah merasakan nikmat yang seperti ini.

"Ugh." Pria itu terus bergerak liar, bahkan bibir basahnya sudah menjelajahi semua lekuk tubuh yang indah yang nyaris tanpa ada cacat sedikitpun itu. Ia bahkan sangat menyukainya, tidak ada satupun tubuh gadis di bawahnya sini tidak ia jelajahi.

"Ahhh, kamu nikmat sekali..." Suara erangan itu nyaris memenuhi kamar yang berukuran besar nan mewah itu, pria tampan itu langsung ambruk di sampingnya setelah menuntaskan semua rasa yang menyiksanya tadi.

Sedangkan wanita yang ada di bawahnya, langsung menangis, ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini.

"Pria brengsek!" Maki gadis itu, tangannya memukul dada pria itu, namun pria itu sama sekali tidak bergeming, karena pria itu sudah tertidur lelap..

*

Sebelumnya!!!

"Bawa masuk! Sebentar lagi saya akan kesana, saya harus menemui paman saya terlebih dulu" ucap seorang perempuan di seberang telpon sana.

"Baik nona" sahut salah satu pria berbadan kekar itu yang tengah memegang earphone di telinganya.

Tiiit..

Panggilan itu langsung terputus, salah satunya langsung menatap ke arah temannya yang tadi.

"Bawa masuk ke dalam kamar ini!" Ucap salah satu bodyguard itu, tangannya menunjuk ke arah salah satu kamar hotel yang ada di depan mereka.

Temannya itu mengangguk, tangannya menyentak pergelangan tangan pria yang ada di dalam pegangan kuatnya.

"Lepas!" Pekik pria itu yang sedang di pegang kedua tangannya itu, pria itu sedari tadi terus meronta-ronta meminta di lepaskan, namun sialnya tenaganya tidak sebanding dengan tenaga kedua pria itu. Dan entah kenapa ia malah seperti orang lemah seperti ini. Padahal sebelumnya tidak.

Ia bahkan bisa membantai musuhnya lebih dari sepuluh orang. Namun, tampaknya mereka mencampurkan sesuatu pada minumannya tadi, sehingga membuatnya tidak berdaya seperti saat sekarang ini.

"Diam! Jangan membantah, nona kami Alana segera datang, jadi jangan banyak omong, kamu cukup turuti, dan kamu akan dapat enaknya juga" seru pria itu.

Pria itu menggelengkan kepalanya dengan kencang. "Saya tidak mau! Siapa kalian? Mau mati?" Desis Pria itu, matanya yang sayu menatap kedua pria di sampingnya itu. Rasanya tangannya ingin sekali menghajar wajah-wajah keduanya, namun sialan, ia tidak berdaya.

"Lepaskan saya! Saya akan bayar mahal kalian jika kalian mau melepaskan saya." Tidak ada pilihan lain, Arsenio bernegosiasi pada keduanya, berharap kedua pria itu mau melepaskannya.

Namun sayang, perkataan Arsenio malah di anggap candaan oleh kedua pria itu.

Keduanya malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Arsenio. "Kami tidak gila uang. Kami bahkan setia dengan bos kami. Lagian uang yang di kasih bos kami banyak," ucap salah satu dari mereka.

Arsen mengeraskan rahangnya. "Lepas! Sialan kalian berdua! Siapa bos kalian? Bilang sama saya, saya bunuh juga dia." Pekik Arsen marah, matanya bahkan menyorot tajam kedua pria yang ada di sampingnya itu.

Kedua pria di sampingnya itu agak menciut mendengar ancaman Arsen, namun keduanya masih tetap berusaha tenang, mereka hanya menganggap perkataan pria itu hanyalah sebuah bualan semata.

"Halah, jaman sekarang itu banyak ya yang begituan. Jangan munafik kamu, kadang orang yang sudah punya istri saja, tapi pasti masih mau kalau di tawarin dengan perempuan lain. Ck, apalagi orang seperti anda!" Keduanya terkekeh.

"Kalian berani tertawa dan mengatakan hal tersebut pada saya! Awas kalian berdua!"

Pria itu tidak pernah bermain-main dengan apa yang di ucapkan olehnya, namun mereka sama sekali tidak peduli dengan perkataannya.b

Keduanya kembali tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan pria itu.. "Halah, beraninya main ancam saja. Kamu pikir saya takut gitu sama kamu?" Pekik pria itu. Lalu tangannya terangkat menampar pipi Arsen membuat Arsen semakin murka.

"Mati kalian!" Pekik Arsen murka.

"Kebanyakan bacot, masukin aja ke dalam kamar itu, jangan sampai nona Zihan marah karena tawanannya kabur."

Deg

Mendengar nama Zihan yang di sebut oleh kedua orang itu, Arsenio mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kencang, sungguh tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya, perempuan itu berani sekali menjebaknya seperti ini. Sialan, Zihan sudah berani bermain-main dengannya.

Zihan adalah rekan bisnis Arsen. Malam itu, ia datang ke Bandung karena ingin melakukan meeting penting dengan salah satu koleganya. Namun sialnya, malam itu menjadi malam yang sial bagi Arsen, ia harus mengalami kejadian ini gara-gara ulah Zihan yang ikutan bergabung di pesta kecil-kecilan yang di buat oleh temannya.

Awalnya Arsen menolak, ia sudah merasa tidak enak hati, namun Fadil temannya terus mengajaknya, mau tak mau Arsen ikut saja.

Awas saja, Arsen tidak akan tinggal diam, ia akan menghukum siapapun yang sudah berani berurusan dengannya.

Dua orang bodyguard itu membawa masuk Arsenio yang sudah terpengaruh oleh obat perangsang itu, bahkan Arsenio berulang kali mendesis karena merasakan sesuatu yang sudah timbul di dalam dirinya sana.

Brugggh

Keduanya bahkan langsung melemparkan Arsenio ke atas ranjang sana.

"Kita keluar" setelah itu keduanya keluar dari dalam kamar itu, dan meninggalkan Arsenio sendirian di sana.

Keduanya juga tidak lupa mengunci pintu kamar itu, namun mereka lupa mencabut kunci itu, tapi mereka langsung pergi dari tempat itu saat sudah memastikan tugas mereka selesai ....

Di dalam kamar itu, pria bernama lengkap Arsenio Galvanis Zipper menggeram, ia bahkan merasakan sakit di kepalanya yang terus menerus menderanya. Ia sesekali memejamkan kedua bola matanya, menekan rasa yang muncul itu.

"Sialan!" Maki Arsen, ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kencang.

"Mati kau, Zihan. Jalang sepertimu berani sekali membuat aku seperti ini. Sialan kau, setelah ini habis kau di tanganku" ucap Arsen, ia bahkan melepaskan dasi yang melingkar di lehernya, rasanya seperti di cekik. Ia sungguh tidak tahan.

AC yang ada di kamar hotel itu benar-benar tidak berfungsi sama sekali, ia bahkan sudah menurunkan suhunya.

"Sialan!"

Entah sudah berapa kali ia mengumpat, ia benar-benar marah sekali.

Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di kamar hotel itu, ia langsung mengisi bathtub itu dengan air dingin.

Persetan sudah malam hari, dan udara sekitarnya bahkan dingin, tapi di dalam dirinya merasakan panas yang membara.

Arsen langsung masuk ke dalam bathtub itu, lalu merendam tubuhnya.

Untuk beberapa saat, ia bangkit dari dalam bathtub, ia langsung berjalan keluar sambil meremas rambutnya yang basah.

"Berapa banyak obat yang di taruh di minuman gue?" Ucap Arsen marah, sebab ia sudah merendam tubuhnya, namun sialnya, efeknya sama sekali tidak ada. Ia bahkan masih merasakan panas yang membara di dalam dirinya sana.

"Arghhh!!! Brengsek! Brengsek!!" Teriak Arsen sambil memukuli meja yang ada di sana, sampai meja itu hancur berkeping-keping.

*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 84

    Sentuhan itu terjadi begitu saja.Tidak direncanakan.Tidak dicari.Hanya karena langkah mereka yang semakin dekat di antara orang-orang yang berjalan berlalu-lalang.Punggung tangan Arsen menyentuh jari Kamila.Sangat ringan.Hampir seperti hembusan angin yang lewat.Kamila sedikit terkejut.Ia menoleh sebentar ke arah tangan mereka.Namun ia tidak langsung menarik tangannya.Arsen juga menyadarinya.Ia melirik sekilas.Kemudian kembali menatap ke depan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Namun langkahnya melambat sedikit.Mereka terus berjalan di antara deretan tenda.Lampu warna-warni menggantung rendah di atas kepala.Kabel-kabel listrik melintang dari satu tiang ke tiang lain.Suara genset kecil berdengung di belakang salah satu tenda.Musik dangdut masih diputar dari speaker tua yang sesekali terdengar pecah.Di depan mereka, beberapa anak kecil sedang berlarian sambil membawa balon.Salah satu balon berbentuk ikan berwarna biru terang.Anak itu hampir menabrak Kamila.Kamila mu

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 83

    Malam turun perlahan di gang kecil itu.Cahaya matahari yang tadi masuk melalui jendela kini sudah berubah menjadi warna jingga pucat yang menempel di dinding rumah.Angin sore masuk lewat celah tirai.Membawa aroma masakan dari rumah tetangga.Bawang goreng.Sambal yang sedang ditumis.Dan suara sendok beradu dengan wajan.Kamila masih duduk di sofa.Kakinya dilipat ke samping, tubuhnya sedikit bersandar. Matanya memandang keluar jendela ruang tengah.Langit mulai berubah gelap.Lampu-lampu rumah di gang satu per satu menyala.Arsen berdiri di dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Ia membuka lemari atas, melihat-lihat isinya.Ada beberapa gelas.Dua piring.Beberapa mangkuk kecil.Ia mengambil dua gelas lalu menuangkan air dari dispenser.Ketika ia kembali ke ruang tengah, Kamila masih memandang keluar.Arsen menyerahkan satu gelas padanya.“Minum dulu.”Kamila menerimanya.“Terima kasih.”Beberapa detik mereka hanya minum dalam diam.Tiba-tiba terdengar suara dari luar.Musi

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 82

    Pelukan itu tidak lama.Namun cukup untuk membuat dada Kamila terasa hangat.Arsen memeluknya dengan satu tangan—karena tangan satunya masih menopang kepala kecil Dania yang tertidur di bahunya.Kamila memejamkan mata sebentar.Ia bisa mendengar detak jantung Arsen.Tenang.Teratur.Berbeda sekali dengan dulu, ketika setiap kali mereka dekat, selalu ada sesuatu yang tegang di antara mereka.Sekarang… rasanya lebih damai.Perlahan Kamila melepaskan pelukan itu.Ia mengusap ujung matanya yang basah.“Dania harus ditidurin dulu,” gumamnya pelan.Arsen mengangguk kecil.“Iya.”Ia berjalan kembali ke kamar kecil di samping ruang tengah.Langkahnya hati-hati.Seakan takut lantai rumah itu mengeluarkan suara keras.Kamar itu tidak besar.Namun cukup.Tempat tidur bayi berada di sudut dekat jendela. Tirai tipis berwarna putih menahan cahaya matahari agar tidak terlalu terang.Arsen menunduk sedikit.Ia menurunkan Dania ke kasur bayi dengan gerakan yang sangat pelan.Tangannya menahan punggung

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 81

    Mobil hitam itu melaju pelan meninggalkan kontrakan Kamila. Mesinnya halus, hampir tidak terdengar. Hanya suara ban yang sesekali menyentuh kerikil jalan ketika mereka keluar dari area kontrakan. Di dalam mobil, suasana tenang.Terlalu tenang.Kamila duduk di kursi penumpang depan. Dania berada di kursi bayi di belakang, terikat sabuk dengan rapi. Bayi kecil itu tertidur . Napasnya kecil, teratur. Pagi-pagi sekali Arsen mengajaknya pergi entah kemana. Arsen menyetir tanpa banyak bicara.Tangannya mantap di setir.Sesekali matanya melirik kaca spion tengah… memastikan Dania masih tertidur nyaman.Matahari mulai terbit. Cahayanya masuk melalui kaca depan mobil, membuat bayangan lembut di wajah Arsen.Kamila menoleh sedikit.Ia memperhatikan laki-laki di sampingnya itu.Rahannya masih tegas seperti dulu. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam cara ia menatap jalan. Lebih tenang. Lebih… hati-hati.Beberapa hari terakhir terasa seperti mimpi.Arsen yang ia kenal dulu berbeda dengan Arsen s

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 80

    Mobil berhenti pelan di depan kontrakan kecil mereka. Tidak ada pagar tinggi. Tidak ada satpam yang membuka gerbang dengan hormat. Hanya gang sempit yang cukup untuk satu mobil lewat perlahan. Tembok-tembok rumah di kanan kiri berdiri rapat. Beberapa catnya pudar. Jemuran tetangga bergoyang pelan diterpa angin sore. Arsen mematikan mesin. Suara mesin yang tadinya berdengung perlahan menghilang, menyisakan sunyi yang hangat. Dania tertidur lagi. Kamila tidak langsung turun. Ia memandangi rumah kecil itu beberapa detik. Pintu kayunya yang sedikit mengelupas di sudut. Pot tanaman kecil di depan yang daunnya mulai menguning karena ia lupa menyiram kemarin. Rumah yang dulu sering membuatnya merasa kurang. Hari ini terasa berbeda. Arsen keluar lebih dulu, lalu membuka pintu sisi Kamila. Ia membungkuk sedikit, melepas sabuk kursi bayi dengan hati-hati. Gerakannya pelan. Telaten. Kamila memperhatikan tanpa bicara. Dulu Arsen bukan tipe laki-laki yang sabar dengan hal-hal kecil. I

  • Istri Rahasia Sang CEO    Bab 79

    Pagi itu berjalan lebih sibuk dari biasanya.Bukan karena ada yang mendesak.Bukan karena ada kabar buruk.Melainkan karena Arsen, dengan nada hati-hati yang hampir seperti orang meminta izin, berkata setelah sarapan:“Kita ke rumah Papi siang ini, ya.”Kalimat itu sederhana.Namun tangan Kamila yang sedang melipat kain kecil Dania sempat berhenti sepersekian detik.Rumah besar.Rumah keluarga Arsen.Tempat yang selama ini hanya ia dengar dalam potongan-potongan cerita. Tentang ruang tamu yang luas dengan langit-langit tinggi. Tentang tangga melingkar dengan pegangan kayu mengilap. Tentang halaman depan yang lebih mirip taman kecil daripada pekarangan rumah.Tentang standar.Tentang harapan.Tentang tatapan-tatapan yang dulu membuatnya merasa seperti tidak cukup.Kamila mengangkat wajahnya perlahan.“Sekarang?” tanyanya pelan.Arsen mengangguk. “Papi sudah beberapa kali minta ketemu Dania lagi. Cintya juga cerewet banget.”Nama itu membuat sesuatu bergerak pelan di dalam dada Kamila.

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 76

    Pagi berikutnya datang tanpa suara yang dramatis. Tidak ada kilat, tidak ada telepon mendadak, tidak ada ketukan pintu yang membuat jantung melonjak. Hanya cahaya tipis yang menyusup lewat celah tirai, menggambar garis-garis lembut di dinding kamar. Kamila terbangun lebih dulu. Bukan karena Dani

  • Istri Rahasia Sang CEO    Bab 75

    Pagi berikutnya datang tanpa suara yang dramatis.Tidak ada kilat, tidak ada telepon mendadak, tidak ada ketukan pintu yang membuat jantung melonjak. Hanya cahaya tipis yang menyusup lewat celah tirai, menggambar garis-garis lembut di dinding kamar.Kamila terbangun lebih dulu.Bukan karena Dania m

  • Istri Rahasia Sang CEO    bab 74

    Cahaya matahari tidak lagi jatuh lurus dari atas, melainkan menyelinap rendah, memanjang, menyentuh lantai ruang keluarga dengan warna keemasan yang lembut. Debu-debu kecil kembali terlihat, berputar pelan di udara, seperti mengingatkan bahwa waktu terus bergerak meski manusia sering tertinggal di

  • Istri Rahasia Sang CEO    Bab 73

    Matahari naik sedikit lebih tinggi.Tidak dengan niat. Tidak dengan kepedulian. Ia hanya bergerak seperti biasa, menarik bayangan meja makan beberapa sentimeter ke kiri, membuat debu-debu halus di permukaan lantai tampak lebih jelas dari kemarin. Kamila menyadarinya ketika ia berdiri terlalu lama d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status