เข้าสู่ระบบKesabaran Aiden sudah tidak bisa terbendung lagi. Wanita ini menghina Anna dengan mengatakan Anna sampah jalan dan bertanya apa kelebihan Anna dari dia.
Pria itu menatap wanita yang bernama Merry dengan tatapan yang teramat tajam. Aiden juga menarik Anna ke belakangnya, dia tidak mau Merry melukai dia. Seketika saja suasana di ruang tamu mendadak panas. Tatapan esnya menghujam lurus ke arah Merry. Wanita bergaun glamor yang baru saja melontarkan hinaan tajam ke Anna. Kilat membunuh yang berpencar di kedua mata Aiden begitu pekat, membuat bulu kuduk semua orang di ruang keluar nan mewah itu berdiri seketika. "Jaga ucapanmu, Merry!" tegur Aiden dengan nada rendah yang syarat akan ancaman. "Dia wanitaku. Jangan berani-berani kamu menyebutnya sebagai sampah jalanan. Jika ada sampah tak berguna di ruangan ini orang itu adalah kamu! Jangan mencoba bandingkan dia dengan kamu. Jawabannya tentu dia lebih baik dari kamu. Apa kamu paham!" Sembari merengkuh pinggang Anna lebih erat, Aiden menyapu pandangannya ke seluruh anggota keluarga besar Blackwoods yang terpaku. "Dia wanita baik-baik. Kalau kalian tidak suka dengan pilihanku, jangan pernah ikut campur! Ini hidupku. Siapa pun yang berani mengusik atau melukainya, aku pastikan kalian akan meratapi keputusan itu seumur hidup kalian!" Tanpa menunggu balasan dari keluarganya, Aiden menarik lembut pergelangan tangan Anna dan berbalik arah menuju pintu. Tidak ada lagi yang perlu dia lakukan di rumah itu. Niat baiknya, malah tidak dianggap sama sekali oleh keluarganya. "Aiden! Berhenti! Dasar kamu anak tidak tahu diri! Aiden!!! Jangan pergi," jerit ibunya dari arah ruang tengah. Suara lengkingan itu memantul di dinding-dinding rumah mewah itu. Namun, Aiden tidak bergeming sedikit pun. Pria itu terus melangkah konstan membawa istri barunya keluar dari rumah yang baginya tak ubahnya seperti neraka. Dia tidak akan membiarkan Anna menjadi sasaran caci maki keluarganya. Anna hanya bisa berpasrah diri. Cengkeraman tangan Aiden begitu kuat dan erat menimbulkan rasa perih di kulit pergelangan tangannya. Meski sakit, Anna memilih bungkam. Dia takut Aiden akan marah padanya. Barulah ketika pintu mobil sedan hitam berlapis baja ditutup rapat dan kendaraan meluncur membelah jalanan cengkeraman itu terlepas. Aiden tertegun tatkala mendapati kulit pergelangan tangan Anna yang mulus kini memerah memar akibat ulahnya. Raut ketegangan di wajah Aiden melunak seketika. Dengan penuh kehati-hatian, jemari tegapnya mengusap area yang memerah itu. "Maafkan aku," bisiknya halus. Tatapan mata yang tadinya tajam berubah menjadi hangat dan lembut. Dan itu berbanding terbalik saat Aiden berhadapan dengan Merry tadi. "Maaf, aku membuatmu terluka. Ini pasti sakit?" Anna menggeleng pelan seraya membuang pandang. "Tidak apa-apa, ini tidak sakit kok. Maafkan aku, Tuan. Kalau kehadiranku justru membuat keluargamu membencimu. Kalau memang kamu sudah dijodohkan dengan wanita anggun tadi, lanjutkan saja. Aku mundur. Dan aku tahu diri siapa diriku." Garis-garis penyesalan tersirat di wajah polos Anna. Matanya yang jernih mulai berkaca-kaca menahan kesedihan karena kehadiran dia membuat keluarga tersebut bertengkar. Aiden mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dia sangat tidak menyukai pernyataan yang keluar dari bibir istrinya itu. Pria itu meraih dagu Ana, mengarahkannya agar menatap matanya secara langsung. "Aku sudah memilihmu, Anna untuk menjadi istriku. Hanya kamu yang kupilih," tegaskannya tanpa ragu. "Jangan cemas. Selama aku masih bernapas, mereka tidak akan pernah bisa mengusikmu. Jika ada satu helai saja dari rambutmu yang jatuh karena ulah mereka aku sendiri yang akan menghancurkan hidup mereka. Percayalah padaku." Kalimat itu terucap bukan sekadar gertakan kosong. Di balik status resminya sebagai presdir direktur yang mempunyai bisnis raksasa, Aiden Blackwoods adalah penguasa dunia bawah tanah yang paling ditakuti. Dia seorang pemimpin mafia yang tak kenal ampun. Siapapun yang mengusik Anna nantinya maka mereka akan berhadapan dengannya. Walaupun itu keluarganya sendiri dia akan hancurkan. Menatap kesungguhan di manik mata Aiden, perlahan keraguan di dada Anna menguap. Akhinya Anna menganggukkan kepala pelan, menyerahkan hidupnya ke dalam genggaman sang suami. Begitu sampai di mansion, keduanya melangkah masuk ke dalam mansion rahasia milik Aiden. Suasana lengang menyambut mereka. Aiden mengantar Anna menuju lift pribadi yang langsung membawa mereka ke lantai dua. "Besok kamu tetap pergi ke kantor, Anna," ujar Aiden seraya memperhatikan gerak-gerik Ana. "Kalau iya, kamu tidak akan menjadi petugas kebersihan lagi. Aku sudah memindahkan posisimu sebagai asisten pribadiku yang kedua." "Tidak perlu, Tuan," sela Ana cepat. Dia menatap Aiden dengan sorot memohon. "Biarkan saya tetap menjadi petugas kebersihan saja. Anda sudah berjanji, kan? Di luar sana, tidak boleh ada yang tahu status kita. Belum waktunya mereka mengetahuinya. Apalagi setelah insiden tadi pagi dan hari ini. Jika saya mendadak naik jabatan, semua orang di kantor pasti makin yakin kalau saya ini wanita murahan yang sengaja menjual diri pada atasannya." Aiden terdiam sejenak. Meski sebenarnya tidak suka membiarkan istrinya bekerja kasar, pria itu mengalah demi kenyamanan mental Anna. Namun, di balik itu, Aiden sudah memberi instruksi rahasia pada Simon untuk menempatkan pengawal terselubung di setiap sudut koridor kantor. Aiden melangkah menuntun Anna menuju sebuah pintu ganda di ujung koridor. "Ini kamar kita," ujarnya seraya mendorong pintu tersebut. Ruangan itu sangat luas dengan pencahayaan hangat. Di sudut lain, tampak lemari pakaian kayu jati menjulang tinggi. "Seluruh barang dan kebutuhanmu sudah disiapkan di sana. Cek saja dulu. Kalau ada yang kurang, katakan padaku," lanjut Aiden. Mata Anna berbinar takjub. Kamar ini jauh lebih luas dari rumah sederhananya. Ada sedikit yang mengusik di hatinya saat ini. Anna mulai menyadari betapa jauh perbedaan kasta di antara mereka. Namun kehangatan sikap Aiden perlahan menepis perbedaan kasta antara mereka berdua. Aiden berpamitan sebentar untuk pergi ke ruang kerja pribadinya. Ia ingin menyelesaikan beberapa urusan bisnis gelap bersama Simon. Sementara itu, Ana melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Anna berdiri ragu di depan lemari pakaian. Seluruh deretan pakaian tidur yang telah disiapkan di sana memiliki potongan yang sangat minim dan transparan. Pakaian khas gaun tidur malam yang berbahan sutra yang menggoda itu akan dia kenakan. "Aduh... pakaian ini tipis sekali," gumam Anna dengan pipi merona merah. "Kalau aku pakai ini, apa dia tidak akan berpikiran yang tidak-tidak? Tapi kalau tidak dipakai, tidak ada baju tidur lain di sini." Setelah menimbang-nimbang dengan kepalanya yang sedikit pusing, Anna akhirnya mengambil satu gaun tidur bertali tipis berwarna putih bersih. Kain sutra itu jatuh melekat sempurna di lekuk tubuh mulusnya dan memperlihatkan bahu serta paha bahagian atasnya dengan sangat jelas. Dengan canggung, Anna berjalan menuju ranjang empuk dan menyusup di balik selimut sutra tebal. Kelelahan fisik dan emosional yang menguras tenaganya sepanjang hari dengan cepat menarik kesadarannya jatuh ke alam mimpi. Saat tengah malam, di dalam remang kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, sebuah lengan kekar bertato menjangkau tubuh Ana dari belakang dan melingkari pinggang rampingnya dengan begitu protektif. Anna tersentak. Hawa hangat yang asing menyapu tengkuknya membuat matanya terbuka lebar secara mendadak. "Siapa ini?!" jerit Ana panik. Dia refleks memukul lengan kekar yang mengungkungnya dan mencoba melepaskan diri. Namun, alih-alih melepaskan pinggang Anna lengan itu justru makin erat menarik tubuh Anna hingga punggung mulusnya menempel rapat pada dada bidang yang telanjang. Aroma parfum berkayu maskulin yang khas langsung membelai indra penciumannya. "Tuan Aiden!?" cicit Ana lirih. "Kenapa reaksimu berlebihan sekali, Anna?" bisik suara berat tepat di samping telinganya. "Apakah kamu lupa kalau sekarang kamu sudah punya suami?" Napas Anna tertahan. Dia menunduk ragu menjawab pertanyaan Aiden. Saat ini Anna bisa merasakan detak jantung Aiden yang bergemuruh dan berpacu sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri. "M-maafkan saya," cicit Anna dengan nada bersalah. "Saya tidak terbiasa tidur dengan orang lain. Tadi saya kira ada orang jahat yang masuk." Aiden tersenyum tipis di balik kegelapan. Dia membalikkan tubuh mungil Anna hingga mereka saling berhadapan. Dengan sangat lembut, bibirnya mendarat di kening Anna, memberikan sebuah kecupan hangat yang menyalurkan sensasi desiran aneh di dada wanita itu. "Tidurlah," bisik Aiden lembut. "Aku tidak akan macam-macam malam ini. Aku tahu kamu lelah. Kita bisa menunda malam pertama kita untuk esok hari." Mata cokelat Anna serta merta membelalak mendengarnya. "Tapi esok hari saya harus bekerja!" Aiden menaikkan sebelah alisnya, mengamati rona merah yang makin menjalar di pipi istrinya. "Lalu kenapa? Memangnya kamu berpikir kamu akan bekerja dua puluh empat jam penuh tanpa henti? Jangan mencoba menghindar dari kewajibanmu Anna. Sebagai seorang istri tugasmu untuk melayaniku, Anna." Sentilan pelan mendarat di kening Anna, membuat Anna meringis kecil seraya memegangi dahi. "Tapi ...." "Tidak ada tapi-tapi," potong Aiden cepat. Tiba-tiba saja, pria itu mengikis jarak membalikkan posisi dan mengungkung tubuh Anna di bawah naungannya. Keadaan berubah sangat intens dalam hitungan detik. Posisi mereka yang teramat dekat membuat Anna terperangkap di antara dua lengan tegap Aiden. Pria itu tidak mengenakan atasan tepatnya bertelanjang dada memperlihatkan garis-garis otot tubuhnya yang sempurna dan tato naga yang tampak hidup di bawah cahaya remang. Jantung Anna berdegup tak beraturan. Posisi intim ini membuat bagian sensitif tubuh mereka saling bergesekan halus dan memancing getaran gairah yang terlarang namun membakar. Ketampanan Aiden yang paripurna di bawah pendar lampu tidur benar-benar menyihir daya pikirnya. Suaminya ini tampan dari pria manapun. "Bagaimana kalau aku tidak sabar menunggunya sampai besok?" bisik Aiden dengan suara parau yang amat seksi. Jemari tegapnya mengusap pipi mulus Anna dengan belaian lembut yang memabukkan. "Bagaimana kalau aku menginginkannya sekarang juga, Anna? Apa kamu keberatan?" tanya Aiden dengan tatapan bergairah. Gugup luar biasa menguasai Anna. Pikirannya melayang pada pesan ibunya. Bahwa seorang istri tidak boleh menolak kehendak suaminya. Namun, sisa keberaniannya mencoba menolaknya. "B-bukannya Anda sendiri yang bilang esok saja, Tuan?" bisik Anna dengan terbata-bata. Bukannya menjauh, Aiden justru mengukir seringai memikat yang sanggup meruntuhkan pertahanan wanita mana pun. Dia menundukkan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. "Sayangnya, aku ini pria yang sangat tidak sabaran, istriku," bisik Aiden dengan nada rendah yang bergetar penuh hasrat. Pria itu mendekatkan bibirnya ke daun telinga Anna yang memerah. Lalu Aiden membisikkan sebuah kalimat rahasia yang berhasil membekukan seluruh helai napas gadis itu dalam seketika. "Masih mau menolakku, Lady?" tanya Aiden dengan suara pelan dan yang membuat Anna terkejut adalah Aiden melakukan sesuatu kepada dirinya hingga dia terkejut dan menjerit."Kenapa diam, Bunny?" tanya Anna ke Aiden yang saat ini sudah mulai nakal dengan meraba pusaka Aiden yang sudah keras. "Eurghh. K--kamu nakal, Lady. Kamu benar-benar nakal."Aiden mencoba untuk menekan gairahnya. Tapi bumil satu ini sudah membangkitkan gairah di dalam dirinya. Bagaimana tidak bangkit, Anna memasukkan jarinya ke dalam celananya. Dan mulai bermain kecil di sana. "Damn! Lady, kamu yang mulai bukan aku. Aku akan buat kamu menjerit." Aiden sudah tidak tahan lagi. Adiknya ingin keluar. Sudah meronta-ronta tak berdaya. Sedangkan Anna senang Aiden bisa bergairah. "Masih diam saja? Masih bisa bertahan, Bunnyku sayang?" tanya Anna sambil tertawa. "Tidak. Aku tidak akan tahan. Kamu yang minta. Aku akan layani." Aiden berbalik di saat tangan Anna sudah keluar dari sana. Anna mundur melihat Aiden sudah menunjukkan wajah yang penuh gairah membara. Anna makin tersenyum mengejek ke arah Aiden. "Kamu bisa tersenyum tapi nanti kamu akan merintih, Lady." Aiden membuka pakaiannya
"Anda tenang saja saya akan cari." Simon dengan penuh keyakinan akan mencari bukti tersebut. "Aku heran dengan keluarga Aiden. Bagaimana bisa dia seperti ini. Maksudnya aku, bagaimana bisa dia percaya dengan si nenek sihir itu. Sudah jelas dia tidak baik. Anak sendiri mengatakan hal sama tapi tetap tak dipercaya. Sungguh luar biasa. Pernikahan bisnis seperti ini tapi setahu aku bisnis keluarga Merry juga kurang baik. Kenapa mau kerja sama ya?" tanya Jerry ke sahabatnya. "Yang benar? Kamu tidak salah? Bukannya bisnis keluarga Merry bagus. Aku dengar kalau bisnisnya sukses dan ayahnya waktu itu menawarkan untuk menyatukan anaknya juga sama pengusaha tapi nggak ada yang mau. Dan anehnya malah keluarga Aiden yang mau. Tapi, setelah itu ga jadi karena Aiden sudah punya Anna. Sekarang malah didesak untuk berpisah."Rico geleng kepala dengan orang tua Aiden yang masih memaksa anaknya. "Sudah, kita dukung Aiden saja. Kalau ada yang tidak baik nantinya kita akan bantu. Itu dia ke sini sudah
Merry dan keluarga besar Aiden muncul tepat di depannya. Aiden menatap mereka dengan tatapan yang mengandung banyak arti. Anna yang melihat kedatangan dari mertuanya ketakutan dia bersembunyi di belakang Aiden. Sedangkan, Gio menatap dengan tatapan yang sama dengan Aiden. "Wah, coba lihat ini. Mereka ada di bandara. Sepertinya, mereka mau pergi dari negara ini, Mom. Mereka mau menghabiskan uang keluarga kita," sindir Merry melirik ke Anna yang sembunyi di belakang Aiden. Merry melangkah ingin mendekati Anna tapi Aiden menjadi benteng untuk melindungi Anna. "Berdiri di sana. Jangan mendekat. Aku tidak mau kau mendekat denganku," ucal Aiden dengan tegas dan suaranya juga terdengar dingin. Merry yang hampir dekat dengan Aiden dan Anna menghentikan langkah. Dia tak menyangka kalau Aiden berkata seperti itu. Dia menatap Aiden dengn tajam. Dirinya merasa kalau Aiden terlalu memanjakan Anna dan melindungi Anna. "Aiden, keterlaluan kamu. Bisa-bisanya kamu katakan itu. Apa mau kamu? Kam
Aiden dan sahabatnya berhasil pergi dari tempat tersebut. Polisi sudah datang dan semua orang yang terluka sudah dibawa ke rumah sakit. Aiden memeluk Anna dan Gio. Keduanya dalam pelukannya. Aiden masih mengingat bagaimana si Carlos menatapnya dengan penuh kebencian yang teramat dalam. "Semua sudah aman 'kan?" tanya Anna ke Aiden yang masih memeluk Anna dan Gio dalam pelukkanya. "Iya. Semuanya aman. Kamu jangan khawatir. Apa perutmu sakit, Lady?" tanya Aiden kembali. Anna menggelengkan kepala pelan. Sambil menatap ke arah Aiden. "Syukurlah. Apa dia musuhmu perusahaanmu atau teroris?" tanya Anna memastikan jika orang-orang yang meledakkan restoran itu musuh Aiden. "Tidak. Jangan khawatir. Sudah tidurlah. Kamu pasti lelah aku akan melindungi kalian bertiga. Kamu, Gio dan janin kembar kita." Aiden mengecup kening Anna pelan dan lembut. Sambil menepuk-nepuk pelan lengan Anna dan Gio. Kiri kanan orang-orang yang dia sayangi berada dalam pelukannya. "Anna, aku tidak akan membiarkan k
Anna memegang lengan baju Aiden. Dia takut jika dirinya berpisah dari Aiden. "Kamu tenang saja. Aku di sini," ucap Aiden pelan meminta Anna tenang. Aiden mengecup bibir Anna dan tersenyum. Dia melakukan itu agar Anna tenang dan tidak takut dengan apa yang terjadi. Anna menganggukkan kepala dia percaya kalau Aiden akan melindungi dia. Seluruh restoran hancur, suara teriakkan terdengar sangat kencang."Siapa yang sudah berani melakukan ini. Awas saja kalau aku tahu. Aku akan buat mereka menyesal." Aiden membawa Anna ke bagian belakang begitu juga dengan anak angkatnya Gio. Dia ingin keduanya selamat dari serangan tersebut. "Tuan, saya ingin katakan sesuatu. Tapi, nanti saja," ucap Simon yang memeluk Lili. Aiden mengangguk dia tahu kalau asistennya ingin katakan sesuatu. Aiden dan sahabatnya juga asistennya berhasil keluar dari restoran. Mereka kabur dari pintu belakang. "Kalian cepat lewat sini. Ini jalan aman. Ayo, Tuan bawa keluargamu. Jangan takut ini jalan yang aman," ujar pe
Seluruh keluarga terdiam mendengar apa yang dikatakan istri dari Arlon. Tidak ada membantah atau protes. Karena mereka tahu kelakuan dari Arlon itu seperti apa. Dia dan Rini dijodohkan karena perjanjian kerja sama tapi Rini enggan melayani Arlon karena tahu Arlon itu pemain wanita. "Abraham, atur dia. Aku tidak mau dia membuat malu keluarga, cepat," perintah Ayah kandung Tuan Abraham ke anaknya. Tuan Abraham menganggukkan kepala mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Sambil mengutuk Arlon yang masih berulah padahal sudah dia wanti-wanti tapi tetap tidak digubris olehnya. Terlepas dari kisruh di rumah Blackwoods, Aiden dan Anna semakin mesra. Keduanya menunjukkan kemesraan di depan para sahabat dan Simon. Tapi, kali ini Simon tidak sendirian dia bermesraan dengan Lili. "Cih, bagaimana bisa kalian menunjukkan kemesraan kalian di depan kami. Keterlaluan," kesal Mario menunjuk wajah cemberutnya ke Aiden dan Simon yang raut wajahnya menunjukkan dia mengejek sahabat Aiden majikannya







