LOGINMakan malam yang seharusnya menjadi acara keluarga biasa berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tidak pernah dibayangkan Renata. Setelah pengakuan tentang pernikahannya dengan Dirga terbongkar, suasana ruang keluarga sempat dipenuhi keheningan.Celina masih berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya bergantian berpindah antara Renata dan Dirga. Seolah-olah dia masih berusaha memastikan bahwa semua yang baru saja didengarnya bukan lelucon.“Jadi, ....” Celina akhirnya bersuara setelah beberapa saat hanya menatap Renata dan Dirga secara bergantian.Sejak mengetahui hubungan mereka, wanita itu tampak kesulitan mencerna kenyataan yang baru saja terungkap. Sesekali, pandangannya beralih kepada Dirga, seolah berharap pamannya akan mengatakan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Namun, Dirga tetap duduk tenang di sofa. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyangkal apa pun.Renata yang duduk di sampingnya mulai merasa gelisah. Dia bisa memahami
“Iya," jawab Dirga.Celina terdiam sejenak, berusaha mencerna jawaban singkat yang baru saja didengarnya. Dia menatap pamannya, lalu mengalihkan pandangan kepada Renata yang berdiri tidak jauh dari sana. Tatapannya bergerak bergantian di antara keduanya, seolah berharap dirinya salah memahami situasi.“Dan .…”Kalimat Celina terputus. Perlahan, dia mengangkat tangannya dan menunjuk Renata dengan ekspresi tidak percaya.“Paman menikah dengan Renata?”“Iya."Jawaban itu kembali terdengar begitu tenang, seolah tidak ada sesuatu yang mengejutkan dari pengakuan tersebut.Celina langsung memegang kepalanya dengan kedua tangan. Matanya membulat, sementara bibirnya terbuka lebar karena terlalu terkejut untuk segera mengeluarkan kata-kata.“Ya ampun!”Renata semakin salah tingkah. Dia tahu Celina bukan marah. Sahabatnya itu hanya terlalu terkejut untuk mencerna kenyataan bahwa dua orang yang selama ini berada di kehidupannya ternyata memiliki hubungan yang jauh lebih dekat daripada yang pernah
“Celina?”Seketika suasana yang sebelumnya hangat berubah menjadi penuh tanda tanya. Ratih menoleh dari satu wanita ke wanita lainnya.“Kalian sudah saling kenal?”Celina tidak langsung menjawab. Dia justru berjalan cepat menghampiri Renata dengan ekspresi yang masih dipenuhi rasa tidak percaya.“Kamu ngapain di sini?” tanya Celina.Nada suara Celina terdengar spontan, seperti seorang sahabat yang tiba-tiba menemukan temannya berada di tempat yang sama sekali tidak pernah dibayangkan.Renata membuka mulut. Namun, sebelum sempat memberikan jawaban, pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan. Dia tidak pernah membayangkan akan bertemu Celina malam itu. Apalagi di rumah Dirga.“Aku .…”Renata melirik Dirga sekilas. Dirga yang menyadari kegugupan istrinya hanya berdiri tenang.Celina kemudian mengikuti arah pandangan Renata. Tatapannya berhenti pada Dirga. Lalu kembali kepada Renata.“Kamu datang sama siapa?” tanya Celina.Pertanyaan itu membuat jantung Renata berdegup lebih cepat. Ia
Sejak pagi, rumah terasa lebih sibuk dari biasanya. Bi Sari mondar-mandir di ruang makan, memastikan semua kebutuhan sarapan tersedia. Sementara Renata duduk di meja makan sambil menikmati teh hangat, sesekali melirik ke arah Dirga yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.Baru saja Dirga hendak menyelesaikan sarapannya, ponselnya berdering. Nama Mama muncul di layar. Dirga mengangkat panggilan itu.“Ya, Ma?”Suara Ratih terdengar dari seberang.“Kamu hari ini jangan pulang terlalu malam.”Dirga mengernyit. “Kenapa?”“Mama mau mengadakan makan malam di rumah utama.”Dirga meletakkan sendoknya.“Makan malam?”“Iya. Kakakmu dan keluarganya datang.”Dirga terdiam sejenak.Ratih melanjutkan, “Sudah lama kita tidak makan bersama. Mama ingin kamu datang.”Dirga melirik sang istri. Renata yang sejak tadi tidak mendengar jelas percakapan mereka hanya mengangkat alis.“Aku datang," ucap Dirga.“Jangan sendiri.”Dirga langsung memahami maksud ibunya.“Ma .…”“Bawa Renata.”Renata yang mendengar n
Malam mulai turun ketika pintu depan akhirnya terbuka. Dirga pulang.Suara langkah pria itu terdengar dari ruang depan, pelan tetapi tegas. Setelah seharian berada di luar, menghadapi berbagai urusan yang menguras tenaga dan pikiran, wajah Dirga itu tampak sedikit lelah. Jas hitam yang dikenakannya sudah tidak serapi ketika berangkat pagi tadi. Beberapa kancing kemejanya terbuka di bagian atas, memperlihatkan betapa dia ingin segera melepaskan semua beban pekerjaan yang masih menempel di tubuhnya. Namun, baru beberapa langkah memasuki rumah, sesuatu membuat langkahnya melambat.Aroma masakan memenuhi udara. Aroma hangat yang sederhana, tetapi entah mengapa terasa begitu menenangkan. Dirga menarik napas dalam-dalam. Ada sesuatu yang berbeda dari pulang ke rumah sekarang.Dulu, rumah hanyalah tempat untuk beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan. Tempat yang nyaman, tetapi tidak pernah benar-benar membuatnya merasa ditunggu. Sekarang, semuanya berubah. Ada seseorang yang membuat kep
Sementara itu, di kampus, suasana perpustakaan terasa cukup tenang. Beberapa mahasiswa duduk di meja masing-masing, tenggelam dalam buku dan laptop. Sesekali terdengar suara halaman yang dibalik atau bisikan kecil dari sudut ruangan.Renata duduk berhadapan dengan Celina. Sebuah buku terbuka di hadapannya, tetapi sejak beberapa menit lalu tidak ada satu pun halaman yang benar-benar dia baca. Matanya memang tertuju pada tulisan di sana, tetapi pikirannya terus melayang pada kejadian beberapa hari terakhir.Pada seseorang, Dirga. Tanpa sadar, sudut bibir Renata kembali terangkat. Celina yang sejak tadi memperhatikan perubahan ekspresi sahabatnya akhirnya tidak tahan untuk bertanya.“Kamu kenapa?”Renata mengangkat wajah.“Kenapa lagi?”Celina menyipitkan mata.“Dari tadi senyum.”Renata spontan menyentuh pipinya sendiri. Dia bahkan tidak menyadari kalau senyum kecil itu terus muncul setiap kali pikirannya mengarah kepada Dirga.“Enggak.”“Enggak apanya?” Celina menunjuk wajah Renata. “K







