Beranda / Romansa / Istri Rahasia Tuan Dirga / Bab 30 Pernikahan yang Dipercepat

Share

Bab 30 Pernikahan yang Dipercepat

last update Tanggal publikasi: 2026-09-22 22:46:38

Sejak pagi, Renata terlihat lebih ceria dari biasanya. Ia duduk di salah satu sudut kafe kampus sambil menyeruput minuman dingin. Laptop terbuka di hadapannya, tetapi sejak beberapa menit lalu, layar itu nyaris tidak disentuh.

Senyum tipis beberapa kali muncul di wajahnya. Celina yang duduk di seberang meja tentu saja menyadarinya. Wanita itu menyipitkan mata.

"Kamu aneh," ucap Celina.

Renata yang sedang menggulir layar laptop langsung menoleh.

"Aneh bagaimana?"

"Dari tadi senyum sendiri," jawa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 95 Malam Malam Berdua

    Malam itu, Renata dan Dirga benar-benar pergi makan malam bersama seperti yang telah mereka rencanakan. Mereka memilih sebuah restoran kecil yang terletak tidak jauh dari tepi Sungai Serayu. Tempat itu tidak terlalu ramai, dengan pencahayaan hangat dan jendela besar yang memperlihatkan pantulan lampu kota di permukaan air.Renata duduk di hadapan Dirga sambil membaca menu. Sesekali dia melirik pria itu, yang sejak tadi memperhatikannya dengan senyum tipis.“Ada apa?” tanya Renata akhirnya.“Tidak ada.”“Kalau tidak ada, kenapa melihatku terus?”Dirga meletakkan menu di atas meja. “Aku sedang menikmati pemandangan.”Renata mengerutkan hidung. “Pemandangan di luar jendela ada di sebelah sana, Mas.”“Aku tahu.”“Lalu, kenapa melihatku?” tanya Renata.“Karena pemandangan di depanku lebih menarik," jawab Dirga.Renata terdiam. Dia sudah beberapa kali mendengar Dirga melontarkan kalimat manis dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata pada saat yang tidak terduga.“Mas Dirga sekara

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 94 Keberhasilan yang Dirayakan

    Ternyata Renata tiba di rumah lebih awal. Dia mendapati Bi Sari sedang menyiram tanaman di halaman kecil.“Sudah pulang, Nyonya?”“Iya, Bi. Aku tadi belajar di perpustakaan.”“Bagaimana skripsinya?”Renata meletakkan tas di kursi teras, lalu menghampiri Bi Sari.“Semakin mendekati selesai. Masih ada beberapa bagian yang harus diperbaiki, tetapi aku sudah lebih mengerti apa yang perlu kulakukan.”Wajah Bi Sari langsung cerah.“Syukurlah. Bibi ikut senang mendengarnya.”Renata membantu menyiram tanaman yang belum terkena air. Dia menyukai kegiatan sederhana semacam itu. Setelah berjam-jam menatap layar laptop, melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan tugas kuliah membuat pikirannya terasa lebih segar.“Bi,” panggil Renata setelah beberapa saat.“Iya, Nyonya?”“Dulu, apa Mas Dirga juga sering bekerja sampai lupa waktu?”Bi Sari tertawa kecil.“Sering sekali. Kalau sudah sibuk, Tuan bisa duduk berjam-jam di ruang kerja. Makan pun kadang harus diingatkan.”Renata membayangkan Dirga

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 93 Satu Langkah Terlewati

    Pagi itu, Renata sudah duduk di depan laptop ketika Dirga selesai bersiap untuk berangkat ke kantor. Beberapa lembar catatan tersusun rapi di atas meja, sementara secangkir teh yang dibuatkan Bi Sari mulai kehilangan kehangatannya karena terlalu lama dibiarkan.Renata sedang memeriksa kembali revisi skripsinya. Setelah konsultasi terakhir, dia merasa semakin dekat dengan tahap akhir, meskipun masih ada beberapa bagian yang membutuhkan perhatian lebih. Dirga berhenti di ambang pintu ruang kerja itu.“Belum sarapan?" tanya Dirga.Renata mengangkat wajah. “Sebentar lagi. Aku mau menyelesaikan satu bagian ini dulu.”Dirga melirik layar laptop, lalu memandang istrinya dengan ekspresi yang membuat Renata langsung mengerti bahwa dirinya tidak akan dibiarkan melewatkan sarapan.“Renata.”“Iya, Mas?”“Kamu bisa melanjutkannya setelah makan," lanjut Dirga.Renata mengembuskan napas, kemudian tersenyum kecil. “Baiklah. Aku menyerah.”“Bagus. Aku tidak ingin berdebat dengan istriku hanya karena s

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 92 Dukungan Suami

    Keluar dari ruang dosen, Renata segera menghubungi Dirga melalui pesan singkat.[Mas, konsultasinya berjalan lancar.]Balasan datang beberapa menit kemudian.[Syukurlah. Apa kata dosenmu?][Tinggal beberapa revisi lagi. Kalau semuanya selesai, aku bisa membicarakan tahap berikutnya.][Aku bangga padamu.]Renata membaca pesan itu berulang kali. Empat kata sederhana tersebut membuat matanya terasa hangat. Dia tahu Dirga memiliki banyak kesibukan. Pria itu mungkin sedang menghadiri rapat atau memeriksa laporan ketika membalas pesannya. Namun, dia tetap menyediakan ruang untuk mendengarkan kabar tentang perjuangan Renata.Setelah membaca pesan itu, Renata segera mengetik balasan.[Aku masih harus bekerja keras.][Aku tahu. Dan aku akan tetap mendukungmu. Tapi, jangan lupa makan siang.]Renata tertawa kecil membaca pesan terakhir. Perhatian Dirga memang sering muncul dalam bentuk sederhana. Dia tidak selalu memberikan hadiah atau mengucapkan kata-kata romantis. Terkadang, wanita itu hanya

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 91 Konsultasi yang Berjalan Lancar

    Pagi itu, Renata bangun lebih awal daripada biasanya. Setelah merapikan tempat tidur, dia membuka tirai jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar. Udara pagi terasa sejuk, sementara suara kendaraan dari kejauhan mulai terdengar menandakan aktivitas kota telah dimulai.Wanita itu melirik Dirga yang masih berada di kamar mandi, lalu tersenyum kecil. Beberapa hari terakhir, kehidupan mereka terasa semakin dekat. Tidak ada lagi kecanggungan yang terlalu besar ketika mereka duduk berdampingan atau berbagi cerita sebelum tidur. Renata bahkan mulai terbiasa mencari tangan Dirga saat mereka berjalan bersama. Hal-hal yang dahulu membuatnya malu kini terasa alami, seolah hatinya perlahan menemukan tempat yang tepat untuk menetap.Setelah selesai bersiap, Renata turun terlebih dahulu ke ruang makan. Bi Sari sedang menata sarapan ketika melihatnya datang.“Pagi, Nyonya. Tumben sekali sudah rapi sejak tadi.”“Aku mau pergi ke kampus lebih awal, Bi. Ada beberapa hal yang ingin kutanyak

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 90 Hal-hal Kecil yang Membuat Bahagia

    Menjelang siang, Renata menutup laptop dan meregangkan tubuh. Dia akhirnya mengikuti saran Dirga untuk beristirahat sejenak. Ketika keluar dari ruang kerja, dia mendapati suaminya sedang berbicara melalui telepon di ruang tengah. Dirga menyelesaikan pembicaraannya beberapa menit kemudian.“Sudah selesai?” tanya Dirga.“Sudah. Aku mau membuat teh," jawab Renata.“Aku temani.”Renata menatapnya heran. “Bukankah kamu juga punya banyak pekerjaan?”“Ada. Tapi, aku bisa mengambil jeda sebentar.”Mereka berjalan ke dapur bersama. Renata menyiapkan teh, sementara Dirga mengambil dua cangkir dari lemari. Pemandangan itu sederhana, bahkan mungkin tidak berarti bagi orang lain. Namun, bagi Renata, kebersamaan semacam inilah yang mulai membuat rumah tersebut terasa benar-benar seperti rumahnya. Bukan sekadar tempat tinggal yang dia tempati setelah menikah, melainkan tempat dirinya merasa aman, diterima, dan menjadi dirinya sendiri.Ketika mereka duduk berdampingan di meja kecil dekat jendela, Ren

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status