MasukBelvara menepuk lengan atas Ibra pelan. “Jangan begitu,” ujarnya pelan.“Bagaimana kalau besok kita ke dokter, periksa kandungan, Mba.” ajak Ibra, mengalihkan topik pembicaraannya, yang terasa menjadi kikuk.“Mas Ibra, jangan panggil lagi Aku Mba,” tegur Belvara, dengan intonasi pelan.Membuat Ibra terus mengulum senyum dan menatap Belvara lekat, seolah tak ada yang lebih indah dari wajah sumringah Belvara saat ini.“Ah, itu kebiasaan.” Ibra menoleh pada Belvara sekilas. “Jadi mau besok kita ke dokter?” Ia meyakinkan Belvara.Belvara diam seolah sedang menimbang sesuatu. Ia sendiri pun tidak yakin dengan usia kandungannya saat ini, sejak awal kehamilannya tidak pernah ia periksakan. Terlampau cmas saat itu, antara menggugurkannya atau mempertahankan.Ia tidak ingin menanggung karmanya, membuatnya lebih memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari Hagan, tak peduli jika Ayah si jabang bayi tak bisa jauh darinya apa lagi melepasnya, namun Hagan sendiri yang membuat Belvara yakin
Belvara menatap nanar Ibra, penuh pertanyaan tersirat. Kenapa harus sampai sejuh itu? “Tenang, Mba. ini hanya formalitas, walaupun disini tertulis Saya sebagai suami, Saya tidak akan meminta hak seorang suami sama, Mba, Ko.” ibra mengulas senyum, nampak terlihat cekungan di pipinya.Kendati begitu, tidak ada pilihan lain baginya, perasaannya memberikan sinyal bahwa apa yang Ibra lakukan adalah murni ketulusan, tidak ada niat apapun dari pria itu, selain berniat memisahkannya dengan Hagan.“Besok Saya antar, Mba pindah ke rumah di pinggiran kota sana.”Belvara menganggukkan kepala. “baik , Mas Ibra.”Belvara hanya berharap, semoga dikehidupannya saat ini, tidak kembali ia temui kemalangan.***Perjalanan menuju rumah yang Ibra tunjukan melewati perbukitan dan hamparan sawah hijau, Belvara terbelalak menatapnya. Sudah sangat lama ia tak melihat pemandangan asri seperti itu.“Mas, ini kayak desa?”Ibra yang sedang menyetir menyunggingkan bibir. “Iya, apa keberatan jika tinggal di desa?
“Aku yakin itu suara Pak Hagan.” Belvara menajamkan indera pendengarannya pada daun pintu, menguping pembicaraan di sana agar terdengar lebih jelas tanpa memaksa keluar dari sana.Ia paham kenapa pintu kamarnya terkunci, sepertinya Aminah sengaja menguncinya karena ia tahu Hagan datang. Dan menghindarkan pertemuan Belvara dengan Hagan secara tidak sengaja.“Bagaimana pun Belvara istri Saya, Bi Aminah. Saya cuma minta sabar dulu sampai semua ini selesai, Saya tidak akan terus-terusan merahasiakan status pernikahan kami.”“Tapi, Den Hagan, perempuan mana yang tahan di duakan seperti itu, meski Belvara hanya istri simpanan, tapi mungkin dia menganggap dirinya lebih layak dari itu. Dan akhirnya memilih pergi.” Ibu menjeda kalimatnya. “Ibu tidak tahu apa-apa tentang itu, Ibra hanya membantunya mengantar sampai ke stasiun kereta di tengah kota, setelah itu Ibra pulang. Hanya itu yang Ibu tahu, Den Hagan.” ucap Aminah dengan intonasi pelan penuh dusta. “Bi Aminah yakin tidak ada yang disem
Belvara menelan ludah, menatap Ibra dengan skeptis. ‘Mana bisa Aku melakukan itu tanpa di dasari rasa cinta atau suka. Terlebih, Mas Ibra yang sudah aku anggap seperti Kakak.’“Mba… Saya gak minta hal seperti itu, Saya tahu ini gak benar. Jadi… Saya lebih baik menunggu saja, sampai resmi pisah. Dan Saya akan langsung nikahi, Mba.”Belvara mendecih kasar. “Gak semudah itu, Mas Ibra… apa lagi kalau Pak Hagan tahu Aku mengandung anaknya.”Ibra menghela nafas kasar. “Kalau Mba benar-benar mau pergi dari Pak Hagan, Mba bersedia tinggal di rumah Saya yang saya sebutkan tadi, Saya ungsikan Mba di sana, dan bisa memulai hidup baru tanpa ada rahasia, dan Mba tenang aja semua kebutuhan hidup Mba dan anak dikandungan Mba itu, biar Saya yang tanggung.”“Mas Ibra, memulai hidup baru di tempat baru pun perlu dokumen yang memadai, jadi… orang-orang baru di sana akan percaya.” “Saya akan urus itu secepatnya, setelah berkas-berkas selesai, Saya mohon, tinggallah di sana, bukan hanya karena Saya mengi
Belvara mematung sepersekian detik ketika ia membuka pintu, Ibra sudah berdiri dengan satu tangan menopang pada kusen pintu. “Ada apa, Mas Ibra?”“Mba, kita ngobrol di dalam.” Ibra masuk lebih dulu, dan duduk di tepi ranjang, matanya fokus mengamati lekuk tubuh Belvara yang terbingkai daster yang panjangnya hanya sepaha, membuat paha putih mulusnya sedikit terekspos.Belvara berdiri dan menyaarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, pintunya sengaja ia buka lebar agar tidak timbul fitnah jika Ibu tidak sengaja lewat dan menoleh ke arah kamarnya.“Ibu merestui hubungan kita, apa gak sebaiknya kalau kita nikah aja?”Belvara menautkan alis, menatap Ibra tak percaya. “Mas, Kamu bisa dapat perempuan yang lebih segalanya dari Aku.”Ibra menunduk, seolah sedang menahan sesuatu, kemudian menatap Belvara cukup dalam. “Mba, sebenarnya… Saya punya kelainan seksual.”“Maksud, Mas?” kerutan di dahi Belvara semakin bertambah. “Saya gak pernah tertarik sama perempuan, tapi, semenjak Saya bertemu Mba,
Aminah mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca dan memeluk Belvara begitu saja.Belvara pasrah saat tubuhnya di peluk Aminah, ia biarkan tangis Aminah tumpah di bahunya, meski ia tidak paham tangis karena apa yang Aminah keluarkan saait tu.“Bu Miranti fitnah Pak Wirawan, kalau dia menjadi penghalang para donatur yang akan berdonasi di yayasan Kinantan,” ucap Aminah lirih. “Dan diam-diam menyebarkan rumor kalau para donatur itu dialihkan ke Yayasan yang akan Pak Wirawan dirikan, untuk menjatuhkan yayasan yang sudah Pak Kemal bangun selama ini. Jadi, Pak Wirawan dianggap penghianat.” Pernyataan Aminah membuat Belvara semakin mengerutkan dahi. Kebingungan.Aminah melanjutkan ucapannya. “Itu semua Bu Miranti lakukan karena Pak Wirawan tahu, bahwa Bu Miranti berselingkuh dengan adik dari Pak Kemal, dan sebenarnya, Sanjaya Adiguna itu bukan sepupu Pak Hagan tapi adik tiri Pak Hagan, hasil hubungan gelap Bu Miranti dengan Adik Pak Kemal.”Belvara menggelengkan kepala. “Apa Pak Hagan tahu
Belvara yang semula mengelus pelan rambut Ayas sontak terdiam. Jemarinya berhenti tepat di atas kepala anak itu. Sorot matanya sedikit goyah, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya.“Ayas…” suara Belvara terdengar lirih.Anak kecil itu menggeser tubuhnya mendekat, memeluk Belvara dengan kedua tan
“Bukan itu maksud Saya.”“Lalu keluarga yang Bapak maksud? Ayahnya Juna atau siapa?”“Orang tua Belvara.”“Saya tidak sampai mencari tahu tentang orang tuanya, Pak “Pintu lift terbuka, Hagan keluar dari sana lebih dulu, dengan langkah tegap berirama, kemudian berbalik badan menatap Ibra. “Setelah
Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu. “Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak. “Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia
“Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara denga







