Share

Bab 4

Author: Djulitas
last update publish date: 2026-05-01 23:04:28

Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia pun berpikir sejenak, sudah cukup oelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri.

Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah Bapak bisa menyiapkan keperluan sendiri? karena setahu Aku—Pak Hagan ini seorang Duda," cukup lantang Belvara berucap, dengan tatapan nanar, tanpa merasa salah.

Kedua bola mata Hagan membola dengan cepat, rahangnya turut mengeras, bagaimana bisa perempuan yang tak dikenalinya dengan lancang menyebutnya Duda, sebuah kata yang hagan benci mendengarnya.

"Ibra! bawa keluar perempuan itu!" pekiknya, suara hagan cukup menggelegar di ruangannya.

Juna yang sejak pertama bertemu Hagan di mall sudah merasa takut, kini anak kecil itu harus kembali melihat dan mendengar pria yang ditakutinya mengeluarkan intonasi tinggi, membuat Juna menangis kencang dengan sendirinya, Hingga Belvara pun gelagaoan untuk menenangkan sang anak.

“Cepat bawa dia keluar Ibra! Tangisan anak itu membuat kepala Saya mau pecah!” Hagan tertunduk dan memijat pelipisnya, dengan intonasi yang tetap tinggi.

Hagan memimirkan kenapa perempuan itu memilih untuk menjadi pelayan dirinya? apa sebenarnya perempuan itu adalah mata-mata dari orang-orang yang ingin menggulingkan Hagan dari kepemimpinannya di Yayasan ini?

Pintu ruangan Hagan terbuka kecil, menampilkan gadis mungil di balik celah pintu. “Papah…” suara itu lembut mendayu.

Ayas membuka pintu lebar-lebar, dan berlari menghamburkan diri pada Hagan.

“Ayas, sudah Papa katakan, jangan asal buka pintu dan masuk sebelum dipersilahkan masuk.” intonasinya terdengar sedikit melunak, meski garis wajahnya masih menampilkan kekesalan yang dibuat Belvara.

“Maaf, Papa….” Anak kecil itu tertunduk, sebelum maniknya bertemu dengan Belvara di sofa tamu ruangan Hagan.

“Mbak, Ayo keluar, sebelum Pak Hagan kembali berteriak, kasihan anak Mbaknya sudah ketakutan,” ajak Ibra, sedikit berbisik pada Belvara.

Perempuan itu pun menghela nafas sebelum menuruti. Kesialan seolah menimpanya, padahal, Belvara sudah berusaha berkata sesopan mungkin.

Belvara berdiri sambil menggendong Juna yang terisak-isak karena rasa takut yang ia alami, seolah bentakan dan suara keras Hagan menjadikannya trauma.

“Udah nyelametin anaknya, balasannya malah bikin anak Aku trauma!” ucap pelan Belvara yang terdengar seperti bisikan oleh Hagan.

‘Pantes awet jadi duda.’

Hagan menatap nyalang perempuan muda yang sudah bergelar janda itu, perempuan dari antah berantah itu terlampau lancang bagi Hagan menyebut statusnya yang memang sebenarnya pantas di sebut Duda. Apa perempuan itu tak pernah di ajarkan bagaimana caranya berbicara pada orang yang status sosialnya lebih tinggi?

Hagan yang terlahir dari keluarga yang segalanya memiliki aturan, tumbuh dalam dunia yang serba terukur. Setiap langkahnya seolah sudah digariskan, dari cara ia berbicara, memilih teman, hingga menentukan masa depan, termasuk istri. Jadi tentu ia tidak akan sembarang memilih perempuan untuk mendampingi hidupnya yang cukup berat sebagai pemimpin sebuah Yayasan pendidikan terbesar dan tersohor di Kotanya, itu juga yang membuat Hagan awet menduda.

“Tante peri!” Teriak Ayas ketika ia melihat Belvara. Anak itu pun berlari menghampiri Belvara yang sudah berada di dekat pintu untuk keluar.

Belvara membalik tubuhnya, sedikit menunduk pada Ayas. “Hai, cantik. Kita ketemu lagi.” Dicubitnya pelan pipi anak perempuan itu.

“Tante ayo duduk lagi, ngoblol lagi sama Papa Ayas,” celetuk anak kecil yang tak mengerti apa-apa itu.

“Non, Maaf, tante ini harus keluar, urusannya sama Papa, Non, udah beres.” Ibra menimpali, sedikit menjelaskan pada gadis kecil berambut panjang kecoklatan itu.

Belvara mengerling pada Ibra. ‘Beres apanya, wong Aku di usir.’ Gumamnya.

Rasanya sia-sia waktu Belvara sudah meluangkan waktu untuk datang kesini demi mendapatkan sebuah pekerjaan yang lebih layak, namun kenyataannya kesalahan satu kata saja, sudah membuat Hagan naik vitam.

Ayas menarik lengan Belvara, seolah menahannya untuk tidak keluar dari ruangan itu. “Om Ibla diem, deh,” cetusnya, dengan suara khas anak kecil.

Mata Ibra menatap Hagan yang sejak tadi memperhatikan mereka, mengindikasikan sebuah pertanyaan, bagaimana ini, Pak Hagan?.

“Biarkan.” Intonasi Hagan melunak, emosi pada Belvara menguap karena kedatangan buah hati semata wayangnya.

“Ayo duduk, Tante Peli.”

Belvara pun menurutinya, tangannya di terik lembut Ayas kembali menuju sofa.”

“Papa gak boleh galak-galak sama Tante peli, nanti Tante peli sihil Papa jadi batu.”

Hagan hanya berdecak dengan sebelah ujung bibir yang terangkat.

Hagan menarik nafas, mengubah posisi duduknya lebih tegak, dengan tangan saling bertaut di atas meja kerjanya. “Apa pendidikan terakhir Anda?” Hagan kembali bertanya pada Belvara seolah mencari opsi lain untuk posisi Belvara bekerja.

Andai Hagan tak berhutang nyawa sang anak, tentu ia teramat ogah berurusan dengan perempuan lancang menurutnya ini.

“Saya cuma lulusan SMA, Pak.”

“Pantas, meminta jadi pelayan, karena pekerjaan yang Saya tawarkan di berkas tadi tidak ada yang memenuhi kualifikasi di sana, betul?”

Rahang belvara mengeras, ia mendongak penuh menatap Hagan. “Emangnya kenapa, Pak? Aku sadar diri, dari pada maksain kerja yang sama sekali gak Aku kuasai, bakal malu-maluin Yayasan Bapak nantinya. Andai Aku punya nasib lebih baik, bisa nerusin pendidikan, mungkin Aku bakal jadi saingan Pak Hagan di dunia pendidikan!”

Hagan tertawa terbahak-bahak disertai tepukan tangan ringan, sementara Ibra yang beridiri di sebelahnya menahan tawa, menutup mulut dengan lengan yang dikepal.

“Papa… Tante peli jadiin teman Aku aja, ya. Pasti Tante peli jagain Aku telus, kan?” Ayas seolah ingin ikut dalam pembahasan orang dewasa yang ada di ruangan itu.

“Sayang, bagaimana tante perimu itu jaga Kamu? Dia terlihat kesulitan menjaga anaknya sendiri.” Hagan menimpali, dan seolah sangat meremehkan Belvara.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 8

    Belvara menahan nafas ketika tanpa sengaja beradu pandang, tatapan Hagan tidak sedikit pun bergeser darinya. Sorot mata pria itu terlalu tajam, terlalu serius untuk dianggap candaan.Ia langsung membuang tatapannya, kembali mengajak Ayas bermain boneka di halaman belakang mansion itu.“Tante peli, ini anak tante peli lucu sekali, Ayas jadi pengen, deh, punya adik.” Yang kemudian di cubit gemas pipi Juna oleh anak perempuan yang tak kalah menggemaskan itu.Belvara tersenyum hangat, mengusap lembut kepala Ayas.Miranti melangkahkan kakinya perlahan, menatap Belvara penuh selidik sebelum ia menyapanya. “Siapa namamu?” Belvara menoleh cepat dan sedikit terperanjat, kemudian ia menundukan kepala tanda hormat. “Saya Belvara Nyonya.”Perempuan paruh baya itu merotasikan Bola mata, dengan kedua tangan terlipat di dada, “Ini tante pelinya Ayas, Omah.” Ayas turut menimpali, seolah bangga memperkenalkan Belvara pada Neneknya.Miranti melempar senyum untuk Ayas, tetapi lain hal pada Belvara.“B

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 7

    Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu.“Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak.“Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia hanya membawa Juna dan beberapa pakaian ganti untuknya.Ibra berjalan lebih dulu, disusul Belvara di belakangnya, para tetangga seolah sedang menunggu mereka keluar dari dalam rumah kontrakan, semua mata menatap nyalang dan menusuk, dengan bisik-bisik yang jelas diberikan untuk Belvara.Belvara hanya tertunduk, tatapan semacam itu sudah biasa ia terima, seolah gelar Jandanya adalah suatu kesalahan yang bisa mengusik ketenangan rumah tangga para tetangganya.Ibra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Belvara. “Silahkan masuk, Mba.”“Terima kasih, Mas.” Belvara pun masuk dan duduk di dalam mobil mewah itu.Ibra sempat melirik Belvara pada spion dalam mobil itu, sebelum ia menghidupkan me

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 6

    “Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara dengan anak yang masih berusia lima tahun. Bukan tenang, justru Ayas menangis semakin jadi, Hagan mengepal tangan di atas meja kerjanya, menahan emosinya pada sang anak. ‘Baby sitter yang bagaimana lagi yang cocok untuk mengasuh Ayas? Saya kewalahan mengurus Ayas sendirian.’ Gumam Hagan sambil memijat pelipisnya. ‘Apa sebenarnya Ayas butuh sosok Ibu? Tapi Saya belum bisa melupakan mendiang Mamanya Ayas.’ Bagi Hagan, tidak ada perempuan yang bisa menandingi Regina—mendiang Mama Ayas, mantan istri Hagan yang meninggal dua tahun lalu. Lembutnya Regina dalam bertutur kata, kepintarannya, dan cara dia memperlakukan Hagan penuh kesabaran dan kasih sayang. Membuat semua perempuan yang sempat ia

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 5

    Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasuhnya sendiri kewalahan mengurus Ayas yang kerap tantrum, dan Hagan selalu menyalahkan sang pengasuh ketika didapati Ayas menangis, membuat setiap pengasuh Ayas mengundurkan diri walau diiming-imingi gaji fantastis. Sekilas Hagan berpikir bagaimana jika menjadikan Belvara sebagai pengasuh Ayas? Namun kembali ia urungkan ketika mengamati Belvara yang menurutnya aneh, ia takut cara berucaonya yang lancang itu menular pada Ayas yang sejak kecil sudah ditanamkan manner yang baik. “Papa… kenapa melamun?”. Suara lembut Ayas memecah lamunannya. Ia menatap sang anak lalu tersenyum. “Teman kamu sudah banyak di sekolah, Nak.” “Aku mau punya temen buat di rumah juga!” Ayas merengek manja pada

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 4

    Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia pun berpikir sejenak, sudah cukup oelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri.Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah Bapak bisa menyiapkan keperluan sendiri? karena setahu Aku—Pak Hagan ini seorang Duda," cukup lantang Belvara berucap, dengan tatapan nanar, tanpa merasa salah. Kedua bola mata Hagan membola dengan cepat, rahangnya turut mengeras, bagaimana bisa perempuan yang tak dikenalinya dengan lancang menyebutnya Duda, sebuah kata yang hagan benci mendengarnya. "Ibra! bawa keluar perempuan itu!" pekiknya, suara hagan cukup menggelegar di ruangannya. Juna yang sejak pertama bertemu Hagan di mall sudah merasa takut, kini anak kecil itu harus kembali melihat dan mendengar pria yang ditakutinya mengeluarkan intonasi tinggi, membuat Juna menangis kencang dengan sendirinya, Hingga Belvara pun gelagaoan untuk menenangkan sang anak. “

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 3

    Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Silahkan di ganti pakaiannya, karena tidak baik jika pakaian yang Mbak kenakan kering di badan." Perempuan itu mematung, yang ia tahu, tadi ia sudah menolak untuk berganti pakaian ketika Hagan menawarkan. lalu kenapa pria ini datang memberinya pakaian baru? Belum sempat Belvara bertanya lebih jauh padanya, pria itu sudah pergi, berjalan membelakangi Belvara. *** Plang nama yang bertuliskan Yayasan Kinantan itu terpampang megah di pinggir jalan utama Ibu Kota, gedung berwarna putih yang dihiasi ornamen klasik dengan pilar-pilar tinggi yang berdiri kokoh seperti penjaga waktu. Siapa yang tidak tertarik untuk bekerja di bawah naungan Yayasan Kinantan yang sudah berdiri puluhan tahun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status