Share

Bab 7

Author: Djulitas
last update publish date: 2026-05-02 00:43:51

Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu.

“Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak.

“Sudah, Mas.” 

Tidak banyak yang Belvara bawa, ia hanya membawa Juna dan beberapa pakaian ganti untuknya.

Ibra berjalan lebih dulu, disusul Belvara di belakangnya, para tetangga seolah sedang menunggu mereka keluar dari dalam rumah kontrakan, semua mata menatap nyalang dan menusuk, dengan bisik-bisik yang jelas diberikan untuk Belvara.

Belvara hanya tertunduk, tatapan semacam itu sudah biasa ia terima, seolah gelar Jandanya adalah suatu kesalahan yang bisa mengusik ketenangan rumah tangga para tetangganya.

Ibra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Belvara. “Silahkan masuk, Mba.”

“Terima kasih, Mas.” Belvara pun masuk dan duduk di dalam mobil mewah itu.

Ibra sempat melirik Belvara pada spion dalam mobil itu, sebelum ia menghidupkan mesinnya.

“Mas, Kalau boleh tahu, kenapa Aku harus ketemu lagi sama Pak Hagan?” tanya Belvara seakan oenasaran. Yang ia tahu siang tadi Hagan sudah mengusirnya, hanya karena salah berucap.

“Kayaknya ada lowongan kerja dadakan, Mba, dan sepertinya Mba kandidat yang cocok,” ucap Ibra, ia berbicara santai seolah sedang berbicara dengan teman yang sudah lama ia kenal.

Belvara tersenyum, Ibra sungguh lebih manusiawi daripada Hagan dalam mengajaknya berbicara.

“Lowongan apa, Mas? Bukannya Pak Hagan tidak membutuhkan pelayan?” 

Hagan menggeleng, meski matanya tetap fokus pada jalanan di depan. 

“Terus apa, Mas?” Belvara menautkan alisnya semakin penasaran.

“Sebenernya, ini keinginan Non Ayas, Non Ayas yang minta Mba buat jadi pengasuh sekaligus temannya di rumah.” 

“Oh…” timpal Belvara seraya mengangguk.

Belvara menggigit bibir bawahnya, kepanikan mendadak menghampiri, ia hanya takut jika kembali melakukan kesalahan, raut wajah hagan yang emosi karena Belvara salah berucap saja masih terbayang-bayang dalam pikirannya.

Ibra kembali melirik perempuan yang duduk di belakangnya, mengamati gerak geriknya, dan ia bisa menangkap geatur Belvara yang seperti tidak tenang. “Kenapa. Mba?”

“Aku… Aku masih ngerasa takut ketemu Pak Hagan, Mas.”

Ibra terkekeh, seolah menertawakan kepanikan Belvara, yang di balas tatapan nyalang oleh perempuan itu. 

“Semenjak istrinya meninggal, Pak Hagan memang jadi emosian, Mba. Kalau Pak Hagan marah, kita cukup diam, dan iya iya aja, jangan menyela walaupun kita gak salah,” jelas Hagan.

“Loh, kita kan perlu juga membela diri. Gak bisa dong diem aja kalau gak salah.”

“Menghindari amukan yang lebih dahsyat, Mba.”

Mobil itu pun berhenti di depan mansion mewah yang didominasi berwarna putih, gerbangnya tinggi kokoh dengan ornamen rumit yang terkesan mewah.

“Ini kita ke mana ya, Mas?” tanya Belvara, ia celingukan di kaca jendela mobil mengamati halaman rumah mewah itu, ketika mobil yang dikemudikan Ibra memasuki kediaman itu.

“Ini rumah Pak Hagan.”

“Waaaw… besar banget.”

Tidak lama kemudian, Ibra menghentikan mobilnya. “Kita sudah sampai, Mba,” ucap Ibra, sambil melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.

Belvara pun keluar dari mobil itu, bersamaan dengan Ibra, ia menengadah. Menatap bangunan mewah bertingkat itu. ‘Ada berapa pelayan di rumah sebesar ini, ya?’ Gumamanya.

Seorang pelayan membukakan pintu dan memberi sapaan pada Ibra, namun pelayan itu melirik belvara dari kaki hingga ujung kepala dengan ekor matanya. Membuat Belvara terus menunduk.

Ia tahu, jika ia akan bekerja di rumah ini, Belvara harus menunjukan sisi baiknya, menghilangkan sikap barbarnya yang kadang muncul tanpa bisa ia kendalikan.

“Tuan Hagan ada di ruang kerjanya, Mas Ibra, beliau bilang Mas Ibra bisa langsung menemuinya di sana,” ucap si pelayan.

“Ok, Bi. Terima kasih. Oh iya, ini—” kalimat Ibra terhenti.

“Tante peli….” Dari lantai dua terdengar suara Ayas memekik nyaring, ketika anak itu melihat Belvara, krmudian ia menuruni tangga dengan tergesa.

Membuat pelayan itu segera berlari menghampiri Ayas dengan sedikit panik, karena jalan Ayas yang terlalu cepat ketika menuruni tangga. “Hati-hati jalannya, Non.”

Ayas memeluk Belvara dengan erat, . “Aku seneng, deh. Ketemu lagi sama Tante Peli.”

“Bi, antar Mba ini sama Non Ayas ke belakang saja dulu, ya,” pinta Ibra, berucap pelan pada sang pelayan.

“Ini siapa, Mas Ibra? Kenapa Non Ayas kelihatan akrab banget sama dia?” Pelayan itu berbisik di telinga Ibra.

“Nanti biar Pak Hagan saja yang jelasin, ya, Bi.” Ibra pun melirik Belvara. “Mba boleh ikuti Bibi pelayan dulu, Saya mau menemui, Pak Hagan.” Pria dengan lesung pipi itu pun meninggalkan Belvara, melangkah menuju ruangan lain.

***

Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Hagan yang sedang fokus memantau perkembangan yayasannya di layar monitor. “Masuk.”

“Permisi, Pak,” ucao Ibra, seraya membuka pintu ruang kerja Hagan.

“Gimana Ibra?”

“Semua baik, Pak. Tidak ada kejanggalan, dan orangnya langsung Saya bawa ke sini.”

Suara hentakan meja terdengar nyaring di ruangan itu, Hagan seolah sedang meluapkan emosinya di sana. “Saya suruh cari tahu latar belakangnya dahulu bukan langsung bawa orangnya ke sini, Ibra! Kenapa sembarangan sekali membawa orang asing ke dalam rumah ini?”

Ibra menghela nafas, ia refleks membawa Belvara ke rumah itu karena situasinya yang memaksa. Keadaan Belvara yang saat ia temui sedang tidak baik-baik saja, membuatnya Iba dan ingin menyelamatkannya.

“Siap salah, Pak! Tapi, Non Ayas kelihatan sangat senang ketika Tante perinya datang, Non Ayas langsung ceria, Pak.” Timpal Ibra, berusaha meyakinkan atasannya.

Hagan masih dengan rasa emosinya, ia memundurkan kursi kerja yang ia duduki dengan kasar, melangkah mendekati pintu untuk keluar, dengan tatapan penuh amarah. “Kalau Saya temui perempuan itu membawa masalah ke dalam rumah ini, Saya pastikan Kamu juga harus ikut bertanggung jawab.”

Ibra hanya tertunduk dan mengangguk. Kemudian ia membuang nafasnya lega ketika Hagan meninggalkan ruangan itu.

Hagan menyapu pandangan dan berjalan perlahan di sekitar rumahnya, mencari perempuan rendahan dan aneh menurutnya itu, andai saat ini ia temukan dia sedang melakukan hal-hal di luar nalar, tentu akan segera Hagan seret dan usir dia, tak peduli jika Ayas akan tantrum dan tak berhenti menangis.

Hagan berdiri di balik kaca jendela yang menjulang tinggi, mengamati sang Anak dan Belvara yang sedang bermain di halaman belakang rumahnya, sudah lama, ia tak melihat senyum Ayas selebar dan seceria itu semenjak kematian Ibunya.

Tanpa sadar, sudut bibir Hagan terangkat melihat pemandangan yang mampu menyejukan hatinya yang tadi sempat memanas karena kedatangan perempuan itu yang terlalu cepat.

Matanya seolah mengubah pemandangan di depannya, sekilas, ia melihat Belvara seperti mendiang sang istri. Membuat Hagan mengerjap-ngerjapkan mata, bahkan hingga membuka kaca mata yang dikenakannya kemudian mengelapnya, apa yang baru saja ia lihat? 

“Hagan.” Suara itu mengalihkan perhatiannya. 

Seorang perempuan paruh baya menghampirinya, dan turut berdiri di sebelahnya, sama-sama menatap Ayas dan Belvara. “Siapa perempuan itu? Kata Bibi dia di bawa Ibra atas perintahmu,”  tanya Miranti, Ibu Hagan.

Hagan mengusap wajahnya dan menunduk, bingung atas jawaban dari pertanyaan sang Ibu. “Dia… akan Saya jadikan pengasuh Ayas, Bu. Dan dia yang menolong Ayas ketika Ayas tercebur ke dalam kolam mall tempo hari.”

“Jangan sembarangan membawa orang asing ke rumah, Hagan. Siapa yang akan bertanggung jawab jika dia melakukan kesalahan di rumah ini? Rasanya Ibu lebih senang jika pengasuh cucu Ibu mengambil dari yayasan penyalur kerja, yang kinerjanya sudah terlatih. Sedang kan dia? Lihat lah, dia sendiri membawa anak kecil, bagaimana dia bisa fokus mengasuh Ayas.”

Hagan melirik Miranti, kemudian menatap Belvara dengan sorot mata yang gelap dan mengintimidasi. “Dia sendiri. Dia akan Saya jadikan tawanan seumur hidupnya, tanpa bisa keluar dari rumah ini."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 8

    Belvara menahan nafas ketika tanpa sengaja beradu pandang, tatapan Hagan tidak sedikit pun bergeser darinya. Sorot mata pria itu terlalu tajam, terlalu serius untuk dianggap candaan.Ia langsung membuang tatapannya, kembali mengajak Ayas bermain boneka di halaman belakang mansion itu.“Tante peli, ini anak tante peli lucu sekali, Ayas jadi pengen, deh, punya adik.” Yang kemudian di cubit gemas pipi Juna oleh anak perempuan yang tak kalah menggemaskan itu.Belvara tersenyum hangat, mengusap lembut kepala Ayas.Miranti melangkahkan kakinya perlahan, menatap Belvara penuh selidik sebelum ia menyapanya. “Siapa namamu?” Belvara menoleh cepat dan sedikit terperanjat, kemudian ia menundukan kepala tanda hormat. “Saya Belvara Nyonya.”Perempuan paruh baya itu merotasikan Bola mata, dengan kedua tangan terlipat di dada, “Ini tante pelinya Ayas, Omah.” Ayas turut menimpali, seolah bangga memperkenalkan Belvara pada Neneknya.Miranti melempar senyum untuk Ayas, tetapi lain hal pada Belvara.“B

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 7

    Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu.“Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak.“Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia hanya membawa Juna dan beberapa pakaian ganti untuknya.Ibra berjalan lebih dulu, disusul Belvara di belakangnya, para tetangga seolah sedang menunggu mereka keluar dari dalam rumah kontrakan, semua mata menatap nyalang dan menusuk, dengan bisik-bisik yang jelas diberikan untuk Belvara.Belvara hanya tertunduk, tatapan semacam itu sudah biasa ia terima, seolah gelar Jandanya adalah suatu kesalahan yang bisa mengusik ketenangan rumah tangga para tetangganya.Ibra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Belvara. “Silahkan masuk, Mba.”“Terima kasih, Mas.” Belvara pun masuk dan duduk di dalam mobil mewah itu.Ibra sempat melirik Belvara pada spion dalam mobil itu, sebelum ia menghidupkan me

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 6

    “Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara dengan anak yang masih berusia lima tahun. Bukan tenang, justru Ayas menangis semakin jadi, Hagan mengepal tangan di atas meja kerjanya, menahan emosinya pada sang anak. ‘Baby sitter yang bagaimana lagi yang cocok untuk mengasuh Ayas? Saya kewalahan mengurus Ayas sendirian.’ Gumam Hagan sambil memijat pelipisnya. ‘Apa sebenarnya Ayas butuh sosok Ibu? Tapi Saya belum bisa melupakan mendiang Mamanya Ayas.’ Bagi Hagan, tidak ada perempuan yang bisa menandingi Regina—mendiang Mama Ayas, mantan istri Hagan yang meninggal dua tahun lalu. Lembutnya Regina dalam bertutur kata, kepintarannya, dan cara dia memperlakukan Hagan penuh kesabaran dan kasih sayang. Membuat semua perempuan yang sempat ia

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 5

    Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasuhnya sendiri kewalahan mengurus Ayas yang kerap tantrum, dan Hagan selalu menyalahkan sang pengasuh ketika didapati Ayas menangis, membuat setiap pengasuh Ayas mengundurkan diri walau diiming-imingi gaji fantastis. Sekilas Hagan berpikir bagaimana jika menjadikan Belvara sebagai pengasuh Ayas? Namun kembali ia urungkan ketika mengamati Belvara yang menurutnya aneh, ia takut cara berucaonya yang lancang itu menular pada Ayas yang sejak kecil sudah ditanamkan manner yang baik. “Papa… kenapa melamun?”. Suara lembut Ayas memecah lamunannya. Ia menatap sang anak lalu tersenyum. “Teman kamu sudah banyak di sekolah, Nak.” “Aku mau punya temen buat di rumah juga!” Ayas merengek manja pada

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 4

    Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia pun berpikir sejenak, sudah cukup oelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri.Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah Bapak bisa menyiapkan keperluan sendiri? karena setahu Aku—Pak Hagan ini seorang Duda," cukup lantang Belvara berucap, dengan tatapan nanar, tanpa merasa salah. Kedua bola mata Hagan membola dengan cepat, rahangnya turut mengeras, bagaimana bisa perempuan yang tak dikenalinya dengan lancang menyebutnya Duda, sebuah kata yang hagan benci mendengarnya. "Ibra! bawa keluar perempuan itu!" pekiknya, suara hagan cukup menggelegar di ruangannya. Juna yang sejak pertama bertemu Hagan di mall sudah merasa takut, kini anak kecil itu harus kembali melihat dan mendengar pria yang ditakutinya mengeluarkan intonasi tinggi, membuat Juna menangis kencang dengan sendirinya, Hingga Belvara pun gelagaoan untuk menenangkan sang anak. “

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 3

    Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Silahkan di ganti pakaiannya, karena tidak baik jika pakaian yang Mbak kenakan kering di badan." Perempuan itu mematung, yang ia tahu, tadi ia sudah menolak untuk berganti pakaian ketika Hagan menawarkan. lalu kenapa pria ini datang memberinya pakaian baru? Belum sempat Belvara bertanya lebih jauh padanya, pria itu sudah pergi, berjalan membelakangi Belvara. *** Plang nama yang bertuliskan Yayasan Kinantan itu terpampang megah di pinggir jalan utama Ibu Kota, gedung berwarna putih yang dihiasi ornamen klasik dengan pilar-pilar tinggi yang berdiri kokoh seperti penjaga waktu. Siapa yang tidak tertarik untuk bekerja di bawah naungan Yayasan Kinantan yang sudah berdiri puluhan tahun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status