LOGINBelvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu.
“Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak. “Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia hanya membawa Juna dan beberapa pakaian ganti untuknya. Ibra berjalan lebih dulu, disusul Belvara di belakangnya, para tetangga seolah sedang menunggu mereka keluar dari dalam rumah kontrakan, semua mata menatap nyalang dan menusuk, dengan bisik-bisik yang jelas diberikan untuk Belvara. Belvara hanya tertunduk, tatapan semacam itu sudah biasa ia terima, seolah gelar Jandanya adalah suatu kesalahan yang bisa mengusik ketenangan rumah tangga para tetangganya. Ibra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Belvara. “Silahkan masuk, Mba.” “Terima kasih, Mas.” Belvara pun masuk dan duduk di dalam mobil mewah itu. Ibra sempat melirik Belvara pada spion dalam mobil itu, sebelum ia menghidupkan mesinnya. “Mas, Kalau boleh tahu, kenapa Aku harus ketemu lagi sama Pak Hagan?” tanya Belvara seakan oenasaran. Yang ia tahu siang tadi Hagan sudah mengusirnya, hanya karena salah berucap. “Kayaknya ada lowongan kerja dadakan, Mba, dan sepertinya Mba kandidat yang cocok,” ucap Ibra, ia berbicara santai seolah sedang berbicara dengan teman yang sudah lama ia kenal. Belvara tersenyum, Ibra sungguh lebih manusiawi daripada Hagan dalam mengajaknya berbicara. “Lowongan apa, Mas? Bukannya Pak Hagan tidak membutuhkan pelayan?” Hagan menggeleng, meski matanya tetap fokus pada jalanan di depan. “Terus apa, Mas?” Belvara menautkan alisnya semakin penasaran. “Sebenernya, ini keinginan Non Ayas, Non Ayas yang minta Mba buat jadi pengasuh sekaligus temannya di rumah.” “Oh…” timpal Belvara seraya mengangguk. Belvara menggigit bibir bawahnya, kepanikan mendadak menghampiri, ia hanya takut jika kembali melakukan kesalahan, raut wajah hagan yang emosi karena Belvara salah berucap saja masih terbayang-bayang dalam pikirannya. Ibra kembali melirik perempuan yang duduk di belakangnya, mengamati gerak geriknya, dan ia bisa menangkap gestur Belvara yang tidak tenang. “Kenapa. Mba?” “Aku… Aku masih ngerasa takut ketemu Pak Hagan, Mas.” Ibra terkekeh, seolah menertawakan kepanikan Belvara, yang di balas tatapan nyalang oleh perempuan itu. “Semenjak istrinya meninggal, Pak Hagan memang jadi emosian, Mba. Kalau Pak Hagan marah, kita cukup diam, dan iya iya aja, jangan menyela walaupun kita gak salah,” jelas Hagan. “Loh, kita kan perlu juga membela diri. Gak bisa dong diem aja kalau gak salah.” “Menghindari amukan yang lebih dahsyat, Mba.” Mobil itu pun berhenti di depan mansion mewah yang didominasi berwarna putih, gerbangnya tinggi kokoh dengan ornamen rumit yang terkesan mewah. “Ini kita ke mana ya, Mas?” tanya Belvara, ia celingukan di kaca jendela mobil mengamati halaman rumah mewah itu, ketika mobil yang dikemudikan Ibra memasukinya. “Ini rumah Pak Hagan.” “Waaaw… besar banget.” Tidak lama kemudian, Ibra menghentikan mobilnya. “Kita sudah sampai, Mba,” ucap Ibra, sambil melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Belvara pun keluar dari mobil itu, bersamaan dengan Ibra, ia menengadah. Menatap bangunan mewah bertingkat itu. ‘Ada berapa pelayan di rumah sebesar ini, ya?’ Gumamanya. Seorang pelayan membukakan pintu dan memberi sapaan pada Ibra, namun pelayan itu melirik belvara dari kaki hingga ujung kepala dengan ekor matanya, membuat Belvara terus menunduk. Ia tahu, jika ia akan bekerja di rumah ini, Belvara harus menunjukan sisi baiknya, menghilangkan sikap barbarnya yang kadang muncul tanpa bisa ia kendalikan. “Tuan Hagan ada di ruang kerjanya, Mas Ibra, beliau bilang Mas Ibra bisa langsung menemuinya di sana,” ucap si pelayan. “Ok, Bi. Terima kasih. Oh iya, ini—” kalimat Ibra terhenti. “Tante peli….” Dari lantai dua terdengar suara Ayas memekik nyaring, ketika anak itu melihat Belvara, kemudian ia menuruni tangga dengan tergesa. Membuat pelayan itu segera berlari menghampiri Ayas dengan sedikit panik, karena jalan Ayas yang terlalu cepat ketika menuruni tangga. “Hati-hati jalannya, Non.” Ayas memeluk Belvara dengan erat, . “Aku seneng, deh. Ketemu lagi sama Tante Peli.” “Bi, antar Mba ini sama Non Ayas ke belakang saja dulu, ya,” pinta Ibra, berucap pelan pada sang pelayan. “Ini siapa, Mas Ibra? Kenapa Non Ayas kelihatan akrab banget sama dia?” Pelayan itu berbisik di telinga Ibra. “Nanti biar Pak Hagan saja yang jelasin, ya, Bi.” Ibra pun melirik Belvara. “Mba boleh ikuti Bibi pelayan dulu, Saya mau menemui, Pak Hagan.” Pria dengan lesung pipi itu pun meninggalkan Belvara, melangkah menuju ruangan lain. *** Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Hagan yang sedang fokus memantau perkembangan yayasannya di layar monitor. “Masuk.” “Permisi, Pak,” ucap Ibra, seraya membuka pintu ruang kerja Hagan. “Gimana Ibra?” “Semua baik, Pak. Tidak ada kejanggalan, dan orangnya langsung Saya bawa ke sini.” Suara hentakan meja terdengar nyaring di ruangan itu, Hagan seolah sedang meluapkan emosinya di sana. “Saya suruh cari tahu latar belakangnya dahulu bukan langsung bawa orangnya ke sini, Ibra! Kenapa sembarangan sekali membawa orang asing ke dalam rumah ini?” Ibra menghela nafas, ia refleks membawa Belvara ke rumah itu karena situasinya yang memaksa. Keadaan Belvara yang saat ia temui sedang tidak baik-baik saja, membuatnya Iba dan ingin menyelamatkannya. “Siap salah, Pak! Tapi, Non Ayas kelihatan sangat senang ketika Tante perinya datang, Non Ayas langsung ceria, Pak.” Timpal Ibra, berusaha meyakinkan atasannya. Hagan masih dengan rasa emosinya, ia memundurkan kursi kerja yang ia duduki dengan kasar, melangkah mendekati pintu untuk keluar, dengan tatapan penuh amarah. “Kalau Saya temui perempuan itu membawa masalah ke dalam rumah ini, Saya pastikan Kamu juga harus ikut bertanggung jawab.” Ibra hanya tertunduk dan mengangguk. Kemudian ia membuang nafasnya lega ketika Hagan meninggalkan ruangan itu. Hagan menyapu pandangan dan berjalan perlahan di sekitar rumahnya, mencari perempuan rendahan dan aneh menurutnya itu, andai saat ini ia temukan dia sedang melakukan hal-hal di luar nalar, tentu akan segera Hagan seret dan usir dia, tak peduli jika Ayas akan tantrum dan tak berhenti menangis. Hagan berdiri di balik kaca jendela yang menjulang tinggi, mengamati sang Anak dan Belvara yang sedang bermain di halaman belakang rumahnya, sudah lama, ia tak melihat senyum Ayas selebar dan seceria itu semenjak kematian Ibunya. Tanpa sadar, sudut bibir Hagan terangkat melihat pemandangan yang mampu menyejukan hatinya yang tadi sempat memanas karena kedatangan perempuan itu yang terlalu cepat. samar-samar ia mengubah pemandangan di depannya, sekilas, ia melihat Belvara seperti mendiang sang istri. Membuat Hagan mengerjap-ngerjapkan mata, bahkan hingga membuka kaca mata yang dikenakannya kemudian mengelapnya, apa yang baru saja ia lihat? “Hagan.” Suara itu mengalihkan perhatiannya. Seorang perempuan paruh baya menghampirinya, dan turut berdiri di sebelahnya, sama-sama menatap Ayas dan Belvara. “Siapa perempuan itu? Kata Bibi dia di bawa Ibra atas perintahmu,” tanya Miranti, Ibu Hagan. Hagan mengusap wajahnya dan menunduk, bingung atas jawaban dari pertanyaan sang Ibu. “Dia… akan Saya jadikan pengasuh Ayas, Bu. Dan dia yang menolong Ayas ketika Ayas tercebur ke dalam kolam mall tempo hari.” “Jangan sembarangan membawa orang asing ke rumah, Hagan. Siapa yang akan bertanggung jawab jika dia melakukan kesalahan di rumah ini? Rasanya Ibu lebih senang jika pengasuh cucu Ibu mengambil dari yayasan penyalur kerja, yang kinerjanya sudah terlatih. Sedang kan dia? Lihat lah, dia sendiri membawa anak kecil, bagaimana dia bisa fokus mengasuh Ayas.” Hagan melirik Miranti, kemudian menatap Belvara dengan sorot mata yang gelap dan mengintimidasi. “Dia sendiri. Dia akan Saya jadikan tawanan seumur hidupnya, tanpa bisa keluar dari rumah ini." ***Belvara mendorong sekuat tenaga pria bertubuh kekar itu. Namun jabang bayi didalam perutnya seolah ikut berontak, membuat kedua tangannya mencengkram perut bulatnya, dan ia meringis nyeri. “A… aww….” Hagan mengamati raut wajah Belvara. “Kenapa, Sayang? Apa anak kita sudah waktunya lahir?” tanyanya. Sedikitpun tidak terlihat kepanikan di raut wajahnya, ia menyeringai. “Tenang.” Hagan mengelus pipi Belvara yang basah karena air mata. “Kalau Kamu tenang, anak kita tidak akan bereaksi yang bisa menyakiti Ibunya.” Belvara memukul bahu Hagan sekuat tenaganya, meski tak menimbulkan reaksi apapun pada pria itu. “Ini bukan anakmu, Mas. Ini anak Aku dan Mas Ibra.” Hagan terkekeh, dan mencengkeram leher Belvara dengan sebelah tangannya, emosinya memuncak kala mendengar pengakuan dusta Belvara. “jangan bohong! Sebelum Kamu meninggalkan Saya, kamu mengeluh sakit dan mual-mual, Saya sudah curiga kalau itu pertanda Kamu hamil.” “Mas, kamu ingat apa yang pernah kamu ucapkan? Kamu ngelarang A
Malam itu Belvara habiskan untuk menuntun Ibra kembali dalam jiwa yang seharusnya, menginginkan perempuan, dan melepas penyimpangannya. Meski yang mereka lakukan salah, namun setidaknya ia sudah membuat seorang laki-laki kembali pada kodratnya.Ibra memeluk tubuh Belvara dari belakang, setelah melakukan pelepasan untuk pertama kalinya dibantu oleh perempuan.“Jangan pernah kembali sama Pak Hagan terus ah begini sama Saya, Belvara. Saya akan beikan semuanya untukmu, hidup dan matiku hanya untukmu,” ucap Ibra tulus dan jujur. Dengan wajah menelusup di ceruk leher Belvara.***Langit masih gelap, namun kehidupan di desa itu sudah berlangsung sejak ayam berkokok pertama kali sebagai tanda untuk segera memulai aktivitasnya. Ibra sudah menyalakan mobil untuk segera bersiap berangkat bekerja, jarak tempuh yang lumayan jauh membuatnya harus berangkat lebih awal dari biasanya.“Hati-hati, Mas,” ucap Belvara matanya terus menatap Ibra yang sudah duduk di kursi kemudi.Belum pun sempat ia mengin
Belvara menggeser tubuhnya perlahan, seolah memberikan Ibra ruang untuk duduk di sana. “Maaf, ya, Mas. kalau gak mau gak apa-apa, kok, gak usah,” ucapannya, namun sorot mata yang diberikannya seakan meminta keharusan.Tangan Ibra terulur mengelus perut buncit Belvara, lalu membentangkan senyum padanya. “Adek, kita bobo, Ayah elus-elus Kamu nanti.”“Mas Ibra!” belvara tak percaya pada apa yang baru saja Ibra katakan.“Kenapa Belvara? Dia akan Saya anggap sebagai anak sendiri, jadi bukan masalah jika Saya menyebut Ayah untuknya.”Entah efek hormon hamil atau memang ia cengeng, tanpa sadar ia meneteskan air mata karena haru. Kenapa orang lain yang begitu peduli pada kehamilanya?Ibra merebahkan tubuhnya lebih dulu. “Ayo Belvara kita tidur, sini biar Aku elus-elus perutnya.”Setelah merapikan bantalnya untuk ia tiduri, ia pun merebahkan tubuh dengan membelakangi Ibra, agar lebih mudah pria itu mengelus-elus perut buncitnya.Kehangat menjalar dari perasaannya, hingga keseluruh tubuh, bukan
Belvara duduk di bangku teras, menyandarkan bahunya sambil mengelus perut yang kini sudah jelas membuncit. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu berjalan semakin dekat, sorot cahaya dari lampu mobil yang Ibra kemudikan jatuh terang di wajahnya. Ia tersenyum hangat kala mobil itu terparkir rapi di halaman rumahnya.“Mas Ibra,” sapanya lembut, ia berdiri perlahan sambil memegangi perut bawahnya.Ibra melangkah lebih cepat ke arah Belvara, membantu perempuan itu berjalan, dengan merangkul lembut bahunya. “Kamu kenapa masih di luar? Ini sudah malam.”“Aku nunggu kamu, Mas,” jawab Belvara spontan.“Kan Bisa di daam, angin malam disini dingin banget, Belvara, jauh berbeda dengan di kota.”Belvara menoleh pada pria yang berjalan beriringan dengannya, merangkul bahunya, hingga tak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Rangkulan Ibra tak ia lepas, hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar Belvara, perempuan itu sedikit mengernyit heran. “Loh, kok ke kamarku? Aku mau buatin dulu Mas Ibra
Enam bulan berlalu, selama itu juga Hagan terus mencari Belvara, namun selalu dengan hasil yang sama. Nihil. Tak sedikitpun informasi di dapatnya.Hagan duduk di kursi kerjanya, dengan wajah yang ditutup dengan telapak tangannya, seolah sedang menutupi frustasinya.Pintu ruang kerjanya terbuka lebar, Ibra masuk dan menundukan kepala sebagai tanda hormat.Mata Hagan menyorotinya cukup tajam meski raut wajahnya datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Saya tanya sekali lagi, benar Kamu tidak tahu Belvara dimana?” Dengan pandangan menunduk dan tangan bertaut di depan tubuhnya, Ibra menjawab, “Benar, Pak. Belvara hanya menyebut ia akan berkunjung ke makam orang tuanya, dan mencari tempat tinggal tidak jauh dari sana.”Berulang kali Hagan bertanya, jawab Ibra tetap sama. Sefrustasi apapun atasannya ia tak peduli, Ibra tetap bungkam dengan kebenaran yang dirinya sendiri dalang di balik frustasi Hagan.“Sudah setengah tahun dia pergi, benar-benar tanpa jejak! Bahkan Saya sudah kerahkan orang
Belvara menepuk lengan atas Ibra pelan. “Jangan begitu,” ujarnya pelan.“Bagaimana kalau besok kita ke dokter, periksa kandungan, Mba.” ajak Ibra, mengalihkan topik pembicaraannya, yang terasa menjadi kikuk.“Mas Ibra, jangan panggil lagi Aku Mba,” tegur Belvara, dengan intonasi pelan.Membuat Ibra terus mengulum senyum dan menatap Belvara lekat, seolah tak ada yang lebih indah dari wajah sumringah Belvara saat ini.“Ah, itu kebiasaan.” Ibra menoleh pada Belvara sekilas. “Jadi mau besok kita ke dokter?” Ia meyakinkan Belvara.Belvara diam seolah sedang menimbang sesuatu. Ia sendiri pun tidak yakin dengan usia kandungannya saat ini, sejak awal kehamilannya tidak pernah ia periksakan. Terlampau cmas saat itu, antara menggugurkannya atau mempertahankan.Ia tidak ingin menanggung karmanya, membuatnya lebih memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari Hagan, tak peduli jika Ayah si jabang bayi tak bisa jauh darinya apa lagi melepasnya, namun Hagan sendiri yang membuat Belvara yakin
Belvara memijat pelipisnya pelan, menatap pada buku catatan hutang yang harus segera ia lunasi secepatnya. 'Gimana cara lunasinnya ini?' Ia menghela nafas, berharap hembusan nafasnya sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak karena himpitan keadaan. Jika perempuan lain seusia Belvara sedang meni
“Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara denga
Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasu
Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia berpikir sejenak, sudah cukup pelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri. Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah... Bapak bisa menyiapkan keperluan s







