Home / Rumah Tangga / Istri Rahasia Tuan Hagan / Bab 5 Pengauh rasa Ibu

Share

Bab 5 Pengauh rasa Ibu

Author: Djulitas
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-01 23:10:43

Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya.

Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasuhnya sendiri kewalahan mengurus Ayas yang kerap tantrum, dan Hagan selalu menyalahkan sang pengasuh ketika didapati Ayas menangis, membuat setiap pengasuh Ayas mengundurkan diri walau diiming-imingi gaji fantastis.

Sekilas Hagan berpikir bagaimana jika menjadikan Belvara sebagai pengasuh Ayas? Namun kembali ia urungkan ketika mengamati Belvara yang menurutnya aneh, ia takut cara berucaonya yang lancang itu menular pada Ayas yang sejak kecil sudah ditanamkan manner yang baik.

“Papa… kenapa melamun?”. Suara lembut Ayas memecah lamunannya.

Ia menatap sang anak lalu tersenyum. “Teman kamu sudah banyak di sekolah, Nak.”

“Aku mau punya temen buat di rumah juga!” Ayas merengek manja pada Hagan.

Dan hagan sepertinya tidak begitu pandai merayu anak kecil, ia hanya diam dan menatapnya ketika anak gadisnya merengek, seolah tak ada kata yang bisa ia ucapkan padanya, selain menuruti atau menolak dengan kasar.

Helaan nafas gusar itu terdengar kasar, Hagan menyandarkan punggung kokohnya pada sandaran kursi kerjanya. “Ibra, bawa perempuan itu keluar, dan berikan kompensasi senilai 15 juta untuknya, dan bayarkan uang sewa tempat tinggalnya selama satu tahun kedepan. Saya tidak mau lagi berurusan dengan perempuan itu. Silahkan pergunakan uang yang Saya berikan sebaik mungkin, agar hidup Anda lebih baik,” tukasnya tegas, sorot matanya gelap menatap Belvara, tak ada binar ketenangan pada maniknya dan seolah semua masalah bisa ia selesaikan hanya dengan uang.

“Baik, Pak.” Ibra mengangguk menuruti, dan membawa Belvara keluar.

“Tante peli mau kemana? Kok pelgi?” tanya Ayas, matanya menyiratkan kesedihan.

“Anak tante rewel, jadi tante harus pulang dulu, ya, Cantik.”

Bibir Ayas melengkung ke bawah seketika, terlihat gadis kecil itu kecewa atas kepergiannya. “Yah…”

***

“Mba, kamu punya rekening? Biar uang yang diberikan Pak Hagan akan lebih baik jika di transfer saja,” tanya Ibra, tepat di depan ruang administrasi Yayasan Kinantan.

“Ada.” jawab Belvara.

Bagai tertimpa durian runtuh, Belvara mendapatkan uang belasan juta tanpa harus lelah bekerja, sebuah keberuntungan luar biasa untuknya yang telah mengalami kepahitan sepanjang hidupnya, kebaikan tulus yang ia tebarkan tanpa melihat apapun dibaliknya, membuat keberuntungan menghinggapi dirinya dengan mudah.

“Uang kompensasi karena sudah nolong Non Ayas sudah Pak Hagan transfer ya, Mba, uangnya sudah masuk ke rekening atas nama Belvara Ayu Nadara, betul itu namanya?”

Belvara mengangguk. “Iya.”

Belvara mengecek ponselnya, ia melihat notifikasi di layar, uang sebesar 15 juta rupiah masuk ke rekeningnya, sesaat ia mematung, menepuk pipinya berkali-kali memastikan ini bukan mimpi.

“Gimana Mbak pulang pake motor sambil bawa anak yang tidur?” tanya Ibra, ia sedikit lebih Iba pada Belvara dari pada Hagan yang tak acuh dan tak memiliki empati.

“Gampang, Aku udah biasa , Mas.”

Ibra tersenyum riang, mengikuti langkah Belvara.

“Tolong sampaikan terima kasih, sama Pak Hagan, pasti akan Aku gunakan sebaik mungkin uang itu. Dan jika suatu saat Pak Hagan membutuhkan oelayan tambahan, Aku gak jadi milih posisi itu, Aku udah takut duluan,” ucap Belvara, ketika langkah mereka terhenti di lobi kantor.

Ibra terkekeh sambil menunduk. “Mbaknya bisa aja. Tapi Saya juga kaget, pas denger Mba nyebut Pak Hagan Duda, karena selama ini, orang-orang selalu menghindari oembahasan yang mengarah ke sana."

“Aku juga gak tahu kalau ternyata kata Duda itu keramat dan sangat senaitif buat Pak Hagan,”

Tanpa sadar mereka terus berjalan hingga area parkir Yayasan tersebut, Belvara sedikit menundukan kepala tanda hormat sebelum ia pamit.

“Hati-hati Mbak,” ucap Ibra masih berdiri ditempat yang sama.

Belvara hanya membalas ucapan Ibra dengan seulas senyum.

Hari ini Belvara merasakan ketenangan yang luar biasa. Sejenak, ia bisa bersantai, tidak perlu mengkhawatirkan orderan esok hari jika sepi, uang 15 juta itu tersimpan baik di rekeningnya, tanpa ada siapapun yang tahu.

Ia bergegas menyalakan motor tuanya, dengan Juna yang ia gendong di depan, kembali ke rumah kontrakannya yang kecil dan kumuh, tidak peduli bagaimana rumah itu, yang penting Belvara dan anaknya tidak kehujanan saat hujan dan kepanasan saat siang hari, ia hanya menyesuaikan pendapatan dan biaya sewa yang tergolong sangat murah di sana, jadi wajar jika hunian yang ditempati Belvara cukup kumuh.

Sampai di depan rumah kontrakannya, sang pemilik yang bertubuh besar tak berbentuk lekuk tubuhnya itu sudah berdiri dengan menatap nyalang Belvara, buku catatan tagihan terselip di tangannya.

Motor tua Belvara ia parkiran terlebih dahulu sebelum mendekat pada Bu Tini si pemilik kontrakan yang kerap tak menyukai Belvara, hanya karena Belvara memiliki tubuh yang langsing dan kedua bagian depan dan belakang tubuhnya tampak menonjol, bak seperti gitar spanyol, body yang di idam-idamkan para perempuan kebanyakan.

“Kenapa Lu senyum-senyum? Ah, ketebak ini, mau alesan kan? Gak mau tau Gue, pokoknya harus bayar.” Tini memekik, suaranya keras menggema di gang sempit itu.

“Saya lunasin, Bu. Tenang aja. Sekalian sama catetan utang-utang Aku di warung, berapa? Aku lunasin!” Belvara tak mau kalah menimpali ucapan Tini.

Ujung bibir Tini terangkat bak menatap Belvara seperti menjijikan. “Sombong amat, Lu? Biasa melas mohon-mohon ampe nangis.”

“Mau dilunasin salah juga, maunya Bu Tini tuh gimana, sih?” Belvara berdecak kesal, “Saya taro Juna dulu, Bu. Sebentar.”

Perempuan bergelar janda muda itu bukan bermaksud sombong, ia hanya berkaca dari sikap Tini Yang kerap merendahkannya. Toh, siapa yang terima jika terus direndahkan hanya karena gelar janda yang jelas tak pernah ia inginkan.

Ia pun masuk ke dalam rumah kontrakan kecil dan kumuh di gang sempit itu, menurunkan Juna dari pangkuan, dan merebahkannya, ia usap kepalanya dengan lembut sebelum ia kembali menemui Tini di luar.

“Mana nomor rekeningnya, Bu Tini? biar Aku transfer aja.”

“Gegayaan Lu di transfer, Abis dapet transferan dari gadun ya? Lu diem-diem jadi simpenan, ya?” cetus lirih Tini sedikit berbisik, sambil menunjukkan nomor rekeningnya pada Belvara.

Sebelah alis Belvara terangkat, menatap nyalang Tini. “Astagfirullah, Aku gak semurahan itu ya, Bu. Maaf.”

Mata bulat Tini mengerling, seraya kepalanya berlenggak-lenggok melempar tatapan sinis pada perempuan di hadapannya.

“Berapa totalnya, Bu Tini?”

“Delapan ratus tujuh puluh lima ribu, itu termasuk utang warung. Lempengin aja transfernya, lempengin”

Kepala Belvara sedikit tersentak. “Kok gede banget, perasaan kemarin utang warung gak sampe dua ratus ribu, kontrakan empat ratus, kenapa jadi delapan ratus lebih. Korupsi pasti nih Bu Tini.”

Buku catatan yang sejak tadi di pegang Tini itu ia tepukan ke bahu Belvara. “Bunganya! lu ngutang udah lama banget itu.”

Belvara mengusap-usap bahunya, merasakan sakit karena tepukan buku itu cukup keras. Ingin sekali ia mencubit perut berlipatnya Tini yang sangat nampak walau tertutup pakaian, hanya saja ia tidak mau memperpanjang urusan dengannya.

“Udah Aku transfer, di lempengin, tuh, satu juta,” Belvara sedikit meninggikan intonasinya, karena kesal dengan sikap Tini yang selalu seenaknya memperlakukan Belvara.

“Nah kalau begini gue demen, nih. Makasi, Bel.” Tini pun pergi dari kediaman Belvara dengan senang hati.

Janda muda itu pun menghela nafas, sambil menatap punggung Tini yang semakin menjauh, dan kembali masuk ke rumah, turut merebahkan tubuhnya di samping Juna.

Ia menatap langit-langit kediamannya yang sudah kusam termakan usia. ‘Uang sebanyak ini, bingung juga mau di pakai apa lagi?’

Ia meraih buku catatan hutang-hutangnya yang lain, ia mencoret hutangnya pada Bu Tini yang sudah lunas, dan menghitung sisa hutang-hutang yang lain.

Dan ia melihat catatan hutang pada Pak Dirja, yang sudah satu tahun belum bisa ia lunasi. Ia pun menghubunginya melalui telepon, mengabari bahwa ia akan melunasi hutangnya hari ini juga.

“Tidak perlu di transfer, nanti saya ambil aja uangnya ke kontrakanmu, kebetulan Saya lagi di luar gak jauh dari tempat tinggalmu.”

Jawab Dirja di teleponnya.

“Oh, baik kalau begitu, Saya tunggu, ya Pak.”

Telepon pun berakhir, rasanya sangat melegakkan, sedikit demi sedikit hutangnya terlunasi.

Kipas angin ia nyalakan menghadap pada tubuhnya, yang bercucuran keringat, ia paun membuka dua kancing teratas kemejanya, menampilkan belahan dadanya yang tampak menyumbul penuh.

Ia menikmati putaran kipas angin yang sedikit menyejukan tubuhnya yang berkeringat, dan ia kembali diingatkan pada raut wajah Hagan yang sangat menakutkan ketika emosi, namun begitu teduh dan menyejukan ketika pertama kali Belvara melihatnya di acara santunan balai Desa.

‘Apa Pak Hagan punya dua kepribadian, ya? salah ngucap sedikit langsung emosi, Jadi sebenernya Pak hagan punya sipat yang mana?'

Namun setelah sadar, Belvara menggeleng cepat kepalanya. ‘Apa-apaan jadi kepikiran Pak Hagan. Tahu diri Bel, tahu diri.' Belvara memaki dirinya sendiri. Hingga suara ketukan pintu terdengar jelas mengalihkan pikirannya.

Belvara segera mendekat ke pintu, membuka sedikit dan mengintip dari celah pintu yang ia buka, karena terlalu tergesa ia pun lupa membenarkan kancing bajunya yang terbuka.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   121. Akhir kisah tragis

    Belvara mendorong sekuat tenaga pria bertubuh kekar itu. Namun jabang bayi didalam perutnya seolah ikut berontak, membuat kedua tangannya mencengkram perut bulatnya, dan ia meringis nyeri. “A… aww….” Hagan mengamati raut wajah Belvara. “Kenapa, Sayang? Apa anak kita sudah waktunya lahir?” tanyanya. Sedikitpun tidak terlihat kepanikan di raut wajahnya, ia menyeringai. “Tenang.” Hagan mengelus pipi Belvara yang basah karena air mata. “Kalau Kamu tenang, anak kita tidak akan bereaksi yang bisa menyakiti Ibunya.” Belvara memukul bahu Hagan sekuat tenaganya, meski tak menimbulkan reaksi apapun pada pria itu. “Ini bukan anakmu, Mas. Ini anak Aku dan Mas Ibra.” Hagan terkekeh, dan mencengkeram leher Belvara dengan sebelah tangannya, emosinya memuncak kala mendengar pengakuan dusta Belvara. “jangan bohong! Sebelum Kamu meninggalkan Saya, kamu mengeluh sakit dan mual-mual, Saya sudah curiga kalau itu pertanda Kamu hamil.” “Mas, kamu ingat apa yang pernah kamu ucapkan? Kamu ngelarang A

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   120. Persembunyiannya terungkap

    Malam itu Belvara habiskan untuk menuntun Ibra kembali dalam jiwa yang seharusnya, menginginkan perempuan, dan melepas penyimpangannya. Meski yang mereka lakukan salah, namun setidaknya ia sudah membuat seorang laki-laki kembali pada kodratnya.Ibra memeluk tubuh Belvara dari belakang, setelah melakukan pelepasan untuk pertama kalinya dibantu oleh perempuan.“Jangan pernah kembali sama Pak Hagan terus ah begini sama Saya, Belvara. Saya akan beikan semuanya untukmu, hidup dan matiku hanya untukmu,” ucap Ibra tulus dan jujur. Dengan wajah menelusup di ceruk leher Belvara.***Langit masih gelap, namun kehidupan di desa itu sudah berlangsung sejak ayam berkokok pertama kali sebagai tanda untuk segera memulai aktivitasnya. Ibra sudah menyalakan mobil untuk segera bersiap berangkat bekerja, jarak tempuh yang lumayan jauh membuatnya harus berangkat lebih awal dari biasanya.“Hati-hati, Mas,” ucap Belvara matanya terus menatap Ibra yang sudah duduk di kursi kemudi.Belum pun sempat ia mengin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   119. Percobaan

    Belvara menggeser tubuhnya perlahan, seolah memberikan Ibra ruang untuk duduk di sana. “Maaf, ya, Mas. kalau gak mau gak apa-apa, kok, gak usah,” ucapannya, namun sorot mata yang diberikannya seakan meminta keharusan.Tangan Ibra terulur mengelus perut buncit Belvara, lalu membentangkan senyum padanya. “Adek, kita bobo, Ayah elus-elus Kamu nanti.”“Mas Ibra!” belvara tak percaya pada apa yang baru saja Ibra katakan.“Kenapa Belvara? Dia akan Saya anggap sebagai anak sendiri, jadi bukan masalah jika Saya menyebut Ayah untuknya.”Entah efek hormon hamil atau memang ia cengeng, tanpa sadar ia meneteskan air mata karena haru. Kenapa orang lain yang begitu peduli pada kehamilanya?Ibra merebahkan tubuhnya lebih dulu. “Ayo Belvara kita tidur, sini biar Aku elus-elus perutnya.”Setelah merapikan bantalnya untuk ia tiduri, ia pun merebahkan tubuh dengan membelakangi Ibra, agar lebih mudah pria itu mengelus-elus perut buncitnya.Kehangat menjalar dari perasaannya, hingga keseluruh tubuh, bukan

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   118. ngidam

    Belvara duduk di bangku teras, menyandarkan bahunya sambil mengelus perut yang kini sudah jelas membuncit. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu berjalan semakin dekat, sorot cahaya dari lampu mobil yang Ibra kemudikan jatuh terang di wajahnya. Ia tersenyum hangat kala mobil itu terparkir rapi di halaman rumahnya.“Mas Ibra,” sapanya lembut, ia berdiri perlahan sambil memegangi perut bawahnya.Ibra melangkah lebih cepat ke arah Belvara, membantu perempuan itu berjalan, dengan merangkul lembut bahunya. “Kamu kenapa masih di luar? Ini sudah malam.”“Aku nunggu kamu, Mas,” jawab Belvara spontan.“Kan Bisa di daam, angin malam disini dingin banget, Belvara, jauh berbeda dengan di kota.”Belvara menoleh pada pria yang berjalan beriringan dengannya, merangkul bahunya, hingga tak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Rangkulan Ibra tak ia lepas, hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar Belvara, perempuan itu sedikit mengernyit heran. “Loh, kok ke kamarku? Aku mau buatin dulu Mas Ibra

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   117. terbelenggu rindu

    Enam bulan berlalu, selama itu juga Hagan terus mencari Belvara, namun selalu dengan hasil yang sama. Nihil. Tak sedikitpun informasi di dapatnya.Hagan duduk di kursi kerjanya, dengan wajah yang ditutup dengan telapak tangannya, seolah sedang menutupi frustasinya.Pintu ruang kerjanya terbuka lebar, Ibra masuk dan menundukan kepala sebagai tanda hormat.Mata Hagan menyorotinya cukup tajam meski raut wajahnya datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Saya tanya sekali lagi, benar Kamu tidak tahu Belvara dimana?” Dengan pandangan menunduk dan tangan bertaut di depan tubuhnya, Ibra menjawab, “Benar, Pak. Belvara hanya menyebut ia akan berkunjung ke makam orang tuanya, dan mencari tempat tinggal tidak jauh dari sana.”Berulang kali Hagan bertanya, jawab Ibra tetap sama. Sefrustasi apapun atasannya ia tak peduli, Ibra tetap bungkam dengan kebenaran yang dirinya sendiri dalang di balik frustasi Hagan.“Sudah setengah tahun dia pergi, benar-benar tanpa jejak! Bahkan Saya sudah kerahkan orang

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   116. periksa kandungan

    Belvara menepuk lengan atas Ibra pelan. “Jangan begitu,” ujarnya pelan.“Bagaimana kalau besok kita ke dokter, periksa kandungan, Mba.” ajak Ibra, mengalihkan topik pembicaraannya, yang terasa menjadi kikuk.“Mas Ibra, jangan panggil lagi Aku Mba,” tegur Belvara, dengan intonasi pelan.Membuat Ibra terus mengulum senyum dan menatap Belvara lekat, seolah tak ada yang lebih indah dari wajah sumringah Belvara saat ini.“Ah, itu kebiasaan.” Ibra menoleh pada Belvara sekilas. “Jadi mau besok kita ke dokter?” Ia meyakinkan Belvara.Belvara diam seolah sedang menimbang sesuatu. Ia sendiri pun tidak yakin dengan usia kandungannya saat ini, sejak awal kehamilannya tidak pernah ia periksakan. Terlampau cmas saat itu, antara menggugurkannya atau mempertahankan.Ia tidak ingin menanggung karmanya, membuatnya lebih memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari Hagan, tak peduli jika Ayah si jabang bayi tak bisa jauh darinya apa lagi melepasnya, namun Hagan sendiri yang membuat Belvara yakin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 1 Pandangan Pertama

    Belvara memijat pelipisnya pelan, menatap pada buku catatan hutang yang harus segera ia lunasi secepatnya. 'Gimana cara lunasinnya ini?' Ia menghela nafas, berharap hembusan nafasnya sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak karena himpitan keadaan. Jika perempuan lain seusia Belvara sedang meni

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 7

    Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu. “Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak. “Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 6. keinginan anak dan gengsi Hagan

    “Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara denga

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 4 Pelayan untuk sang Tuan?

    Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia berpikir sejenak, sudah cukup pelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri. Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah... Bapak bisa menyiapkan keperluan s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status