LOGIN“Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu.
Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara dengan anak yang masih berusia lima tahun. Bukan tenang, justru Ayas menangis semakin jadi, Hagan mengepal tangan di atas meja kerjanya, menahan emosinya pada sang anak. ‘Baby sitter yang bagaimana lagi yang cocok untuk mengasuh Ayas? Saya kewalahan mengurus Ayas sendirian.’ Gumam Hagan sambil memijat pelipisnya. ‘Apa sebenarnya Ayas butuh sosok Ibu? Tapi Saya belum bisa melupakan mendiang Mamanya Ayas.’ Bagi Hagan, tidak ada perempuan yang bisa menandingi Regina—mendiang Mama Ayas, mantan istri Hagan yang meninggal dua tahun lalu. Lembutnya Regina dalam bertutur kata, kepintarannya, dan cara dia memperlakukan Hagan penuh kesabaran dan kasih sayang. Membuat semua perempuan yang sempat ia lihat hanya sekadar perempuan remeh biasa, tak ada yang bisa melebihi Regina, karena keyakinan Hagan, jika memang ia harus menikah lagi, perempuan yang akan menjadi istrinya dipastikan harus lebih dari Regina dalam hal apapun. “Aku mau main sama tante peli itu, Papa…” tangis Ayas makin kencang, tatkala Hagan hanya menatapnya dari balik meja kerjanya, tak ada sentuhan lembut untuk menenangkan apalagi untuk sekadar menggendong agar tangisnya mereda. Ibra kembali ke ruangan Hagan, yang di suguhi rengekan Ayas, tangisannya memekakan telinga. Sama dengan Hagan, Ibra pun tidak tahu bagaimana cara merayu anak kecil. “Duh, Pak, Non Ayas kasihan kalau dibiarkan menangis terus seperti itu,” ucap Ibra pada Hagan, tangannya heboh namun kebingungan atas apa yang sebaiknya ia perbuat. “Cari tahu latar belakang perempuan tadi,” ucap tegas Hagan dengan intonasi rendah namun penuh penekanan. “Maksudnya tante perinya Non Ayas?” Ibra bertanya memastikan. “Bukannya Bapak sudah tidak mau berurusan lagi dengannya?” “Pokoknya cari tahu, laporkan ke Saya secepatnya!” Hagan memekik, perintahnya kali ini sungguh seperti sangat terdesak. Ibra mengangguk cepat, dan kembali keluar, namun ketika ia hendak membuka pintu, Ibra berinisiatif membawa Ayas turut keluar. “Non, Ikut Saya, Yuk.” Ayas pun menurut, mengikuti langkah Ibra, tangan mungilnya terbungkus rapat dalam genggaman tangan Ibra *** Ayas duduk di bangku taman Yayasan yang dipimpin sang Ayah, ia menikmati dinginnya es krim yang tadi sempat dibelikan Ibra untuk sekadar menenangkan tangisnya. “Non,” panggil Ibra lembut, duduk disebelahnya. “Non Ayas nangisin Tante peri?” Ayas mengangguk tanpa menoleh, ia sibuk menyuap es krim ke dalam mulutnya. “Kan, Non gak kenal, kenapa bisa ditangisi?” “Tante peli itu baik, dia udah nolong Ayas pas kecebul di kolam mall, kalau gak di tolong Tante peli, Ayas mungkin sudah meninggal, Om,” ucap Ayas, matanya terlihat berbinar ketika ia menerangkan tentang perempuan yang dipanggilnya tante peri. “Baiknya seseorang itu gak bisa disimpulkan cuma dengan sekali pertemuan doang, Non?” “Tapi Ayas yakin, Tante peli itu memang baik, Om.” Ayas bersuara lebih tegas, seolah meyakinkan Ibra. “Jadi, Non maunya Tante peri itu jadi teman di rumah? Jadi pengasuhnya Non Ayas gitu maksudnya?” Ibra mencoba mengertikan apa yang diinginkan gadis lima tahun tersebut. Bukan tanpa alasan, atau hanya sekadar membujuk tangisnya—Ibra mengajak Ayas mengobrol berdua di taman, untum mempermudah menjalankan perintah Hagan mencari tahu latar belakang Belvara, meski Ayas tidak tahu menahu tentangnya, yang anak kecil itu tahu Belvara adalah orang baik. Ibra sedikit paham, ia menginginkan Belvara cukup sekadar jadi pengasuhnya, menemaninya bermain, dan selalu ada bersamanya, yang berarti jika didapati latar belakang perempuan itu baik, bisa saja ia benar dijadikan pengasuh untuk Ayas. *** Berbekal nama lengkap Belvara Ayu Nadara, ia menggali semua melalui nama tersebut, ia mencari di internet, dan seluruh media sosial, namun nihil. Ibra menggali informasi hingga ke dinas kependudukan dan ke kepolisian, memastikan Belvara tidak pernah terlibat kasus apapun yang suatu saat akan membahayakan anak sang atasan. Berbekal orang dalam yang dikenal Ibra di dinas pencatatan sivil, ia menemukan alamat lengkap Belvara, tidak menunggu waktu lama, sebagai asisten pribadi Hagan ia bekerja dengan berusaha tak pernah membuat sang atasan kecewa atas kinerjanya. Ibra tiba di gang sempit menuju rumah kontrakan Belvara, bagi Ibra lingkungan seperti ini sudah biasa, toh masa kecil Ibra pun dulu tinggal di tempat yang tak jauh berbeda dengan lingkungan rumah Belvara. Sempat bertanya pada pedagang ketoprak tepat di simpang gang itu, menanyakan nama Belvara, dan pedagang itu pun mengarahkan Ibra menuju tempat tinggal Belvara. Penampilan Ibra yang mencolok membuat para warga disana menatap Ibra penuh selidik, mereka saling berbisik, tatkala ia menanyakan Belvara. “Gadunnya si janda kali dia, tapi kok masih muda, ya.” “Apa dia mau sesuatu ke si Belvara?” “Masa mau sesuatu mainnya di rumah kumuh begini, Bu, sementara laki-laki tadi pake kemeja rapi dan bermobil. Gak mungkin gak sanggup sewa hotel buat main.” “Ah lising kali, tukang nagih hutang.” Para tetangga saling berbisik dan saling menimpali bergantian. Perlahan, Ibra menyusuri gang sempit itu, bau sampah dan samar-samar tercium bau pesing di sana, udara lembab di gang sempit itu membuat Ibra sedikit menutup hidungnya. Dari kejauhan terdengar suara rintihan seseorang meminta pertolongan, Ibra terdiam memastikan sumber suara. Namun semakin ia berjalan suara itu semakin jelas terdengar, di rumah kontrakan paling ujung seorang perempuan merintih meminta pertolongan. Instingnya untuk menolong tak pikir panjang, ia pastikan bahwa orang di dalam rumah itu benar-benar meminta pertolongan, ia gulung lengan kemejanya, kemudian dengan kuat ia mendobrak pintu kayu rumah itu. Mudah bagi Ibra mendobrak pintu kayu yang sudah lapuk termakan usia itu, Ibra terbelalak ketika ia dapati siapa yang sejak tadi terdengar meminta pertolongan. Rumah yang pintunya ia dobrak itu ternyata tempat tinggal perempuan yang sedang ia cari, seluruh kancing pakaian atasnya sudah terbuka menampilkan bagian dadanya hingga Ibra sendiri bisa melihat bulatan dada milik Belvara meski tak sepenuhnya terlihat, karena Belvara berusaha menutupinya sebisa mungkin dengan tangan dan pakaian itu sendiri. “Siapa Kau?” Pekik Ibra, bertanya pada pria paruh baya yang diyakini akan menyetubuhi Belvara. “Kau siapa?” tanya balik pria itu, tatapannya teramat gelap ketika kedua netra mereka beradu. Ibra dengan cepat melayangkan tinju pada wajah si tua bangka, dan membuatnya tersungkur mencium lantai. Pria itu pergi begitu saja, yang diyakini sambil menahan rahangnya yang sakit karena tinjuan yang Ibra berikan, dan membawa kembali hasratnya yang tak sempat tersalurkan. Pipi Ibra sontak merona ketika tanpa sengaja menatap tubuh atas belvara yang sedikit terekspose membuatnya menunduk ketika menanyakan keadaan perempuan itu. “Kamu gak apa-apa, Mbak? Siapa pria tua itu? Nafas Belvara tak beraturan, dadanya naik turun, kesadarannya belum benar-benar pulih. Namun ia berusaha untuk kembali mengancingkan baju kemejanya yang sempat terlepas. “Terima kasih sudah datang, Mas. Kalau Masnya gak datang, mungkin… mungkin saya—” kalimat Belvara terjeda, wajahnya ia tutupi dengan kedua telapak tangannya, dan air mata pun jatuh membasahi pipinya.. “Sekarang Mbaknya mending ikut Saya, ketemu Pak Hagan lagi.” “Ngapain Mas?” “Ikut saja dulu, setidaknya Mbak kalau ikut Saya pasti aman. ***Belvara menahan nafas ketika tanpa sengaja beradu pandang, tatapan Hagan tidak sedikit pun bergeser darinya. Sorot mata pria itu terlalu tajam, terlalu serius untuk dianggap candaan.Ia langsung membuang tatapannya, kembali mengajak Ayas bermain boneka di halaman belakang mansion itu.“Tante peli, ini anak tante peli lucu sekali, Ayas jadi pengen, deh, punya adik.” Yang kemudian di cubit gemas pipi Juna oleh anak perempuan yang tak kalah menggemaskan itu.Belvara tersenyum hangat, mengusap lembut kepala Ayas.Miranti melangkahkan kakinya perlahan, menatap Belvara penuh selidik sebelum ia menyapanya. “Siapa namamu?” Belvara menoleh cepat dan sedikit terperanjat, kemudian ia menundukan kepala tanda hormat. “Saya Belvara Nyonya.”Perempuan paruh baya itu merotasikan Bola mata, dengan kedua tangan terlipat di dada, “Ini tante pelinya Ayas, Omah.” Ayas turut menimpali, seolah bangga memperkenalkan Belvara pada Neneknya.Miranti melempar senyum untuk Ayas, tetapi lain hal pada Belvara.“B
Belvara bergegas menggendong Juna yang masih tertidur lelap, batita itu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sang Ibu.“Sudah siap, Mbak?” tanya Ibra, ia berdiri di ambang pintu, berusaha mendirikan lagi pintu yang sempat ia dobrak.“Sudah, Mas.” Tidak banyak yang Belvara bawa, ia hanya membawa Juna dan beberapa pakaian ganti untuknya.Ibra berjalan lebih dulu, disusul Belvara di belakangnya, para tetangga seolah sedang menunggu mereka keluar dari dalam rumah kontrakan, semua mata menatap nyalang dan menusuk, dengan bisik-bisik yang jelas diberikan untuk Belvara.Belvara hanya tertunduk, tatapan semacam itu sudah biasa ia terima, seolah gelar Jandanya adalah suatu kesalahan yang bisa mengusik ketenangan rumah tangga para tetangganya.Ibra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Belvara. “Silahkan masuk, Mba.”“Terima kasih, Mas.” Belvara pun masuk dan duduk di dalam mobil mewah itu.Ibra sempat melirik Belvara pada spion dalam mobil itu, sebelum ia menghidupkan me
“Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara dengan anak yang masih berusia lima tahun. Bukan tenang, justru Ayas menangis semakin jadi, Hagan mengepal tangan di atas meja kerjanya, menahan emosinya pada sang anak. ‘Baby sitter yang bagaimana lagi yang cocok untuk mengasuh Ayas? Saya kewalahan mengurus Ayas sendirian.’ Gumam Hagan sambil memijat pelipisnya. ‘Apa sebenarnya Ayas butuh sosok Ibu? Tapi Saya belum bisa melupakan mendiang Mamanya Ayas.’ Bagi Hagan, tidak ada perempuan yang bisa menandingi Regina—mendiang Mama Ayas, mantan istri Hagan yang meninggal dua tahun lalu. Lembutnya Regina dalam bertutur kata, kepintarannya, dan cara dia memperlakukan Hagan penuh kesabaran dan kasih sayang. Membuat semua perempuan yang sempat ia
Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasuhnya sendiri kewalahan mengurus Ayas yang kerap tantrum, dan Hagan selalu menyalahkan sang pengasuh ketika didapati Ayas menangis, membuat setiap pengasuh Ayas mengundurkan diri walau diiming-imingi gaji fantastis. Sekilas Hagan berpikir bagaimana jika menjadikan Belvara sebagai pengasuh Ayas? Namun kembali ia urungkan ketika mengamati Belvara yang menurutnya aneh, ia takut cara berucaonya yang lancang itu menular pada Ayas yang sejak kecil sudah ditanamkan manner yang baik. “Papa… kenapa melamun?”. Suara lembut Ayas memecah lamunannya. Ia menatap sang anak lalu tersenyum. “Teman kamu sudah banyak di sekolah, Nak.” “Aku mau punya temen buat di rumah juga!” Ayas merengek manja pada
Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia pun berpikir sejenak, sudah cukup oelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri.Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah Bapak bisa menyiapkan keperluan sendiri? karena setahu Aku—Pak Hagan ini seorang Duda," cukup lantang Belvara berucap, dengan tatapan nanar, tanpa merasa salah. Kedua bola mata Hagan membola dengan cepat, rahangnya turut mengeras, bagaimana bisa perempuan yang tak dikenalinya dengan lancang menyebutnya Duda, sebuah kata yang hagan benci mendengarnya. "Ibra! bawa keluar perempuan itu!" pekiknya, suara hagan cukup menggelegar di ruangannya. Juna yang sejak pertama bertemu Hagan di mall sudah merasa takut, kini anak kecil itu harus kembali melihat dan mendengar pria yang ditakutinya mengeluarkan intonasi tinggi, membuat Juna menangis kencang dengan sendirinya, Hingga Belvara pun gelagaoan untuk menenangkan sang anak. “
Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Silahkan di ganti pakaiannya, karena tidak baik jika pakaian yang Mbak kenakan kering di badan." Perempuan itu mematung, yang ia tahu, tadi ia sudah menolak untuk berganti pakaian ketika Hagan menawarkan. lalu kenapa pria ini datang memberinya pakaian baru? Belum sempat Belvara bertanya lebih jauh padanya, pria itu sudah pergi, berjalan membelakangi Belvara. *** Plang nama yang bertuliskan Yayasan Kinantan itu terpampang megah di pinggir jalan utama Ibu Kota, gedung berwarna putih yang dihiasi ornamen klasik dengan pilar-pilar tinggi yang berdiri kokoh seperti penjaga waktu. Siapa yang tidak tertarik untuk bekerja di bawah naungan Yayasan Kinantan yang sudah berdiri puluhan tahun







