بيت / Rumah Tangga / Istri Rahasia Tuan Hagan / Bab 6. keinginan anak dan gengsi Hagan

مشاركة

Bab 6. keinginan anak dan gengsi Hagan

مؤلف: Djulitas
last update تاريخ النشر: 2026-05-02 00:36:34

“Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu.

Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara dengan anak yang masih berusia lima tahun.

Bukan tenang, justru Ayas menangis semakin jadi, Hagan mengepal tangan di atas meja kerjanya, menahan emosinya pada sang anak.

‘Baby sitter yang bagaimana lagi yang cocok untuk mengasuh Ayas? Saya kewalahan mengurus Ayas sendirian.’ Gumam Hagan sambil memijat pelipisnya.

‘Apa sebenarnya Ayas butuh sosok Ibu? Tapi Saya belum bisa melupakan mendiang Mamanya Ayas.’

Bagi Hagan, tidak ada perempuan yang bisa menandingi Regina—mendiang Mama Ayas, mantan istri Hagan yang meninggal dua tahun lalu. Lembutnya Regina dalam bertutur kata, kepintarannya, dan cara dia memperlakukan Hagan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Membuat semua perempuan yang sempat ia lihat hanya sekadar perempuan remeh biasa, tak ada yang bisa melebihi Regina, karena keyakinan Hagan, jika memang ia harus menikah lagi, perempuan yang akan menjadi istrinya dipastikan harus lebih dari Regina dalam hal apapun.

“Aku mau main sama tante peli itu, Papa…” tangis Ayas makin kencang, tatkala Hagan hanya menatapnya dari balik meja kerjanya, tak ada sentuhan lembut untuk menenangkan apalagi untuk sekadar menggendong agar tangisnya mereda.

Ibra kembali ke ruangan Hagan, yang di suguhi rengekan Ayas, tangisannya memekakan telinga. Sama dengan Hagan, Ibra pun tidak tahu bagaimana cara merayu anak kecil.

“Duh, Pak, Non Ayas kasihan kalau dibiarkan menangis terus seperti itu,” ucap Ibra pada Hagan, tangannya heboh namun kebingungan atas apa yang sebaiknya ia perbuat.

“Cari tahu latar belakang perempuan tadi,” ucap tegas Hagan dengan intonasi rendah namun penuh penekanan.

“Maksudnya tante perinya Non Ayas?” Ibra bertanya memastikan. “Bukannya Bapak sudah tidak mau berurusan lagi dengannya?”

“Pokoknya cari tahu, laporkan ke Saya secepatnya!” Hagan memekik, perintahnya kali ini sungguh seperti sangat terdesak.

Ibra mengangguk cepat, dan kembali keluar, namun ketika ia hendak membuka pintu, Ibra berinisiatif membawa Ayas turut keluar.

“Non, Ikut Saya, Yuk.”

Ayas pun menurut, mengikuti langkah Ibra, tangan mungilnya terbungkus rapat dalam genggaman tangan Ibra

***

Ayas duduk di bangku taman Yayasan yang dipimpin sang Ayah, ia menikmati dinginnya es krim yang tadi sempat dibelikan Ibra untuk sekadar menenangkan tangisnya.

“Non,” panggil Ibra lembut, duduk disebelahnya. “Non Ayas nangisin Tante peri?”

Ayas mengangguk tanpa menoleh, ia sibuk menyuap es krim ke dalam mulutnya.

“Kan, Non gak kenal, kenapa bisa ditangisi?”

“Tante peli itu baik, dia udah nolong Ayas pas kecebul di kolam mall, kalau gak di tolong Tante peli, Ayas mungkin sudah meninggal, Om,” ucap Ayas, matanya terlihat berbinar ketika ia menerangkan tentang perempuan yang dipanggilnya tante peri.

“Baiknya seseorang itu gak bisa disimpulkan cuma dengan sekali pertemuan doang, Non?”

“Tapi Ayas yakin, Tante peli itu memang baik, Om.” Ayas bersuara lebih tegas, seolah meyakinkan Ibra.

“Jadi, Non maunya Tante peri itu jadi teman di rumah? Jadi pengasuhnya Non Ayas gitu maksudnya?” Ibra mencoba mengertikan apa yang diinginkan gadis lima tahun tersebut.

Bukan tanpa alasan, atau hanya sekadar membujuk tangisnya—Ibra mengajak Ayas mengobrol berdua di taman, untum mempermudah menjalankan perintah Hagan mencari tahu latar belakang Belvara, meski Ayas tidak tahu menahu tentangnya, yang anak kecil itu tahu Belvara adalah orang baik.

Ibra sedikit paham, ia menginginkan Belvara cukup sekadar jadi pengasuhnya, menemaninya bermain, dan selalu ada bersamanya, yang berarti jika didapati latar belakang perempuan itu baik, bisa saja ia benar dijadikan pengasuh untuk Ayas.

***

Berbekal nama lengkap Belvara Ayu Nadara, ia menggali semua melalui nama tersebut, ia mencari di internet, dan seluruh media sosial, namun nihil.

Ibra menggali informasi hingga ke dinas kependudukan dan ke kepolisian, memastikan Belvara tidak pernah terlibat kasus apapun yang suatu saat akan membahayakan anak sang atasan.

Berbekal orang dalam yang dikenal Ibra di dinas pencatatan sivil, ia menemukan alamat lengkap Belvara, tidak menunggu waktu lama, sebagai asisten pribadi Hagan ia bekerja dengan berusaha tak pernah membuat sang atasan kecewa atas kinerjanya.

Ibra tiba di gang sempit menuju rumah kontrakan Belvara, bagi Ibra lingkungan seperti ini sudah biasa, toh masa kecil Ibra pun dulu tinggal di tempat yang tak jauh berbeda dengan lingkungan rumah Belvara.

Sempat bertanya pada pedagang ketoprak tepat di simpang gang itu, menanyakan nama Belvara, dan pedagang itu pun mengarahkan Ibra menuju tempat tinggal Belvara.

Penampilan Ibra yang mencolok membuat para warga disana menatap Ibra penuh selidik, mereka saling berbisik, tatkala ia menanyakan Belvara.

“Gadunnya si janda kali dia, tapi kok masih muda, ya.”

“Apa dia mau sesuatu ke si Belvara?”

“Masa mau sesuatu mainnya di rumah kumuh begini, Bu, sementara laki-laki tadi pake kemeja rapi dan bermobil. Gak mungkin gak sanggup sewa hotel buat main.”

“Ah lising kali, tukang nagih hutang.”

Para tetangga saling berbisik dan saling menimpali bergantian.

Perlahan, Ibra menyusuri gang sempit itu, bau sampah dan samar-samar tercium bau pesing di sana, udara lembab di gang sempit itu membuat Ibra sedikit menutup hidungnya.

Dari kejauhan terdengar suara rintihan seseorang meminta pertolongan, Ibra terdiam memastikan sumber suara. Namun semakin ia berjalan suara itu semakin jelas terdengar, di rumah kontrakan paling ujung seorang perempuan merintih meminta pertolongan.

Instingnya untuk menolong tak pikir panjang, ia pastikan bahwa orang di dalam rumah itu benar-benar meminta pertolongan, ia gulung lengan kemejanya, kemudian dengan kuat ia mendobrak pintu kayu rumah itu.

Mudah bagi Ibra mendobrak pintu kayu yang sudah lapuk termakan usia itu, Ibra terbelalak ketika ia dapati siapa yang sejak tadi terdengar meminta pertolongan. Rumah yang pintunya ia dobrak itu ternyata tempat tinggal perempuan yang sedang ia cari, seluruh kancing pakaian atasnya sudah terbuka menampilkan bagian dadanya hingga Ibra sendiri bisa melihat bulatan dada milik Belvara meski tak sepenuhnya terlihat, karena Belvara berusaha menutupinya sebisa mungkin dengan tangan dan pakaian itu sendiri.

“Siapa Kau?” Pekik Ibra, bertanya pada pria paruh baya yang diyakini akan menyetubuhi Belvara.

“Kau siapa?” tanya balik pria itu, tatapannya teramat gelap ketika kedua netra mereka beradu.

Ibra dengan cepat melayangkan tinju pada wajah si tua bangka, dan membuatnya tersungkur mencium lantai.

Pria itu pergi begitu saja, yang diyakini sambil menahan rahangnya yang sakit karena tinjuan yang Ibra berikan, dan membawa kembali hasratnya yang tak sempat tersalurkan.

Pipi Ibra sontak merona ketika tanpa sengaja menatap tubuh atas belvara yang sedikit terekspose membuatnya menunduk ketika menanyakan keadaan perempuan itu. “Kamu gak apa-apa, Mbak? Siapa pria tua itu?

Nafas Belvara tak beraturan, dadanya naik turun, kesadarannya belum benar-benar pulih. Namun ia berusaha untuk kembali mengancingkan baju kemejanya yang sempat terlepas.

“Terima kasih sudah datang, Mas. Kalau Masnya gak datang, mungkin… mungkin saya—” kalimat Belvara terjeda, wajahnya ia tutupi dengan kedua telapak tangannya, dan air mata pun jatuh membasahi pipinya..

“Sekarang Mbaknya mending ikut Saya, ketemu Pak Hagan lagi.”

“Ngapain Mas?”

“Ikut saja dulu, setidaknya Mbak kalau ikut Saya pasti aman.

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   121. Akhir kisah tragis

    Belvara mendorong sekuat tenaga pria bertubuh kekar itu. Namun jabang bayi didalam perutnya seolah ikut berontak, membuat kedua tangannya mencengkram perut bulatnya, dan ia meringis nyeri. “A… aww….” Hagan mengamati raut wajah Belvara. “Kenapa, Sayang? Apa anak kita sudah waktunya lahir?” tanyanya. Sedikitpun tidak terlihat kepanikan di raut wajahnya, ia menyeringai. “Tenang.” Hagan mengelus pipi Belvara yang basah karena air mata. “Kalau Kamu tenang, anak kita tidak akan bereaksi yang bisa menyakiti Ibunya.” Belvara memukul bahu Hagan sekuat tenaganya, meski tak menimbulkan reaksi apapun pada pria itu. “Ini bukan anakmu, Mas. Ini anak Aku dan Mas Ibra.” Hagan terkekeh, dan mencengkeram leher Belvara dengan sebelah tangannya, emosinya memuncak kala mendengar pengakuan dusta Belvara. “jangan bohong! Sebelum Kamu meninggalkan Saya, kamu mengeluh sakit dan mual-mual, Saya sudah curiga kalau itu pertanda Kamu hamil.” “Mas, kamu ingat apa yang pernah kamu ucapkan? Kamu ngelarang A

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   120. Persembunyiannya terungkap

    Malam itu Belvara habiskan untuk menuntun Ibra kembali dalam jiwa yang seharusnya, menginginkan perempuan, dan melepas penyimpangannya. Meski yang mereka lakukan salah, namun setidaknya ia sudah membuat seorang laki-laki kembali pada kodratnya.Ibra memeluk tubuh Belvara dari belakang, setelah melakukan pelepasan untuk pertama kalinya dibantu oleh perempuan.“Jangan pernah kembali sama Pak Hagan terus ah begini sama Saya, Belvara. Saya akan beikan semuanya untukmu, hidup dan matiku hanya untukmu,” ucap Ibra tulus dan jujur. Dengan wajah menelusup di ceruk leher Belvara.***Langit masih gelap, namun kehidupan di desa itu sudah berlangsung sejak ayam berkokok pertama kali sebagai tanda untuk segera memulai aktivitasnya. Ibra sudah menyalakan mobil untuk segera bersiap berangkat bekerja, jarak tempuh yang lumayan jauh membuatnya harus berangkat lebih awal dari biasanya.“Hati-hati, Mas,” ucap Belvara matanya terus menatap Ibra yang sudah duduk di kursi kemudi.Belum pun sempat ia mengin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   119. Percobaan

    Belvara menggeser tubuhnya perlahan, seolah memberikan Ibra ruang untuk duduk di sana. “Maaf, ya, Mas. kalau gak mau gak apa-apa, kok, gak usah,” ucapannya, namun sorot mata yang diberikannya seakan meminta keharusan.Tangan Ibra terulur mengelus perut buncit Belvara, lalu membentangkan senyum padanya. “Adek, kita bobo, Ayah elus-elus Kamu nanti.”“Mas Ibra!” belvara tak percaya pada apa yang baru saja Ibra katakan.“Kenapa Belvara? Dia akan Saya anggap sebagai anak sendiri, jadi bukan masalah jika Saya menyebut Ayah untuknya.”Entah efek hormon hamil atau memang ia cengeng, tanpa sadar ia meneteskan air mata karena haru. Kenapa orang lain yang begitu peduli pada kehamilanya?Ibra merebahkan tubuhnya lebih dulu. “Ayo Belvara kita tidur, sini biar Aku elus-elus perutnya.”Setelah merapikan bantalnya untuk ia tiduri, ia pun merebahkan tubuh dengan membelakangi Ibra, agar lebih mudah pria itu mengelus-elus perut buncitnya.Kehangat menjalar dari perasaannya, hingga keseluruh tubuh, bukan

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   118. ngidam

    Belvara duduk di bangku teras, menyandarkan bahunya sambil mengelus perut yang kini sudah jelas membuncit. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu berjalan semakin dekat, sorot cahaya dari lampu mobil yang Ibra kemudikan jatuh terang di wajahnya. Ia tersenyum hangat kala mobil itu terparkir rapi di halaman rumahnya.“Mas Ibra,” sapanya lembut, ia berdiri perlahan sambil memegangi perut bawahnya.Ibra melangkah lebih cepat ke arah Belvara, membantu perempuan itu berjalan, dengan merangkul lembut bahunya. “Kamu kenapa masih di luar? Ini sudah malam.”“Aku nunggu kamu, Mas,” jawab Belvara spontan.“Kan Bisa di daam, angin malam disini dingin banget, Belvara, jauh berbeda dengan di kota.”Belvara menoleh pada pria yang berjalan beriringan dengannya, merangkul bahunya, hingga tak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Rangkulan Ibra tak ia lepas, hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar Belvara, perempuan itu sedikit mengernyit heran. “Loh, kok ke kamarku? Aku mau buatin dulu Mas Ibra

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   117. terbelenggu rindu

    Enam bulan berlalu, selama itu juga Hagan terus mencari Belvara, namun selalu dengan hasil yang sama. Nihil. Tak sedikitpun informasi di dapatnya.Hagan duduk di kursi kerjanya, dengan wajah yang ditutup dengan telapak tangannya, seolah sedang menutupi frustasinya.Pintu ruang kerjanya terbuka lebar, Ibra masuk dan menundukan kepala sebagai tanda hormat.Mata Hagan menyorotinya cukup tajam meski raut wajahnya datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Saya tanya sekali lagi, benar Kamu tidak tahu Belvara dimana?” Dengan pandangan menunduk dan tangan bertaut di depan tubuhnya, Ibra menjawab, “Benar, Pak. Belvara hanya menyebut ia akan berkunjung ke makam orang tuanya, dan mencari tempat tinggal tidak jauh dari sana.”Berulang kali Hagan bertanya, jawab Ibra tetap sama. Sefrustasi apapun atasannya ia tak peduli, Ibra tetap bungkam dengan kebenaran yang dirinya sendiri dalang di balik frustasi Hagan.“Sudah setengah tahun dia pergi, benar-benar tanpa jejak! Bahkan Saya sudah kerahkan orang

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   116. periksa kandungan

    Belvara menepuk lengan atas Ibra pelan. “Jangan begitu,” ujarnya pelan.“Bagaimana kalau besok kita ke dokter, periksa kandungan, Mba.” ajak Ibra, mengalihkan topik pembicaraannya, yang terasa menjadi kikuk.“Mas Ibra, jangan panggil lagi Aku Mba,” tegur Belvara, dengan intonasi pelan.Membuat Ibra terus mengulum senyum dan menatap Belvara lekat, seolah tak ada yang lebih indah dari wajah sumringah Belvara saat ini.“Ah, itu kebiasaan.” Ibra menoleh pada Belvara sekilas. “Jadi mau besok kita ke dokter?” Ia meyakinkan Belvara.Belvara diam seolah sedang menimbang sesuatu. Ia sendiri pun tidak yakin dengan usia kandungannya saat ini, sejak awal kehamilannya tidak pernah ia periksakan. Terlampau cmas saat itu, antara menggugurkannya atau mempertahankan.Ia tidak ingin menanggung karmanya, membuatnya lebih memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari Hagan, tak peduli jika Ayah si jabang bayi tak bisa jauh darinya apa lagi melepasnya, namun Hagan sendiri yang membuat Belvara yakin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 5 Pengauh rasa Ibu

    Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasu

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 4 Pelayan untuk sang Tuan?

    Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia berpikir sejenak, sudah cukup pelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri. Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah... Bapak bisa menyiapkan keperluan s

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 3 Tawaran pekerjaan

    Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Si

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 2 Hutang budi

    Ketika sang donatur secara langsung memberikan santunan itu, mata mereka beradu sepersekian detik di sana, nafas Belvara seolah tercekat, seakan lupa bagaimana caranya bernafas ketika berhadapan langsung dengan Hagan, ia terlalu fokus memandang pahatan visual yang Hagan miliki. Bola mata kecoklatan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status