Share

4. Tamu Istimewa

Author: Banyu Biru
last update Last Updated: 2026-01-18 11:55:28

"Kita ada jadwal meeting jam sebelas, Mas." Ardi sang asisten mendekat sambil menyodorkan berkas.

"Atur jadwal ulang untuk besok." Dewantara tak menoleh. Matanya masih terpekur pada layar ponsel.

"Tapi, Mas..."

"Di Papua sedang buka kantor cabang. Sepertinya kamu cocok tugas di sana." Dewantara menatap sang asisten tajam membuat Ardi seketika terperangah lalu tersenyum gugup.

Beginilah jika sudah menyinggung bosnya, dia akan tiba-tiba dipindahkan ke tempat yang jauh. Dewantara mungkin tak bercanda, dia memang punya kekuasaan sebesar itu.

"Oh, itu. Anu, Mas. Ibuku sudah tua, aku gak bisa meninggalkannya. Biar aku di kantor ini saja..." Tangannya menggaruk kepala lalu kembali mengambil berkas dengan ragu. "Aku jadwalkan ulang sesuai instruksi saja, Mas!"

Dewantara tak menjawab hingga Ardi pergi menjauh dan hendak membuka pintu.

"Di, sebentar lagi ada tamu. Tolong pastikan dia nyaman sejak datang," titah bosnya itu tiba-tiba.

Ardi menautkan kedua alisnya. Memastikan tamu nyaman? Sejak kapan bosnya jadi perhatian?

"Sandra Wiryawan." Dewantara menyebut sebuah nama tanpa ekspresi.

Ardi tersentak lalu segera mengangguk dan keluar setelah menutup pintu. Kedatangan Elena Wiryawan saja, tak pernah ada penyambutan apapun. Tapi dengan Sandra Wiryawan? Meski ia tak sepenuhnya mengenal Sandra, tapi ia cukup paham saat nama Wiryawan disebut.

Ardi meringis. "Cinta orang kaya memang rumit," pikirnya.

Tangannya meraih ponsel lalu menghubungi sebuah nomor yang terhubung dengan resepsionis di lobi utama.

"Pastikan tamu atas nama Nona Sandra Wiryawan mendapat akses sampai di ruangan direktur," Ia menutup sambungan tanpa menunggu jawaban lalu berjalan menuju ruangannya.

Sepuluh kurang lima belas menit. Sandra akhirnya tiba di area perkantoran milik Dewantara.

Setelah memarkirkan motornya di basemen, ia segera menuju lobi sambil sesekali merapikan rambut panjangnya yang tertiup angin.

"Maaf, saya mau ketemu sama Pak Dewantara!" Resepsionis itu mendongak lalu tersenyum ramah seperti biasa. "Sudah buat janji?" Tanyanya sopan.

Sandra terlihat ragu. Dewantara memang meminta untuk menemuinya hari ini tapi mengingat kesibukan Dewantara, Sandra menggeleng pelan. "Saya kurang yakin!"

"Kalau boleh tahu, atas nama siapa?"

"Sandra. Sandra Wiryawan!"

Begitu nama itu meluncur dari bibir perempuan di hadapannya, sang resepsionis tertegun.

“Sandra… Wiryawan?” ulangnya pelan.

Wajahnya yang semula profesional mendadak berubah. Mata itu membesar sesaat, napasnya tertahan, seolah sedang memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

Tanpa menunda sedetik pun, sang resepsionis bangkit dari kursinya. Sikapnya berubah drastis, jauh lebih sigap dari sebelumnya.

“Silakan ikut saya, Nona,” ucapnya dengan nada yang lebih hormat dari biasanya.

Sandra mengikuti di belakangnya, melewati area yang tak bisa diakses sembarangan. Kini, mereka berhenti di depan sebuah lift berwarna hitam legam, tanpa panel tombol terbuka seperti lift pada umumnya. Hanya ada sebuah pemindai kecil di sisi kanan pintu.

Sang resepsionis merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu akses berwarna perak. Sesaat sebelum menempelkannya, pikirannya kembali pada pesan singkat dari asisten pribadi Dewantara. Semoga saja ia tak membuat kesalahan, atau hidupnya akan tamat hari ini juga!

Bunyi bip pelan terdengar ketika kartu itu ditempelkan. Panel tersembunyi menyala, dan pintu lift terbuka perlahan.

"Nanti tolong tekan tombol 5 Nona. Ruangan Pak Dewantara ada di ujung sisi kanan lift!" Angguknya sopan. Sandra tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.

Pinru lift kembali tertutup. Menyisakan Sandra yang sendiri dengan nafas yang mulai terasa sesak.

Tiba-tiba saja terbesit penyesalan dalam hatinya. "Harusnya aku gak menyanggupi permintaan konyol ini!" Desahnya pelan.

Tring.

Pintu lift terbuka.

"Kamu? Ngapain kamu ke sini? Naik lift khusus lagi!"

Sandra menghentikan langkah kakinya saat suara familiar itu terdengar.

Benar saja. Wanita muda dengan penampilan terawat itu sedang menatapnya dengan tatapan aneh dan mengintimidasi. Siapa lagi kalau bukan Dara Gunawan, sepupu Dewantara yang menjadi sahabat baik Elena.

"Kamu bukan keluarga, jadi gak bisa seenaknya maksa staff buat buka lift khusus ini!"

"Aku mengantar jas pernikahan calon kakak iparku. Lagi pula, bukan aku yang memaksa." Jawab Sandra hati-hati.

"Oh, aku lupa kalau kamu memang gak punya etika!" Seringai jahat menghiasi sudut bibir merahnya membuat Sandra merasa semakin tak nyaman. "Dengar, wanita sepertimu cukup perlu diwaspadai. Jadi...." Dara semakin mendekat, "Berikan saja jas itu padaku. Aku akan menyerahkannya pada Mas Tara langsung!"

Sandra dengan cepat mengelak ketika tangan Dara terulur untuk meraih kotak besar yang dia bawa.

"Kamu..." Dara mulai tak sabar. Sikap arogan dan sombongnya semakin kentara.

"Maaf, Dara. Tapi aku perlu menunjukkannya secara langsung. Mungkin ada pembenahan yang harus segera aku selesaikan," tolak Sandra sopan. Harusnya, Dara mundur, tapi ego seorang perempuan kaya yang dimanjakan keluarga membuatnya semakin beringas.

"Memang ya, anak pelakor. Gak jauh beda sama ibunya!"

"DARA!" Sandra tersengal. Ia benci dengan kata-kata itu, yang membawa-bawa ibunya. "Aku hanya melakukan tugasku, tidak lebih!"

Dara tertawa. "Tugas? Mencoba merayu calon kakak ipar?" Mata Dara menyipit.

Sandra menghela nafas. Lima belas menit yang sia-sia tapi ia tak bisa meninggalkan Dara begitu saja, atau Dara akan menjambak dan mempermalukannya. Untung saja gedung lima ini hanya ruangan penting yang tak banyak lalu lalang pekerja.

"Dara. Kau bisa bertanya pada Kak Elena, atau Pak Dewantara secara langsung. Aku tidak punya maksud apapun selain mengantar kotak ini!"

Dara tertawa. "Kenapa harus kamu? Kenapa harus sendiri? Bukankah harusnya Elena?" Dara memindai Sandra seluruh tubuh. Wajah cantiknya memang tak bisa disembunyikan dan itu yang kadang membuat orang salah paham. Terlebih Dara, yang telah mentah-mentah menerima informasi tentang Sandra. Dari siapa lagi kalau bukan dari Elena dan ibunya.

"Dasar perempuan murahan!" Dara mendecih lalu merebut kotak itu dengan paksa.

"Dara, jangan!" Sandra kehilangan keseimbangan saat dia kembali menolak dan Dara mendorongnya dengan kasar. Tubuhnya terjerambab.

"Sebaiknya kau segera pulang Sandra, atau...."

"Nona Dara!" Tiba-tiba Ardi muncul dari ujung koridor yang sepi, lari mendekat lalu menolong Sandra berdiri kembali.

"Maaf, Nona Dara. Tamu ini memang ditunggu Mas Dewantara!"

Dara menatap Ardi dan Sandra bergantian. "Kalian? Sudah saling kenal?" Telunjuknya mengarah pada Ardi dan Sandra bergantian.

Sandra menggeleng begitu juga dengan Ardi. "Mas Dewantara yang mengundang Mbak Sandra untuk datang, Nona!" Ardi mencoba memberi penjelasan.

"Kau kira aku percaya?" Dara membanting kotak itu ke lantai. Matanya berkilat kesal melihat Ardi masih memegang lengan Sandra.

"DARA!" Sandra menjerit kecil lalu memungut kotak besar itu dengan panik. "Dara, kamu bisa merusaknya!" Protes Sandra.

"Kamu pikir aku peduli? Uang Mas Tara lebih dari cukup untuk membeli semua butik di Jakarta!" Perkataannya membuat Sandra tertegun. Dara benar. Apa artinya satu stel jas bagi Dewantara?

"Nona Dara salah paham. Mbak Sandra memang ada urusan dengan Mas Dewantara." Ardi kembali menekankan kalimatnya. Dara bukan gadis yang mudah untuk dihadapi. Dewantara sendiri saja, kadang jengah dengan sikapnya.

"Kamu menyebut namanya seperti kenal baik dengannya?"

Ardi menekan dadanya. Kalau Dara laki-laki, mungkin sudah lain ceritanya. "Nona Dara tadi menyebut nama Mbak Sandra. Mas Dewantara juga sudah menyebutnya tadi pagi, jadi aku bisa tahu kalau ini adalah Mbak Sandra!"

Sandra memejamkan matanya sesaat. Dara tak suka padanya, dan sekarang rasa bencinya bertambah karena dia cemburu karena Ardi menolongnya. Lengkap sudah, gumamnya lirih.

"Aku akan memberimu pelajaran, Sandra!" Tangannya terangkat, Sandra refleks mundur, sementara Ardi dengan cepat menyentuh pergelangsn tangan Dara.

"HENTIKAN SEMUANYA!"

Mereka semua terperanjat lalu menoleh perlahan. Sosok Dewantara berdiri dengan menatap mereka, menahan marah.

"Mati aku!" Ardi mengumpat lirih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   46. Pemilik yang Sesungguhnya

    Sejak pertemuannya dengan Elena di ballroom Hotel Grand Mahardika itu, sesuatu berubah dalam kehidupan Dewantara. Hampir setiap hari ia mengirim kurir untuk datang ke rumah keluarga Wiryawan. Kadang sebuah buket bunga mawar putih yang mahal, kadang kotak perhiasan, atau tas dan pakaian edisi terbatas yang bahkan belum dirilis di Indonesia. Sesekali, ia juga mengirimkan makanan dari restoran bintang lima. "Dari Dewantara lagi, Ma?" Elena melirik ibunya dengan tatapan mata malas. Berbeda dengan Elena, Desi justru sangat senang, anaknya mendapatkan perhatian Dewantara. "Lihat ini!" Suaranya begitu keras. Seperti ingin menunjukkan pada semua orang. Termasuk Sandra yang baru melangkahkan kakinya masuk. Gadis itu hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia tak pernah tertarik dengan urusan seperti itu. "Hadiah khusus untukmu, dari Dewantara Jayadi Rukmana!" Mata Desi berkilat bangga menatap kartu-kartu kecil yang selalu bertuliskan nama yang sama."Aneh. Aku gak

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   45. Awal Bertemu

    Lampu-lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom Hotel Grand Mahardika, salah satu hotel paling bergengsi di Jakarta. Malam itu, hotel penuh dengan para tamu penting yang sebagian adalah pengusaha, pejabat, serta keluarga-keluarga yang dianggap terpandang. Sebuah acara tahunan yang biasa diadakan keluarga Rukmana, ayah kandung dari Helen Rukmana. Bersama Bagaskara suaminya. Helen menyalami tamu. undangan yang mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat atas perayaan ulang tahun ke-40 perusahaan besar keluarga. "Kau lihat kan, Elena. Di sini banyak pengusaha muda yang datang. Mereka semuanya orang kaya, Sayang!" Desi terus saja berbisik lirih di telinga Elena, sejak mereka turun dari mobil. "Ayolah, Ma. Sekarang gak jaman perjodohan!" Elena memutar bola matanya. Baginya tak ada laki-lski lain kecuali satu pria, sayangnya ia bukan penguasaha. Itu sebabnya, sang ibu menolak mentah-mentah hubungan mereka. "Jangan pernah mendekati laki-lami miskin, Elena. Atau kau akan m

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   44. Malam yang Sama

    Malam semakin datang ketika mobil hitam milik Dewantara berhenti di depan villa. Seketika, wajahnya berubah. Tak lagi dan menyimpan kemarahan tapi hangat dan penuh kerinduan. Ia bergerak turun, sambil seekali mengangkat wajahnya menatap langit. Menikmati angin malam yang bergesek lewat dedaunan. Dewantara melangkah pasti, melewati jalan setapak yang menuju pintu utama. Ia berjalan dengan tenang, meski tubuhnya masih terasa sedikit lemah setelah seharian menahan pusing dan mual di kantor. Namun begitu mengingat siapa yang ada di dalam villa itu, rasa lelahnya seperti menguap begitu saja. Sandra. Hanya satu nama itu yang mampu membuat hatinya kembali tenang. Ia membuka pintu villa dengan pelan agar tidak menimbulkan suara. Rumah itu sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar dari ruang tengah. Langkah Dewantara terarah menuju kamar. Saat pintu kamar terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang terbaring di atas tempat tidur. Tampak Sandra yang ter

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   43. Kamar yang Kosong

    Akhirnya hari yang dirunggu Elena dan Desi tiba. Kini, Dewantara membawa Elena menuju pondok indah, di rumah orang tuanya. Masih sore saat mobil Dewantara akhirnya berhenti di halaman rumah besar keluarganya. Elena tersenyum dalam hati. Harapannya untuk menjadi nyonya besar, tinggal selangkah lagi. Tak henti ia mendecak kagum saat melihat rumah megah itu semakin dekat. Halamannya luas dengan lampu taman yang menyala temaram. Belum lagi plar-pilar tinggi menopang teras depan, sementara jendela-jendela besarnya memantulkan cahaya hangat dari dalam. Elena menatapnya beberapa detik sebelum membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Dewantara yang turun membawa koper pakaian Elena. Ia memang pernah datang ke rumah ini sebelumnya, saat ayahnya membawanya dalam acara kekuarga, tapi itu dulu, sebagai tamu. Dan kini, ia datang kembali sebagai menantu. Sebagai penghuni dan sebagai istri dari Dewantara. "Selamat datang, Sayang!" Helen menyambut mereka di ruang tamu tapi Dewantara berjalan

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   42. Jamuan Pengakuan

    Sorenya saat Elena mulai merencanakan sesuatu untuk membuat perutnya berangsur membesar seperti hamil, Desi masuk tanpa mengetuk pintu. "Ma..." Elena menutup ponselnya. "Kau dari mana Elena? Rendra bilang, kau keluar tanpa mau diantar!" "Oh, aku menemui Sandra, Ma.!" Desi menautkan kedua alisnya. "Kenapa kau menemuinya? Berapa kali Mama bilang, berhenti memperlakukannya seperti saudaramu sendiri. Dia bukan saudaramu, Elena!" Desi mendengus lalu duduk tepat di sisi Elena. "Aku hanya mengabari tentang kehamilanku, Ma!" Elena tak punya cara, selain menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya. Dan kali ini, Desi tak menjawab. Ia selalu mendukung jika Elena melakukan sesuatu yang Sandra tak bisa. "Bagus. Biar dia tahu kalau kalian berbeda!" Elena menghembuskan nafasnya perlahan. Aman, batinnya lega. "Sore ini, Mama akan mengadakan syukuran keluarga. Termasuk mengundang mertuamu. Kita akan rayakan kehamilanmu!" Desi begitu semangat menyampaikan rencananya. Elena

  • Istri Rahasia untuk Kakak Ipar   41. Aroma Pagi Hari

    Pagi itu, Elena terbangun seperti biasa. Tapi baru saja ia membuka mata, pintu kamar sudah terbuka perlahan. "Permisi?" Desi masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan besar dengan wajah penuh senyum. “Jangan bangun dulu, Sayang” tegurnya lembut, berbeda dari biasanya. “Ini kehamilan pertamamu. Mama tidak mau kau kelelahan.” Elena mengerjap pelan. Perhatian itu terasa berlebihan… namun setidaknya tetap saja menguntungkan baginya. Meskipun sebenarnya ia sudah terbiasa dengan perhatian itu sejak kecil. Di atas nampan, terhidang steak sapi hangat dengan saus lada hitam, kentang tumbuk, dan segelas jus jeruk segar. “Kau harus makan yang bergizi, Elena. Protein penting untuk pembentukan janin,” ujar Desi sambil membantu Elena duduk bersandar. Elena menurut. Ia meletakkan nampan di atas pangkuannya, lalu memotong kecil steak itu, dan memasukkannya ke mulut perlahan. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Dewantara keluar dengan rambut masih basah, menyeka wajahnya d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status