Share

Bab 4

Author: Nabila Gemoy
last update publish date: 2026-02-12 20:20:45

Tak terdengar suara apapun dari dalam sana. Aruna makin curiga dengan apa yang mereka bahas. Aruna melihat dari celah lubang kunci tapi tak bisa terlihat.

Terdengar langkah kaki, Aruna segera menjauh dari pintu itu.

"Aruna, Mbak pamit ya!"

"Pulang sekarang, Mbak?"

"Mahesa sudah di rumah, jadi Mbak pulang."

Mawar lalu mengambil tasnya di kamar tamu dan segera pulang. Aruna masih penasaran dengan pembicaraan mereka.

"Bagaimana selama aku keluar kota? Apa saja yang kamu lakukan?"

Tak seperti biasanya Mahesa menanyakan hal itu. Apa mungkin Mahesa menaruh curiga pada Aruna?

"Tidak ada. Hanya sesekali bermain ke rumah teman. Selama ada Kak Mawar aku hanya pergi dengannya."

"Teman? Siapa?"

Aruna lupa kalau setahu Mahesa dia tak punya teman dekat.

"Oh itu aku punya teman baru. Baru kenal beberapa Minggu. Kami punya banyak kecocokan makanya mudah sekali akrab."

Aruna berharap Mahesa tidak menaruh curiga. Mahesa tampak menganggukkan kepala tanda mengerti.

"Mas, apakah kamu mengenal wanita bernama Hana? Dia bilang teman dekatmu. Kemarin kita bertemu dia di mall."

"Oh iya." Mahesa menyipitkan mata. "Aku lupa siapa Hana itu. Mungkin salah orang dia."

Mahesa meminta waktu untuk istirahat dengan alasan capek karena beberapa hari ini fokus dengan urusan bisnis. Aruna tidak mempermasalahkan hal itu.

***

Mawar tidak langsung pulang, dia mendatangi rumah kedua orang tuanya.

"Pa, Mahesa masih berhubungan dengan dia!" adu Mawar.

Pria tua itu tampak geram mendengar aduan Mawar. Entah siapa yang mereka maksud.

"Apa kurangnya Aruna? Dia cantik dan baik! Masih saja dia tidak mau menerima Aruna."

Mawar menceritakan kedatangan Aruna waktu itu ke rumahnya. Pria tua yang tak lain orang tua Mahesa itu tampak marah. Dia kecewa dengan perlakuan Mahesa pada Aruna selama ini.

***

Malam itu, Aruna menyiapkan makan malam. Tanpa dia ketahui sang mertua datang berkunjung secara tiba-tiba.

"Papa ... Mari masuk!" Aruna menunjuk Bobi, Papa Mahesa.

"Dimana Mahesa?"

"Papa duduk! Aruna panggilan Mas Mahesa."

Aruna ke belakang memanggilkan Mahesa. Setelah mereka bertemu, keduanya masuk ke ruang kerja Mahesa. Sama seperti yang dilakukan pagi tadi dengan Mawar. Kali ini Aruna memilih menyiapkan makan malam.

Kali ini cukup lama, dan bahkan terdengar barang jatuh dari dalam ruang kerja Mahesa.

"Apa papa marah?" batin Aruna.

Setelah itu mereka keluar dari sana. Mahesa mengajak Bobi malam malam bersama. Terlihat mata Mahesa sembab dan raut wajah Bobi tampak marah.

"Pa, biar Aruna ambilkan nasinya!" Aruna mengambil piring Bobi dan mengambilkan nasi serta lauk.

"Cukup."

Aruna meletakkan kembali piring itu di depan Bobi.

"Papa beruntung punya menantu seperti kamu."

Aruna tersenyum, dia melirik ke arah Mahesa. Tapi tampaknya Mahesa tidak fokus. Mahesa terlihat memikirkan sesuatu.

Aruna yakin, Mahesa baru saja mendapatkan teguran dari sang papa. Saat makan malam, Mahesa sama sekali tak berbicara.

Selesai makan malam, mereka duduk di ruang tengah dan mengobrol. Tapi, Mahesa lagi-lagi terdiam.

"Aku harap hubungan kalian baik-baik saja." Bobi melihat ke arah Aruna lalu Mahesa. "Kalian harus saling mencintai satu sama lain. Jangan pernah saling menyakiti!"

Aruna paham kemana arah pembicaraan Bobi. Tapi, Aruna tidak tahu kalau Bobi sudah tahu soal Mahesa yang tak pernah menyentuhnya.

"Mahesa, jadilah pria suami yang baik untuk Aruna. Jangan pernah kecewakan dia!"

"Selama ini Mahesa selalu meratukan Aruna, Pa. Seperti apa yang Papa perintahkan!"

"Bagaimana dengan nafkah batin? Dan kenapa kalian belum juga punya keturunan?"

Aruna menoleh ke arah Bobi. Aruna sadar kalau Bobi pasti tahu dari Mawar. Sementara, Mahesa terlihat biasa saja.

"Itu bukan urusan Papa! Papa meminta aku menikahi Aruna, sudah aku lakukan! Jangan meminta lebih!"

"Maksud kamu apa, Mas? Kamu menikahi aku karena perintah papa?" Aruna menatap Mahesa.

Mahesa dengan santai menganggukkan kepala. Dia sama sekali tak merasa bersalah. Aruna berpikir itu alasan Mahesa sampai saat ini tak menyentuhnya.

"Jika kamu keberatan, Kenapa tidak menolak, Mas?"

"Sudah ... Jangan di bahas lagi! Papa hanya mau hubungan kalian baik-baik saja. Ingat Mahesa, Aruna istrimu dia berhak mendapatkan semua dari kamu."

"Maaf tidak bisa, Pa!"

Di depan Bobi saja, Mahesa berani menolak Aruna. Selama ini tidak ada yang Mahesa takuti walaupun itu papanya sendiri.

"Jika terjadi sesuatu pada pernikahan kalian, maka kamu yang papa salahkan!" bentak Bobi lalu pamit pada Aruna.

Aruna mengantarkan Bobi sampai teras. Supir pribadi Bobi membukakan pintu mobil. Setelah kepergian Bobi, Aruna segera mendekati Mahesa.

Aruna butuh penjelasan tapi Mahesa justru merasa acuh.

"Apa kamu tidak pernah mencintaiku, Mas?"

"Apa itu penting? Bukannya selama ini aku memenuhi semua kebutuhan kamu? Harusnya kamu bersyukur!"

Baru kali ini Mahesa berbicara dengan nada tinggi pada Aruna. Aruna mengambil kesimpulan sendiri, dia dinikahi atas perintah Bobi, bukan karena cinta.

Saat suasana tengah tegang, ponsel Aruna berdering. Mahesa mendekati ponsel Aruna yang sedari tadi tergeletak di atas meja.

Aruna segera mengambil ponselnya, dia takut itu panggilan dari Andri.

"Siapa yang menelpon malam begini?"

"Oh ini teman baruku itu. Dia suka iseng nelpon malam-malam. Dia tidak tahu kalau kamu sudah pulang."

Aruna menaruh ponselnya di dalam saku.

"Yakin? Jangan sampai kamu berpaling dariku!"

"Bukankah kamu tidak mencintai aku?"

Mahesa tak menjawab, dia memilih meninggalkan Aruna. Setelah memastikan Mahesa masuk ke dalam kamar, Aruna menghubungi Andri.

"Hampir saja ketahuan! Suamiku di rumah! Aku lupa mengabarimu! Banyak hal yang ingin aku ceritakan! Besok kita bertemu setelah suamiku berangkat kerja!"

Tanpa Aruna sadari, Mahesa keluar dari kamar. Dia melihat Aruna berbicara di telepon dengan serius. Hal itu, tidak pernah Mahesa lihat sebelumnya.

"Siapa yang kamu telpon?"

Aruna berbalik, melihat Mahesa berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Dia langsung mematikan panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Apa kamu punya selingkuhan?"

"Ini Anita, teman baruku itu. Aku ingin sekali bercerita banyak hal dengan dia. Yang pasti bukan masalah rumah tangga kita."

"Jangan sampai ada yang tahu hal ini!" Tampaknya Mahesa tidak ingin ada orang luar yang tahu soal hubungan mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 18

    Semakin hari, Mahesa selalu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan bahwa ada Hana yang membutuhkannya. Hingga suatu hari, Hana melihat Mahesa bertemu dengan Aruna.Ya, pertemuan itu sebenarnya tidak sengaja. Tapi bagi Hana, hal itu pasti di rencanakan. Hana cemburu dan marah, seketika dia mendekati Aruna dan mendorongnya.Mahesa yang berada di dekat Aruna langsung menolong Aruna hingga Aruna tidak terjatuh."Hana, ngapain kamu disini?" Mahesa tampak marah sekali melihat Hana ada di tempatnya bekerja."Dia yang ngapain disini? Pasti dia sengaja datang kesini untuk menemui kamu, kan!""Aku menemui dia untuk apa. Aku datang kesini bersama suamiku untuk urusan bisnis. Bukan untuk menemui suami kamu."Andri datang, dia tampak marah karena melihat Hana memarahi Aruna. Begitu juga dengan atasan Mahesa, beliau tampak malu pada Andri."Mahesa, apa-apaan ini? Ini kantor bukan tempat istri kamu buat keributan. Suruh pergi sana!"Mahesa lalu menarik tangan Hana untuk keluar dari area kantor. Mah

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 17

    Selang beberapa hari, pelaku itu tertangkap. Dia mengaku di suruh oleh Mahesa. Maka, polisi pun menangkap Mahesa, namun Mahesa berkilah tidak mengenal pelaku."Aku tidak kenal dia, bagaimana aku bisa memintanya menyelakai Aruna?"Polisi pun mengecek ponsel Mahesa tidak ada chat maupun komunitas apapun dengan pelaku. Bahkan transaksi keuangan pun tidak ada."Katakan siapa sebenarnya yang menyuruh kamu.""Mahesa yang menyuruhku. Dia tidak mengaku tidak masalah. Biar aku yang menanggung semua."Karena Mahesa tidak terbukti bersalah, maka Mahesa boleh pulang. Mahesa merasa aneh, ada orang yang berusaha mencelakia Aruna dan menggunakan namanya. Mahesa ingin menyelidiki semua. Dia tidak mau Aruna salah paham padanya.Jika Mahesa bingung siapa dalang semua? Begitu juga dengan Aruna dan Andri. Mereka mengira itu ulah Mahesa tapi polisi tidak menemukan keterlibatan Mahesa dalam masalah ini."Bagaimana bukan dia? Dia yang selalu mengganggu ku.""Aku juga tidak tahu. Apa mungkin memang bukan dia

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 16

    Ternyata paket terus berdatangan ke rumah Aruna. Mulai dari foto hingga bunga dan makanan kesukaan Aruna. Karena merasa tidak memesan apapun, Aruna memilih untuk mengabaikannya. Namun, Andri justru marah. Dia merasa pengirim paket telah mengganggu ketenangan Aruna."Ini pasti ulah Mahesa, aku akan beri dia peringatan."Benar saja, sore itu Andri menunggu Mahesa di depan kantor Mahesa. Ketika dia melihat Mahesa, Andri langsung mendekatinya."Apa maksud kamu mengganggu istriku? Kalian sudah mantan! Jangan berharap bisa kembali sama dia!""Siapa yang mengganggu Aruna?""Jangan sok gak tahu! Kamu kirim paket terus-menerus ke rumahku untuk apa?""Aku tidak melakukannya."Andri marah, dia memukul Mahesa. Terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Indi yang melihat hal itu segera memanggil satpam kantor untuk melerai mereka."Awas kamu kalau ganggu istriku lagi!" Andri masih marah. Sementara, Mahesa sudah dibawa ke dalam kantor kembali."Siapa dia?" "Suaminya Aruna.""Aruna mantan istri

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 15

    Indi bukannya takut, dia malah melawan Hana. Dia tidak menyadari kalau dirinyalah yang salah di posisi ini."Kamu kira aku takut? Gak akan!""Dasar pelakor gak tau diri! Percaya diri banget dirimu."Hana tak ingin mengalah, bukan karena ingin mempertahankan Mahesa tapi harga dirinya sebagai istri sah sedang dipertaruhkan. Sebagai istri sah, Hana tidak ingin harga dirinya diinjak-injak walaupun dia susah tidak mencintai Mahesa lagi."Kamu kira, kamu akan mendapatkan dia? Tidak! Aku yakin dia mau sama kamu karena ada sesuatu tujuan.""Alah... Kamu bilang seperti itu karena cemburu kan!""Sudah.... Sudah .... Hana kamu pergi! Jangan bikin gaduh disini! Bikin malu saja!"Mahesa mengusir Hana dari lobi. Hana benar-benar kesal dengan sikap Mahesa selama ini."Lihat saja kalian! Aku akan membalas sakit hatiku ini." Hana tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyakitinya.Jika dulu Hana hanya bisa menangis saat Mahesa lebih memilih Aruna, kini Hana lebih kuat dari sebelumnya.***Tidak

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 14

    Malam itu, Mahesa pulang dalam keadaan mabuk. Dia berbicara tanpa menghiraukan perasaan Hana yang ada di sampingnya."Aruna ...aku mencintaimu! Aku ingin kita bersama lagi. Memadu kasih, mempunyai buah hati dan bahagia bersama."Hati wanita mana yang tak sakit, mendengarkan pengakuan sang suami. Benar kata orang, orang mabuk itu pasti jujur karena dia bicara dalam keadaan setengah sadar. Hana meneteskan air mata, dia memilih meninggalkan Mahesa di kamar sendirian."Aruna, kamu sudah bahagia. Tapi mengapa kamu masih mengganggu Mahesa? Apa istimewanya dirimu? Aku yang selalu menemani Mahesa tapi mengapa kamu yang dia cintai?" Hana mengusap air matanya. "Tidak, aku harus kuat. Aku harus kuat sampai anak ini lahir. Meskipun anak ini tidak pernah di akui papanya sendiri."Hana mengambil air minum, dia mencoba menenangkan dirinya. Dia sudah tidak punya siapapun kecuali Mahesa.Ketika kembali ke kamar? Mahesa sudah mendengkur. Dia terlihat sangat lelah sekali. Hana berbaring dengan menatap w

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 13

    Sebenarnya Mahesa tidak menginginkan kehamilan itu. Namun, dia juga tidak tega untuk membuatnya tiada."Dia hamil? Kenapa kamu tidak tahu? Apa mungkin bukan anakmu?"Mawar justru membuat asumsi sendiri sehingga membuat Mahesa menaruh curiga pada Hana. Ucapan Mawar menjadi Boomerang untuk kehamilan Hana.Mahesa masuk ke dalam ruangan Hana, dia tampak acuh pada Hana."Mas, kita akan punya momongan! Kita harus jaga dia sampai persalinan!""Kenapa kamu tidak bilang kalau hamil? Apa dia bukan anakku?""Hah!!! Kamu menuduh aku selingkuh! Tega kamu, Mas!"Mawar bukannya meredam keadaan justru memperkeruh suasana sehingga makin kacau."Alah, kamu kan memang tukang selingkuh! Pantas hamil diam-diam saja! Harusnya anak itu celaka saja!"Ucapan Mawar membuat Hana kesal, dia berusaha meredam amarah karena mereka berada di rumah sakit. Jika tidak, Hana sudah melupakan emosinya.Esoknya, Hana sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, Mahesa memilih untuk bekerja, Hana pulang dari rumah sakit seorang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status