FAZER LOGINTidak terasa malam menampakkan gerhana bulan yang terlihat indah dan cantik bersama langit gelap. Alfan memutuskan untuk menjemput karina di ruma orang tuanya, setelah seharian permpuan itu berada di sana. 𝘌𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘪𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘮𝘢𝘩.
"Mamah, aku pamit duluan ya. Sampaikan salam aku sama papah ya, " Pamit Karina ketika Alfan sudah sampai. "Nggak nginep aja sayang? "Tanya Sekar pada Karina. " Tapi Mas Alfan udah jemput mah, tapi tergantung Mas Alfan nya, aku ikut aja! Gimana Mas? "Lain kali aja mah, kita nginep di sini" Jawab Alfan santai. "Yaudah kalau gak mau nginep, Hati-hati kalian di jalanan. Alfan jangan ngebut-ngebut! " "Iya mamah bawel" "Kamu ini kalau di bilangin, yaudah sayang makasih yah, udah nemenin mamah seharian ini, "Sejar memeluk menantunya dengan erat. " Memang papah kemanah? "Suara Alfan menginterupsi Mereka. "Katanya mau ketemuan sama teman SMA nya. Ya sudah kalian hati-hati yah, " Ucap Sekar melambaikan tangannya ketika mereka berdua sudah masuk mobil. Dan kini lah terjadi keheningan diantara mereka, Karina sendiri tidak berani melirik kearah Alfan yang terlihat serius menatap jalanan malam di jakarta. "Kamu ngapain aja di rumah orang tua saya? " Alfan lah yang memecah keheningan mereka . "Em tadi aku. Belajar masak sama mamah, terus ke salon udah itu aja Mas, " Karina menjawab sedikit pelan karena gugup. Alfan hanya mengangguk, tanpa melirik ke kari6, "sudah jadi menantu kesayangan dong kamu. Gimana? Sudah berhasil mengambil hati mereka? " Karina menatap sekilas suaminya, bibirnya menggulum menahan kesal, "Saya nggak ada niatan seperti itu ya Mas Alfan, " Bantar karina pelan. Dan Alfan hanya mengangkat bahu acuh. "Karina, dengarkan saya, " Titah Alfan suaranya sedingin udara AC mobil. "Ya Mas Alfan, ada apa? " Karina menelan salivanya dengan susah, degup jantungnya bisa ia dengar. Suaminya itu lalu meminggirkan mobil ke jalan yang lumayan sepi. Namun, dengan mesin tidak di matikan. Kemudian Alfan mulai menatapnya dengan lekat. "Saya mohon sama kamu kalau kedepannya ada yang mengatakan hal yang tidak-tidak tentang masa lalu saya, tolong abaikan dan bilang sama saya jika ada yang mengganggu kamu, " Ucap Alfan dengan raut wajah yang sangat serius. Iris pekatnya mengunci milik karina. "Memangnya ada Apa Mas? Saya nggak mengerti maksud Mas Alfan, " Tanya karina takut, perempuan itu memutus kontak pandangannya dari Alfan. "Kamu itu selain lambat, terus tidak pernah mengerti jika saya ajak bicara serius, "Cela Alfan pelan, membuat karina menghela nafas panjang. " Maksud saya, kenapa tiba-tiba Mas Alfan ngomong begini? "Tanyanya selembut mungkin. " Tanyakan karina, tanyakan apapun yang ada di benak kamu tentang masa lalu saya, sebelum kami tahu dari orang lain, "tawar Alfan yang mulai membuat Karina terdiam. Sungguh mulutnya gatal ingin bertanya tentang fhoto yang ada di kamar suaminya itu. " Memangnya dulu Mas Alfan putus karena apa? "Karina bertanya langsung ke intinya, debagh hati-hati sekaligus gugup. "Alfan menatapnya lama, lalu terkekeh getir. "Kebohongan, penghianat, dan kepalsu6, " Jawab Alfan singkat, sambil menahan amarahnya. "Saya sangat benci dengan tiga hal ini karina, jadi itulah alasannya saya membatasi diri dengan kamu, " Lanjutnya lalu pria itu menatap sorot lampu jalanan. "Foto yang kamu lihat iti, bukan berarti saya belum bisa melupakan orang gila iti. Tapi rasa benci dan dendam yang sudah menyatu sampai sata tidak ingat jiga ada fhoto itu, " Tambah Alfan berkata dengan nada tenang, meski tersirat ada sebuah emosi yang ia pendam. " Semua peryataan itu membuat karina bungkam, dan ia baru menyadari jika seorang pria itu bukan peka dan tidak berperasaan. Melainkan mereka tidak mudah mengekspresikan perasaannya dan lebih pandai menyembunyikan emosi di balik ekspresinya yang datar. "Mas Alfan, aku nggak tahu tentang msa lalu Mas Alfan. Tapi, sebaik-baiknya manusia jangan lupakan bahwa mereka suatu saat nanti bisa memberikan rasa kecewa dan sakit, " Tutur karina halus, membuat Alfan kembali menatapnya. "Bagaimana kalau Mas Alfan pelan-pelan untuk sembuh dari rasa sakit yang ada di hati Mas Alfan? Aku ingin pernikahan ini baik kedepannya meskipun didasari dengan keterpaksaan. Aku tidak berharap Mas Alfan bisa membalas perasaan aku jika suatu hari tumbuh sebuh cinta. Tapi untuk memulainya bisakah kita berteman baik dulu Mas? "Karina memberanikan diri mengungkapkan semua yang ada di pikirannya dengan sedikit lantang."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







