FAZER LOGINAlfan lalu mendengus geli melihat ekspresi Karina. "Berteman? Kamu pikir ini kita anak Tk? Tapi boleh kita kita coba! "
"Bukan begitu maksudnya Mas Alfan, " Sanggah Karina semakin sebal dengan ekspresi Alfan yang terlihat mengejeknya. "Karina, sejak pernikahan terjadi saya tidak berharap lebih karena saya pernah gagal berhubungan. Saya juga tidak bisa menjadi suami romantis, yang mungkin ada dalam bayanganmu. Tidak tahu di Masa depan, tapi untuk saat ini sangat su-" "Sulit karena Mas Alfan tidak mau mencobanya, tadi katanya boleh di coba, " Sela Karina membuat Alfan menatapnya jengkel. "Saya belum selesai bicara Karina, dengarkan dulu makanya! " Sengak Alfan tidak sabar meskipun pelan. Karina hanya meringis setelah mendapatkan semburan dari Alfan. "Untuk saat ini saya hanya bisa menjadi suami yang memenuhi kebutuhan kamu. Perasaan cinta?kamu lihat saja nanti yah, " Sambung Alfan suaranya mulai berat, tatapannya berubah menjadi sedikit sayu. "Mas Alfan, saya mungkin tidak bisa berjanji apapun untuk bisa membuat pernikahan ini lebih baik. Tapi saya berani menjamin, say bisa setia dengan Mas Alfan dan menjaga pernikahan ini kedepannya. Asalkan Mas Alfan memeberikan saya kesempatan, " Karina masih berusaha pelan-pelan untuk membuat suaminya itu yakin terhadap nya. Paling tidak sedikit keterbukaan diantara mereka. Alfan terdiam mendengar keteguhan kalimat istrinya itu bagaimana pun pernikahan ini adalah wasiat dari kakek keduanya. "Saya memang tidak puny6jaminan apapun jika di masa depan, tapi jangan sampai. Maksudnya jika di masa depan saya berhianat, saya menjamin diri saya ke Mas Alfan. Saya persilahkan Mas Alfan untuk membalas dendam sepuasnya kepada saya, dan saya tidak akan berlari untuk itu, " Imbuh Karina halus, lalu menatap Alfan dengan tatapan tulus dan kejujuran. "Meskipun saya menganggap kamu tidak ada? Meskipun saya akan berbuat kejam sama kamu? Kamu siapa untuk semua itu Karina? " Tantang Alfan penasaran dengan jawaban istrinya. "Saya 100% siap Mas Alfan, saya akan tanggung semua risikonya, " Jawab Karina cepat tanpa ia sadari sudut bibir Alfan tertarik sedikit ke atas. Rupanya mulai malam ini hubungan mereka lumayan mengalami kemajuan walapun sedikit. Tapi gak papa. ***** "Kamu mau kemana karina? " Alfan tersadar dari pekerjaan nya dan bertanya pada karina saat melihat perempuan itu berjalan melewatinya. "Mau ke depan Mas. " Jawab Karina tanpa menoleh. "Mau apa? " "Mau ambil anak! " Jawab Karina sembari berteriak karena sudah berjalan cukup jauh dari posisi Alfan. "Alfan mengerjit bingung mendengar jawaban Karina sedangkan di sisi lain karina membuka pintu utama mansions nya dan berjalan menuju pos satpam. Dan disana sudah ada muncul mobil Alif dan Citra yang berhenti tepat di depannya. Citra keluar dari mobilnya sembari menggendong Salma-anak dari tente nya dari pihak Arim-yang akan di titipkan padanya hari ini. "Kanaya udah mandi dan udah makan Rin, di dalem tas ini ada pipok, baju ganti dan susu punya Salma. Kata Tante Citra Salma di jemput nanti malam, tapi kalo ada hak yang masih harus di urus di San kemungkinan besok siang bru di jemput. Ngga apa-apa kan? " Tanya Citra. "Kalo sampe besok baju ganti sama pokoknya gimana tan? " Tanya Karina. "Kalo bener sampai besok, nanti ibu kirim popok sama baju-baju Salma kesini. " Citra menyerahkan bayi mungil berusia 10 bukan itu kepada Karina. "Oh iya, itu tadi Salma sempet gumoh tadi pas di mobil, tante belum sempat ngegantinya, nanti kamu langsung ganti bajunya ya. Takut Salma rewel karena nggak nyaman sama bajunya. Lanjut Citra yng di angguki Karina. "Jangan di bikin nangis itu Salmanya, kamu itu kebiasaan banget kalau ketemu bayu pasti kamu ledekin sampe nangis. " Ucap Alig dari dalam mobil pada Karina yang sudah menggendong Salma sembari menyampaikan tas berisi keperluan bayi di pundaknya. "Iya, aman kok. Salma bakal anteng sama Karina. Sama titip ucapan bela sungkawa dan titip salam aja buat keluarga mertuanya Tante karena aku nggak bisa kesana. ***** Alfan yang semula hanya menganggap ucapan Karina adalah celetukan asal saja menjadi terkejut saat Karina benar-benar menggendong seorang bayi perempuan ke dalam rumah. Pria itu bahkan sampai menegakkan tubuhnya yang semula sedikit bersandar pada sofa untuk melihat Karina lebih jelas. "Itu anak siapa yang kamu bawa? " Tanya Alfan pada Karina. Perempuan yang sedang menggendong bayi itu berhenti sejenak menghadap Alfan. "Anak aku lah Mas. " Jawab Karina asal lalu melanjutkan langkahnya ke kamarnya. Todak puas dengan jawaban sang istri, Alfan menyusul Karina dan menghampiri kamar perempuan itu yang terbuka, menampilkan Karina yang sedang mengganti baju Salma di atas Ranjang. Tampa permisi, Alfan langsung masuk ke kamar Karina dan menghampirinya. "Saya betulan bertanya, Karina. Ini kak siapa? Ingin kamu nggak lagi nyulik anak orang kan? " Karina melirik sinis Alfan. "Nggak ada Kerjaan banget nyulik anak orang Mas, Aku udah cocok belum jadi ibu Mas? "Tanya Karina " Em... " "Ini anaknya tante Citra, adiknya ibu yang paling muda. Mas nggak akan tau sih, soalnya kemarin pas kita nikah dia nggak dateng karena ada urusan di luar kota sama suaminya. Dan hari ini mertuanya tante erlin meninggal jadi karena Salma nggak mungkin buat di bawa ke rumah mertuanya yang lagi berduka dan rame, akhirnya di titipin ke aku. "Jelas Karina."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







