Compartilhar

Bab 15

Autor: Thaiteaa
last update Data de publicação: 2026-05-11 22:06:17

Sementara itu Alfan menepati janjinya untuk bertemu dengan sang sahabat yaitu aldo di apartemen pria itu. Untung saya ini hari sabtu, jadi ia bisa sebentar mampir meskipun kerjaannya menumpuk.

"Baguss brother! " Seru Aldo melihat sobatnya sangat lihai dalam bermain billiard.

Sedangkan Alfan hanya menatap datar Aldo yang terlalu heboh, pria itu lalu meletakkan tongkat stick billiard, dan kembali duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Tidak lupa ia mengeluarkan satu barang rokok, mengapitkan nya di sudut bibir, dan menyalakan dengan korek kesayangannya. Alfan menghirup nya lalu mengeluarkan asapnya ke atas. "Jadi? Lo mau ngomongin apa? " Suara datar Alfan terdengar, membuat Aldo ikut duduk berhadapan dengannya.

"Gimana rumah tangga lo sama karina? Aman kan? " Tanya Aldo lengkap dengan ekspresi tengilnya.

"Yang bener Do! Gue kira ada masalah gede. Pertanyaan lo nggak penting banget sih! " Umpat Alfan terlampau jengkel, Aldo memang tidak pernah serius. Aldo tertawa terbahak-bahak mendengar Alfan mengumpat, salah satu adegan favoritnya. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘨𝘰𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘧𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘬𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘯𝘦𝘣𝘰 𝘬𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨.

"Santai lah Dan! Ngomel mulu lo, darah tinggi nanti. Baru juga nikah lo! " Ledeknya santai, sembari membuka kaleng minuman untuk Alfan dan dirinya.

"Gue masih inget, lo dulu mau bikin pernikahan lo sama karina kayak neraka. Gue harap lo cuma ngasal aja, nggak sungguh-sungguh gitu, " Tambah Aldo lalu menatap serius Alfan. Pria itu terlihat merebahkan kepalanya ke sandaran Soga, setelah ia menghembuskan asap nikotin ke atas.

"Udah gue lakuin sih. Cuma dengn kata-kata pede gue aja sih, " Ucap Alfan santai tanpa merasa dosa, membuat Aldo tersedak setelah minum minuman.

"Sumpah? Gilak lo Dan. Dzolimin anak orang dosa lu! " Sembur A6karena tidak menduga dengan jawaban Alfan. Alfan hanya memutar bola matanya malas, Aldo terlampau alay.

"Lo emang dari zaman SMA, kuliah, sampai sekarang ketuanya nggak ketulung banget. Kecuali sama sal-" Terjeda lalu Aldo berdeham.

"Ngomong-ngomong Salsa nemuin gue di club minggu kemarin, katanya lo blokir semua nomernya

, " Imbuh Aldo langsung. Karena tujuannya bertemu dengan Alfan karena ingin membicarakan ini. Alfan lalu melirik datar ke Aldo, membuang abu rokoknya ke asbak. "Memang, karena ngapain juga ngeladenin orang gila kayak dia, " Pungkas Alfan tajam.

"Gue juga setuju Dan, tapi kayaknya Salsa ini punya tujuan buat balikan sama lo deh. Mukanya tebel banget bilang kangen sama lo. " Aldo menerangkan dengan ekspresi tidak suka.

"Biarin aja lah Do, semuanya sudah selesai sejak kejadian itu. Gue nggak sudi punya urusan sama perempuan gila itu. " Jawab Alfan tenang, namun Aldo bisa melihat sebuah kebencian yang tak terbendung dari iris pekat Alfan.

"Memang stress mantan lo Fan.Dia nggak kagok apa ya, lo sampai blacklist nama dia di perusahaan tempat kerjanya. Sampai lo juga di rumorin gay lagi, " Cerutu Aldo yang tahu sekali penderitaan Alfan.

"Makanya nggak usah lo gubris, kecuali dia udah berani ganggu keluarga gue, " Papar Alfan, ia lalu menyesap minuman miliknya.

"Tapi Fan, kali dia ganggu karina gimana? Lo tahu kan Salsa itu orangnya manipulatif, fixme dan playing victim. " Tanya Aldo merasa sedikit khawatir.

Alfan menghela napas pendek, ia menekan puntung rokoknya ke asbak. "Nggak mungkin,kalaupun iya dia cari mati sama gue, " Tandanya tanpa keraguan.

"Uhh.. Mas Alfan sweet banget deh! " Goda Al5berlagak kemayu. Membuat Alfan menatapnya jijik.

"Tapi, gue yakin di pernikahan ini si karina yang banyak ngalah dan sabar dari pada lo, " Terka Aldo cepat, dan membuat Alfan mengangguk.

"Yoi, bro. " Alfan mengakui jika karina adalah perempuan yang paling sabar yang pernah ia temui.

"Wah, gila ni bocah. Gue kasih tahu ya, lo ni mending fokus aja sama pernikahan lo sama karina. Apalagi kalian udah terikat, dan istri lo iti prioritas utama mulai sekarang. Jadi sebelum kita kasih manfaat bagi orang lain, pastikan istri lo yang pertama Fan, " Nasihat Aldo panjang lebar untuk sahabatnya itu.

Alfan mendengar ucapan sok dari Aldo, merasakan kupingnya panas. "Harus gitu ya? Gue dengerin cerama orang yang hobinya mainin cewek setiap bulan dengan perempuan berbeda-beda? " Cih Alfan menatapnya sinis, lalu ia berdiri dan menyambar kunci mobilnya. Aldo terkirim geli menanggapinya,"Woy, tu mulut emang nggak bisa baik dikit ngapa. Mau ke mana lo? Aldo masih terduduk di sofa.

"Ke rumah nyokap. Ngapain juga gue di sini lama-lama bukannya pacar lo mau ke sini kan?" Alfan menjulang tinggi dan menatap datar sobatnya.

"Lho kok tahu? Aldo penasan, ia melihat Alfan berjalan di ambang pintu sambil berkata. "Gue udah lihat sesutu di meja, " Ejeknya lalu meninggalkan Aldo yang terdengar memberikan sumpah serapahnya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 24

    "Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 23

    Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 22

    "Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 21

    Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 20

    Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 19

    "Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status