Share

Bab 22

Author: Thaiteaa
last update publish date: 2026-05-18 21:39:23

"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor.

"Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas.

Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya.

"Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas.

Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, bagaimana bisa ia kala drngN perempuan seperti Karina ini.

"Kamu ini bodoh atau gimana sih? Kamu kan guru. Masa percaya sama yang keliatan di luarnya saja."Hardik Ica semakin gencar mendesak Karina.

Namun, Karina hanya tersenyum menanggapinya sambil berkata, " Iya mbak, saya bodoh, tapi saya punya adab nggak kaya mbak. Awas hati-hati mbak".

"Dasar gila! " Umpat Ica pelan, lalu pergi meninggalkan Karina. Helaan napas lega dari Karina terdengar ketika perempuan itu pergi, dan sekarang ia harus. Karina lalu mengambil gelas kristal di meja tempat minuman, ia langsung menutup mulutnya karena rasa minumannya aneh, tapi juga juga pait-paitnya. "Apa ini? Kok rasanya aneh sih. Dan Karina meneguknya sampai habis karena ke hausannya.

" Karina? "Panggil Alfan yang sudah berada di hadapannya. Pria itu merebut gelas kristal Karina. " Shittt! Kamu minum ini? "Tanya Alfan tajam karena minuman ini mengandung alkohol.

Istrinya menutup mulut dan mengangguk. Tiba-tiba saja wajahnya merah dan pusing. " Mas Alfan, ako kok pusing banget ya? "Keluh Karina memegangi kepalanya.

" Kamu kenapa?. Kalau tadi tidak enak badan kenapa tidak bilang? "Geram Alfan dan menarik tubuh istrinya dalam pelukan.

"Nggak tahu, Tiba-tiba pusing terus pengen muntah Mas Alfan, " Suara Karina tenggelam di dada Alfan, membuat suaminya sedikit kebingungan.

"Jangan muntah di sini, saya antar kendaraan kamar mandi, "ajak Alfan menuntun Karina ke toilet.

*****

Untung saja suasana toilet sepi, Alfan jadi leluasa menunggu Karina memuntahkan isi perutnya. Pria itu menunggu di luar, mendengar suara istrinya muntah. " Karina? Kamu baik-baik aja kan? "Seru Alfan dari luar toilet. Tidak lama Karuna keluar dengan wajah yang sangat merah.

" Eh, Mas Alfan.... Hik... " Panggilnya, dibarengi cegukan.

"Hey... " Alfan hendak menarik tubuh Karina, namun ditepis pelan.

"Ih! Jaman sentuh aku Mas Alfan! Katanya nggak suka aku... Yukk! Sergai Karina mulai ngelantur.

"Kamu mabuk Karina, ayo kita pulang, " Alfan masih berusaha membujuk, tapi gagal perempuan itu mundur.

"Ya ampun Mas Alfan ada dua, " Karina cekikikan sendiri, iris matanya mulai sayu.

"Kamu tuh galak banget, ketus terus mulutnya kayak sambel ayam geprek level 10,pikoknya gitu! " Ungkap Karina mulai semakin tidak beres, membuat Alfan berdiri menatapnya sambil menyilangkan lengan ke dada. "Terus apa lagi yang buru dari saya Karina? " Bibir Alfan tertarik ke atas, mulai menikmati sosok Karina yang terlihat sedikit berbeda malam ini karena Alkohol.

Karina berjalan ke arah suaminya sempoyongan. "Kamu itu Mas kalau bicara bikin hati aku dongkol. Omonganya semakin ke sana kemari, membuat Alfan semakin bingung dengan ucapan Karina, sekaligus geli melihat ekspresi istrinya.

" Kamu sudah mulai ngelantur, ayo kita pulang. Saya panggil sopir-"

"Bentar Mas Alfan, aku gelem sele-"

"Ayo pulang Karina. Jangan bikin saya susah, " Pungkas tajam Alfan menarik lengan Karina sedikit kasar.

"Mas Alfan kamu itu baik lho. Tapi aku tu pengen cium kamu, rasanya pasti enak ya, " Gumam Karina menangkup wajah suaminya dengan tangan, lalu memajukan bibirnya seperti ikan lohan.

"Cium aku Mas Alfan... " Bibir Karina semakin monyong, membuat Alfan menahan tawanya sekaligus gemuruh di dada. Wajah mereka semakin dekat, mata sayu Karina terkunci oleh iris pekat yang terlihat menawan malam ini. "Kamu bakal menyesal Karina, " Bisik Alfan rendah, lalu menarik tengkuk Karina hingga bibir mereka menyatu. Ciuman yang begitu lembut, tidak terburu-buru namun mampu membuat Alfan merasakan sedikit kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan. Kini tangan Alfan mulai mengamit pinggang mungil istrinya, memperdalam ciumannya dan seakan enggan untuk melepasnya. Ciuman untuk pertama kalinya bagi mereka, sejak pernikahan sampai memulai kehidupan rumah tangga. Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengambil foto mesra mereka secara diam-diam.

"Wow bagus banget nihhh, ini bakalan jadi foto bagus buat ide berita gue, " Monolog sosok jurnalis yang tidak sengaja melihat Karina dan Alfan mencumbu mesra di depan toilet.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 24

    "Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 23

    Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 22

    "Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 21

    Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 20

    Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 19

    "Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status