LOGINPagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam.
"Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. " "Ia siap pak" Jawab Rafa "Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. *** Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panjang Karina menjuntai lurus dan rapih sampai di atas pinggang. "Gaunnya juga cocok sama i u, Anggun sekali pokoknya, "seloroh perempuan berambut ombre pink dan hijau kayak Billie elish. Karina diberi gaun hitam model hal tersebut neck dengan taki yang melingkar ke leher, menampakan baju dan punggung mulus Karina. Kulit kuning langsat yang sangat kontras demgN warna gaunnya, terlihat sederhana dan anggun. Anting bulat warna emas menjadi aksesoris yang pas untuk Karina. Karina sangat suka sekali dengan penampilan nya saat ini dia keliatan lebih anggun dan cantik sekaliii. "Mbak unu sudah selesai ya" Tanya Karina takut Alfan menunggu lama di luar. "Sudah bu, santai saja, " Si fashion stylish meletakkan sepatu model blocked heels yang tidak sakit ketika dipakai untuk acara lama. Karina kalau keluarga dari kamarnya, menemukan Alfan yang terlihat menyandarkan tubuhnya ke dindin6, dengan kedua tangan terkubur di saku. Keduanya saling terkunci, Alfan terlihat menawan malam ini. Rambut hitam yang sudah pendek tersisir dengan rapih, dan membingkai wajah tampannya. Suit hitam pekat yang membungkus tubuh besar Alfan terlihat rapih dan terstruktur. Alfan sendiri menatap lekat wajah istrinya malam ini, hampir 10 detikcom lalu ia berdehem. "Lama sekali kamu! " Gerutunya pelan, tatapannya berubah galak. "Biar maksimal lah Mas Alfan. Gimana penampilan aku Mas? Nggak malu-maluin kan? " Karina ingin tahu jawaban suaminya itu. Alfan memalingkan tatapannya. "Lumayan, " Jawabannya singkat membuat Karina cemberut. "Lumayan apa Mas Alfan? Luma-" "Lumayan bagus Karina! Cepat kita berangkat sekarang, " Sela Alfan cepat, tidak mau terlambat datang ke acara. *** Sampai di gedung acara, terlihat beberapa wartawan yang datang, tidak hanya itu mulai dari para pembisnis para kolega juga mulai berdatangan mereka terlihat sedang berfoto di karpet merah. Jantung Karina semakin berdegup kencang, merasa gugup menghadiri acara besar ini. Meskipun ia sering dateng ke acara seperti ini bersama orang tuanya, tapi ini rasanya beda sekali. Apa mungkin ini pertama kalinya Karina ke tempat seperti ini bersama Alfan. "Jangan gugup Karina, pegang lengan saya, " Suara Alfan rendah, lalu pintu mobil fi bukakan oleh sopir mereka.Alfan turun dahulu, lalu ia mengulurkan tangan besarnya ke Karina.Perempyan manis itu sedikit ragu, namun akhirnya ia menerima uluran tangan suaminya itu. Karina menggamit lengan suaminya erat, dan mereka berdua berjalan bersama menuju karpet merah yang penuh dengan camera wartawan. "Woah, istri CEO Wijaya Industries cantik sekali. " Manis sekaki! " Beberapa suara dari jurnalis yang Karina dengar, membuat dirinya semakin gugup. Alfan dan Karina berfoto di karpet merah dengan pose Alfan memeluk pinggang mungil istrinya kencang. Tinggi mereka terlihat jauh sekali, karena Karina terasa kecil jika berada di samping sangat suami. "Rilex Karina, senyum sekarang, inikan bukan pertama kalinya kamu dateng ke tempat seperti ini betul kan? " Bisik Alfan sambil tersenyum tipis dengan Karina yang akhirnya tersenyum manis di depan kamera. Rangkaian acara pertemuan para pembisnis ini dari pembukaan, penyambutan para tamu undangan. Alfan selaku CEO dari Wijaya Industries memberikan sambutan kepada para tamu. "Kamu tunggu disini dulu ya Karina, " Titah Alfan sebelum naik ke panggung memberi sambutan. Sedangkan Karina mengangguk patuh, mengamati sosok suaminya yang terlihat berwibawa ketika di atas panggung. Suaranya berat, wajahnya terlihat berkharisma."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







