LOGINRasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.
Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan kepala, menghilang pikiran yang tidak-tidak. "Udah lah bodo amat, sama suami sendiri juga di lihatnya, " Omelnya pada diri sendiri. Ketika Karina ingin turun dari ranjang, ponselnya bergetar, dan rupanya tas yang ia pakai tadi malam ada di atas nakas sebelah ranjang. Ia mengambil ponselnya, dan ternyata ada temannya yang mengirim w******p. Pupil mata Karina melebar melihat isi pesan dari Dita, "hah? Ya allah? Ini beneran kah? " Semakin panik Karina melihat dirinya viral karena berciuman dengan Alfan. Seperti orang linglung, ia langsung menutup ponselnya dan tatapannya kosong ke arah jendela yang masih tertutup tirai. Karina mencoba untuk menghembuskan napas panjang, mencoba untuk tidak terlalu panik. Dan, sebaiknya ia mandi lalu segera bertanya dengan suaminya tentang apa yang terjadi tadi malam. ***** Setelah mandi, Karina turun ke ruang makan, menatap sosok Alfan yang sudah rapih dengan kemejanya, sedang menatap layar Ipad sembari sarapan roti panggang dan secangkir kopi yang asapnya masih mengepul. Karina menelan salivanya melihat pemandangan pagi ini, dan ia mencoba mendekati Alfan, dengan rasa canggung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi tadi malam. "Mas Alfan, " Panggil Karina pelan, membuat Alfan hanya meliriknya, lalu kembali mengukir layar Ipad dan berdehem. "Hmm, "Balasnya cuek. " Mas Alfan? Aku mau tanya boleh? Tadi malam kok bisa kita ciuman Mas? Terus kok bisa masuk berita? "cerocos Karina Terang-terangan, membuat rasa malunya karena penasarannya sudah mencapai ubun-ubun. Jemari Alfan berhenti menggulir, ia lalu menyeruput kopi hitam tanpa gula dan menatap datar istrinya. " Kamu itu sama kayak Papah dan Aldan , Sama-sama berisik! "Geramnya kesal. "Menurut kamu? Kamu sendiri yang minta saya yntim -ah ralat, kamu yang maksa cium saya, " Sambungnya, terselip sindiran. Karina mengusap tengkuknya sambil menghindari tatapan sang suami. "Saya nggak ingat apapun lho Mas Alfan, yang bener Mas? " Suara Karina terbata, rona merah mulai tampak di wajahnya. Alfan meletakkan iPadnya sejenak, lalu kembali menatap galak Karina sambil melipat tangan ke dada. "Jadi kamu pikir saya bohong? Tidak ada manfaatnya buat saya Karina, " Imbuhnya datar membuat Karina menundukkan kepala. Posisi Karina berdiri di samping Alfan yang masih duduk di kursi makan. "Bukan gitu Mas Alfan, tapi-" "Kamu ingat tidak? Selain maksa cium, kamu juga maki-maki saya pakai bahasa kamu? " Sela Alfan cepat semakin membuat Karina ciut. Karina memukul mulutnya pelan. "Aduh Mas Alfan, saya beneran nggak bermaksud loh. Saya nggak pernah begini sebelum nya, terus kayaknya saya salah minum kemarin, " Karina berusaha menjelaskan seraya mengingat kejadian tadi malam. "Terus? Apalagi yang kamu ingat? Rasa ciyman saya kan? Atau sudah ketagihan dengan bibir saya? " Dengan percaya diri Alfan menanyakan hal itu, sekaligus ingin tahu reaksi istrinya. Karina menganga mendengar pertanyaan Alfan, terlalu percaya diri. "Bukan begitu Mas Alfan... " Ucapnya penuh penekanan. "Saya saja tidak ingat kenapa kita bisa sampai ciuman, saya cuma ingat sampai saya muntah terus nggak tahu selanjutnya, " Sambung Karina sembari menggaruk keningnya dengan telunjuk."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







