MasukPagi-pagi sekali, rumah besar milik nenek Alfan sudah di penuhi dengan keriwehan keluarga. Mulai dari saling bertanya mengenai seragam dan lain sebagainya. Sama sibuknya, Karina yang sudah selesai make up baru saja menerima baju didalam kantong jas transparan dari ibu mertuanya. Didalamnya ada setelan kebaya berwarna maroon keemasan, tak hanya itu ada juga jas dan beberapa perlengkapan nya untuk Alfan. Ya, mau tidak mau ia harus bertemu dengan suaminya untuk memberikan pakaian ini. "Karin, kamu sudah selesai" Tanya Mamah Sekar. "Belum mah, kenapa emang? ""Alfan belum keluar kamar dari tadi, tolong liat Alfan ua" Ucao mamah Sekar. "O-oh iya sebentar Mah" Jawab Karina. Membawa kantong jas transparan tadi, ia langsung berjalan menuju kamar tamu yang di tempati suaminya. "Mas Alfan" Karina mulai mengetuk pintu. Pintu langsung di buka oleh Alfan" Sayanggg, i'm sorry "ucap Alfan dengan lirih. Lihatlah kini pria yang biasanya kaki kini terlihat menyedihkan, matanya yang biasa tak
"Main bola gak cucu kakek hari ini? " Tanya Papah Heri yang memang memiliki antusias yang cukup tinggi apabila Karina menceritakan tentang kandungannya. Karina tersenyum lebar"tidak kakek hanya sedikit nendang-nendang, mungkin baby tak ya Bundanya lagi stres""Iya emang, untung ada om-om ganteng baby yang sedia nurutin kemauan babu" Sambung Aldan. Terlihat sekali di ruangan ini semua orang membuly Alfan, lihatlah bahkan kini waja Aldan berubah menjadi menyebalkan saat semua orang berpihak padanya. "Nenekkkk" Sm dia mengalihkan perhatian ketika anak kecil berlari masuk kedalam ruangan. Sebelum menyambut anak kecil yang mengemaskan itu mamah Sekar terlebih dahulu menatap Karina, Karina mengangguk baru mamahs Sekar membawa anak kecil itu kedalam pelukannya. "Kenapa? Alfam tidak makan" Tanya mamah Sekar. Semua orang di ruangan hening, mereka hanya mrenatap mamah Sekar berbicara dengan Alfan kecil. "Tidak, abang mau di suapin sama om Alfan gede boleh? " Tanya anak kecil itu. Karina
"Hallo Mas" Jawab Aldan"Kalian dimana? Sama istri Mas juga mana? " Tanya Alfan panik. "Kan kita antar mbak Karina pulang Mas""Kan Mas juga pulang, kenapa kalian tinggal" Ucap Alfan kesal. "Kesal? Tentu saja karena pasalnya saat Alfan masih berbincang dengan ayahnya, Aldan sudah menjalankan mobilnya. " Mbak Karina yang minta kok, katanya Mas Alfan masih mau disana sama mbak Alya"ledek Aldan. "Gak ada yah, istri Mas kan mbak Karina titi gak pake koma""Yaudah sih orang sebentar lagi juga sampe, ini lagi jalan terus. ""JEMPUT DAN, KAMU BUAT MAS MARAH" Suratan Alfan sudah naik satu oktaf lebih tinggi diseberang sana. "Mas, kok Mas marah sama Aldan? Kan mbak yang minta""Kamu tau Mas sama mbak lagi gak bak tadi, kenpa sih kalian itu"TutttTelpon di putus sepihak oleh Alfan, Aldan sudah kalang kabut mendengar Mas nya marah tadi. Karina tersenyum "tenang aja, gak usah khawatir sama Mas nanti biar mbak yang bicara""Mbak ikut pulang kan? " Tanya Sintia. "Iya ikut, tapi tolong ini
Tak mau membuat istrinya larut dalam kesedihan, Alfan ambil handphonenya untuk memesan mobil untuk pulang ke Jakarta karena mobil yang di pakai kemarin buat mamah Sekar pulang. "Udah pesen mobil sayang. Mas gak akan pernah jadiin kamu opsi lIn jadi mas Akan tetap ikut sama kamu dan nurutin maunya kamu walaupun di pilihan lainnya ada keluarga mas" Ucap Alfan tulus. Alfan bangkit dari duduknya, ia masuk kan baju yang sudah ia keluarkan sebelumnya lagi kedalam koper. Karina berjalan keluar dari kamar datar, tangannya yang di genggam oleh Alfan sudah ia lepas sejak tadi. "Maafin Mas sudah buat hati kami sedih di bogor ya sayang. Tapi janji... Sampaii Jakarta mas akan tebus semuanya sayang, Mas Akan jadi Alfan yang nya kamu tanpa ada orang lain didalamnya. " Ucap Alfan lagi. Karina tak menjawab ucapan Alfan ia hanya melangkah menuju ruang keluarga Tidak yai apa yang akan ia jawab ketika nantinya orang tua Alfan dan semua keluarga menanyakan kepulangan mereka. Pandangan pertama yang
Wanita itu tersenyum kaku, ia mendekati Alfan "lam gak ketemu ya bang, ini anakku bang namanya Alfan juga. Tapi umurnya masih 3 tahun lebih"Dunia Karuna berhenti 3 detik, hanya 3 detik yang mampu membuat hatinya bertanya-tanya. Alfan langsung kamu. Keringat dingin melihat WA ita itu" Eh... Alya... I-ya ini Istriku Karina"Ucap Alfan. Tidak, Karina sebenarnya tidak masalah siapapun wanita itu namun yang membuat nya bingung adalah nama anak wanita itu. Karina merasa perutnya kencang, dia lihat Alfan, wanita itu kemudian menyempatkan untuk memperhatikan wajah tampan yang bernama Alfan juga. "Alfa...? " karina berbisik fi telinga Alfan, suaranya bergetar. Menyadari itu, Alfan langsung mengenggam tangan Karina. "Mas bisa jelasin sayang... "Karina tak menjawab, ia masih ingin melihat reaksi mereka. "Syang, salim dulu sama Om Alfan nya kak. Ini Om Alfan temanya6ibu duku" Ucap si wanita. Anak kecil itu menyodorkan tangan mungilnya untuk menyalimi Alfan. "Om Alfan.. "Om AlfanDaddy
Kegiatan tasyakuran 4 bulanann Karina berjalan dengan lancar, acara di tutup dengan pengajian dan doa bersama bapak-bapak pengajian. Tidak istirahat Karina sudah duduk kembali di ranjang sembari menyusun baju yang akan ia bawa ke Bogor, besok pagai-pagi sekali mereka akan melakukan perjalanan ke Bogor untuk menghadiri resepsi pernikahan saudara Alfan lusa. Awalnya ia menolak keras untuk hadir, nemuin mertuanya mengajaknya untuk berkenalan lebih lanjut dan bertemu dengan keluarga mereka yang ada di sana. Jujur saja Karina, dekat dan akrab dengan orang tua Alfan saja sudah merupakan suatu kebahagiaan untuk nya. Bukan tidak mau mengenal keluarga Alfan lebih jauh tapi jika ujung-ujungnya hanya untuk menjatuhkan satu smaa lain untuk apa? Tak banyak yang ia bawa, hanya pakaian yang akan mereka pakai seragam dengan keluarga kemudian sepasang baju tidur dan juga selasa baju formal lainnya. CeklekPintu dibuka, Alfan masuk setelah selesai mengobrol bersma para tetangga. Karina menatap Al
"Salsa? " Suara bariton mendistraksi lamunan seorang perempuan berwajah blasteran Amerika Indonesia, cantik dan penuh keanggunan. "Kamu ngapain berdiri di depan sini? " Tanya pria itu lalu merangkul perempuannya. "Aku nunggu kamu kok, udah selesai? " Salsa tersenyum tipis, membalas dengan meme
"Yah kalau, Kamu punya cowok di luar. Kamu bayar laki-lak itu pakai uang dari kartu ini. apapun sesuatu yang kamu inginkan, " Seloroh santai. Rahang Karina hampir jatuhh dibuat, karena mendengar tuduhan suaminya yang tidak masuk akal. "Mana ada Mas! Jangan bicara sembarangan ya Mas, " Jawabannya pen
Seminggu telah berlalu setelah pesta pernikahan dan bulan madu dadakan. Karina akhirnya dibawa Alfan untuk tinggal di mansion miliknya di jakarta Selatan. Setelah beberapa hari Akrina harus mengurus pengunduran diri di tempat ia bekerja. Namun, dari pihak bimbel ia memeberikan pekerjaan mengajar lew
"Wijaya Industries sekarang sudah ada di tangan kamu Alfan. Tapi walau begitu, papah nggak akan lepas tangan dan pasrahin semuanya ke kamu. Perusahaan Wijaya Industries ini perusahaan keluarga, besar sekali tanggung jawabnya bagi orang yang sudah menduduki kursi kepemimpinan. Dan biarpun umur kamu s







