تسجيل الدخولDengan langkah hati-hati, Alfan berjalan menuju kamar pasien VVIP, yang sudah di siapakan Fadil untuk Karina. Aldan tadi bilang jika Karina sudah du pindahkan ke kamar, rasanya lega karena istrinya selamat. Pria itu kini berdiri di kamar Karina, sejenak menarik napas dalam lalu perlahan membuka pintu kamar yang di huni Karina. Terlihat Fadil dan Aldan sedang berbincang di sofa yang tersedia di dana, dan sosok Karina tertidur pulas dengan infus yang terpasang di tangannya. "Mas! Kamu dari mana saja? Istrimu tadi setengah sadar terus dia nangis kejer lho! " Protes Aldab menatap khawatir kakak sepupunya. Satu jam setelah keluar dari UGD, Karina langsung dipindahkan keb kamar pasien.namun.Tiba-tiba saja perempuan itu menangis karena kesakitan yang hebat. "Maaf.. " Alfan hanya bergumam pada Aldan, iris matanya menatap sedih istrinya yang terlihat sedikit babak belur. "Fadil? Gimana keadaan istriku? " Lanjut Alfan bertanya pelanggan, pandangannya ke arah pria berkacamata yang masih lengk
Sampai di rumah sakit, Alfan tergolong menggendong Karina menuju UGD. Sudah ada Fadil yang menyiapkan brankar dan beberapa perawat yang mendampinginya. "Mas Alfan, " Panggil Fadil menatap cemas Karina yang sudah pucat tidak sadarkan diri. Pelan-pelan Alfan meletakkan tubuh istrinya di atas brankar. "Aku boleh Masuk Fadil? " Mohon Alfan menatap sepupunya satu. Fadil menepuk bagi pelan Alfan. "Serahin ke aku ya Mas, kamu tunggu di luar aja. Aku janji Karina bajak baik-bqik saja. "Imbuh Fadil lembut lalu ia masuk membawa Karina ke dalam. Fyi":Fadil sama Karina sepupunya. Sedangkan Alfan sendiri terduduk lemas, di pinggir ruangan dengan memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya. Kejadian ini bagaikan mimpi buruk, lebih buruk dari kisahnya dengan Salsa dulu. Harusnya ia yang ditusuk, bukan istrinya yang tidak mengerti apapun tentang masa lalu yang ternyata membawa dampak buruk untuk Karina. Alfan lalu menatap tangannya, darah Karina yang mulai mengering semakin membuat hatiny
"Awas Mas Alfan!! " Cegah Karina membentengi tubuh Alfan dengan punggungnya karena melihat Indara yang inigin mencelakai suaminya. Namun, sepersekian detik kemudian ia merasakan sebuah tusukan di atas pinggang kanan. Rasanya nyawa karina seakan di cabut sebentar, karena merasakan tusukan itu. Dan, ia hanya merintih menahan sakit, karena hampir semua tubuhnya mendadak mati rasa. "Shh.. " Dingin Karina seperti merasakan tubuhnya terbagi dua. "Syalan!! Sia-sia gua pura-pura pingsan tadi! " Umpat Indra mencabut pisau kecil yang ternyata mengenai Karina, yang seharusnya tusukan itu di tuju untuk Alfan. Alfan terkejut dengan teriakan istrinya. Dengan tiba-tiba, melepas pelukannya dan mendorong tubuh Alfan ke depan. Ia membeku saat melihat sang istri yang menatapnya sudah pucat dan berkeringat dingin. Kini tubuh mungil itu limbung ke arah Alfan namun, Alfan berhasil menangkap dan menyekapnya. Tangan Alfan basah, dan ternyata... "Darah... " Suarah Alfan tercekat melihat tangannya penuh dar
"FUCK!! DASAR PEREMPUAN BAJINGAN! ! Teriak pria itu merasakan pacaran kaca, Tiba-tiba saja merasakan darah segar mengalir dari hidungnya dan dahinya. Indra tertatih-tatih berdiri untuk menyusul Karina. Dengan kesempatan yang ada, Karina berlari tergesa-gesa menaiki tangga. Ia masuk ke dalam kamar dan tidak lupa menguncinya, lalu ia masuk ke wali in closet milik suaminya. Karina duduk di salah satu rak yang terbuka khusus buat baju yang menggantung milik suaminya. "Ya Ampun handphone ku ketinggalan di dapur lagi! " Lirih hampir nangis, ia menutup mulutnya. Suara gedoran pintu terdengar sampai sini, dan dilanjutkan suara dobrakan pintu. "Keluar lo perempuan sinting! Mau main kucing-kucingan sama gue nih ceritanya? " Seru Indra dari luar, membuat tubuh Karina gemetar tak karuan. Perempuan itu menutup mulutnya, berusaha untuk tidak menangis dan menimbulkan suara. Kini suara gagang pintu walk in closet berputar. Karina semakin pasrah dan panik dengan ini semua. 'Ya Tuhan jika ia mati
"Mas! Ada Apa kok tiba-tiba gemeteran gitu? Kenapa sama mbak Karina? " Aldan ikut nimbrung, menatap khawatir Alfa. Ekspresi nya Alfan pucat dengan bibir yang terlihat gemetar. "Dan!! Tolong telepon polisi, dan suruh ke rumah Mas sekarang! Urgent! " Tegas Alfan cepat lalu ia segera berlari ke parkiran, tanpa peduli teriakan Alfan yang keras. Alfan berlari kencang menuju parkiran untuk mengambil motor Rafa, tanpa memperdulikan sekitarnya yang melihat Alfan dengan tatapan tajam tidak suka. Saking cemasnya, ia sampai terjatuh di depan parkiran membuat satpam di situ melihat nya cemas. "Pak? Anda baik-bqik saja? " Tanya Pak satpam. Alfan hanya mengangkat tangan, menandakan ia Baik-baik saja. 'Tenangin diri lo Fan' Alfan berusaha bangkit dan menguatkan diri. Ia menghembuskan napas panjang, lalu mencari keberadaan motor Rafa. Ia bersumpah jika terjadi apa-apa sama Karina, maka ia di takdirkan untuk membunuh dang menghabisi pria itu tanpa sisa. *****Siang hari begini rumah sudah sepi,
Sudut bibir Alfan naik ketika membaca pesan dari Karina, membuat Rafa menyeringai jail. "Kenapa senyum-senyum bang. Ada yang yang salah tingkah? Apa sedang jatuh cinta? " Bisik Aldan lalu cekikikan melihat ekspresi Alfan yang seakan ingin memakan dirinya. "Eh tapi, jangan senyum-senyum Mas! Nanti pamor kegantengan aku turun kalau orang-orang di sini lihat kamu senyum begitu, " Tambahnya karena sebagia seoarang pria pun Abdan mengakui jika Alfan terlihat menawan ketika senyum. Memancarkan maskulinitas yang tajam. Namun, yang namanya Alfan bisa dihitung dengan jari ketika memberikan senyuman. Itupun kalau di suruh pasti di lakukan karena terpaksa. "Berisik dan! " Imel Alfan rendah, lalu pandangannya kembali ke arah balkon.bukan Aldan namanya jika tidak puas meledek Kakak sepupunya."gimana Mas Alfan kemarin?udah baikan sama Mbak istri?"goda Aldan lagi membuat Alfan melirik malas. "Nggak ada yang marahan, sok tahu kamu! " Kelakar Alfan enggan menanggapi candaan Aldan yang tidak pentin
Menjelang magrib, Alfan akhirnya pula g membawa buket bunga mawar putih dan saku kotak perhiasan yang tadi pagi ia custom. Semua ini inisiatif nya sendiri, karena percuma saja bertanya dengan sepupu sampai Alfan mengenai bagaimana cara berbaikan dengan perempuan yang sedang marah. Namun, semua jaw
Sesampainya Alfan di kantor, Alfan sudah di suguhkan dengan berbagai pekerjaan yang ia tunda Akibat serangan demam mendadak yang kemarin menimpanya. Barusan sampai, Raga sudah memberikan berbagai dokumen kontrak kerja dari berbagai perusahaan yang ingin kerja sama dengan perusahaan milik Alfan. "I
Apa ia keterlaluan dengan Alfan? Di saat tadi malam suasana keintiman mulai menguasai keduanya, tapi kenapa rasanya sensitif sekali. Astaga, apa mungkin hari ini ia akan datang bulan, moodnya jadi tidak jelas. 'Katanya mau berusaha untuk marah hati Alfan? Apakah ia salah jika melunjak sedikit kare
"Rin, kalau kalau mau tidur, tidur duluan aja sana sama Alfan, mamah sama papah masih mau nonton film dulu, " Sekar berseru menatap menantunya tersenyum. Sedangkan Karina meringis melihat keduanya, dan terpaksa menyusul Alfan ke dalam kamar pria itu. "Mas Alfan, aku masih yah! " Seru Karina semba







