Share

Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua
Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua
Penulis: Eternity

Bab 1

Penulis: Eternity
"Nyonya Erin, selamat. Usia kandungan Anda sudah masuk minggu kedua belas."

Dokter keluarga itu menggeser selembar laporan medis ke hadapanku di seberang meja. Dia berbicara dengan pelan, tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. "Detak jantung bayinya sangat kuat. Anak ini sangat berarti bagi Keluarga Luwasa."

Perawat sudah mengangkat telepon terenkripsi hendak menelepon Doni. Namun, aku langsung mengulurkan tangan dan menekan gagang telepon itu.

"Jangan."

Suasana ruangan itu menjadi hening. Mereka tidak mengerti sikapku. Kabar bahwa istri Bos Besar yang sedang mengandung pewaris tahta seharusnya sudah cukup untuk membuat separuh anggota keluarga bertekuk lutut. Tetapi, aku tahu lebih baik daripada siapa pun bahwa jika Doni sampai mengetahuinya sekarang, maka bayi ini akan terseret ke dalam masalah antara aku dan Sesil. Di kehidupanku yang lalu, aku sudah pernah membiarkan anakku mati sekali.

"Sembunyikan soal laporan medis ini," kataku, sambil melipat laporan itu dan menyelipkannya ke dalam tas. "Tidak ada orang lain yang boleh tahu soal ini, kecuali aku."

Saat aku meninggalkan paviliun medis, Kediaman Luwasa tampak sedang dihias untuk sebuah pesta penyambutan. Mawar putih berjajar di sepanjang lorong, para penjaga menyematkan lencana serigala perak pada jas mereka, dan setiap jendela di bangunan utama tampak bersinar terang.

Sesil telah kembali.

Adikku yang sudah melarikan diri dari altar pernikahan dan memaksaku mengenakan gaun pengantinnya, namun entah bagaimana tetap menjadi putri yang paling dicintai semua orang, akhirnya telah kembali ke kota ini.

Aku memasukkan kode sandi di pintu depan. Warna merah berkedip di layar: [Ditolak.]

Aku mencoba lagi: [Ditolak.]

Di kehidupanku yang lalu, hal ini juga terjadi. Pada hari kepulangan Sesil, setiap kode sandi di kediaman ini langsung berubah: mulai dari pintu depan, gudang penyimpanan anggur, hingga lift pribadi. Semuanya diatur ulang menggunakan tanggal ulang tahun Sesil.

Aku mengetik angka 0604, yang merupakan tanggal ulang tahun Sesil.

Pintu pun langsung terbuka.

Aku baru saja melangkah ke area lobi ketika sebuah map kulit tiba-tiba mengenai dahiku dengan keras. Darah mengalir membasahi alisku, tetapi ibuku tampak tidak peduli sama sekali.

"Tandatangani itu," katanya dingin.

Lembaran kertas itu berserakan di lantai marmer. Halaman pertamanya bertuliskan: [Surat Perjanjian Perceraian].

Ayahku sedang duduk di dekat perapian dengan sebatang cerutu di antara jari-jarinya. "Kalau Sesil tidak mengalami kecelakaan lima tahun lalu, apa kau pikir bisa menikah dengan Doni? Dia sudah kembali sekarang. Jadi, kembalikan posisi itu padanya."

Sesil berdiri di tangga dengan gaun putih, rambut ikalnya terurai dan matanya tampak berkaca-kaca, terlihat seperti sekuntum bunga yang diciptakan untuk dilindungi oleh seluruh dunia. "Erin, aku kembali bukan untuk merebut apa pun. Tapi kalau kau bersedia melepaskannya, aku akan selalu mengingat apa yang sudah kau lakukan untukku."

Di kehidupanku yang lalu, hatiku langsung hancur mendengar kata-kata itu. Aku berlutut di depan orang tuaku dan bertanya mengapa mereka tega melakukan ini padaku.

Kali ini, aku hanya membungkuk dan mengambil kertas-kertas itu.

"Pulpen."

Semua orang di lobi langsung membeku.

Wajah ibuku menegang. "Permainan apa lagi yang kau mainkan sekarang?"

Aku mengambil pena itu dan langsung menandatangani halaman terakhir dengan namaku: [Erin Ananta].

Lima tahun lalu, aku menggunakan nama itu untuk menikah dan masuk ke dalam Keluarga Luwasa demi Sesil. Lima tahun kemudian, aku juga akan menggunakan nama itu untuk pergi keluar dengan tanganku sendiri.

Sesil merebut surat perjanjian itu dariku. Begitu dia memastikan tanda tanganku tertera di sana, dia tidak bisa menyembunyikan senyuman di wajahnya.

"Kau baik sekali, Erin." Dia mendorong map itu kembali ke tanganku dan merendahkan suaranya agar hanya aku yang bisa mendengar. "Tapi kau harus mendapatkan tanda tangan Doni sendiri. Aku tidak mau membicarakan hal ini di depannya dan terlihat menyedihkan, seolah-olah aku ingin sekali mencuri suamimu. Selesaikan perceraian ini dalam tiga hari, lalu pergi dari rumah ini dan dari hidupnya selamanya."

Aku menatapnya dan mengangguk. "Baik."

Lagipula, aku juga sudah menginginkan itu sejak lama.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 9

    Klarifikasi resmi itu akhirnya keluar pada Jumat pagi.Klarifikasi itu menyebut tindakan Sesil sebagai hal yang sembrono. Dokumen itu mengakui bahwa aku telah menjadi istri sah Doni Luwasa selama lima tahun dan bahwa seluruh anggapan yang sebaliknya adalah salah.Klarifikasi itu terdengar kaku, buruk, dan ditulis oleh pengacara.Menjelang siang, pesan pertama ibuku tiba.[Erin, tolong telepon aku. Ini sudah keterlaluan.]Kemudian pesan dari ayahku.[Kita perlu bicara sebagai keluarga.]Aku langsung menghapus keduanya.Malam itu, mereka muncul di kantorku tanpa membuat janji terlebih dahulu karena orang tuaku tipe yang percaya bahwa ikatan darah adalah kunci utama yang bisa membuka segalanya.Ibuku masuk lebih dulu, dia terlihat lebih kurus dari yang kuingat, dengan mengenakan sebuah mantel krem yang membuatnya tampak lebih lembut daripada sifat aslinya. Ayahku menyusul dengan wajah kaku yang sama seperti yang biasa dia gunakan setiap kali hendak meminta sesuatu dan menyebutnya sebagai

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 8

    Doni tiba di kantor pengacaraku pada pukul sembilan lewat lima puluh delapan menit.Dia datang sendirian. Tidak ada pengawal di lorong, tidak ada anak buah yang menunggu di dekat lift, tidak ada supir yang menghalangi jalan di bawah. Aku tetap memeriksanya, karena memulihkan diri tidak berarti menjadi bodoh. Setelah puas, aku masuk ke ruang rapat dan duduk di samping Marta Tarina, pengacara yang telah membangunkan jalan keluar untukku sementara semua orang di Nuyakos sibuk memuji Sesil.Doni berdiri saat aku masuk.Marta membuka map dokumen di depannya. "Pertemuan ini direkam. Tuan Doni, Anda berada di sini sebagai calon orang tua bersama, bukan sebagai suami, pelindung, atau otoritas keluarga bagi Nyonya Erina. Jika tidak sepakat dengan batasan itu, maka pertemuan ini akan kita akhiri sekarang."“Aku mengerti.”"Bagus. Perjanjian perceraian ini sah berdasarkan hukum Nuyakos. Tanda tangan Anda sudah disaksikan secara elektronik melalui paket otorisasi pelabuhan. Anda boleh menentangnya

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 7

    Sudut Pandang Erin.Kota Lisrona tidak bertanya tentang siapa aku dan masa laluku.Nuyakos mengenalku sebagai pengantin pengganti, istri yang disembunyikan, putri sulung Keluarga Ananta yang tidak pernah tersenyum cukup lebar untuk terlihat menawan. Di Lisrona, aku adalah Erina Kuala, seorang konsultan prosedur pengiriman logistik secara legal dengan sebuah kantor sewaan di atas toko roti, dan seorang dokter yang memanggil nama pilihanku tanpa ragu sedikit pun.Apartemenku menghadap langsung ke arah laut.Apartemen itu kecil, terang, dan sepenuhnya milikku. Aku membeli sebuah teko biru, tiga gaun katun yang muat untuk perutku yang semakin membesar, dan sebuah meja bekas dengan goresan di salah satu kakinya. Setiap pagi, aku membuat teh, membalas email, dan mengingatkan diriku sendiri bahwa kedamaian tidak harus terasa dramatis untuk bisa menjadi nyata.Pada minggu ketiga, perusahaanku sudah memiliki empat klien, dan semuanya adalah perempuan yang cukup kaya untuk menjadi incaran, sekal

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 6

    Sudut Pandang Pihak Ketiga.Keluarga Luwasa dapat membuat sebagian besar masalah menghilang sebelum menjelang pagi. Mayat-mayat bisa lenyap. Saksi-saksi bisa berubah pikiran. Catatan bank pun bisa dipaksa untuk berubah baik.Namun, Erin tidak menghilang seperti sebuah masalah.Menjelang fajar, ponsel Doni berdering tanpa henti. Panggilan pertama datang dari serikat pekerja pelabuhan. Pengiriman logistik musim dingin ditahan karena dana medis darurat yang selama ini diam-diam dikelola Erin terkunci di bawah otorisasi dana perwalian. Panggilan kedua datang dari akuntan di Tuski, yang menolak untuk merilis laporan keuangan triwulanan tanpa adanya tanda tangan dari Nyonya Erin. Panggilan ketiga datang dari seorang anggota dewan kota yang ingin tahu apakah Keluarga Luwasa masih cukup kuat atau apakah dia harus mulai mengadakan pertemuan dengan pihak lain.Mario berdiri di ruang kerja Doni dengan membawa tiga map di bawah lengannya. "Anda harus melihat ini."Doni tidak perlu bertanya apakah

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 5

    Sudut Pandang Pihak Ketiga.Selama tiga detik penuh setelah helikopter menghilang ditelan badai salju, tidak ada seorang pun di dalam gereja yang bergerak.Kemudian, amplop hitam pertama mendarat di tengah ruangan.Istri seorang senator mengambilnya sebelum anak buah Doni bisa menghentikannya.Wajahnya pucat pasi saat menatap salinan perjanjian perceraian di dalamnya, tanda tangan Doni terlihat jelas dan tak bisa terbantahkan berada di bagian bawah halaman.Amplop lain mengenai barisan bangku depan. Lalu, yang lainnya menyusul.Doni tidak beranjak dari altar. Tangan Sesil masih terulur ke arahnya, sarung tangan putihnya tampak gemetar, tetapi tatapan Doni justru melewati wanita itu, dan tertuju lurus ke arah pintu samping yang digunakan Erin."Tutup semua pintu," katanya.Mario langsung menjentikkan jarinya. Sekelompok laki-laki berpakaian hitam segera bergerak menyusuri barisan kursi, tetapi sudah terlambat. Ponsel-ponsel sudah telanjur dikeluarkan, dan memperlihatkan layar-layar yang

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 4

    Seorang asing dari pesta membawaku ke Rumah Sakit Sinar Medika. Keluarga Luwasa yang mengendalikan tempat itu, tetapi ketika perawat mendorongku ke ruang gawat darurat, tempat itu sudah hampir kosong.Perawat melakukan tiga panggilan telepon. Setiap kali menelepon, wajahnya akan tampak semakin pucat. "Ahli bedah trauma dan kepala bagian kebidanan semuanya sudah dipanggil ke lantai atas. Nona Sesil ketakutan, jadi Bos Besar ingin dilakukan pemeriksaan lengkap."Darah merembes dari kakiku ke seprai. Rasa sakit kembali menegang di perut bagian bawah berulang kali.Aku meraih pergelangan tangan perawat. "Jangan sampai mereka tahu aku hamil. Selamatkan bayiku."Dia terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan mata memerah.Sebelum aku jatuh pingsan, aku samar-samar mendengar suara Doni di ujung koridor."Di mana dia?"Seseorang menjawab, "Tuan, Nona Sesil masih menunggu Anda."Langkah kakinya sempat berhenti sejenak, lalu akhirnya terdengar semakin menjauh.Ketika aku terbangun, dua hari telah b

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 3

    Pesta penyambutan diadakan di Klub Luwasa di Manhure. Dari luar, bangunan itu tampak seperti sebuah teater yang terbengkalai. Namun di dalamnya, sudah dipenuhi oleh para penjahat paling terhormat di Kota Nuyakos dari berbagai profesi seperti politisi, pengacara, bos pelabuhan, bankir, dan setiap sek

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 2

    Separuh isi kamarku sudah dikosongkan. Gaun-gaun milik Sesil yang berwarna krem lembut sudah tergantung di lemari, dan botol-botol parfumnya sudah berjejer rapi di atas meja riasku. Sementara itu, buku-buku, foto-foto, dan mantel-mantel lamaku telah dilemparkan begitu saja ke dalam kotak kardus di s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status